BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Pulang ke rumah


__ADS_3

Braak


Kimy menutup pintu kamarnya dengan kasar.


" Brengs*k.. Sialan. Kenapa aku harus bertemu dengan wanita sundel itu.." Kimy berbicara sendiri, moodnya sangat berantakan setelah pertemuannya dengan nadine.


Ceklek


Tristan ikut masuk ke kamar Kimy, gadis itu menoleh dan menatap Tristan dengan tatapan marahnya.


" Sebenarnya apa yang kau permasalahkan Kimy? Kenapa kau sangat marah. Kalau kau tidak suka dengan designer itu, kita bisa menggantinya.."


" Kenapa kau mengatakan padanya kalau kita akan menikah? Bahkan aku belum menyetujui pernikahan ini.." jawab Kimy dengan kasar.


" Apa lagi, papamu sudah setuju. Mau tidak mau kita tetap akan menikah.."


Kimy menghela nafas panjang " Tristan, tidakkah kau pikirkan perasaanku, tidakkah kau tahu apa yang aku mau?.."


Tristan tersenyum " Jangan membuat lelucon sayang, tidak akan ada yang berubah.."


Kimy menutup matanya sejenak, akankah dia terjebak dengan pernikahan tanpa cinta ini. Pertemuannya dengan nadine seakan menyadarkan kalau dia tak bisa kehilangan Gilang. Hanya melihat nadine saja membuat darah Kimy mendidih, bagaimana jika dia menikah. Nadine pasti akan dengan mudah mendekati Gilang. Tapi.. Apa dia punya pilihan. Hidupnya sudah hancur, apa dia masih pantas untuk seorang Gilang.


" Tristan.." Kimy membuka mata dan melihat intens lelaki itu.


" Ya baby.. Katakan, aku mendengarmu.."


" Aku akan menikah denganmu.." Tristan tersenyum lebar mendengar perkataan gadis itu " Tapi ada syaratnya.."


Tristan mengangguk mendengarkan " Katakan.."


" Kembalikan perusahaan papi, biarkan papi memiliki seutuhnya perusahaan itu tanpa campur tanganmu.."


Lelaki itu mendengarkan tapi tidak menjawabnya "Kedua, biarkan aku tinggal di rumah papi selama belum menikah. Kau tahu, aku tidak akan lari kemanapun.."


" Apa masih ada lagi?.." Tanya Tristan.


" Aku ingin tetap menjalani karirku.."


" No.. Syarat pertama dan kedua akan aku penuhi tapi tidak yang ketiga sayang.."


" Tapi karir itu hidup ku, dari kecil aku ingin menjadi model.."


" Keputusan ku tidak bisa di rubah. Persiapkan dirimu menjadi nyonya Tristan, kita akan segera menikah sayang.." Tristan menarik pinggang Kimy ke arahnya hingga tubuh mereka menempel sempurna. Kimy memalingkan wajahnya, dia tak mau memandang wajah lelaki itu.


" Kita sepakati mulai detik ini, oke.." bisik Tristan pada Kimy lalu dengan lembut mengecup pipi gadis itu. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan berlalu meninggalkan kamar Kimy. Sebelum dia benar-benar meninggalkan kamar itu, dia berhenti di ambang pintu " Besok aku akan mengantarmu kembali kerumahmu, sekarang istirahatlah.."


Oke tidak apa-apa Kimy, semua akan baik-baik saja. Demi papi, akan aku lakukan pernikahan ini. Aku juga harus mulai menyelidiki kecelakaan mami, Bajingan itu harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.

__ADS_1


**


" Gilang maafkan om karena tidak segera menghubungimu. Bapak sadar dan selalu menyebut nama Daffa.." Kata hendra yang menjelaskan keadaan pada Gilang di depan ruang tunggu kamar Teddy.


" Jadi nama aslinya daffa?.."


" Iya dan dia sudah om pastikan kakak kandungmu. Golongan darah kalian bertiga sama.." jawab hendra.


" Kenapa papa begitu menyayangi dia, bahkan saat keadaan tak sadarpun yang di ingat hanya dia?.." Gilang mencoba menahan sakit di hatinya. Ia cemburu, bahkan papanya tak pernah sekalipun menganggapnya selama ini.


