BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Bukan Anak Haram


__ADS_3

Ke esokkan hari, Kimy merasa sangat bosan di dalam kamar mewah itu. Dari semalam dia juga tidak melihat pria gila itu. Hanya seorang pelayan yang keluar masuk kamarnya untuk mengantar makanan.


Kimy duduk bersandar di sofa dalam kamarnya, dia mengambil remote dan menyalakan tv. Beberapa kali dia mengganti chanel, hingga jarinya menghentikannya pada sebuah tayangan berita.


GILANG MEMBUAT ONAR DI CLUB. Deg, jantung Kimy mulaj berdebar ketika mendengarkan berita itu.


Kimy membesarkan volumenya, dengan serius dia mendengarkan kata perkata pembawa acara itu.


Artis Gilang Hanggono membuat keributan di sebuah tempat hiburan. Artis tampan itu, melakukan tindak kekerasan pada seorang wanita, yang di duga sebagai wanita penghibur. Belum di ketahui motif dari peristiwa itu, tetapi saksi mata mengatakan kalau Gilang saat itu sedang mabuk berat bersama teman-temannya. kemudian terjadi keributan, Gilang terlihat menyiksa teman kencannya itu.


Benarkah aksi Gilang itu ada kaitannya dengan putusnya hubungannya dengan artis cantik Kimy?


Kimy menatap nanar berita itu, gadis cantik itu mengingat kekasih yang di cintainya. Dia masih sangat mencintai lelaki itu. Namun, dia sudah tak mempunyai harapan untuk bersatu dengannya. Air mata mulai membasahi pipi mulus Kimy.


Tidak mungkin kau mengencani wanita lain kan? Aku sama sekali tak percaya berita itu, aku percaya padamu Lang. Apa yang harus ku lakukan Gilang? Aku sudah tak pantas untukmu, aku sudah hancur. Aku tahu di sana kau juga hancur, kenapa takdir mempermainkan kita. Apa salah kita di masa lalu?


Kimy terus menangis tersedu, gadis itu melipat kakinya ke atas sofa dan menenggelamkan wajahnya di sana.


**


Teddy keluar dari gedung wakil rakyat yang menjadi kantor keduanya. Selain pengusaha sukses Teddy juga menjadi salah satu anggota DPR di ibu kota.


Begitu keluar dari gedung, lelaki itu di kerubuti beberapa wartawan ibu kota, untungnya Teddy di kawal oleh beberapa hodyguard untuk menuju mobil yang ada di lobby.


" Pak Teddy, bagaimana kasus Gilang putra bapak? Apa Gilang di tahan pak?.." Itu adalah salah satu pertanyaan wartawan kepada Teddy, namun Teddy hanya diam seribu bahasa sambil terus berjalan ke mobilnya.


" Pak kabarnya wanita yang di serang Gilang adalah seorang wanita penghibur, apa mereka berkencan dulu sebelum tragedi itu?.." Tanya mereka lagi.


" Maaf, maaf kasih jalan.." Kata salah satu bodyguard Teddy. Setelah bodyguard membuka pintu mobil, teddy masuk dan sopir menjalankan mobil itu.


Teddy membuang nafas kasar, lelaki itu begitu stres karena hari ini, dari pagi sampai sore dia di kejar-kejar oleh wartawan dan itu semua adalah akibat dari ulah putranya sendiri.


Teddy merogoh ponsel disaku kemejanya. Terlihat lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu sedang menelpon seseorang.


Tut tuut!!


Tut tuut!!


Beberapa kali Teddy mencoba menghubungi Istrinya namun tak ada jawaban. Teddy memijat pelipisnya yang terasa pusing.

__ADS_1


" Maaf pak, Bapak langsung pulang atau.." Tanya sopir Teddy.


" Pulang!!.." Jawabnya singkat.


