
Tristan, lihatlah. Bagaimana reaksimu kalau tahu ini, kau terlalu meremehkan ku sayang. Kau melarangku mendatangi rumahmu? kau lihat bagaimana caraku mengusir gadis sialan itu dari rumahmu. Aku sedang bersama adikmu sayang. Batin Laura merasa menang.
" Kau, apa kau ada hubungannya dengan Tristan Abraham?.." Tanya Gilang to the point. Laura tak menjawab, dia terlalu kaget karena pria itu terlalu terburu-buru untuk menanyakan itu menurutnya.
" Maaf, nama belakangmu itu.." Tristan menghentikan ucapannya " Oh, No..tidak apa-apa, orang mungkin akan mengira aku keluarganya karena nama belakang kami sama, tapi yang sebenarnya, aku tidak ada hubungan keluarga dengannya.." Jawab Laura.
" Jadi maksudmu kau tak mengenalnya?.." Tanya Gilang lagi dengan penuh kecurigaan.
" Hhmmmm.." Laura sedikit berfikir, wanita itu tidak mau gegabah memutuskan untuk membongkar semua pada Gilang saat itu juga, tapi dia lebih ingin main halus. Laura tak mau kalau Tristan menganggapnya ingin menghancurkan rencana balas dendamnya, itu akan semakin membuat Tristan menjauh darinya.
" Sebenarnya dia itu sepupuku yang masih jauh, aku tak begitu tahu tentangnya. Keluarga kami tak akrab, jadi jangan tanyakan tentangnya padaku.." Jawab asal Laura.
Jadi benar, kau keluarga laki-laki sialan itu. Baguslah, aku bisa memanfaatkanmu.
**
Kimy berjalan menyusuri lorong lantai atas rumah mewah Tristan, dia berjalan melewati beberapa kamar. Setelah Tristan melihat Kimy menangis karena ulah nek Inah, Tristan belum menemui Kimy lagi. Entah kemana laki-laki itu, apa dia pulang ke rumah atau tidak, Kimy juga tidak pernah melihatnya.
Nek Inah pun demikian, wanita itu juga tak terlihat batang hidungnya.
Kimy melihat sebuah pintu ruangan terbuka, gadis itu berniat menutupnya. Namun langkahnya terhenti.
Suara apa itu?
Kimy mendengar suara rintihan dari dalam ruangan itu, gadis itu menempelkan kepalanya pada pintu yang sedikit terbuka.
" Toloong, tolong aku, saakiiit.."
Dengan cepat Kimy membuka pintu ruangan itu. Ternyata itu adalah sebuah kamar, namun Kimy tak melihat siapapun.
" Hallo.. ada orang?.." Teriak Kimy sambil melihat seluruh isi kamar itu.
" Toloong, di sini.." Suara seseorang minta tolong dari kamar mandi. Kimy berlari ke asal suara, dengan cepat gadis itu membuka pintu dan benar saja, terlihat nek Inah sudah terlentang di lantai dengan tongkat yang tergeletak jauh dari jangkauannya.
" Astaga nenek.." Kimy berlari meraih tubuh wanita tua itu.
" Kenapa bisa jatuh sih nek.." Kata Kimy sambil mengangkat lengan nek Inah untuk di sampirkan di pundak gadis itu. Perlahan Kiny melangkahkan kakinya, di ikuti langkah kaki nek Inah yang lemah.
Kimy menyandarkan tubuh nek Inah di ranjang.
" Sebentar Kimy ambil obat-obatan dulu nek.." Kata gadis itu sambil beranjak dari ranjang.
" Tunggu.." Jawab nek Inah. Kimy menghentikan langkahnya, menoleh pada wanita tua itu.
" Ambilkan saja obatku di laci meja itu.." Titah nek Inah pada Kimy, sambil menunjuk sebuah meja di pojok kamar itu.
Dengan sigap Kimy mengambilkan obat nek Inah di laci meja " Yang mana nek?.." Tanya Kimy, sambil mengacak-acak beberapa bungkus obat di dalam laci. " Yang warna cokelat.." Jawab nenek itu.
Setelah menemukan obatnya, Kimy memberikannya pada nek Inah. " Ini nenek minum obatnya.." Perintah Kimy pada nek Inah.
" Kenapa nenek bisa jatuh? apa tidak ada yang mengawasi nenek di kamar?.." Tanya Kimy cerewet.