" Jangan begitu Lang, bapak sayang sama kalian berdua. Tapi pada anak itu, bapak merasa ada hutang budi. Bapak meninggalkannya, bahkan bapak tidak mengakui nya sebagai anaknya dulu.."


" Dan semua itu karena kesalahan mama. Papa tahu semua perbuatan mama kan om? Itulah papa marah dan melampiaskan nya padaku.."


" Gilang, kamu anak baik. Om sangat menghargai kamu. Kamu bisa berpikir sangat bijaksana dan dewasa. Jangan salahkan bapak, jangan membencinya. Cukuplah kesalahan masa lalu jadi pelajaran di sini. Jadi lah penengah nak.." Gilang mengusap kasar wajahnya. Ia ingin sekali membenci keadaan ini. Tapi benar kata om hendra, saat ini kesehatan Teddy dan mamanya lebih penting dari pada harus memperbesar keadaan itu.


" Keadaan bapak sudah stabil, aku rasa saat beliau siuman keadaan nya akan lebih baik lagi.." hendra berdiri dan menepuk pundak Gilang. Lelaki paruh baya itu meninggalkan Gilang sendirian.


Di tengah kesendirian nya, pikiran Gilang melayang. Ia ingat apa yang di katakan Tristan, Apa benar mereka akan menikah?. Apakah aku harus merelakan orang-orang yang aku sayangi satu persatu meninggalkanku bersama lelaki itu. Gilang tenang, semua belum terlambat.


**


" Urus perusahaanku yang di kelola Daniel. Pindahkan semua saham atas namaku pada Daniel.."


Perintah Tristan pada Dony.


" Apa tidak salah, kau begitu banyak mengeluarkan uang untuk membeli seluruh saham di perusahaan itu dan kau akan menyerahkannya lagi?.."


" Anggap saja sebagai hadiah karena aku akan menikahi anaknya.." jawab Tristan santai sambil menghisap rokok di tangannya.


" Ckk.. Dasar gila.." gumam Mario yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dony.


" Akan segara saya urus bos.." jawab Dony.


" Pastikan saham itu sudah atas nama Daniel sebelum aku menikah.." Dony mengangguk mengerti.


" Untuk cabang di New York ada sedikit masalah, sebaiknya anda lakukan kunjungan langsung ke sana sebelum pernikahan anda bos.."


Tristan sedikit berfikir " Urus jadwal keberangkatan ku secepatnya. Aku tidak ingin pernikahanku di undur.."


" Baik.." jawab Dony.


**


Ke esokan hari, Kimy bangun tidur dengan suasana hati yang bahagia. Ia ingat kalau hari ini dia akan pulang lagi ke rumah papanya. Membayangkan saja sudah membuatnya senang.


Ceklek

__ADS_1


Terlihat Tristan masuk ke kamar Kimy, lelaki itu sudah rapi dengan memakai setelannya.


" Tidak bisakah mengetuk pintu dulu.."


Tristan hanya tersenyum menanggapi perkataan calon istrinya itu " Apa sudah siap untuk pulang, kita akan sarapan dulu.." lelaki itu mendekat pada Kimy yang sedang duduk santai di sofa. Ia merogoh saku celananya dan memberikan sebuah ponsel merk terbaru pada Kimy.


" Apa itu?.." Tanya Kimy tanpa mengambil barang di tangan Tristan.


" Ini untukmu, sudah ada nomornya, jangan berfikiran untuk mengganti nomornya. Kabari di manapun dan kemanapun kau pergi. Jangan melakukan kesalahan bodoh yang akan menghancurkanmu dan Daniel.." Kimy mengambil ponsel itu, sudah lama ia tak memegang ponsel. Ia cukup senang menerima nya. Walaupun di dalamnya ada ancaman-ancaman mengerikan.


