BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Maafkan aku


__ADS_3

Tangan Gilang terangkat pelan, ia ingin menyentuh gadisnya itu. Tapi ia ragu, apa benar gadis di depan nya ini masih miliknya. Perlahan air mata Kimy membasahi pipi mulusnya. Dengan ragu-ragu Gilang mengusap pipi mulus Kimy. Kimy menundukkan pandangannya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apa lelaki ini masih miliknya? Apa mereka masih boleh untuk saling merindukan.


Gilang menangkup wajah Kimy dengan kedua tangannya. Membawa wajah gadis itu untuk melihat ke arahnya. Gilang mendekatkan wajahnya, kedua dahi mereka menempel satu sama lain. Kimy menutup matanya, merasakan hembusan nafas kekasih yang ia rindukan itu.


"Kamu baik-baik saja, hmm?.." bisik gilang. Kimy tak menjawab, ia terlalu sibuk merasakan jantungnya yang berdegub sangat kencang.


Tuhan aku mencintai laki-laki ini, aku sungguh tak sanggup kehilangan dia.


Air mata Kimy terus menerus menetes tanpa bisa di bendung lagi.


"Jangan nangis.." bisik gilang lagi.


Kimy menggeleng pelan, dia juga sebenarnya tak ingin menangis begini. Tapi air mata nya sungguh tak bisa di bendungnya.


Perlahan Gilang mengecup kening Kimy lembut. Deg.. Aliran darah Kimy seperti berhenti. Desiran aneh di dadanya begitu kentara. Dia harus bagaimana? Kimy mendorong dada Gilang pelan, dia sadar akan posisinya saat ini. Sebentar lagi ia akan menikah. Gilang yang menyadarinya pun melepas kecupannya dan sedikit mundur memberi jarak.


"Maaf.." Kata lelaki itu sedikit kecewa.


Maaf, kenapa dia harus meminta maaf, Kimy adalah kekasihnya, gadis itu adalah miliknya. Kenapa dia harus meminta maaf karena sebuah kecupan di kening. Batin Gilang mulai melawan.


"Kimy, lihat aku.."


Sedikit demi sedikit Kimy mengangkat wajahnya, melihat dengan dekat lelaki yang ia cintai itu. Mata itu, hidung itu, wajah itu, tatapan itu, Kimy merindukan semuanya.


Gilang melihat ke dalam manik mata Kimy, ia ingin menilai apa gadis di depan nya ini masih mencintainya, menginginkannya. Tak ada yang lebih mengenal Kimy selain dirinya, lelaki itu sudah hafal betul bagaimana sifat gadisnya luar dan dalam.


Cukup lama mereka saling memandang satu sama lain. Hingga mata Gilang berbinar senang.


Kamu masih milikku sayang.


Gilang sudah tak peduli lagi dengan semuanya, yang dia tahu gadis itu masih mencintainya. Tidak ada yang lebih penting dari itu. Dia akan melakukan segalanya. Dengan sekali gerakan, bibir Gilang sudah meraup bibir indah Kimy. Lelaki itu sudah sangat merindukan bibir indah itu. Dengan sangat lembut ia mencecapnya, memainkan bibir itu atas bawah. Kimy yang mendapat serangan mendadak sempat terkejut, tapi akhirnya ia pun memejamkan matanya menikmati setiap ciuman yang Gilang berikan. Katakan ini salah, tapi takdir seakan mempermainkan mereka. Apa salah kalau mereka masih saling mencintai.

__ADS_1


Perlahan Gilang berjalan pelan, menggiring Kimy untuk berjalan mundur tanpa melepas ciumannya. Posisi Kimy yang masih berada di ambang pintu kamar itu memudahkan mereka tenggelam dibalik pintu. Kini mereka sudah berada di dalam kamar. Sedangkan lexa sudah tak berada di apartemennya. Sesaat setelah ia meninju Gilang tadi, perempuan itu pun lanjut keluar apartemen. Dia tak mau mengganggu kedua sejoli itu.


Kimy merasa tubuhnya terpojok antara tembok dan dan tubuh tegap Gilang. Lelaki itu semakin dalam mencium kimy hingga gadis itu benar-benar kehabisan nafas. Seperti mendapatkan kesadarannya kembali, Kimy membuka mata dan mendorong badan Gilang.


"Lang.. Lepas.." Kata Kimy dengan nafas terengah.


