
"Sayang, tumben enggak telepon dulu" Daniel menyambut kedatangan istri tercintanya itu. Daniel terpaksa harus datang ke kantor karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan. Mengingat berita kematian Tristan lumayan berpengaruh pada perusahaannya. Segera di peluknya tubuh ramping sarah dan mencium pelipisnya "Ada apa sayang, kenapa mukanya tegang begitu?" Daniel memaksa wajah sarah untuk mendongak ke atas, dilihatnya wajah cantik istri tercintanya itu "Ada apa?" Sarah menepis lalu berjalan kesofa dan duduk di sana.
"Aku hampir gila dengan semua ini" Kata sarah kemudian.
"What, katakan apa yang terjadi?" Daniel duduk disamping sarah, menatapnya dengan serius.
"Gilang akan menggantikan Tristan di pernikahan itu" ucap sarah to the point.
"Apa kamu bilang?" Daniel begitu terkejut mendengarnya.
"Aku tahu kamu tidak akan setuju. Kalian semua tidak akan setuju dengan ide konyol ini. Tapi pernikahan kurang dua hari dan--" Sarah menghembuskan nafasnya pelan.
"Pernikahan itu tidak akan ada Sarah. Bagaimana kamu bisa berfikir pernikahan itu akan tetap berlangsung kalau mempelai lelakinya sendiri telah meninggal" nada suara Daniel sudah meninggi saat ini.
"Tapi, tap--"
"Tidak ada tapi-tapi. Aku tahu itu ide konyol kalian"
"Kalian?" Tanya sarah ambigu.
"Kamu dan Sinta, siapa lagi" jawab Daniel beranjak dari duduknya. Dia bersiap dengan memakai jasnya yang sebelumnya digantung di kursinya. "Aku tidak mau mendengar ini lagi. Pernikahan ini batal. Aku sudah menghubungi Dony untuk datang kerumah nanti malam, dia akan bicara dimedia besok" Daniel berjalan meninggalkan ruangannya, meninggalkan sarah sendiri di sana. Sarah merasa bingung saat ini, bagaimana dia bisa keluar dari situasi ini.
**
"Jadi Don saya minta besok kau mengumumkan tentang pembatalan pernikahan ini"
"Akan saya umumkan om" jawab Dony tenang. "Saya juga akan umumkan tentang surat wasiat Tristan. Saya masih mempunyai harapan kalau Tristan bisa di temukan. Tapi bagaimanapun, perusahaan dan aset-aset Tristan harus ada yang mengelola"
"Surat wasiat, Tristan menulis surat wasiat?" Tanya Daniel sedikit terkejut.
"Kau sudah datang" tiba-tiba Sarah muncul di situ "Ada yang harus aku katakan padamu Don"
"Sayang, ada apa?" Tanya Daniel pada Sarah.
"Pernikahan itu akan tetap diadakan Don" Kata sarah seketika membuat Dony kaget.
"Sarah!!" bentak Daniel "Topik tadi sudah selesai, cukup. Masuklah!"
"Enggak Daniel, kamu harus tahu kenapa aku mau pernikahan ini tetap berlangsung"
"Apa masalahmu Sarah?" teriak Daniel lagi, Daniel berdiri menghampiri sarah ingin membawa istrinya itu ke kamar namun di tepis oleh wanita itu.
"Masalahnya bukan ada di aku tapi anakmu, Kimy" jawab Sarah sambil menangis.
"Apa maksudnya?" Tanya Daniel.
"Gilang yang akan menggantikan Tristan dipernikahan itu" jawab Sarah tegas.
"Apa?!"
"Mami?!"
__ADS_1
Dony dan Kimy sama-sama bersuara dengan terkejut. Ketiganya menoleh ke atas dan ternyata Kimy sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan Kimy mendengar perkataan mereka bertiga.
"Kimy" panggil Sarah. Kimy berjalan menuruni tangga sambil menatap sarah nyalang.
"Apa maksud mami?" Tanya Kimy dengan nada tinggi.
"Kimy, sayang kamu akan menikah dengan Gilang" jawab Sarah dengan lembut.
"Gila, mami gila. Itu tidak akan pernah terjadi mi" jawab Kimy dengan tatapan marahnya.
"Sebenarnya apa mau anda?" Dony membantu Kimy, dia menanyai Sarah dengan tatapan marahnya.
"Ak, aku--"
"Sudah cukup Sarah, jangan di teruskan. Kita tutup topik ini, tidak akan ada yang menikah" Kata Daniel dengan tegas.
"Tapi bagaimana dengan Kimy, kasih kesempatan aku buat bicara Daniel" teriak Sarah marah pada suaminya itu.
