BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Dony dan Mario


__ADS_3

Dony berjalan mondar-mandir di ruang tengah villa mewah itu. Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Hari sudah berganti namun bosnya belum keluar dari kamar tempat Kimy di sembunyikan. Bosnya sejak jam 10 pagi masuk ke dalam kamar itu dan belum keluar setelahnya sampai dengan sekarang. Dony sudah mengetuk kamar itu beberapa kali tak ada sautan dari dalam.


Dony hanya bisa menunggu bosnya itu di ruang tengah. Dony heran apa yang di lakukan bosnya di dalam sana, kalaupun bercinta masa iya selama itu.


Tristan yang Dony tau, dia tak akan sudi berlama-lama dengan satu wanita. Setelah melepas hasratnya Tristan pasti akan segera pergi atau mengusir wanita sewaannya.


" Kenapa kau mondar-mandir begitu, duduklah!!.." Kata Mario yang dari tadi malas melihat Dony mondar-mandir sambil sesekali mendongak melihat kamar atas.


Mario adalah teman baik Dony, yang di tugaskan menjaga villa itu selama Kimy di sekap. Lelaki tampan bertubuh besar itu adalah teman sekolah Dony waktu SMA. Mereka sangat akrab, mereka berdua kenal dengan Tristan saat Tristan berumur 20 tahun. Saat itu Tristan masih menjadi brondongnya Laura sebelum Tristan dan Laura ke luar negeri. Mereka berdua bertemu Trista di sebuah Pub terkenal dijakarta.


Mario dan Dony muda adalah seorang preman, bandar narkoba dan penjual wanita. Mereka berdua mempunyai latar belakang keluarga yang tak jelas, Tristan merasa mereka berdua mempunyai kehidupan yang hampir sama dengannya. Sekitar dua tahun Tristan berteman dengan mereka sebelumnya akhirnya dia dan Laura keluar negeri, Mario dan Dony tahu segala hal tentang masa lalu Tristan.


Setelah Tristan kembali ke Indonesia, Tristan mencari kedua temannya itu. Tristan percaya pada dua orang itu, sehingga menjadikan Dony sebagai kaki tangannya dan mengurus segala hal di perusahaanya.


Sedangkan mario, lelaki itu tidak terlalu suka pekerjaan yang monoton. Dia lebih suka menjadi lelaki bebas, ya.. Mario menjadi kaki tangan Tristan di luar kantor. Mario lebih mengurusi pekerjaan lapangan, seperti mengurusi pekerjaan yang membutuhkan fisik.


Mario adalah kepala mafia di bawah kendali Tristan. Itulah kenapa perusahaan Tristan tak tersentuh oleh pesaing-pesaing nakal.


" Kau tau Tristan sudah gila?.." Jawab Dony.


" I know!!..." Jawab Mario santai, sambil menegak minuman kaleng yang di pegangnya.


" Apa yang di lakukan Tristan pada wanita itu? Kenapa tak kau hentikan, kalau kau tahu.." Lanjut Dony.


" Hey bodoh, aku kerja sama dia, aku di bayar untuk mengikuti semua perintahnya, kau lupa itu. Dan jangan lupa kau juga seperti kambing congek kalau berhadapan dengannya.." Ledek Mario.


" Diam kau!!.." Sahut Dony.


" Sudahlah Don, biarkan Tristan menikmati wanita itu. Nanti kalau dia sudah puas, akan di lemparkan lagi gadis itu pada keluarganya.."


" Kau sama sekali tak peka bodoh. Dia tak akan melepaskan wanita itu, sampai dendamnya terbalaskan. Aku tak tega melihat wanita itu" Jawab Dony.


" Itu bukan urusanmu!!.." kata Mario acuh.


" Aku lebih khawatir kalau si bodoh Tristan akan jatuh cinta pada wanita itu, wanita itu sangat cantik. Aku begitu frustasi harus menjaganya di sini, rasanya ingin kutiduri dia.." Lanjut mario sambil membayangkan wajah Kimy.


" Kau bajingan, aku akan membunuhmu kalau menyentuhnya!!.." Jawab Dony tampak emosi.


" Wohooo.. Kenapa kau yang emosi. Apa kau menyukainya juga, aku lihat tadi siang kau berdua dengannya.."


" Dasar bodoh!!.." Jawab Dony.


***


Kimy melenguh dalam selimut tebalnya. Gadis itu tidur dengan sangat nyenyak, dia membuka mata perlahan, perutnya terasa berat seperti ada yang menindih. Benar saja, saat Kimy melihat ke samping ada Tristan. Lelaki itu tengah tertidur pulas. Tangan kekarnya yang bertato, memeluk perut rata Kimy.


