BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Melarikan diri


__ADS_3

"Alana!!!.."


Alana tersenyum manis pada Tristan "Hay honey.." balas Alana.


Tristan menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihat wanita itu berada di sekitarnya. Alana adalah seorang artis dan dia pengusaha terkenal, nama Tristan bisa memenuhi media jika mereka berdua tertangkap basah di situ. Tristan menarik tangan Alana untuk masuk ke kamarnya.


"Woooo santai honey.." suara Alana terdengar manja seperti biasanya.


Tristan menghempaskan tangan Alana ketika sudah di dalam kamar "Apa yang kau lakukan di sini Alana?.." tanya Tristan dengan rahang sudah mengeras, berani sekali wanita itu mendatanginya tanpa di minta. Sepertinya Tristan melakukan kesalahan dengan membiarkan wanita itu hidup.


"Aku mengunjungimu honey. Aku dengar wartawan bicara kau ada di bali. Kebetulan, aku sedang ada shoting di sini.."


Alana duduk di tepi ranjang dengan pose sangat menggoda membuat Tristan menatap tak percaya wanita itu.


"Pergilah sebelum kau ku lempar keluar.."


Alana berdiri menghampiri Tristan yang masih berdiri kaku itu "Aku menunggu lemparanmu sayang, tapi bukan keluar, melainkan ke kasur itu.." Alana melirik ranjang besar yang menantinya.


"Jangan mimpi.." Tristan menjauh dari tubuh Alana.


Alana tersenyum dengan ucapan Tristan itu, alana tahu betul kalau Tristan menggilai tubuhnya kala itu. Setiap akhir pekan Tristan selalu memanggilnya ke apartemen. Semua berubah saat Kimy muncul dan lelaki itu jatuh cinta padanya. "Aku tahu tidak ada yang bisa mengalahkanku di atas ranjang.." ucap alana dengan lantang dan percaya diri.


"Diamlah dan pergi dari sini.."


"Ayolah Tristan kita sedang berada di Bali, kita jauh dari semua orang termasuk calon istrimu, kita bisa memanfaatkan keadaan ini. Aku janji tidak akan ada yang tau.." tantang alana.


"Kau jal*ng gila, aku muak melihatmu alana. Pergilah sebelum aku benar-benar menembak kepalamu.." Tangan Tristan menyelinap ke belakang pinggangnya, lelaki itu berniat mengambil pistol yang selalu dia sematkan di belakang tubuhnya.


Tok tok


Drrttttt


Bunyi pintu di ketuk dan ponsel Tristan bersamaan. Dengan sigap Tristan merogoh ponselnya sambil melihat pintu kamar yang di ketuk seseorang. Tristan melihat nama Dony di layar ponselnya. Sedangkan alana berjalan pelan berniat membuka pintu kamar itu.


"Iya.." Tristan menjawab Dony sambil melirik alana yang sudah berjalan mendekati pintu.


"Aku akan membukanya.." alana memberi tahu Tristan namun tak dijawab oleh lelaki itu, Tristan masih fokus dengan Dony di balik ponselnya.

__ADS_1


"Oh shittt!!.." umpat Tristan sambil berjalan cepat menghampiri alana. Kurang selangkah lagi alana mencapai pintu, namun badannya sudah di seret Tristan menjauh dari pintu itu.


"Kenapa, aku akan membukanya.." alana berbicara dengan panik.


"Diam *****, kau mencari masalah denganku.." Tristan menyeret tubuh alana membawa wanita itu ke dalam kamar mandi "Kau diam di sini, tunggu sampai aku datang.." kemudian Tristan menutup dan mengunci pintu kamar mandi itu.


"Tristan, buka.."


"Diam alana, kalau kau masih berteriak, aku benar-benar akan meledakan kepalamu sekarang juga.." mendengar ancaman itu alana pun langsung terdiam. Alana tahu Tristan lelaki seperti apa, dia tidak akan main-main dengan ucapanya. Setelah mendengar tak ada suara, Tristan pun berjalan menuju pintu, dia membuang nafas kasarnya lalu membuka pintu itu.


"Sayang.." panggilnya pada Kimy yang sudah berdiri di depan pintu sambil bersedekap. Tristan menampilkan raut muka yang terkejut, tentunya terkejut yang di buat-buat.


"Lama sekali kau sedang apa?.." Kimy bertanya dengan curiga.


