
"Selamat" satu kata terucap dari mulut Dony. Lelaki dingin itu kini beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Kimy.
"Selamat atas kehamilanmu Kim"
Kimy melotot, sedikit kaget karena ia belum memberi tahu lelaki itu tentang kehamilannya. Kenapa dia bisa tahu. Pikirnya.
Dony terkekeh melihat reaksi Kimy.
"Gilang menelponku tadi" katanya.
Kimy pun beranjak dan memeluk lelaki itu "Terima kasih" katanya pelan.
Dony mengelus punggung yang berbalut blazer berwarna merah hati itu "Gilang pasti bahagia" Kata Dony pelan.
Kimy mengangguk masih dalam pelukan lelaki itu.
"Sudah dapat kabar dari dokter?" Tanya Dony melepaskan pelukan Kimy.
"Kabar apa?"
"Aku dengar ada yang mau mendonorkan hati untuk Gilang"
Kimy melotot, ia terkejut dan terlihat senang.
"Serius" Tanya Kimy penuh semangat.
Dony mengangguk.
"Siapa?"
"Mana aku tahu" Kata Dony berjalan menjauh dan kembali duduk di tempatnya.
Kimy terlihat lesu, untuk kesekian kalinya Gilang tak memberi tahu tentang donor hati itu. Sudah beberapa kali ada yang mencoba mendonorkan hati, namun Gilang seperti menutup mata.
Begitu juga dengan kemo. Gilang sama sekali tidak mau melakukan hal itu. Alasanya adalah karena ia tidak mau rambutnya botak dan tubuhnya kurus. Selama ini Gilang hanya mengkonsumsi obat-obatan dari dokter saja.
"Kenapa?" Tanya Dony melihat perubahan wajah Kimy yang murung.
"Apa dia tidak mau menerima donor lagi" jawab Kimy yang terlihat pasrah.
"Jangan takut nanti biar aku bicara dengannya"
**
Ke esokan hari, Eve berlari menghampiri Jeff yang saat ini sedang bersama Gilang dan septian di halaman belakang. Seperti biasa, Jeff memang suka ikut menghabiskan waktunya bersama mereka berdua. Kalau biasanya anak seusia Jeff tengah suka-sukanya bermain, Jeff ini beda. Dia lebih suka ikut nimbrung daddy nya yang sedang membahas pekerjaan.
Tidak hanya sekedar nimbrung, Jeff malah ikut menimpali omongan kedua orang dewasa itu. Kalau Jeff tidak mengerti, tidak segan bocah itu untuk bertanya kepada Gilang.
"Deff" teriak Eve berlari menghampiri Jeff.
Jeff menoleh ke asal suara, di ikuti Gilang dan Septian yang juga melihat kedatangan Eve dan papanya di belakang gadis kecil itu.
"Epe" gumam Jeff masih diam di tempatnya.
__ADS_1
"Jeff tu kegebetanmu datang" ledek Septian di balas cengiran oleh Jeff.
Setelah sampai di depan Jeff, Eve terlihat ngos-ngosan dan Jeff terlihat biasa saja melihat kedatangan gadis kecil itu.
"Jeff itu Eve datang kenapa diam saja" kata Gilang dengan menyenggol lengan Jeff.
"Epe"
"Hmm apa, cebental. Atu napas dulu def, Atu tapek" ucapan Eve itu membuat semua orang di situ terkekeh geli kecuali si bocah gembul, Jeff. Jeff justru terlihat kesal sekali.
"Tenapa dep?" Tanya Eve kemudian setelah menenangkan nafasnya.
"Tenapa tamu tuka tekali lali-lali sepelti tadi. Atu tidak cuka Epe, nanti tamu datuh dimana?" Kata Jeff belepotan.
Semua orang di sana manggut-manggut mendengar ocehan bocah itu. Jadi ceritanya si Eve ini lagi di omelin sam di Jeff.
"Eve, kamu dan Jeff main dulu ya, papa mau bicara sama om Gilang" Kata Dony sambil menarik kursi di depan Gilang dan ikut duduk di situ.
Eve mengangguk, lalu kedua bocah itu pun berlari ke dalam rumah.
"Ada apa?" Tanya Gilang pada Dony.
"Sudah kau putuskan?" Tanya Dony to the point.
Gilang mengernyit "Apanya?"
"Tentang pendonor itu?" jawab Dony sambil menyenderkan tubuhnya di kursi menunggu jawaban Gilang.
