BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
SAH


__ADS_3

Nadine melihat Gilang sedang push up di ruangan Gymnya. Walaupun tempat itu hanya ruko yang di sulap jadi tempat tinggal namun fasilitas ditempat Gilang itu sangat lengkap. Sudah tiga puluh menit Nadine menunggu Gilang menyalurkan hoby lelaki itu. Nadine manyadari kalau hari itu Gilang sedang semangat sekali olah raga. Padahal Nadine tahu Gilang tidak ngegym akhir-akhir ini. Lelaki itu sering menghabiskan waktu dengan minum dan juga melukisnya. Entah, mungkin karena sekarang dia semangat sekali mau menikah dengan gadis yang di cintainya, sehingga membuatnya kembali menyalurkan hobby nya itu. Nadine memperhatikan setiap gerakan Gilang yang membuatnya cukup panas dingin. Bagaimana tidak, lelaki itu hanya menggunakan celana kolor dan singlet saja. Sangat jelas sekali perut kotak-kotanya di balok kaos tipisnya itu.


Setelah beberapa saat akhirnya Gilang selesai ngegym. Dia mengambil handuk kecil dan botol minumnya, berjalan menghampiri Nadine yang duduk di pinggiran tempat itu.


"Nagapain Nad, kok tumben nunggu aku" tanyanya sembari menegak minuman dari botol yang di pegangnya. Setelahnya ia mengelap keringat di tubuhnya dengan handuk kecil yang ia bawa.


"Hm.." Nadine sedikit gelagapan untuk menjawabnya.


Gilang duduk di samping Nadine, menyadarkan tubuhnya di tembok dan meluruskan kakinya. "Kenapa, kau ada masalah?" tanyanya lagi.


"Sok tahu" jawab Nadine singkat.


"Tahulah, kau akan datang kalau ada masalah" jawab Gilang.


"Masa sih, perasaan aku selalu datang walaupun aku fine-fine aja"


"Oh ya, berarti aku yang salah" jawab Gilang dengan cengiranya.


Gilang menenggak minumanya lagi, kali ini sampai tandas. Nadine yang disampingnya hanya menelan salivanya melihat aksi Gilang yang minum dengan jakun naik turun itu.


"Jadi bener besok kau akan menikah?" Tanya Nadine dengan suara yang serak hampir menangis.


"Iya.." jawab Gilang dengan senyumnya.


"Kau bahagia?" pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Nadine. Jelas terlihat aura terpancar di muka Gilang masih dia bertanya begitu.


"Tidak ada yang membuatku bahagia selain bisa menikahi Kimy" jawab Gilang.


"Tidak berarti kau bahagia kakakmu meninggal kan?" Pertanyaan bodoh keluar lagi dari mulut Nadine. Entahlah gadis itu juga bingung apa yang keluar dari mulutnya saat ini.


Gilang menatap Nadine. Sorot matanya sulit di artikan. Nadine memutus kontak mata itu, dia paham betul kalau Gilang tidak nyaman dengan pertanyaanya.


"Sory!" Kata Nadine. Hening, keduanya beberapa saat terdiam.


"Aku enggak nyangka kau akan menikah denganya. Ini seperti mimpi Lang" Kata Nadine lirih menahan tangisnya.


Gilang menoleh, menatap sahabatnya yang saat ini sudah menunduk itu "Kau menangis?" Tanya Gilang.


Nadine menggeleng "Enggak.."


"Tapi suaramu nangis Nad" Gilang menarik dagu Nadine mengarahkan padanya. "Kenapa?" tanyanya setelah melihat gadis itu benar-benar menangis.

__ADS_1


"Aku sedih Lang, aku akan sendiri setelah ini"


"Sendiri apanya, sampai kapanpun aku tetap di sini. Aku tetap sahabatmu. Aku selalu ada untukmu"


"Tapi--"


"Jangan nangis, nanti pacarmu cemburu sama aku. Dikira kamu patah hati" Kata Gilang sambil meringis. Sial*n sindiran Gilang nancep banget di hati Nadine. Gadis itu malah semakin keras nangisnya, hingga Gilang menarik tubuhnya, mendekap Nadine dengan erat. "Maaf, aku cuma bercanda" katanya sambil mengelus punggung Nadine.


**


"Gimana udah siap semua?" Tanya Gilang pada Septian sahabat serta asistennya.


"Beres, bisa langsung kalian tempati besok" jawab tian sambil mendudukkan tubuhnya.


"Baru kali ini aku beli rumah kayak beli kacang goreng. Sat set selesai" tian sedikit tersenyum melihat Gilang yang tampak berbeda saat ini. Tubuhnya terlihat lebih segar, dan penampilan oke kayak mau shooting.


"Akhirnya kau nikah juga dengan Kimy Lang. Jodoh emang enggak akan kemana, oh ya acaranya besok di mana?"


"Dirumah Kimy. Kau tau kan kami semua masih berduka. Acara dihotel di batalkan, yang penting akad nikah dan sah."


Tian hanya mengangguk paham mendengar itu.


**


"Kalau aku jadi kau, aku akan mencari dulu calon suamiku sampai mayatnya ketemu. Daripada harus sibuk menikahi lelaki lain" perkataan itu cukup membuat Kimy meradang, ia menoleh ke asal suara dan di tatapnya dengan nyalang Nadine yang berdiri di ambang pintu. Rahang Kimy mengetat siap menerkam Nadine, namun tiba-tiba saja Sarah dan Sinta datang.