Setelah sarapan, Tristan mengantar Kimy pulang ke rumahnya. Daniel sudah menunggu putri kesayangan nya itu. Tentu saja Daniel tahu karena Tristan menghubunginya terlebih dulu. Setelah sampai Kimy berlari memeluk daniel yang sudah berdiri di depan rumahnya, menunggunya. Tristan ikut turun dan sedikit mengangguk memberi salam pada Daniel.


" Papi tahu kalau aku pulang hari ini?.." Tanya Kimy pada Daniel.


" Ya papi tahu, nak Tristan menelpon papi tadi.." Kimy tersenyum lalu memeluk lagi Daniel.


" Ayo masuk.." ajak daniel.


" Maaf saya tidak bisa ikut masuk, masih ada urusan yang harus saya selesaikan.."


Mendengar itu Kimy dan Daniel saling memandang satu sama lain " Oo.. baiklah nak Tristan, terima kasih sudah mengantar kimy.."


Tristan hanya mengangguk. " Tolong jaga Kimy.."


" Tentu saja.." jawab Daniel. " Papi masuk dulu ya.." Kata Daniel pada Kimy, meninggalkan gadis itu. Kimy mengangguk melepaskan pelukannya.


" Jadi kau akan langsung pergi?.." Tanya Kimy basa-basi, padahal dalam hatinya sudah sangat senang, akhirnya terlepas juga dari lelaki gila ini.


" Iya sayang, aku masih ada urusan. Aku harus segera menyelesaikan semua urusanku agar kita cepat menikah.." Kata Tristan sambil mendekat pada Kimy. Tristan mendekati tubuh Kimy dan menarik pinggang gadis itu, kini tubuh mereka menempel dengan sempurna.


" Apa yang kau lakukan? Ada Dony dan pak udin. Nanti mereka liat.." Kimy mencoba melepas pelukan Tristan di pinggangnya.


" Kenapa, kau malu? Sebentar lagi kita akan menikah, untuk apa malu sama mereka.." Tristan terus mengendus pipi Kimy. Malu?? Tidak ada dalam kamus Kimy malu bermesraan dengan pacar di depan orang lain. Selama ini teman-temannya dan manajernya sudah hafal kelakuan mesum Kimy dan Gilang. Mereka akan bermesraan di manapun mereka berada. Dan lelaki gila ini bilang kalau Kimy malu, salah besar. Kimy tidak cupu tapi suhu. Ckckckck..


" Sudah pergilah, Dony menunggumu.." Kimy terus berusaha melepas lengan kekar Tristan di pinggangnya.


" Biarkan aku menciumu dulu, baru aku akan pergi.." bisiknya membuat Kimy merinding. Kimy melihat wajah Tristan yang sudah tak berjarak itu, lelaki dengan rahang tegas dan sangat tampan itu di lihatnya dengan seksama oleh kimy. Andai di hatinya tak ada Gilang, sudah pasti dia akan jatuh cinta pada lelaki itu. Andai lelaki itu memperlakukannya dengan baik, andai dia tak membuat luka yang masih menganga di hati Kimy. Kimy menundukkan lagi wajahnya, ia teringat saat lelaki itu menghajarnya dan ia hampir mati karena itu. Kenangan itu benar-benar membuatnya trauma.


" Lihat aku baby.." Tristan meraih lagi dagu Kimy supaya terus melihatnya.


" Aku merindukan tatapan matamu yang seperti tadi. Lakukan itu saat bersamaku.."


Cup


Tristan mencium bibir Kimy, ia sedikit ******* bibir mungil berwarna Pink itu. Sedangkan Kimy hanya pasrah karena menolakpun juga percuma.


" Aku akan merindukanmu.." katanya setelah melepas ciuman itu. Tristan mengusap bibir Kimy yang terlihat basah bekas salivanya dengan ibu jarinya. Lelaki itu kemudian perlahan melepas pelukannya dan berjalan menjauh dari Kimy. Setelah Dony membukakan pintu penumpang mobil mewah itu, Tristan pun masuk mobil. Perlahan mereka meninggalkan halaman besar itu. Kimy hanya menatap mobil yang mulai menjauh itu. Dia berfikir apakah ini awal baru untuk hidupnya, atau akhir dari segalanya. Ia tersenyum miris kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2