
Kimy perlahan membuka mata saat sinar matahari mulai mengintip dari celah korden kamarnya. Perlahan dia menggeliat mencari sosok Tristan, namun dia tak menemukan lelaki itu. Kimy mendongak menatap jam dinding kamarnya dan ternyata sudah pukul 10.00. Pasti Tristan sudah berangkat kerja pikirnya. Kimy tidur seperti orang mati sampai tidak terasa saat Tristan memindahkannya dari mobil ke kamar tadi malam. Dan sekarang badannya terasa lemas dan pusing. Mungkin karena angin malam dipinggir pantai yang membuatnya sedikit masuk angin. Kimy berniat ke kamar mandi, tapi tubuhnya malah oleng membuatnya berguling lagi di kasur "Ya tuhan aku kenapa, lemes banget. Badanku bergetar" katanya lirih. Kimy berniat untuk berdiri, tetapi di kagetkan dengan lexa yang masuk ke kamarnya tanpa permisi "Kamu lagi apa?" Tanya lexa karena melihat Kimy yang berusaha bangkit dengan tertatih. Kimy tak menjawab pertanyaan lexa, begitu berdiri dengan seimbang dia segera menuju ke kamar mandi tanpa memperdulikan asistennya itu.
"Hoek.. Hoek.. Hoek.."
"Kamu tidak apa-apa Kim? " lexa masuk ke kamar mandi karena mendengar Kimy muntah-muntah dengar suara yang cukup keras. Wanita itu memijat tengkuk kepala Kimy. "Kamu masuk angin?" Tanyanya lagi yang tak mendapat jawaban dari Kimy. Setelah Kimy mengeluarkan isi perutnya, lexa segera memapahnya kembali ke ranjang. Menidurkan dan menyelimuti Kimy. "Akan aku panggilkan dokter setelah ini" Kata lexa sambil menyelimutinya "Jangan kak, aku enggak mau dikurung di kamar kalau Tristan tahu aku sakit" katanya.
"Tapi kamu sakit, aku enggak mau ambil resiko" jawab lexa dengan tegas. Kimy memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. "Kak tolong belikan aku tespek" kata Kimy dengan lemah.
"What ! Kamu hamil???" lexa terkejut, matanya hampir lepas saking terkejutnya.
"Bisa enggak ngomongnya enggak usah ngegas" Kimy masih memijat pelipisnya, Kimy baru sadar kalau dia sudah telat seminggu. "Aku enggak tahu kak, makanya aku butuh tespek"
"Kalian kenapa enggak main aman sih, kan ada kond*m. Bikin repot orang aja" gerutu lexa, wanita itu mengambil ponselnya untuk menghubungi kenalannya yang seorang dokter "Pernikahanmu masih kurang tiga minggu lagi, kalau kayak gini mending di cepetin aja" lanjut lexa sambil mengetik pesan untuk dikirim ke kenalannya itu.
"Berisik" jawab kimy malas meladeni lexa. "Oh ya jangan kasih tau Tristan dulu, aku belum tentu hamil."
"Hamil atau enggak kalian akan menikah, jadi jangan banyak tingkah dengan menyembunyikan semua ini darinya" sahut lexa, Kimy menatap tajam lexa "Aku bisa di nikahin besok kalau dia tahu" teriak Kimy.
"Bagus" sahut lexa "Sebentar lagi kenalanku yang dokter akan datang"
"Lha ngapain kamu manggil kenalanmu kak?" Tanya Kimy kaget.
"Dia dokter kandungan, katanya kamu enggak mau kalau Tristan tahu. Kalau aku panggil dokter keluarga, pasti dia akan laporan pada calon suamimu itu."
Kimy manggut-manggut mendengarnya "Okey-okey, pinter" lexa hanya mendengus mendengarnya "Tapi apa enggak tespek dulu aja kak"
"Enggak usah langsung dokter aja, Aku enggak mau ambil resiko. Lebih cepat tahu lebih baik" jawab lexa sambil memberikan sebuah undangan pada Kimy "Ini contoh jadinya, undanganya udah mulai di bagikan hari ini"
"Hmm" jawab Kimy tanpa berniat melihat undangan itu.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, seorang wanita dibawa masuk ke kamar oleh salah satu pembantu Kimy "Mari silahkan masuk" setelah pembantu itu mengetuk pintu dan terlihat lexa membuka, wanita itu masuk.
"Periksa Kimy Mel, kayaknya dia hamil. Tapi ini rahasia ya, jangan sampai ada yang tahu, apalagi publik. Kau tahu kan dia belum menikah, bisa di bully habis-habisan kalau publik tahu" seorang dokter kandungan bernama mella yang tak lain adalah teman lexa itupun mengangguk paham. Dia tersenyum pada Kimy, walaupun dr mella tak mengenal Kimy, tapi dia tahu kalau Kimy seorang publik figur dan juga calon istri Tristan, pengusaha kaya raya di Indonesia.
"Tenang aja, rahasia di jamin aman" jawab dr mella. Perempuan itu pun menghampiri Kimy "Apa yang kau rasakan nona Kimy?"
