
"Apa ini" Kimy melihat satu persatu orang-orang yang masuk ke kamarnya tanpa izin. Orang-orang itu membawa beberapa gaun pengantin. "Siapa yang menyuruh kalian" tanyanya pada beberapa wanita itu.
"Aku yang membawa mereka kesini" Nadine datang bersama Lexa, asistennya.
"Kak, kapan kau datang?" tanyanya pada Lexa, mengabaikan Nadine.
"Kemarin, Dony membawaku pulang" lexa menghampiri Kimy dan membelai rambut panjang gadis cantik itu "Kau baik-baik saja" seketika Kimy memeluk wanita yang sudah di anggap kakaknya itu. "Jangan nangis, nanti calon suamimu tahu aku bisa dibunuhnya." Kata lexa dengan senyum menggoda.
"Maafkan aku kak, harusnya aku nggak marah"
"Its ok, kau berhak marah sayang, Aku akan mengurus segala keperluan pernikahanmu, ini akan jadi pernikahan impianmu hm, kita lupakan hal-hal yang buruk di masa lalu oke" Kimy mengangguk dan melepas pelukannya.
Seketika Kimy melirik Nadine yang masih berdiri menyaksikan pertemuannya dengan lexa itu. "Lalu kenapa dia di sini?.."
"Kau akan memakai gaun rancanganku Kimy, mulai sekarang kita akan sering bertemu. Mau tidak mau kita akan menjadi teman mulai sekarang"
Kimy mengernyit "Siapa yang mau menjadi temanmu, jangan kau pikir setelah memacari Dony kita bisa dekat satu sama lain, aku tahu kau punya maksud tertentu dengan mendekati orang-orang terdekatku. Inget Nad, aku bukan anak kemarin sore" Kata Kimy ketus.
"Terserah apa pendapatmu tentang aku" Nadine mengabaikan Kimy, kemudian dia berlalu untuk menata baju-baju yang karyawannya bawa untuk di tata agar Kimy bisa memilih modelnya.
"Kenapa harus kau yang datang ke sini?" Kimy masih belum puas berbicara dengan Nadine. Dia tidak mau kalau Nadine berada di sekitarnya, apalagi di rumahnya yang merupakan wilayah privasi untuknya.
"Calon suamimu yang meminta" jawab Nadine tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kau tidak usah repot-repot datang ke sini. Aku akan bicara pada Tristan nanti" jawab Kimy semakin malas.
Nadine menghentikan aktivitasnya, dia berjalan mendekat pada Kimy, menatap Kimy dengan bersedekap dada "Aku kira, setelah melewati banyak hal kau menjadi dewasa. Tapi ternyata tidak, kau masih kekanak-kanakan" keta Nadine meremehkan.
"Kau--" Kimy melayangkan tangannya keudara.
"Silahkan pukul" Nadine menyodorkan mukanya pada Kimy menantang.
"Kim, sadar" lexa menarik pinggang Kimy menjauh dari Nadine.
"Lepas kak"
"Apa dengan memukulku membuatmu menang? Kimy, aku hanya ingin membantu acara istimewamu. Kenapa kau jadi semarah ini padaku, apa salahku?"
"Kau tahu aku membencimu, dan juga sebaliknya. Jadi jangan sok baik padaku Nadine"
Nadine tertawa "Itu masa lalu sayang, kenapa kau masih berkutat dengan masalalu. Sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Tristan. Masihkah kau berfikir tentang masa lalumu itu"
__ADS_1
"Kau benar-benar Nadine, lihat saja aku kan buktikan kalau kau mendekati Dony karena ada maksud tertentu. Setelah Dony sadar kau akan di lempar seperti sampah"
Nadine semakin tertawa di buatnya "Kau tahu Kimy, inilah sikap yang membuatmu hancur. Kau seakan membenarkan semua pemikiran konyolmu itu"
"keluar, keluar dari rumahku dan jangan pernah menampakkan mukamu lagi di depanku" teriak Kimy.
"Okey okey baiklah, aku keluar." Nadine segera mengambil tasnya dan segera meninggalkan ruangan itu.
