
Kimy masih memakai baju pengantinya, berdiri dibalik jendela besar kamarnya. Ia tidak keluar ke balkon, ia hanya mengintip dibalik tirai. Orang-orang di bawah masih ramai dan ia sudah melarikan diri ke kamar. Ia tidak sanggup kalau harus berpura-pura bahagia di bawah sana.
Tok tok
Lexa masuk dengan membawa nampan berisi makanan untuk kimy. Dari pagi wanita itu belum mengisi perutnya. Lexa meletakan nampan itu di nakas dan mendekat menghampiri Kimy.
"Makanlah dulu, kasihan bayimu" Kata lexa tepat di belakang Kimy.
"Kenapa semua orang peduli dengan bayi ini. Apa kalian tidak peduli padaku?" jawab Kimy tanpa menoleh.
"Kimy--" lexa menyentuh lengan wanita yang berdiri memunggunginya itu "Kau harus menjalani masa depanmu mulai sekarang. Jangan pikirkan apapaun lagi di masa lalu. Itu demi anak yang ada di perutmu"
Kimy menoleh, menatap lexa dengan tajam "Apa maksud ucapanmu kak?"
"Inilah takdir sayang, kau harus bisa menerima ini"
"Takdir yang mempermainkanku?" Kimy tersenyum getir "Takdir yang dulu memisahkanku dari Gilang dan membuatku jatuh cinta pada lelaki lain, dan sekarang takdir mengembalikanku lagi pada Gilang" Kimy semakin tersenyum dengan air mata luruh ke pipinya "Apa seperti ini takdir yang kau maksud kak?"
"Kim--"
"Aku manusia kak, aku punya hati. Iya memang aku dulu sangat mencintai Gilang melebihi apapun. Tapi itu dulu--"
Dibalik pintu Gilang berdiri mematung mendengar perkataan Kimy. Lelaki itu masih memegang gagang pintu, ia sudah membukanya sedikit namun pergerakanya terhenti begitu mendengar Kimy berbicara.
"Dan sekarang aku hanya menginginkan Tristan" lanjutnya lemah. "Sampai anak ini lahir, aku akan berpisah dengan Gilang"
"Kau sudah gila"
Gilang di tempatnya diam mematung, hatinya bagai ditusuk-tusuk seribu jarum. Berpisah, bahkan mereka baru bersama beberapa jam yang lalu dan Kimy sudah memikirkan untuk berpisah darinya.
"Kau baru saja menikah Kimy, Bisa-bisanya sudah memikirkan berpisah dari Gilang"
"Ini yang terbaik kak, aku enggak mau Gilang berharap apapun dariku. Hatiku sudah mati bersama Tristan. Kalaupun sekarang Tristan mati, tidak ada lagi cinta yang tersisa dihatiku untuk orang lain" jawab Kimy dengan penuh keyakinan.
"Kau akan semakin menyakiti Gilang kim, kau sadar itu. Gilang sudah banyak berkorban untukmu. Kau masih tega padanya. Apa kurangnya Gilang? Hm.. Bahkan lelaki itu rela mati untukmu"
"Tidak ada--" jawab Kimy lemah "Gilang tidak kurang apapun. Aku yang tidak pantas untuknya" lexa menatap Kimy dengan iba, kemudian ia pun memeluk wanita itu.
"Tidak akan ada perpisahan sayang, mulai sekarang dan selanjutnya, kamu adalah milikku" Kata Gilang di balik pintu, kemudian ia berbalik meninggalkan tempat itu.
Gilang memutari kolam renang, ia berjalan menuju ke empat orang yang tengah duduk bercengkerama digazebo sana. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.
Ketiga orang disana tersenyum menyadari kalau Gilang menghampiri mereka, terkecuali Teddy. Lelaki itu hanya menatap anak lelakinya itu tanpa expresi.
"Gilang kok kesini, Kimy mana?" Tanya sarah ketika Gilang sudah berada di depannya, ia menyadari tidak melihat Kimy dari beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Ada mi di atas, lagi istirahat capek katanya" jawab Gilang lalu duduk di depan Sarah, berdampingan dengan mamanya Sinta.
"Aku mau izin sama papi dan mami untuk membawa Kimy"
"Membawa kemana?" Tanya Daniel mengernyitkan dahinya.
"Ke rumah yang sudah aku siapin buat Kimy pi"
"Kimy setuju?" Tanya Daniel lagi.
"Sekarang Kimy istri Gilang pi, seorang istri harus mengikuti suaminya di manapun suaminya berada. Bukankah begitu pi, atau papi keberatan?"
"Oh..tidak bukan begitu Gilang, papi hanya ingin kau mengerti kondisinya. Kimy butuh waktu Lang--"
"Tapi dengan mereka tinggal berdua mungkin bisa memupuk lagi perasaan Kimy Niel, jangan lupakan itu" Sinta menyela ucapan Daniel dan diberi anggukan oleh Sarah.
Daniel menatap mata Gilang. Ia percaya lelaki tampan di depannya itu mencintai putrinya melebihi dirinya. Benar kata Gilang seorang istri harus mengikuti kemanapun suami pergi, terlebih Gilang menginginkannya.
"Baiklah, bawa Kimy bersamamu. Papi harap kau tidak akan menyakiti Kimy, Gilang"
"Tidak akan pernah pi, Gilang janji" jawab Gilang penuh keyakinan. "Mulai besok Gilang akan kembali ke kantor"
"Ya tuhan, benarkah?" Sinta senang sekali mendengarnya, ia memeluk lengan Gilang bahagia. Sedangkan Teddy, dia tak bereaksi apapun, sperti biasa ia bahkan tak peduli apapun yang Gilang lakukan.