"Aku tentu saja sedang istirahat. Tapi aku merasa tidak nyaman di sini. Dari mana kamu tahu aku di sini.."


"Tidak penting.."


Tristan tersenyum melihat wanitanya yang sedang marah manja itu "Kamu marah?.." Tristan menutup pintu kamar itu dan menempelkan tubuhnya pada Kimy. Lelaki itu mencium pucuk kepala Kimy gemas.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?.." ketus Kimy.


"Kita pergi dari sini.." bisik Tristan.


"Kenapa?.." kali ini Kimy menatap mata Tristan, dia heran kenapa harus pergi padahal dia baru sampai.


"Karena kamu sudah di sini, sayang untuk kita lewatkan, kita akan liburan beberapa hari di sini.."


"Trus kenapa tidak menginap di sini saja?.."


"Jangan sayang, ini kamar hadiah dari klien untukku istirahat. Aku tidak mau memberimu tempat gratisan. Kita cari tempat yang lebih bagus dari ini.." bujuk Tristan meyakinkan. Kimy tak banyak berfikir, dia juga tidak peduli apa alasan lelaki itu tidak mau di kamar itu. Yang terpenting baginya sudah menemukan Tristan yang menghilang dari kemarin itu.


Kimy mengangguk, Tristan pun menggandeng pinggang ramping Kimy menjauh dari tempat itu. Sambil berjalan Tristan mengambil ponselnya untuk menghubungi dony "Urus kekacauan ini.." perintahnya pada Dony. Kimy yang mendengarnya tak peduli, sudah biasa dia mendengar Tristan memerintah seseorang di balik ponsel seperti itu.


**


Tristan membawa Kimy ke kawasan jimbaran, dia membawa wanitanya ke sebuah villa privat yang sangat mewah. Kimy berlari masuk ketika pintu kamar villa itu terbuka, benar-benar indah pikirnya. "Ya tuhan sayang bagus banget.." teriaknya. Tristan menajamkan pendengarnya, apa yang barusan di dengarnya, Kimy memanggilnya sayang. Tristan pikir dia salah mendengar. Tristan terus mengikuti langkah Kimy yang berlari-lari kecil sperti anak-anak itu. Ketika Kimy berhenti dan merentangkan tangannya sambil memejamkan mata menikmati keindahan itu, Tristan memeluknya dari belakang. "Coba katakan sekali lagi.."

__ADS_1



"Apa?.."


"Kamu tadi memanggiku apa, hmm.."


Kimy tersenyum "Kamu kekanakan, kamu melarikan diri dariku ketika marah.."


"Aku tidak melarikan diri, aku bekerja.."


"Tapi tidak pamit padaku.."


"Jadi sekarang kamu posesif padaku.." Tristan membalik tubuh Kimy untuk menghadapnya. "Katakan sekali lagi.." paksa Tristan tepat di depan Kimy. Hembusan nafas Tristan menerpa wajah Kimy membuatnya memejamkan mata sejenak.


"Sayaang.." jawab Kimy selembut mungkin.


Tristan begitu frustasi melihat wajah pasrah Kimy, segera lelaki itu mencium lembut bibir wanitanya. Tidak tinggal diam, Kimy pun merespon ciuman lembut Tristan. Ciuman yang tadinya lembut itu berubah menjadi kasar dan menuntut. Dengan cepat Tristan mengangkat tubuh Kimy menuju ranjang berukuran besar itu. Kimy merasakan tubuhnya melayang ketika Tristan mengangkatnya, dia ingin melepaskan ciumanya namun ditahan oleh Tristan. Kekasihnya itu tidak mau berhenti sampai di situ. Setelah Tristan membaringkan tubuh Kimy, Tristan melepaskan bibirnya. Dia sudah mengurung tubuh Kimy, tapi menahan tubuhnya dengan kedua tangan agar tak menimpa tubuh Kimy.


"Ini masih siang.." Kata Kimy pelan.


"Lalu.."


"Lihat di luar terang, kamar ini tembus pandang Tristan. Lihat, nanti ada yang melihat.." Kata Kimy sambil melihat ke arah balkon. Memang kamar itu hanya di batasi oleh kaca yang tembus pandang ke laut lepas.


"Yang melihat pasti sudah mati terseret ombak sayang.."