"S****n, b*****K" maki Kimy setelah kepergian Nadine.
Lexa hanya menggeleng-geleng melihat pertikaian itu "Kenapa kau semarah itu padanya" tanyanya sambil duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Aku selalu marah dan membencinya" jawab Kimy lebih santai lalu merebahkan tubuhnya di kasur, dia mengambil ponsel di nakas lalu membuka aplikasi Instagramnya. Kimy melihat-lihat foto di IG nya, Tidak ada lagi foto Gilang di aplikasi itu, hanya terlihat foto Kimy dengan berbagai gaya di New York yang terpampang nyata sempurna. Segera Kimy membuka gallery ponselnya, mencari fotonya bersama Tristan, dia ambil di Bali kemarin. Dia mengedit sedikit fotonya yang tengah di cium pipinya oleh Tristan itu menjadi lebih terang agar lebih terlihat sempurna. Hari ini setelah sekian lama, dia akan memposting untuk pertama kali hubungannya dengan Tristan. Walaupun orang-orang sudah tahu hubungannya dengan lelaki itu, tapi semua itu tidak keluar dari mulut Kimy sendiri. Kini dengan percaya diri dia akan mulai terbuka mengenai hubungannya dengan tristan, toh sebentar lagi mereka akan menikah.
"Kenapa kau masih membencinya? Bukan karena Gilang kan?"
Ting
Bunyi pertanda kalau foto itu berhasil di ulpoad dihalaman profil instagramnya. Bersamaan dengan pertanyaan lexa yang membuat jari-jari lentik Kimy berhenti berexplore saat mendengarnya.
Kimy melihat wajah tanpa dosa Lexa yang sedang menunggu jawabanya. "Tentu bukan karena itu, itu sudah masa lalu" jawab Kimy dengan mata menari kesana kemari. Dia melihat lagi ke arah lexa yang masih terdiam melihatnya "Apa, kau tak percaya padaku?.."
Lexa menghembuskan nafasnya "Aku percaya"
"Aku percaya kalau kau sudah jatuh hati pada Tristan. Tapi aku tidak percaya kau bisa melupakan Gilang begitu saja"
"Maksudmu apa, kalau Tristan dengar dia akan marah kak. Kau tahu, aku akan setia pada satu laki-laki saja kalau sudah berkomitmen kan" Kimy merasa kalau lexa sudah keterlaluan, dia takut kalau sampai tiba-tiba Tristan datang dan mendengarnya. Tapi apa yang di katakanya benar, dia hanya akan menjalin hubungan dengan satu pria saja selama sudah berkomitmen.
"Sory! Tidak seharusnya kita membahas Gilang" jawab lexa lemas sambil berlalu meninggalkan Kimy.
Kimy hanya membuang nafasnya kasar. "Aku tidak mau memikirkan masa lalu, aku tidak akan menghancurkan yang sudah ada sekarang. Aku janji, semua akan berjalan sebagaimana mestinya"
Sedangkan di tempat lain seseorang sedang menatap sebuah layar ponsel yang menampilkan seorang wanita cantik sedang tersenyum, matanya yang indah, bibirnya yang merah merona, kulitnya yang seputih kapas dan rambutnya yang panjang kecokelatan, membuatnya menatap tak berkedip layar itu. Tapi yang membuat tangannya mengepal kuat adalah, ada seorang laki-laki tampan disisi wanita itu, lelaki itu terlihat posesif memeluk pinggang si wanita dan mencium pipi wanita itu mesra.
**
Tristan terlihat tak fokus hari itu, sejak satu jam lalu ponselnya terus saja ada tanda notifikasi masuk. Bukan telepon atau pesan melainkan notifikasi di aplikasi IG nya. Lelaki itu memang mempunyai Instagram, tapi dia jarang sekali membukanya, di sana hanya ada foto dengan segudang kegiatannya seperti golf dan juga terkait pekerjaannya, tidak ada foto yang menceritakan kegiatan pribadi bersama teman atau keluarganya apalagi kekasihnya, tidak ada sama sekali. Itulah kenapa pria itu terlihat kesal saat aplikasi itu terus-terusan memunculkan notifikasi yang menurutnya tak berguna dan mengganggu.