"Iya ma"
Uhuk uhuk
Daniel dan Teddy sama-sama tersedak mendengar ucapan Sarah itu. Sarah yang melihat kedua lelaki itu hanya menampakkan muka bersalahnya.
"Maaf bukan maksudku begitu. Dulu aku selalu mendukung mereka berdua--"
"Sayang sudah" Daniel menghentikan ucapan Sarah agar tak merembet kemana-mana.
**
"Kamu menghindariku?" Tanya Dony pada Nadine yang saat ini berdiri memunggunginya. Nadine tak menanggapi ucapan Dony itu, ia diam saja seperti tak ada orang di sekitarnya.
"Nad--"
"Sudahlah Don, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" Kata Nadine sambil berjalan berniat meninggalkan Dony. Saat melewati Dony, lelaki itu mencekal lengan Nadine dan menatap tajam wanita itu.
"Apa aku punya salah?"
"Lepas" Nadine menepis kasar tangan Dony itu. Dony heran dengan perubahan sikap Nadine. Selama mereka berpacaran, tidak pernah Nadine bersikap sperti itu. Nadine lebih bersikap cuek, manja dan selalu menggodanya dan sekarang kenapa Nadine begitu kasar padanya.
__ADS_1
"Apa kamu salah minum obat?" Tanya Dony dengan candaan. Kalau biasanya Nadine akan membalas dengan candaan juga, tidak dengan kali ini.
"Kita selesai, jangan lagi kau ganggu aku" Kata Nadine meninggalkan Dony begitu saja. Dony masih bingung dengan perkataan Nadine, ia masih berusaha mencerna kata-kata wanita yang sudah mulai mencuri hatinya itu.
"Selesai.." Dony kemudian berlari kecil mencari keberadaan Nadine ke semua arah.
**
Ceklek
Gilang membuka pintu kamar pelan, terlihat Kimy tidur memunggunginya. Terlihat Kimy sudah mengganti pakaiannya dengan piyama berlengan pendek dengan setelan celana pendek pula.
Perlahan Gilang melepas tuxedonya, menyisakan kemeja putih yang melekat di tubuh atletisnya. Gilang baru sadar kalau ia tidak membawa baju ganti, Gilang juga melepas dasi kupu-kupu yang mengikat lehernya.
Kimy menggeliat dan berbalik mendapati Gilang berdiri sambil melepas dasi kupu-kupunya sambil menatapnya tajam.
"Kau---" reflek Kimy sambil mendudukkan tubuhnya. Ia merasa risih melihat Gilang melepas dasi itu dengan gerakan slow motion.
"Ganti di sana" perintah Kimy menunjuk ruangan wardrobe dengan wajahnya. Gilang bukan tidak tahu tempat itu. Lelaki itu sudah hafal betul denah kamar itu, tapi dia sendiri bingung tidak membawa baju. Gilang tak menjawab, ia masih diam dengan pandangan tajam penuh intimidasi pada Kimy. Setelah dasi kupu-kupunya terlepas, Gilang membuka satu kancing kemejanya dan itu cukup membuat Kimy panik.
"Lang"
"Kenapa, kamu takut padaku?" Tanya Gilang tersenyum devil. Kimy tak menjawab, ia membuang muka, malas melihat wajah tampan Gilang itu.
Gilang memasukan tangannya pada saku celana dan berjalan mendekati Kimy. Ia berdiri tepat di samping Kimy, membuat Kimy mendongak bingung menatap lelaki itu.
"Apa?.. Kau jangan macam-macam Lang. Kau sudah janji padaku tidak ak--" uacapan Kimy terhenti ketika melihat tangan Gilang terulur ke arahnya. Sebuah kotak bludru berwarna merah berada di tangan Gilang.
"Apa itu?"
"Ambilah"
Kimy meraih kotak itu pelan.
"Bukalah"
Kimy pun membukanya dan dua buah cincin berada didalam kotak itu. Ya, itu adalah cincin pernikahan. Harusnya saat acara ijab kabul tadi cincin itu ia sematkan dijari manis Kimy, namun Gilang melihat di jari Kimy masih ada cincin yang Gilang yakini itu adalah cincin pertunanganya dengan Tristan. Gilang tidak mau membuat malu Kimy di depan orang banyak. Itu untuk ia tetap menyimpan cincin itu di dalam saku celananya.
"Lang ini--"
"Itu cincin pernikahan kita. Bagaimana pun kita sudah menikah. Cincin adalah simbol, aku ingin kita memakainya" Kimy menatap Gilang ragu, bagaimana ini Kimy pun jadi bingung. Di sisi lain ia tidak mau melepas cincin pertunanganya dengan Tristan, disisi lain memang benar Gilang sudah menjadi suaminya. Tidak mungkin kan kalau dia memakai kedua cincin itu secara bersamaan.
"Lang--"
"Aku cuma minta ini Kim" Kata Gilang tidak bisa di tawar lagi. Setelah berfikir sejenak Kimy pun mengangguk dan mengambil salah satu cincin yang ada permatanya, sebelum ia memakai cincin itu, ia dengan berat hati melepas cincin pertunanganya dengan Tristan. Begitu pun dengan Gilang, lelaki itu mengambil cincin yang tersisa dan memakainya di depan Kimy. Keduanya diam beberapa saat, mereka terlihat canggung, hingga Gilang memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan di benua lain, seorang lelaki tengah menutup matanya. Ada beberapa alat medis terhubung ke tubuh lelaki itu. Disebelahnya, ada seorang wanita yang menggenggam erat tangan lelaki itu. Wanita itu tampak khawatir, sesekali ia mengelus rahang lelaki yang sedang menutup mata itu.
"Cepatlah sadar Tristan, kau tidak boleh mati"