"Aku kangen yank.." jawab Gilang dengan suara paraunya menahan hasrat tanpa melepas ciumannya.


"Lang, aku mohon lepas.."


"Gilang!!!.." teriak Kimy.


Mendengar gadisnya berteriak membuat gilang melepas tautannya. Gilang menatap intens wajah Kimy.


"Kenapa?.." Tanyanya pada gadis itu.


Kimy mengusap wajahnya, ia berjalan menjauh dari tubuh lelaki itu.


"Harusnya kita tidak bertemu lang, harusnya aku bisa mikir kalau kita pasti akan berakhir seperti iki.." Kimy merasa frustasi. Harusnya dia tak menyetujui rencana konyol lexa ini. Harusnya dia menghindari pertemuannya dengan lelaki itu. Mereka masing saling mencintai, mana mungkin bisa mengendalikan diri. Kimy benar-benar merasa sangat bodoh.


"Kim.." Gilang berjalan mendekat, lelaki itu duduk bersimpuh di depan Kimy. Menatap mata gadis yang sedang menutup mata itu.


"Lang ini salah, ini akan jadi masalah.." jawab Kimy bersamaan dengan ia membuka mata.


"Kamu takut padanya?.."


"Lang.."


"Aku ngerti.." Kata Gilang lemah sambil berdiri dari hadapan Kimy. "Aku senang kamu sudah kembali Kim, pasti papi bahagia banget.." Gilang mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia berkata sambil tersenyum, tentu saja senyum yang ia paksa sedemikian rupa agar Kimy nyaman bersamanya.


Hati Kimy terasa perih saat gilang memanggilnya dengan sebutan kim. Kimy tahu saat laki-laki itu memanggilnya begitu, berarti dia sangat marah. Gilang selalu memanggilnya yank, sayang, sayangku kalau sedang tidak marah.

__ADS_1


"Lang, aku akan menikah.." kata Kimy to the paint. Kimy sengaja memberitahu lelaki itu agar Gilang tak banyak berharap padanya.


"Heh.." Gilang tersenyum tanpa arti.


"Maafkan aku.."


"Jadi kamu menemuiku untuk mengatakan ini?.." Tanya Gilang serius.


"A..aku.." Kimy bergetar.


"Aku ngerti jangan di teruskan.." Kata Gilang lemah. Gilang tahu kalau Kimy melakukan itu karena terpaksa. Dia masih melihat cinta yang begitu besar di mata gadisnya itu. Dia tak mau membuat beban lagi pada Kimy. Gilang bertekad akan merebut Kimy lagi dari Tristan. Bagaimana pun caranya.


**


"Gilang sudah pulang?.." Tanya lexa begitu masuk ke apartemen nya. Wanita itu tak menyangka Gilang akan pergi secepat itu. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu hingga esok hari. Makanya lexa meninggalkan kedua sejoli itu. Namun saat dia lagi asyik nongkrong sama teman-temannya, Gilang menghubungi nya dan bilang kalau dia pulang dan Kimy sendirian di apartemen. Lexa dengan segera berlari kembali ke apartemennya.


"Aku yang menyuruhnya pulang?.."


"Kenapa, apa kamu sudah menceritakan semuanya?.."tanya lexa antusias. Kimy hanya menggeleng.


"Aku bilang kalau aku mau menikah kak?.."


"Whattt, kamu gilaa Kim.." teriak lexa. Kimy tak menjawab, gadis itu seperti gadis bodoh.


"Dia harus tahu kak. Tristan adalah kakaknya.." jawab Kimy lemah.


"Sialan, mereka saudara sebapak tapi kenapa sifatnya bagai langit dan bumi. Tapi Kim.. Aku nggak rela kamu menikah dengan lelaki jahat itu.." protes lexa. "Lalu apa yang di katakan Gilang, apa dia marah?.." Kimy menggeleng lagi.


"Gilang nggak marah, kok aneh. Bukannya dia itu posesif banget sama kamu. Dulu kamu selalu di pantau kemanapun kamu pergi, sekarang kamu mau nikah sama orang lain kok dia nggak marah.." lexa merasa kalau Gilang sangat aneh.


"Aku nggak tahu kak.." jawab Kimy lemah dengan mata sebab bekas air mata. Kimy memeluk lexa dengan erat sambil menangis.

__ADS_1


"Tenanglah.. Kita akan cari jalan keluarnya.." lexa mencoba menenangkan Kimy.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2