"Ya tuhan cantik sekali mantu mama" Sinta memeluk Kimy, menatap wajah calon menantunya yang cantik jelita itu. Sperti sengaja memamerkan pada Nadine. Nadine yang tahu itu mendengus kesal dan memilih pergi dari situ.


"Sayang sudah siap?" Tanya Sarah dengan sedikit merapikan anak rambut Kimy. "Kamu cantik sekali nak, tidak boleh di tekuk gitu mukanya, senyum sayang" Kata sarah lembut namun tak di respon oleh kimy, ia tetap dengan muka datarnya tanpa expresi.


"Baiklah kita turun, sebentar lagi acara akan di mulai" Kata Sinta sambil mengapit tangan kiri Kimy dan di ikuti sarah yang mengapit tangan kanan putrinya itu. Mereka bertiga pun berjalan keluar dengan hati-hati mengingat baju yang Kimy kenakan membuatnya sedikit sulit bergerak.


Satu persatu tangga mereka turuni, beberapa pasang mata melihat Kimy kagum akan kecantikan gadis itu. Dan tibalah mereka di ruang tamu yang sudah di dekor dengan sedemian rupa untuk acara ijab kabul. Jangan lupa di situ sudah menunggu lelaki tampan dengan memakai tuxedo hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupunya, dia tersenyum menyambut kedatangan Kimy, sangat tampan. Tidak bisa Kimy pungkiri lelaki itu sama sperti dulu. Gilang di apit oleh Daniel dan Teddy. Ada seorang penghulu, Dony, Septian dan beberapa orang teman dari Daniel dan Teddy. Halaman rumah besar itu pun juga sudah di sulap, ada tenda putih yang muat sekitar 50 orang di sana. Beberapa orang yang tadinya di luar serentak ikut masuk ke dalam rumah ketika melihat kedatangan Kimy, menandakan acara sakral itu akan segera di mulai.


Kimy dan Gilang sudah duduk berdampingan, berhadapan dengan seorang penghulu dan Daniel, selaku orang tua kandung dari Kimy. Gilang menatap kedua mata Daniel dengan anggukan kecil yang berarti lelaki itu siap melakukan janji suci di depan penghulu.


Setelah penghulu membuka acara dengan beberapa tahapan, kini tibalah saat janji suci itu di ucapkan.


"Mari silahkan dimulai tuan Daniel" bisik penghulu itu


Daniel berjabat tangan dengan Gilang, menatap lelaki tampan yang sebentar lagi akan menjadi suami putrinya itu.

__ADS_1


"Saya nikahkan engkau, ananda Gilang Putra Hanggono bin Teddy Syah Hanggono dengan anak kandung saya Kimy Moeremans dengan mas kawin 50 gram emas murni dan sebuah rumah dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya, Kimy Moeremans binti Daniel Moeremans dengan mas kawin 50 gram emas murni dan sebuah rumah di bayar tunai" jawab Gilang dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana?" Tanya penghulu itu.


"Sah.."


"Sah.."


"Sah.."


Teriak para undangan itu, Gilang tersenyum bahagia akhirnya dia menikah dengan Kimy wanita yang sangat di cintainya. Berbeda dengan Gilang, Kimy justru menangis. Air mata itu tanpa dicegah mengalir begitu saja melewati pipi mulusnya. Dulu sekali, ini yang di impikan bersama lelaki itu dan sekarang--. Takdir memang tidak pernah ada yang tahu. Gilang menoleh mendapati Kimy yang tertunduk dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Reflek tangan Gilang pun menyentuh pipi Kimy, menghapus jejak air mata itu. Canggung itu yang di rasakan Kimy, kalau dulu ia biasa mengumbar kemesraan dengan Gilang di manapun berada berbeda dengan sekarang, Kimy sedikit menjauhkan pipinya agar Gilang berhenti melakukan hal konyol itu di depan banyak orang dan alhasil Gilang pun menjauhkan tangannya dari wajah Kimy.


Beberapa saat Kimy menyalami tamu-tamu dengan senyuman yang ia paksakan. Kimy melihat Dony sedang duduk sendirian dengan terus menatapnya tajam. Kimy pun menghampiri Dony dan menarik tangan lelaki itu untuk menjauh dari keramaian.


"Sudah puas" teriak Kimy dengan menghempaskan tangan Dony.


"Kimy apa maksudmu?" Tanya Dony tak mengerti.


"Puas karena sudah membuatku menikah dengan Gilang?"


"Kimy ini bukan mauku" sanggah Dony.


"Kau menyetujui ide konyol ini Don"


"Ide ini tidak akan muncul kalau kau tidak hamil Kim" Kimy diam mendengar itu, benar ini semua karena dirinya yang hamil, jadi buat apa menyalahkan orang lain. Semua ini adalah salahnya dan lagi-lagi ia harus membawa Gilang ke dalam masalahnya.


Kimy memijat pelipisnya pelan "Semua ini membuatku gila Don, aku harus bagaimana?" katanya lirih, masih dengan memijat pelipisnya.


"Jangan pikirkan apapun, kau sedang hamil. Pikirkan bayi itu saja, hm. Semua akan baik-baik saja" Kata Dony menenangkan Kimy.


Sedangkan di balik pintu ada seseorang yang mengetatkan rahangnya mendengar percakapan dua orang itu.


**


Hai readers salam kenal dari autor ya..


Mohon maaf bahasa author yang digunakan di dalam cerita berbeda dengan awal-awal ya (mengunakan lo, gue). Karena sepertinya author lebih nyaman pakai bahasa yang sekarang ini (aku, kamu, kau dll). Mohon maaf sekali lagi atas ketidaknyamanan para readers..


Selamat membaca❤️

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2