BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Haruskah aku memaafkanmu


__ADS_3

Di rumah sakit terlihat Mario sedang menunggu Kimy di kamar rawat gadis itu. Ia duduk di sofa sambil sesekali menatap Kimy iba. Sejak pagi memang Mario di tugaskan menjadi gadis itu karena Tristan ada rapat penting yang tak bisa di wakilkan oleh Dony.


Mario benar-benar tak habis pikir, kenapa bisa Tristan melakukan hal yang keji seperti itu. Apalagi setelah semalam ia datang ke rumah sakit dan tahu ceritanya dari Dony.


"Bajingan sialan itu benar-benar gila.." Kata Mario pelan.


Mario mengeluarkan ponselnya, ia mengetik kan sebuah pesan pada seseorang.


Apa semua aman? Jaga dia dengan baik, penuhi semua kebutuhan nya.


Mario sedikit tersenyum, lalu ia melanjutkan membaca majalah yang ada di depannya.


**


" Lepaskan aku, lepas. Tolong, tolong dia datang, dia mau membunuhku.." Sinta berteriak dengan keras. Beberapa perawat memegangi tubuhny , bagaimana tidak wanita paruh baya itu mulai mengamuk menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Beberapa saat dokter datang dan menyuntikkan obat penenang lagi pada tubuhnya. Sinta lemas, tubuhnya tak berdaya dan dia pun ambruk.


Sejak mendengar kecelakaan yang menimpa Sarah, Sinta seperti mengalami halusinasi. Setiap saat dia ketakutan. Dokter sudah beberapa kali menyuntikkan obat penenang pada tubuhnya, tapi ketika sadar ia akan kembali histeris.


Setelah Sinta tertidur, Gilang datang dengan tergesa. Hari ini dia meninggalkan Sinta sebentar untuk menemui Tristan tapi perawat menghubungi nya karena Sinta mengalami histeris lagi.


"Dokter.."


"Oh kau sudah di sini rupanya.." jawab dokter itu "Kita bisa bicara di ruangan ku Gilang.."


Gilang mengangguk dan mengikuti dokter itu di belakangnya. Setelah mereka sampai di ruang kerja dokter, mereka duduk dan berbicara dengan serius.


"Bagaimana dok keadaan mama?.."


"Gilang, jadi gini sepertinya bu Sinta mengalami halusinasi akut. Saya sarankan bu Sinta menjalani pemeriksaan bersama seorang psikiater.."


"Maksud dokter? Apa mama saya mengalami gangguan kejiwaan?.." Tanya Gilang serius.


"Saya tidak bisa memastikan, bu Sinta harus menjalani beberapa pemeriksaan dulu.."

__ADS_1


Gilang sedikit berfikir "Pemeriksaan seperti apa dok?.."


"Bu Sinta harus di jadwalkan bertemu psikiater dulu, nanti ada dokter ahli yang akan memeriksa. Setelahnya juga ada pemeriksaan fisik bu Sinta, serta Kalau di perlukan ada tes laborat juga.."


"Dok kemungkinan terburuk, apa yang akan terjadi?.."


"Kalau saya amati beberapa hari ini bu Sinta histeris, bahkan tadi dia melempar barang-barang yang ada di dekatnya. Kemungkinan terburuk, kalau bu Sinta masih terus melakukan hal-hal demikian, atau hal yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain tentu dokter akan menyarankan beliau di pindah kan ke rumah sakit jiwa.."


"Ya tuhan, apa mama saya.." Gilang tak meneruskan ucapannya, ia tak bisa membayangkan kau mamanya berada di rumah sakit jiwa.


"Gilang, jangan berkecil hati. Tidak semua orang di rumah sakit jiwa itu 100% maaf, gila. Beberapa pasien di rujuk ke sana bisa karena dia sering mengalami halusinasi seperti bu Sinta dan mencoba menyakiti diri sendiri dan orang lain. Atau bisa juga dia tidak bisa di biarkan tanpa pengawasan. Di sana pasien akan di beri obat yang tepat sesuai gejala. Mereka juga di ajak bicara dari hati ke hati dengan cara mereka yang sudah ahli. Percayalah semua itu hanya untuk kebaikan pasien.."