Kimy mengingat kejadian semalam, saat dirinya melakukan adegan dewasa bersama lelaki itu. Semalem lelaki itu tampak berbeda, dia memperlakukannya dengan sangat lembut, dan dia menikmatinya.


Kimy perlahan memiringkan tubuhnya menghadap lelaki itu. Di perhatikan semua yang ada pada Tristan.


Sangat tampan.


Namun Kimy dengan cepat menyanggah fikiran gilanya.


Kenapa kau membeciku, menyakitiku?


Kimy membuang nafas pelan, di lihatnya jam dinding dikamarnya. menunjukkan pukul 04.00 dini hari.


Sudah sekitar 15 jam an mereka berada dikamar dan entah berapa kali mereka melakukan adegan dewasa itu. Untuk pertama kalinya Tristan tidur berdua dengannya sampai pagi, biasanya lelaki itu akan pergi meninggalkannya setelah hasratnya tersalurkan.


" Mamaa! Maa! Maaa!! Jangan pergi, Maafin Daffa ma. Mama, Mamaaaaaa!!!.." Tristan berteriak dalam mimpinya.


Kimy terperanjak kaget dan bingung dengan teriakkan Tristan.

__ADS_1


" Heey, hey.. Tristan.." Kimy menggoyang-goyangkan lengan Tristan, membangunkan lelaki itu.


Tristan membuka matanya, dia terduduk dengan nafas yang menggebu. Sekilas dia melihat Kimy, lalu melihat keseluruh ruangan, dia membuang nafas kasar, menyisir rambut berantakanya dengan jari-jari tangannya.


" Kau tidak apa-apa?.." Tanya Kimy padanya.


" Hhhmmm!!.." Jawabnya singkat.


Tristan begitu kacau, bagaimana mungkin dia begitu ceroboh tertidur dengan Kimy. Padahal dia tahu, dia menghindari tidur seranjang dengan wanita manapun, terakhir dia melakukannya saat di luar negri dengan Laura, itupun sudah lamaa sekali sekitar 7tahun yang lalu. Dia tidak mau ada yang tahu kalau dia sering bermimpi menakutkan tentang mamanya.


Dan sekarang gadis ini melihat sisi lemahnya.


" Kau mimpi buruk? Tanya Kimy.


" Tadi kau memanggil-manggil mama.." Lanjut Kimy


lagi.


" Dan kau menyebut nama daffa, siapa daffa?.."


" Sssttt!!!.." Sanggah Tristtan cepat.


Tristan menatap tajam manik hitam Kimy. Membuat Kimy menatap horor laki-laki itu.


" Lupakan apa yang baru saja kau lihat dan dengar!!.." Katanya dingin.


Tristan menyingkap selimut tebalnya, berdiri dengan tubuh polosnya. Membuat Kimy membuang muka asal.


Dasar gila, tak tahu malu.


Tristan memungut baju dan clana yang berserakkan, memakainya di situ juga. Setelah memakai baju Tristan keluar dari kamar itu tanpa sepatah katapun.


Orang aneh, semalam bersikap lembut. Sekarang gilanya kambuh lagi.


Dony dan Mario terperanjat kaget mendapati Tristan yang menuruni tangga.


" Oke bos.."


" Dan kau Rio, jangan biarkan wanita itu keluar rumah.."


" Baiklah brother, jangan khawatir.." Jawab Mario.


Di perjalanan, Dony melihat Tristan dari kaca spions di balik kemudinya.


Kelihatannya moodnya lagi bagus, gadis itu berguna juga. Benar Mario bilang.


Dony tersenyum tipis, melihat muka bosnya yang tampak berseri-seri.


***


" Apa kau mempercayainya hah? sudah berapa lama dia tak ada kabar, jangan gila kau Lang.." Kata gadis cantik yang sekarang sedang duduk berhadapan dengan Gilang di sofa ruang kerja lelaki itu.


" Diamlah Nad, jangan kau tambahin-tambahi dengan omongan gilamu itu!.." Jawab Septian membela bos sekaligus sahabatnya itu.


" Siapa yang nambahin omongan, setidaknya Kimy harusnya ngabarin dia kan?.." Bantahnya pada Septian.


Nadien sedang berada di kantor Gilang, wanita itu terus-menerus mencoba mendekati Gilang saat tahu hubungan Kimy dan Gilang sedang bermasalah.


" Pergilah Nad?.." Perintah Gilang.


" Lang kau mengusirku?.. Jawab Nadien dengan muka melas.


" Nanti kita bicara lagi, oke.. Sekarang pulanglah.." Kata Gilang lembut. Gilang memang tak pernah bisa kasar sama wanita, apalagi sama Nadine sahabatnya sendiri, Gilang tak pernah berfikiran buruk pada wanita itu. Bahkan karena sikap lemahnya itulah, sering membuatnya dan Kimy bertengkar.

