BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Hidup sungguh tak adil


__ADS_3

Dalam hidup Tristan, dia tak pernah mendapatkan cinta tulus dari seseorang. Apa cinta akan selalu berakhir seperti itu. Dan sekarang, Kenapa bisa hatinya kecolongan begitu. Dia sendiri tak mengerti. Takdir seperti mempermainkannya. Dia membawa gadis itu tujuannya satu, yaitu balas dendam. Bagaimana caranya dia balas dendam, kalau hatinya sendiri tak mau melihat wanita itu menderita.


Sialan, kenapa aku terjebak dalam situasi ini.


Tristan terus merutuki dirinya sendiri.


Laki-laki itu sekarang berada di dalam kamar pribadinya. Beberapa saat lalu, setelah melihat Kimy menangis dan menatapnya penuh kebencian, dia bergegas meninggalkan Kimy. Dia membiarkan gadis itu meratapi kesedihannya sendirian.Tristan tidak mau terlihat lemah oleh Kimy.


" Aku harus mempercepat rencanaku, sebelum gadis itu menghancurkan semuanya.." Tristan bicara sendiri sambil memainkan gelas berisi minuman beralkohol ditangannya.


Drrttt drtttt!!!!!


Ponsel Tristan bergetar tanda panggilan masuk, laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Terlihat nama Dony di layar ponsel itu.


" Ada apa?.." Tristan menjawab telepon dari Dony.


" Bos, ini masalah Nyonya Siska Mattew.." Jawab Dony di balik ponselnya. Tristan mengerutkan keningnya mendengar perkataan anak buahnya itu


" Ada masalah apa?.."


" Wanita itu mengalami kecelakaan bos beberapa tahun lalu di Indonesia.."


" Lalu?.." Tanya Tristan.


" Sepertinya dia menjalani donor mata dirumah sakit yang sama dengan Nyonya bos.." Tristan terperanjat kaget mendengar perkataan Dony, laki-laki itu bangkit dari duduknya.


" Apa maksudmu sialan, jangan bertele-tele atau ku hajar kau.." Gertak Tristan.


" Sepertinya, Nyonya mendonorkan matanya pada wanita itu bos.." Jawab Dony di balik telepon.


" Apa kau gila?? Mana ada orang mati mendonorkan matanya ke orang lain??.." Jawab Tristan jengah.


" Itu yang harus kita cari tahu bos.."


Tuut..tuut..tutt...


Tristan menutup telepon itu sepihak. Laki-laki gila itu dengan cepat keluar dari kamarnya. Dia berjalan dengan cepat menuju kamar nek Inah. Beberapa tahun lalu saat mamanya meninggal bunuh diri di depan matanya, memang Tristan masih sangat belia. Dia tidak mengerti betul apa yang terjadi setelah mamanya di bawa ke rumah sakit. Tristan kecil terlalu shock saat itu, satu-satunya orang yang tahu betul adalah nek Inah. Tristan yakin wanita tua itu tahu segalanya.


Tristan berhenti tepat di depan kamar wanita tua itu, sudah bertahun-tahun dia tidak pernah masuk ke dalam kamar itu. Tristan tahu dalam kamar itu ada banyak foto kenangan tentang mama dan papanya.


Itulah sebabnya, beberapa saat lalu dia begitu marah terhadap Kimy, karena berani masuk ke dalam kamar wanita tua itu.


Tristan masih memandang nanar pintu kamar nek Inah. laki-laki itu perlahan memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Tristan melihat nek Inah sedang terlelap. Laki-laki itu perlahan masuk ke dalam kamar, dia memandang nenek tua itu.


Apa yang kau sembunyikan dariku?


Perlahan nek Inah membuka mata, dia melihat Tristan berdiri di dekat pintu memperhatikannya.


" Kaukah itu?.." Tanya nek Inah sambil mencoba bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


" Benar itu kau, ada apa kau datang kemari?.." Tanya nek Inah lagi.