"Kau sudah tahu keputusanku?" jawab Gilang dengan santai.
Gilang mengangguk. Septian menggeleng heran dengan kelakuan Gilang itu, apa lelaki itu berniat bunuh diri secara perlahan.
"Kimy tahu" seru Dony.
Gilang melotot mendengarnya "Tahu dari mana?"
"Dariku" jawab Dony dengan santai.
"****, kenapa kau beri tahu?" Gilang menatap Dony dengan tajam, tapi Dony mana peduli. Sedikitpun ia tidak takut dengan Gilang.
"Kimy sedang hamil, apa kau mau cepat-cepat mati" Kata Dony dengan wajah datar.
"Ppffff.." Septian ikut terkekeh mendengar ucapan Dony itu.
"Bener itu, kau tidak mau melihat bayimu lahir, ikut membesarkanya dan menua bersama Kimy?" Kata Septian menimpali.
Sebenarnya kalau mengingat itu dada Gilang terasa sesak. Mereka tidak tahu saja kalau Gilang setiap malam selalu ketakutan akan kematiannya sendiri.
"Pikirkan lagi, jangan gegabah. Sebentar lagi Jeff akan punya adik, apa kau tidak ingin hidup lebih lama lagi bersama mereka" Kata Dony benar-benar dengan wajah tanpa expresi dan kata-katanya itu cukup mengusik pikiran Gilang saat ini.
"Aku akan temui dokter jika kau benar-benar sudah berubah pikiran" lanjut Dony lagi.
Gilang membuang nafas kasar, kemudian ia menengadahkan kepalanya ke atas.
__ADS_1
"Apa itu akan berhasil? Aku takut kalau gagal, aku belum siap kehilangan semuanya" katanya sambil melihat langit yang kebetulan sore itu sangat cerah.
"Bukankah dokter bilang 70% angka keberhasilannya" Septian mengingatkan.
"Si*lan, sisanya 30% itu juga angka yang tidak kecil" Kata Gilang dengan menatap Septian tajam.
Septian terkekeh "Aku kira kau tidak takut mati Lang"
"Br*ngs*K" umpat Gilang terdengar nyaring.
**
Wanita yang tengah hamil muda itu terlihat pucat dan lemas. Seharian ini entah sudah berapa kali ia mengeluarkan isi dalam perutnya. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi, ia berjalan perlahan dengan memegangi perutnya.
"Kau masih mual?" Tanya seorang lelaki yang sedari tadi sudah menunggunya di dekat ranjang. Lelaki itu duduk di situ sambil melihat pergerakan wanita itu.
"Hem" jawab si wanita.
"Aku akan mengantarmu ke dokter"
Wanita itu menggeleng "Tidak perlu, katanya ini wajar untuk orang yang sedang hamil muda"
Lelaki itu berdecak "Tapi aku tak tega melihatmu begitu. Apa yang harus aku lakukan?"
"Diamlah Tristan, kau cerewet sekali. Aku semakin mual mendengar omelanmu" Kata wanita itu sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Tristan tersenyum miring, Bisa-bisanya di saat tubuhnya sudah selemah itu, wanita itu masih saja melawannya.
Tristan mendekati wanita itu, ia duduk persis di depannya "Katakan kau mau apa? Kau tidak ingin sesuatu seperti orang hamil pada umumnya?"
"Ck, nggak!" jawab si wanita dengan ketus.
"Aku tebak anak itu nanti pasti mirip sekali denganku" Kata Tristan mendapat lirikan dari si wanita.
"Kau mau tahu kenapa?"lanjut Tristan, namun Si wanita diam saja tak menjawab.
"Itu karena selama kau hamil, kau terlihat membenciku. Kau terus-terusan mengumpatiku dengan kasar"
"Whatever!!" jawab si wanita sambil berdiri menjauh dari Tristan.
"Kau masih marah?" Tanya Tristan melihat punggung wanita yang sekarang berdiri di deket jendela.
Si wanita tak menjawab, ia diam saja sambil bersedekap dada melihat ke luar. Air mata menetes di pipinya, namun segera ia hapus, sebelum jejaknya di ketahui oleh Tristan si lelaki gila itu.
"Laura.."
"Laura, apa kau masih marah padaku?" Tanya Tristan sekali lagi.
Bersambung...
**
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
__ADS_1
Selamat membaca
❤️❤️❤️❤️