__ADS_1


Nadien beranjak dari sofa itu dengan muka betenya, saat dia mau membuka pintu seorang wanita paruh baya masuk ke ruangan Gilang.


" Tante Sinta.." Nadien spontan menyapa mama Gilang yang baru datang.


" Hmm, kau di sini?.." Jawab Sinta sinis.


" Iya tan, tadi Nadien mampir, habis dari klien di daerah sini.." Kata Nadien lagi.


Sinta hanya mengangguk pelan sambil berlalu berjalan menghampiri putranya.


" Kau di sini juga Tian? Pantes saja di depan tidak ada orang, apa ada hal penting, sehingga kalian berkumpul di sini semua.." Tanyanya pada Septian.


" Maaf tante.." Jawab Tian berdiri mau meninggalkan ruangan itu. Tian dan keluarga Gilang sudah sangat dekat. Jadi komunikasi merekapun sudah layaknya keluarga.


" Mau kemana kau? Tunggu di sini.." Kata sinta mencegah Tian keluar ruangan itu.


" Kau harus bantu Gilang mencari keberadaan Pacarnya, jangan diam saja kau. Jangan biarkan orang lain merebut posisi Kimy, Kau harusnya mengerti Tian.." Kata Sinta lantang sengaja di perdengarkan pada Nadien.


Nadien menelan ludah kasar mendengar sindiran dari Sinta. Wanita itu selalu menghalanginya dekat dengan Gilang. Dulu sebelum ada Kimy, dia baik-baik saja melihat Gilang berteman dengannya, tapi sejak ada Kimy dia seperti membenci Nadien.


Wajar saja dia membenci Nadien, karena setiap Kimy bertengkar dengan Gilang, permasalahannya cuma gara-gara Nadien dan Kimy selalu menceritkannya pada Sinta. Itulah salah satu penyebab kenapa Sinta juga muak melihat gadis itu.


" Mamaaa!!.." Sanggah Gilang. Gilang memberi kode pada Tian, agar laki-laki itu membawa Nadien keluar dari ruangan itu.


" Tante saya permisi.." Kata Septian.


" Saya juga tante.." Kata Nadien, namun di acuhkan oleh Sinta.


Gilang berdiri dari sofa dan kembali kekursi kebesarannya.


" Mama apa-apaan sih, kenapa mama selalu membuat Nadien merasa nggak yaman?.."


" Kau jangan bodoh Lang, dia itu wanita ular. Jangan gara-gara perempuan itu kau melupakan Kimy.." Jawab Sinta, sembari meletakkan tas mewahnya di meja kerja Gilang. Perempuan itu masih berdiri dengan angkuhnya bersedekap menghadap Gilang.


" Ma, siapa yang melupakan Kimy? Gilang masih nunggu Kimy ma, dan akan selalu nunggu dia.." Jawab Gilang rapuh.


" Kenapa kau hanya menunggu? sudah berapa hari dia tidak ada kabar, kenapa kau diam saja Lang?.." Sinta kelihatan emosi.


" Mama tidak mau kau kalah dari lelaki itu, Kimy milikmu Lang. Tidak ada yang bisa merebut apa yang sudah kau miliki!!.."


" Lelaki siapa maksud mama?.."


" Lelaki yang di gosipkan dengan Kimy!.." jawab sinta.


" Ma, Kimy bukan wanita seperti itu. Gilang yakin itu cuma gosip.." Bantah Gilang.


" Kimy memang bukan wanita seperti itu. Tapi jangan lupa, laki-laki itu bisa melakukan apapun yang dia mau.." Sinta berkata dengan tatapan kosong.


" Mama mengenalnya?.."


" Hah!! Apa maksudmu? tentu mama tidak kenal dia, tapi dia orang terkenal di dunia bisnis, mama cukup tahu itu.." Jawab Sinta gugup.


" Sebenarnya yang mama khawatirkan Kimy atau laki-laki itu?.."


" Gilang, dengar mama, laki-laki itu cukup berbahaya. Gadis seperti Kimy dengan mudah bisa dia takhlukkan. Mama tidak mau itu terjadi denganmu, kau tidak boleh kalah darinya, kau mengerti nak?.."


Gilang tidak mengerti kenapa mamanya terlihat khawatir dengan laki-laki itu. Biasanya Sinta tidak peduli dengan masalahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers, salam sayang untuk semua yang sudah mau menyempatkan waktu untuk membaca karya author yang pertama ya dear...


Maafkan author kalau tata bahasa masih acak adul, karena jujur ini pertama kalinya author tulis menulis pernovelan.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dikolom koment dan like nya ya dear, agar author semangat nulisnya..


Salam sayang dan bahagia selalu buat readers semuaa... ❤❤❤❤


__ADS_2