"Jangan uji kesabaranku sayang, sudah cukup atau---"
"Atau apa hm, atau apa. Katakan atau apa? Kamu enggak tahu bagaimana bingungnya aku saat melihat putrimu mencoba bunuh diri, lihat" Sarah menunjuk tangan Kimy yang di perban. Tentu saja itu membuat Daniel dan Dony sangat kaget.
"Sayang?" Tanya Daniel pada Kimy.
"Kimy" Tanya Dony pada Kimy.
Namun Kimy hanya diam, dia megalihkan pandanganya pada objek lain.
"Dan, dan dia sedang hamil"
Jeduer
"Apa!!!" Kata Dony dan Daniel bersamaan. Kimy tak berani menatap mata Daniel. Dia hanya menunduk bingung dengan keadaan ini.
"Itu sebabnya pernikahan ini harus tetap terjadi walaupun tanpa Tristan. Kimy hamil dan anak itu butuh bapak" Kata Sarah.
"Anak ini tidak butuh bapak, aku akan membesarkannya sendiri" Jawab Kimy sambil menggeleng. Sedangkan Daniel hanya mematung di tempatnya. Semua ini terlalu mengejutkan baginya. Lelaki itu tidak bisa berfikir waras saat ini sepertinya.
"Apa Tristan tahu?" Tanya Dony. Kimy menggeleng sebagai jawabannya. Dony semakin mengetatkan rahangnya, pertanda lelaki itu sedang sangat marah dengan keadaan saat ini. "Mami mu benar, kau harus menikah dengan Gilang" Jawabnya dengan mengepalkan kedua tangannya.
Semua orang di situ cukup terkejut dengan perkataan Dony itu. Mereka tidak menyangka lelaki itu akan menjawab demikian.
"Apa kau gila, aku tidak akan menikah dengan lelaki manapun selain Tristan. Kau mengerti!" teriak Kimy.
"Tapi kau harus menikah Kimy"
"Tidak!! Papi.. Kenapa papi diem aja, katakan pada mereka kalau aku tidak akan melanjutkan pernikahan ini" Kata Kimy sambil berjalan mendekati Daniel yang dari tadi hanya terdiam.
"Don, biarkan Kimy yang memutuskan, jangan paksa dia" jawab Daniel dengan suara lemah.
"Maaf, tapi saya harus mengatakan ini. Kimy harus tetap menikah karena setelah ini--" Dony menjeda perkataannya, menatap satu-persatu mata ketiga orang di depannya itu "Kimy yang akan memimpin ABR corp dan semua anak perusahaannya di dalam maupun di luar negeri"
__ADS_1
"Apa!!!" serentak Daniel, Sarah dan Kimy mengucapkannya.
"Maksudnya bagaimana, kenapa Kimy?" Tanya daniel.
"Kau bilang aku Don, kau gila?" Tanya Kimy. Sedangkan Sarah hanya diam mematung, menunggu Dony menjawab pertanyaan Daniel dan Kimy.
"Iya, kau akan menggantikan posisi Tristan--" Dony membuang nafasnya panjang "sekitar sebulan yang lalu Tristan menyuruhku menemui pengacara, dia memindahkan semua kekayaannya atas namamu Kim--" Dony menjeda lagi ucapannya dan melihat wajah orang-orang di depannya yang terlihat sangat terkejut itu "Dan dia menulis wasiat, kau adalah satu-satu nya orang yang berhak atas segala yang di miliki Tristan, kau mewarisi semua kekayaan Tristan"
Seketika tubuh Kimy oleng yang langsung di tangkap oleh Daniel. Kimy menangis histeris di pelukan Daniel "Kenapa, kenapa, kenapa Tristaaann!!!" teriak Kimy histeris.
"Sayang, tenangkan dirimu nak" ucap Daniel sambil memeluk putrinya. Sarah hanya menangis di tempatnya. Sedangkan Dony menatap pasrah Kimy yang menangis histeris itu.
"Aku enggak butuh harta kamu Tristan, aku enggak butuh. Kenapa kamu lakukan ini padaku" teriak Kimy lagi.
"Aku enggak mau menikah Tristan!!Don--" Kimy melepas pelukanya dan berjalan ke arah Dony "Kau tahu kan Tristan begitu sangat cemburu sama Gilang. Hm.. Dia pasti akan sangat marah kalau aku bertemu dengan Gilang--" Kimy menatap Dony yang terlihat kebingungan "Lalu bagaimana aku bisa menikah dengannya don, kamu gila. Tristan pasti akan membunuhmu kalau dia pulang nanti don" air mata Kimy semakin deras "Dia akan membunuhmu Dony" ucapnya perlahan mulai lemah.