Gilang terdiam, ia berfikir sejenak. "Baiklah dok, berikan jadwal mama untuk bertemu psikiater.." Jawabnya.


"Baiklah.."


**


Tok tok


Ceklek


Dony masuk ke ruangan itu "Bos apa anda tidak ada rencana ke rumah sakit, sekarang sudah sore.."


Tristan tidak menjawab, lelaki itu hanya pindah posisi. Ia berjalan dan duduk di kursi kebesaran nya.


"Tinggalkan aku sendiri.." Jawabnya.


Dony sedikit khawatir dengan keadaan Tristan, pasalnya lelaki itu tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Tidak ada yang bisa membuatnya goyah selama ini. Bahkan Kimy yang jelas-jelas Dony tahu kalau bos nya itu jatuh cinta Pada gadis itupun tak bisa menggoyahkan niat Tristan balas dendam. Lalu apa yang terjadi dengan lelaki itu. Apa ucapan Gilang lelaki yang di bencinya benar-benar bisa menggoyahkan hatinya.


Dony keluar dari ruangan Tristan dan kembali masuk ruangan nya yang berada di sebelah bos nya itu. Setelah sampai ke ruangan nya, Dony menghubungi Mario untuk menanyakan keadaan Kimy, karena Dony juga mengkhawatirkan gadis itu.


Pukul 20.00 wib Tristan baru keluar dari kantornya di ikuti oleh Dony. Mobil itu melaju dengan santai ke arah rumah sakit tempat di mana kimy di rawat.

__ADS_1


Tristan berjalan di koridor rumah sakit dengan tenang di ikuti Dony di belakang. Lelaki itu tiba-tiba mengehentikan langkahnya.


"Kau pergilah dulu ke kamar Kimy, aku ada urusan sebentar.." katanya, di jawab angguk kan oleh Dony.


Dony hanya memandang punggung bos nya itu perlahan berjalan menjauh. Dia sedikit berfikir namun akhirnya dia kembali berjalan menuju ruangan Kimy.


Tristan berhenti di depan ruang ICU. Dia menatap nanar pintu di depannya. Cukup lama lelaki itu berdiri di situ.


Dari jarak 10 meter Hendra melihat Tristan berdiri menatap pintu ruang perawatan bos nya. Lelaki paruh baya itu sedikit khawatir, dia berniat menghampiri Tristan karena takut kalau lelaki itu berniat menyakiti bos nya lagi.


Saat kaki Hendra hendak melangkah, lengannya di tahan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Gilang yang menahan nya.


"Biarkan dia bertemu papa om.." Kata Gilang lirih.


Hendra sedikit bingung "Tapi Lang aku khawatir.."


"Kali ini aku yakin, dia datang bukan untuk menyakiti papa.." Gilang memotong ucapan Hendra.


Hendra yang mendengar itu, akhirnya pasrah. Ia hanya berdiri melihat dari kejauhan. Sama seperti Gilang, lelaki itu juga masih berdiri di sana melihat Tristan yang berdiri di depan ruang rawat papa nya itu.


Beberapa saat tangan Tristan menyentuh gagang pintu ruang ICU itu. Dia tampak ragu, namun lelaki itu tetap membuka pintu itu perlahan.


Setelah masuk ia melihat hanya ada satu pasien di situ. Tentu saja karena ruangan itu adalah ruangan ICU khusus. Terlihat Teddy terbaring lemah di sana, kepalanya di balut perban, serta banyak alat medis yang terhubung ke tubuhnya.


Tristan hanya berdiri dari kejauhan tanpa mendekat, ia menatap nanar sosok Teddy yang tergolek tak berdaya. Mukanya tanpa expresi, kedua tangan nya masuk ke dalam saku celananya.


Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu Teddy.


Di dalam saku celana, kedua tangannya mengepal kuat, entah apa yang di rasakan nya. Rahang nya begitu mengeras. Dadanya sedikit sesak.


Haruskah aku memaafkan mu?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2