Sinta terus menerus merutuki kebodohan anaknya Gilang. Gara-gara Gilang telepon rumah mewah itu terus berdering, dari siapa? tentu dari media yang ingin menggali berita tentang putranya.


Teman-teman arisan Sinta di grup pesan banyak yang bertanya tentang kasus itu. Seharian bahkan Sinta tak membuka pesan, dia malu tentunya. Anak yang di bangga-banggakan membuat onar di sebuah tempat hiburan malam dengan seorang wanita penghibur. Bagi keluarga terhormat seperti keluarga Hanggono itu adalah sebuah aib.


Ceklek!!


Tiba-tiba pintu ruang baca dirumah mewah Sinta terbuka, membuatnya terlonjak kaget. Terlihat suaminya Teddy masuk dengan muka tak kalah kusut darinya.


" Papa!! papa sudah pulang, tumben.." Katanya, sambil berjalan menghampiri suaminya. Wanita paruh baya itu menyambut suaminya, dia mengambil tas kerja Teddy yang masih di tenteng laki-laki itu. Sungguh seperti istri idaman banget pokoknya.


" Dari mana kau? kenapa tidak angkat teleponku?.." Tanya Teddy dingin.


" Mama di rumah aja pa, mama tidak pegang ponsel dari tadi.." Jawabnya mencoba untuk tenang.


" Jam berapa ini? tumben papa pulang jam segini, mama belum masak pa, papa mau makan sekarang apa nanti?.." Kata Sinta lagi dengan lembut.


" Menurutmu aku bisa kemana saat ini? Dimana- mana ada berita tentang anakmu itu.." Deg.. Jantung Sinta seperti mau keluar, akhirnya suaminya membahas kasus Gilang. Itu yang Sinta takutkan. Sinta menelan ludah kasar, mencoba bersikap setenang mungkin. Sinta tahu tabiat suaminya kalau sedang marah seperti apa. Selama ini, Sinta berusaha membuat Gilang terlihat hebat di mata Teddy. Walaupun Teddy seperti tidak menganggap Gilang ada, Teddy lelaki yang sibuk. Dia jarang komunikasi dengan Gilang, Teddy juga tidak pernah membawa Gilang ke perusahaannya. Untungnya memang Gilang anak yang mandiri, dia tidak pernah meminta fasilitas berlebih pada orang tuanya. Hubungan Teddy dan Gilang seperti berjarak, entah. Sinta sendiri tak mengerti.


" Eghmm, pa..papa, dengarkan dulu jangan marah, mama yakin ini semua jebakkan. Papa tahu kan, Gilang tidak pernah berbuat begini sebelumnya, tolong maklumi dia ya. Gilang lagi patah hati, papa ngerti kan?.."


" Dasar anak bodoh!! hanya gara-gara seorang gadis dia bisa seperti itu, apa yang bisa dibanggakan darinya? menjadi artis? atau menjadi pengusaha? kau selalu memanjakannya, selalu membelanya, itu hasil didikanmu.." Teddy menghentikan ucapan kasarnya sejenak.


" Darah dagingku, tidak mungkin lemah seperti itu.." Lanjut Teddy, sambil membuka dasinya kasar.


" Apa maksud papa? papa tidak sedang berfikir kalau Gilang bukan anak papa kan?.." Tanya Sinta mulai terpancing emosi, karena kata-kata suaminya.


" Aku bukan perempuan jalang seperti Rahma, perlu kau ingat.." lanjut Sinta, perempuan paruh baya itu kalau sudah marah tabiatnya tidak jauh beda dengan suaminya. Sama seperti pepatah mengatakan, jodohmu adalah cerminan dirimu. seperti itulah mereka berdua.


" Diam kau!! Jangan kau bawa nama dia, setidaknya dia tidak pernah berani membantahku seperti yang sering kau lakukan.." Jawab Teddy kasar.