"Ada apa dengan aplikasi itu, kenapa terus-terusan berbunyi" tanyanya pada Dony yang berdiri di depan mejanya.
"Aplikasi?" jawab Dony belum mengerti maksud bosnya itu.
__ADS_1
"Lihat" Tristan memperlihatkan layar ponselnya pada Dony di depannya. Dony sedikit mendelik melihat ponsel bosnya itu.
"Saya lihat Kimy memposting potonya bersamamu" jawab Dony, Dony memang sering berbicara lebih santai seperti seorang temen saat mereka sedang berdua.
"Lalu apa hubungannya?"
"Tentu saja dia menandai kau di dalam potonya" jawab Dony gemas dengan bosnya yang terlihat gaptek itu. Tristan hanya melihat aplikasi itu dilayar ponsel tanpa berniat membukanya.
"Calon istrimu seorang artis, model. Apapun yang dilakukan akan menjadi perhatian publik. Dan kau adalah calon suaminya, tentu saja mereka akan menghubungkan denganmu apapun yang Kimy lakukan di luar sana" Dony menjelaskan secara detail.
"Baiklah lupakan masalah aplikasi yang tidak penting itu. Aku tidak ada waktu buat bermain-main dengan aplikasi seperti itu. Bagaimana pertemuan Kimy dan wanita itu, maksudku nadine, bukankah hari ini seharusnya mereka bertemu"
"Seharusnya begitu, mungkin Nadine masih di sana sekarang"
"Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja, bukankah mereka tidak akur"
Ting ting
Ponsel Dony berbunyi, ada pesan masuk dari Nadine. Aku menunggumu ditempat biasa, kita makan siang bareng.
"Aku akan bertanya padanya nanti" jawab Dony lalu bergegas undur diri untuk menemui Nadine.
Setelah sampai di restoran langganan makan siang mereka, Dony mencari keberadaan Nadine. Terlihat kekasihnya itu sedang memainkan ponselnya "Sudah lama nad?" Tanya Dony ketika sampai.
Nadine mendongak dan tersenyum "Barusan sayang" Nadine menepuk kursi di sampingnya agar lelaki itu duduk di situ. Dony pun paham dan duduk di sebelah Nadine walaupun sedikit canggung.
"Kamu sudah bertemu Kimy!" Tanya Dony to the point.
"Sudah" Nadine mengangguk sambil menyeruput juz mangganya.
"lalu dia setuju memakai rancanganmu?"
Nadine menggeleng "enggak" dia meringis menampakkan gigi ratanya.
"Lalu apa yang akan kamu katakan pada Tristan?" Tanya Dony sedikit bingung dengan wanita itu.
"Ya aku akan katakan kalau Kimy menolak rancanganku. Gampang kan?"
"Gampang, memang gampang. Tapi hal segampang ini kamu tidak bisa menyelesaikan. Dia pasti akan mencemoohmu"
"Kamu takut sayang pada Tristan itu"
__ADS_1
Dony menatap Nadine, wanita yang enam bulan terakhir menjadi kekasihnya itu. Dony sadar kalau menjalin hubungan dengan Nadine bukanlah hal mudah. Bukan keinginannya sebenarnya menjalin hubungan dengan wanita itu. Semua itu di lakukanya karena perintah Tristan. Tidak ada rasa cinta di hati Dony untuk Nadine, begitu juga Nadine. Dia menjalin hubungan dengan Dony bukan atas dasar cinta. Semua orang tahu siapa yang Nadine cintai dari dulu hingga sekarang. Keduanya menjalin hubungan karena mempunyai tujuan masing-masing. Namun bukan Nadine namanya kalau tidak bisa berperan semeyakinkan mungkin. Nadine selalu menggoda Dony, selalu bermanja dengan lelaki itu. Sedangkan Dony sendiri masih sperti biasa, dingin sperti es. Itulah peran yang sedang di mainkan kedua orang itu dengan tujuan masing-masing.