" Aku cuma memastikan kau baik-baik saja.." Jawab Tristan dingin. Dengan kedua tangan berada dalam saku celananya, perlahan laki-laki itu berjalan mendekati nek Inah.


" Sejak kapan kau peduli padaku?.."


" Sejak kau mulai lancang membawa gadis itu masuk ke dalam kesini.." Jawab Tristan dingin.


" Aku terjatuh di kamar mandi dan dia menolongku.." Jawab nek Inah dengan suara bergetar.


" Kau sengaja memajang foto-foto sialan itu, agar dia melihatnya?.."


" Tristan apa yang kau katakan, kau sudah keterlaluan. Kau menuduhku yang tidak-tidak. Kenapa kau tidak bisa percaya padaku sekali saja?.." Tanya nek Inah mencoba menahan tangis, nek Inah sudah memposisikan tubuhnya untuk berdiri, namun belum dia lakukan.


" Kau tahu, aku tidak pernah percaya pada siapapun di dunia ini, termasuk kau.." Jawab Tristan kasar.


Nek Inah menangis mendengar kata-kata pria itu


" Kenapa kau selalu bersikap begini?.." Tanya nek Inah.


" Kenapa kau begitu membenci gadis itu, aku tahu kau tak menginginkannya di rumah ini? Kau tak pernah mengenalnya, kenapa kau ingin aku menjauhinya?.." Tanya Tristan penuh selidik.


" Itu karena gadis itu tak bersalah, tidak seharusnya kau melibatkannya pada urusan balas dendammu.."


" Kau yakin karena itu?.." Tristan tersenyum devil.


" Kau tahu dia anak Sarah Moeremans bukan?.." Tristan berkata penuh penekanan.


" Kakak dari Siska Mattew.." Deg.. Nek Inah terkejut.


" Itu berarti, gadis itu adalah keponakan dari Siska Mattew.." Tristan terdiam menunggu jawaban nek Inah.


" Ada yang ingin kau jelaskan padaku.." Tanya Tristan sambil bersedekap. Laki-laki itu memandang nek Inah penuh tanya. Sedangkan nek Inah sendiri begitu ketakutan, terlihat dari wajahnya yang begitu pucat.


" Tristan, Aku.."


" Sebaiknya kau pergi dari sini.." Sela Tristan. Nek Inah berdiri dari duduknya, wanita tua itu membanting tubuhnya ke lantai. Nek Inah berjongkok di depan Tristan, wanita tua itu menangis sejadinya, dia menenggelamkan wajahnya pada lantai yang berjejer, berharap Tristan mengampuninya.


" Jangan lakukan itu nak, maafkan aku.." Kata nek Inah dengan wajah masih mencium lantai di depan Tristan.


" Kau tahu, aku bukan laki-laki yang pemaaf kan?.." Jawab Tristan.


" Katakan cepat, sebelum aku benar-benar mengusirmu dari rumah ini.." Kata Tristan berjalan menjauhi nek Inah. Tristan duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang nek Inah. Laki-laki itu masih menunggu penjelasan wanita tua itu.


Nek Inah bangkit, wanita itu duduk tegak menghadap Tristan. Namun dia tetap menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap wajah devil Tristan.


" Saat itu kau masih terpuruk.." Nek Inah mulai bercerita.


" Tristan kau tahu kenapa Nyonya bunuh diri?.." Nek Inah mnejeda ceritanya, wanita itu terlalu sesak jika harus mengingat Rahma. " Itu karena Nyonya sangat merasa bersalah.."

__ADS_1


Bersalah??Sialan, kenapa kau ingatkan itu lagi. batin Tristan.


" Malam itu, Nyonya memanggilku ke kamarnya. Aku tidak tahu kenapa malam itu nyonya begitu antusias ingin membuka amplop cokelat ditangannya.."


Amplop cokelat? batin Tristan.