" Teddy!!! jadi sekarang kau membelanya? Hah tuhaan.. Kau tidak ingat dia sudah menyelingkuhimu. Apa yang kau banggakan darinya? Bahkan dia mempunyai anak dari laki-laki lain.."


Plakk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sinta. Wanita itu memegang pipinya yang panas akibat tamparan itu. Wajahnya sudah mulai merah padam. Nafasnya naik turun tak teratur.

__ADS_1


" Jangan kau pancing emosiku Sinta. Aku bisa dengan mudah membuat Rahma keluar dari rumahku, jangan kau kira aku tak bisa melakukan itu padamu. Kau juga bukan siapa-siapa tanpa aku, kau harus ingat asalmu dari mana?.." Ancam teddy dengan mencengkram rahang Sinta.


" K..kau, kau tak akan pernah bisa berbuat seperti ii..itu..pa..padaku" Jawab Sinta kesulitan karena cengkraman tangan Teddy. Teddy tersenyum menyeringai.


" Kau meremehkanku?.." Tanya Teddy.


" Begitu aku menemukan Daffa, kau yakin masih berada di sini bersama anak bodohmu itu?.." Deg.. Sinta mengeraskan rahangnya.


"Lepas bajingan!!.." Teriak Sinta, Teddy kemudian melepas cengkraman tangannya. Sinta mengatur nafas.


" Hohh!!! jadi kau masih mencari anak dari perempuan sialan itu, kau masih mencari anak haram itu?.." Tanya Sinta dengan berkaca-kaca


" Aku sudah menduganya. Selama ini kau mengacuhkan Gilang karena anak sialan itu. Aku tidak percaya ini. Gilang juga anakmu, kenapa kau tak pernah menganggapnya ada? kenapa kau mengacuhkannya? Apa salah Gilang padamu?.." Sinta berkata dengan berteriak dan berderai air mata.


" Bahkan kau tidak tahu, anak sialan itu. dia anak kandungmu atau bukan?.." Lanjut Sinta kembali berteriak kencang.


Plakk!!!


Teddy melayangkan tamparan untuk kedua kali ke muka mulusnya. Sinta tersungkur, air mata sudah tak bisa dia bendung lagi. Penampilan wanita paruh baya yang biasanya begitu anggun dan elegan itu kini sudah sangat kacau.


" Mama!!.."


Gilang menghampiri Sinta.


" Gilang!!.." Sinta terkejut melihat Gilang datang di saat dia dan Teddy sedang bertengkar hebat. Padahal selama ini Gilang hanya tahu orang tuanya baik-baik saja. Gilang merengkuh wanita paruh baya itu, memeluknya lembut. Kedua rahangnya mengeras, dia memejamkan matanya sejenak. Gilang merasakan sakit, melihat mamanya di perlakukan seperti itu. Laki-laki tampan itu masih mencoba menahan emosinya, berdamai dengan hatinya, untuk tidak menyerang laki-laki yang menurutnya tidak pantas di sebut laki-laki. Hanya pecundang sejati yang berani menyakiti wanita, itu menurut pandangan Gilang.


Teddy berkacak pinggang melihat Gilang datang, laki-laki itu membuang nafas kasar.


" Bagus kau datang. Setidaknya kau harus tanggung jawab dengan apa yang kau lakukan. Aku bukan juru bicaramu yang harus menjelaskan perilaku burukmu ke wartawan, bukan?.." Kata Teddy dengan sinis. Tak ada jawaban dari Gilang.


Laki-laki paruh baya itu berbalik meninggalkan Sinta dan Gilang. Namun langkahnya terhenti ketika sampai ujung pintu. Dia menoleh sejenak.


" Dia bukan anak haram, dia anakku.." Katanya singkat lalu meninggalkan ruangan itu.


" TEDDY!!.." Jawab Sinta geram pada Teddy. Wanita itu begitu geram, sudah tahu ada Gilang di situ tapi Teddy masih meneruskan percakapannya tentang anak sialan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2