"Panggil Kimy aja dok" jawab Kimy dengan sopan.
"Baiklah, kalau kau memaksa" keduanya pun tertawa di sela-sela kegiatan itu.
"Bagaimana?" Tanya lexa setelah dr mella selesai memeriksa dan memasukan perlengkapanya ke dalam tas.
"Selamat, Kimy hamil. Ini aku kasih resep vitamin, kau tebus sendiri ke apotik" dr mella menyerahkan resep itu pada Lexa. "Ya sudah, jaga kehamilan ya kim, aku pergi dulu"
"Terima kasih" jawab Kimy dibalas anggukan oleh dokter itu.
"Terima kasih ya, inget jangan sampai bocor" Kata lexa pelan sembari membuka pintu untuk dr mella.
Lexa menutup pintu kamar Kimy dan menatap Kimy dengan tajam "Apa yang akan kamu lakukan sekarang ?" tanyanya pada Kimy. Kimy yang terlihat tenang itupun tak menggubris lexa, dia berusaha turun dari ranjang "Aku mau ke kantor Tristan" lexa mencekal lengan Kimy "Mau apa, kamu lagi hamil jangan banyak aktivitas" Kimy menepis tangan lexa "Kakak jangan banyak omong, cukup kita berdua yang tahu rahasia ini. Eh bertiga sama dokter itu, Tristan juga tidak boleh tahu"
"Kamu gila!" jawab lexa.
"Kakak mau aku stres dikurung Tristan?"
"Tapi kamu lagi hamil, dia bisa menjagamu lebih extra" jawab lexa lagi.
"Dia tidak akan menjagaku tapi mengurungku kak, please aku mohon, aku kan akan menikah sama dia. Jadi dia akan tetap tahu, tapi nanti dan aku sendiri yang akan memberitahunya"
Lexa membuang nafas kasar "Oke terserah kamu, tapi aku enggak mau di salahin kalau Tristan akhirnya tahu sendiri"
__ADS_1
"Oke, kakak tenang aja, sekarang aku mau ke kantor Tristan aku bosan di rumah."
"Akan aku antar"
**
"Apa semua sudah siap" Tanya Tristan pada Dony yang berdiri di depannya.
"Sudah, semua yang kau minta sudah aku siapkan. Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Tanya dony sekali lagi.
"Tentu, aku tidak pernah menyesali semua keputusanku sampai saat ini"
Dony hanya manggut-manggut mendengarnya "Kenapa kau lakukan itu, kalian kan akan menikah"
"Justru itu, Kimy akan menjadi istriku. Dialah satu-satunya yang aku punya di dunia ini. Dia satu-satunya keluargaku. Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuknya"
"Dia akan menangis terharu kalau tahu apa yang kau lakukan ini"
Tristan hanya tersenyum miring "Untuk itu diamlah, jangan sampai ada yang tahu"
"Sayaaang" pintu terbuka dan suara Kimy menggema di sana. Tristan dan Dony langsung menoleh ke asal suara.
Terlihat Kimy dan lexa masuk ke ruangan itu, Kimy yang berlari kecil ke arah Tristan membuat lelaki itu segara berdiri menyambutnya. Benar saja, Kimy membenamkan tubuhnya di dada lelaki itu "Aku kangen" katanya dengan mencium wangi tubuh lelakinya.
Tristan tersenyum bahagia dengan tingkah wanitanya itu, Kimy yang bergantung padanya, membuat Tristan semakin yakin ingin memberikan kebahagiaan penuh terhadapnya "Kamu sudah makan?" Tanya Tristan dengan menatap wajah Kimy ketika wanitanya mendongakkan wajahnya.
"Belum" Kimy menggeleng dengan tangan masih memeluk lelakinya. Tristan berkerut, "belum?" Tristan melirik tajam lexa yang berdiri disamping Dony.
"Katanya mau makan bersama anda" jawab lexa cepat ketika mata tajam itu menatapnya penuh intimidasi.
__ADS_1
"Tidak perlu marah sama kak lexa, aku yang minta ke sini." Katanya dengan manja "Kamu pergi enggak bangunin aku" Dony dan lexa merasa seperti nyamuk saat itu, melihat kedua sejoli sedang berpelukan dan bermanja an seperti itu membuat keduanya salah tingkah.
"Eghm.. Maaf saya keluar dulu" Kata Dony kemudian "Saya juga" Lexa menyusul. Kimy tak menggubris, dia terus saja menempelkan tubuhnya pada lelakinya itu, sedangkan Tristan hanya melirik Dony sekilas. Dony segera pergi dari tempatnya, di susul lexa. "Kamu membuat mereka iri sayang" Kata Tristan dengan hidung saling menempel satu sama lain. "I Dont care" jawab Kimy mencium bibir lelakinya itu. Entahlah, Kimy merasa dirinya candu banget dengan Tristan saat ini. Entah itu karena hormon kehamilannya atau apa, yang jelas Kimy ingin selalu dekat dengan lelaki itu.