"Tristan.." Kimy memukul dada Tristan pelan. Tristan menangkap tangan Kimy yang memukul dadanya, lalu mencium tangan itu lembut. Rasa gelenyar aneh merasuk ke tubuh Kimy. Entah kenapa, padahal ini bukan kali pertama mereka bermesraan seperti itu, mungkin karena suasana yang mendukung atau entah.


"Apa kamu mencintaiku?.." Tanya Kimy dengan menatap mata penuh memuja kekasihnya itu. Tangan Kimy meraba rahang tegas Tristan, menelusuri hingga berhenti di bibir yang sedikit terbuka itu.


"Kamu butuh bukti?.."


"Tidak, aku cuma tanya. Sebesar apa kamu mencintaiku?.." Tanya Kimy lagi.


"Kalau aku balik bagaimana, apa Kimy benar-benar mencintai Tristan?.." pandangan Tristan meremang, tatapan penuh cinta itu berubah ketika dia mengingat Kimy yang selalu tak menganggapnya ada. Kimy yang selalu menganggapnya bajingan yang ingin di musnahkan. Dulu, setahun lalu Tristan tak peduli pendapat Kimy tentangnya. Entah itu cinta, kasihan, terpaksa atau apalah Tristan tak peduli. Asal Kimy disisinya, alasannya tidak terlalu penting. Tapi sekarang, entah kenapa Tristan perlu tahu perasaan Kimy terhadapnya seperti apa. Apalagi kemarin Kimy membuatnya kecewa dengan beberapa ucapan yang membuatnya menyendiri beberapa saat. Mungkin bagi Tristan, inilah saatnya dia bertanya, dia ingin tahu seperti apa perasaan Kimy terhadapnya.


"Si*lan, kamu masih bertanya setelah aku banyak berkorban untukmu.." Kimy mendorong dada Tristan dan seketika dia menegakkan badannya. Tristan juga langsung terduduk stelah Kimy mendorongnya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu marah hanya karena aku bertanya perasaanmu padaku Kimy.." Tristan sedikit tersinggung dengan umpatan kasar Kimy itu. Wanita memang makhluk aneh menurut Tristan. Apa Kimy akan selalu bersikap seperti itu padanya. Entahlah, Tristan segera bangkit berniat meninggalkan lagi Kimy, sebelum Tristan pergi dia menoleh lagi pada wanitanya itu "Kamu perlu berfikir ulang tentang hubungan kita Kimy, aku tidak akan menikahi wanita yang tidak mencintaiku. Aku tidak akanmenikahi wanita yang selalu mengumpat kepadaku. Mungkin aku memang lelaki yang kasar dan arogan, aku memang penjahat. Tapi aku tidak pernah memperlakukanmu buruk setelah aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kalau sekarang kamu masih bersikap sperti itu, berarti kamu harus berfikir lagi apa benar ada aku di hatimu. Atau kamu masih mencintai masa lalumu?.." Tristan menghembuskan nafas kasarnya "Hanya kamu yang tahu, aku tidak akan memaksamu lagi kalau memang kamu tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Pernikahan adalah hubungan yang sakral, aku tidak mau sebuah pernikahan dimulai dengan paksaan. Aku sudah belajar kegagalan dari pernikahan orang tuaku.." panjang lebar Tristan berbicara, namun Kimy hanya diam. Dia lebih ke terkejut, dia tidak menyangka kalau Tristan bisa berkata seperti itu. Dia tidak menyangka kalau Tristan akan melepaskannya kalau dia tak menginginkan pernikahan itu. Sejak kapan Tristan berubah, pikirnya. Mungkin Kimy terlalu besar kepala selama ini. Sikap yang seenaknya mungkin telah merubah karakter Tristan. Manusia ada titik capeknya, mungkin Tristan dititik itu sekarang. Dia capek terus mengejar tanpa ada pergerakan dari Kimy sendiri. Sedangkan bagi Tristan sendiri, entah kenapa dia melontarkan kata-kata seperti itu. Tidak ada dalam rencananya untuk meninggalkan Kimy apapun yang terjadi. Tapi kenapa mulutnya begitu lancang dan berani berkata seperti itu. Bagaimana kalau Kimy nya benar-benar melarikan diri darinya. Apa dia bisa bertahan hidup tanpa wanitanya itu. Tristan tidak sampai berfikir begitu, walaupun ada ketakutan di matanya.


__ADS_2