" Aku lihat malam itu kau sudah terlelap, aku pikir karena itu nyonya ingin membuka amplop malam-malam begitu. Nyonya bilang kalau amplop itu dari selingkuhan suaminya. Saat amplop itu di buka ternyata isinya adalah foto. Itu adalah foto sebuah pernikahan yang sangat sederhana. Foto pernikahan tuan dan wanita itu. Di dalam foto itu ada tgl dan tahunnya, dan pernikahan itu terjadi 3 tahun sebelum pernikahan nyonya dan tuan di lakukan. Itu berarti mereka sudah menikah jauh sebelum nyonya Rahma menikah dengan tuan Teddy.."


What? tidak mungkin. batin Tristan.


" Dan di foto kedua yang nyonya lihat, ternyata mereka sudah memiliki anak laki-laki yang umurnya saat itu sekitar 7 atau 8 tahun, yang kau tau sendiri sekarang anak itu siapa. Diantara foto itu terselip sebuah surat yang menyatakan kalau wanita itu adalah istri sahnya tuan. Tuan menikahi wanita itu tanpa sepengetahuan orang tua tuan Teddy, namun setelah dua tahun menikah wanita itu tak bisa memberinya anak. Padahal keturunan adalah sesuatu yang tuan harapkan saat itu, dan saat itulah tuan bertemu dengan nyonya dan menikahinya.."


" Kau bercanda, jadi maksudmu mamaku yang merebut laki-laki bajingan itu.." Teriak Tristan sambil berdiri.


" Nyonya tidak merebutnya, nyonya tidak tahu kalau tuan sudah beristri, tolong tenanglah dengarkan aku dulu.." Jawab nek Inah.


" Setelah melihat isi amplop itu nyonya menyuruhku tidur. Dan esok paginya sudah terjadi peristiwa itu.."


Jadi mama bunuh diri karena mengetahui kalau dialah istri kedua. Bajingan Teddy, kau harus membayar mahal atas kesalahanmu.


" Ini tidak mungkin.." Tristan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Laki-laki itu berjalan mondar-mandir.


" Tenanglah, kau bisa kambuh kalau terus begitu.." Kata nek Inah, mencoba berdiri. Tristan duduk lagi di kursi yang sebelumnya dia duduki. Laki-laki itu terus memegangi kepalanya.


" Katakan ini bohong kan?.." Kata Tristan pelan.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini. Bagiku, wanita itu dan tuan, berhak mendapatkan balasanya, mereka sudah membuat nyonya mengakhiri hidupnya.." Kata nek Inah sambil tersedu.


Sialan, brengseekkk!!! batin Tristan.


" Mengenai wanita yang bernama siska, aku tidak begitu tahu siapa dia sebenarnya. Aku hanya mengetahui namanya di kertas form pendonoran mata saat aku tanda tangan. Aku ingin kau menjauhi gadis itu karena aku tahu dia anak dari artis itu. Aku tidak ingin kau terluka lagi, sudah cukup bagimu menanggung semua ini.."


" Katakan semuanya.." kata Tristan dingin.


" Pada hari di mana nyonya di bawa kerumah sakit, ada dua wanita datang menemuiku di sana.."


" Siapa?.." Tanya Tristan.


" Sarah dan Sinta.." Jawab nek Inah. Deg..Tristan terperanjat mendengar perkataan nek Inah.


" Artis itu datang bersama wanita itu menemui ku, mereka berdua menginginkan mata nyonya.." Tangis nek Inah pecah saat itu, wanita itu menangis sejadinya mengingat kejadian yang tak pernah dia lupakan seumur hidupnya.


Sungguh hidup ini memang tak adil bagi Rahma. Rahma meninggal dengan mengenaskan, saat sudah menjadi jasadpun, mereka masih menyiksa Rahma.


Air mata Tristan menetes perlahan di pipi mulus laki-laki tampan itu. Hatinya sungguh sakit membayangkan nasib miris mamanya. Bagaimana mungkin ada orang setega itu memperlakukan orang lain dengan buruk, bahkan saat sudah menjadi jasadpun masih diperlakukan tak adil seperti itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2