"Kimy" Dony menangkap kedua lengan Kimy saat tubuhnya akan merosot ke bawah, menatap ke dalam mata wanita itu "Maafkan aku. Aku tahu ini berat, tapi besok aku akan umumkan di rapat agar semua pemegang saham dan publik tahu kalau kamu yang meneruskan perjuangan Tristan. Tapi--" Dony mengehela nafas panjang "Tapi publik tidak boleh tahu kalau kamu hamil diluar nikah. Itu akan mempengaruhi harga saham dan perusahaan. Kau akan menjadi pimpinan di perusahaan, kau harus menjaga image mu. Kau harus menikah dengan Gilang kalau ingin menyelamatkan anak itu" seketika tubuh Kimy bergetar hebat mendengar ucapan Dony itu. Kimy memukul beberapa kali dada Dony, meluapkan kekesalanya pada lelaki itu. Dony merengkuh tubuh yang tak berdaya Kimy ke dalam pelukanya. Dony tak punya pilihan, dia harus menyelamatkan perusahaan itu, walau sejatinya dirinya tidak ikhlas kalau Kimy harus kembali pada mantan kekasihnya itu.
**
"Bagaimana Gilang?" tanya Sinta pada putranya yang saat ini terlihat diam itu. Gilang terlihat melamun mendengarkan beberapa orang yang berbicara. Raganya saat ini ada di situ tapi jiwanya melayang entah kemana.
Malam itu setelah Dony memutuskan supaya Kimy tetap melanjutkan pernikahannya dan menjelaskan semuanya, segara Sarah menghubungi Sinta dan Teddy untuk datang ke rumahnya malam itu juga, tidak ada waktu lagi, semua harus beres malam itu juga. Sinta segera menghubungi Gilang untuk ikut datang ke rumah Daniel, walaupun Gilang tidak tahu kenapa dia harus datang kesana.
"Gilang" panggil Sinta lagi.
"Iya ma" Gilang menoleh pada Sinta, dia sedikit terkejut karena pandangan semua orang sudah mengarah padanya.
"Bagaimana, kau setuju menikahi Kimy?" Tanya Sinta sekali lagi.
Gilang menelan salivanya yang terasa tercekat di tenggorokan. Lelaki itu menatap satu persatu wajah orang yang berada di situ. Katakan ini hanya mimpi, tapi jujur Gilang masih begitu shock dengan semua ini.
"Gilang" panggil Sarah, Gilang menatap Sarah saat itu juga. Gilang baru menyadari kalau semua ini bukanlah mimpi.
"Apa Kimy tahu?"
"Ya.." jawab Sarah.
"Dia setuju?" Sarah mengangguk sebagai jawaban.
"Aku mau menikah dengan Kimy" jawab Gilang setelah diam beberapa saat, membuat semua orang yang berada di situ lega, terlihat dari raut muka mereka selain Dony. Dony hanya diam menatap tajam Gilang dengan mengetatkan rahangnya.
"Eghm.. Gilang" panggil Daniel. Seketika semua orang menoleh ke asal suara "Kau tahu kondisi Kimy yang lagi hamil--" Daniel menggantung ucapannya, menatap mata calon menantunya itu "Kau tahu kondisinya kan, dia tidak utuh lagi seperti dulu, jadi tol--"
"Saya akan menerima Kimy apapun keadaanya. Saya menikahi Kimy bukan karena dia sedang hamil dan butuh seorang bapak untuk anaknya. Saya menikahi dia karena saya mencintai Kimy, bukan karena alasan apapun, jadi papi jangan pernah meragukan Gilang" potong Gilang. Ucapan Gilang membuat orang membeku seketika di tempatnya. Sedangkan Dony semakin mengetatkan rahangnya dan menggenggam tangannya kuat.
"Papi percaya" jawab Daniel kemudian.
"Bolehkah saya bertemu dengan Kimy. Saya hanya ingin memastikan pendapatnya"
"Naiklah, dia ada dikamarnya" jawab Sarah.
__ADS_1
Gilang naik ke tangga menuju ke kamar Kimy. Lelaki itu berjalan perlahan, satu persatu anak tangga di naiki, perlahan bibirnya tersenyum mengingat tangga ini penuh kenangan akan dirinya bersama Kimy. Gilang menatap kesetiap sudut rumah besar itu. Bibirnya tersenyum lagi, sperti mimpi dia kembali lagi ke rumah yang penuh akan jejak kenangan manis bersama kekasihnya Kimy. Gilang berhenti tepat di depan pintu kamar Kimy. Senyuman semakin mengembang ketika kenangan itu muncul, kenangan saat dia selalu menghabiskan hari-hari dan malam-malamnya di kamar itu. Kenangan saat dia untuk pertama kalinya menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk kimy, gadisnya dulu. Kenangan mereka saat pertama kalinya saling memiliki seutuhnya. Takdirnya sungguh indah kali ini. Gilang terus tersenyum kala dirinya sadar kalau sebentar lagi akan menjadikan wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu istrinya. Ya, Kimy akan menjadi istri Gilang. Mimpi itu, mimpi itu akan menjadi kenyataan.