Nek Inah tak menghiraukan Kimy, wanita tua itu masih asyik melakukan aktivitasnya yaitu meminum obat yang di berikan Kimy.
" Kenapa kau cerewet sekali?.." Jawab nek Inah setelah selesai meminum obatnya. Kimy cemberut mendengar perkataan wanita tua itu.
" Kau pergilah, terima kasih sudah membantuku.." Kata wanita tua itu.
__ADS_1
" Jadi nenek mengusirku, setelah aku bantu.." Jawab Kimy sambil tersenyum menggoda.
Anak ini kenapa masih bersikap manis padaku.
" Kau kenapa tersenyum begitu padaku.." Kata nek Inah ketus.
" Kenapa nenek tidak menyukaiku? Apa karena Tristan gila itu.." Nek Inah terkejut dengan perkataan Kimy yang mengatai Tristan gila.
" Apa yang kau katakan?.." Tanya nenek tua itu.
" Nenek tidak usah khawatir atas hubunganku sama dia, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku juga tidak menyukainya. Jadi kalau nenek tidak setuju, aku sama sekali tidak khawatir.." Kata Kimy panjang lebar.
" Ha ha ha.." Nek Inah tertawa lebar.
Jadi itu yang kau pikirkan tentang aku?
Kini wanita tua itu mengerti, kalau Kimy hanyalah gadis yang tak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah, tidak seharusnya wanita tua itu membencinya.
" Aku senang melihat nenek tertawa, ini pertama kali kita bicara dengan baik, nenek tahu? Aku senang bisa bicara dengan nenek. Nenek mengingatkanku pada nenekku yang sudah tiada.." Kata Kimy tulus. Perkataan Kimy membuat nek Inah merasa bersalah.
" Kau tau gadis kecil, tak seharusnya kau di sini.." Jawab nek Inah.
" Aku bukan anak kecil nek, aku sudah 24 tahun, asal nenek tahu.." Kimy membela diri.
" Benarkah? tapi kenapa sikapmu begitu, lihat bicaramu, kau manja seperti anak bayi.." Kata nek Inah sambil mencibir Kimy. Kimy tersenyum melihat sikap nek Inah, dia tahu kalau wanita tua itu sudah bisa menerima keberadaannya.
Nek inah menguap, dia merasa mengantuk setelah minum obat. " Nenek mengantuk, tidurlah. Aku akan di sini sampai nenek tertidur.." Kata Kimy sambil menyelimuti tubuh wanita tua itu.
" Hhhmm, pergilah setelah aku tertidur.." Wanita itu berkata sambil menutup matanya.
Ada beberapa foto tergantung di tembok yang tak jauh dari ranjang nek Inah. Kimy berjalan memutari ranjang, mendekat pada tembok itu.
Kimy melihat foto pertama, seorang wanita muda cantik, bersama wanita paruh baya yang Kimy yakini itu nek Inah karena wajahnya mirip dan juga ada anak kecil berusia sekitar 10 tahun. " Cantik sekali, ini pasti anak nenek sama cucu nenek. Apa ini pria gila itu? kalau ini dia, berarti ini mamanya. Wah cantik sekali, pantas saja dia setampan itu.."
What? apa yang kau katakan Kimy. Orang gila itu tampan kau bilang hahaha
Kimy menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.
Gadis itu berlanjut melihat foto kedua, Foto seorang wanita muda cantik bersama laki-laki tampan yang masih sangat muda.
Dia Tristan dan dia? dia Laura??
Foto Tristan dan Laura terlihat sangat mesra di mata Kimy. Laura duduk di pangkuan Tristan, lelaki itu memeluk pinggang ramping laura dari belakang. Mereka berdua terlihat masih sangat muda di foto itu. Laura tampak mencium pipi Tristan mesra.
Apa hubungan mereka sebenarnya?
Dada Kimy merasa sesak melihat foto itu. Entah kenapa, gadis itu akhirnya memalingkan wajahnya pada foto yang lain. Deg.. jantung Kimy berhenti seketika. gadis itu terperanjat, dia membuka matanya lebar melihat foto ketiga.
Apa ini? kenapa ada foto om Teddy di sini.
Kimy melihat foto Teddy bersama wanita muda cantik, orang yang sama yang di lihatnya di foto pertama, bersama anak kecil yang sama juga. Walaupun di situ Teddy terlihat masih muda, namun Kimy meyakini itu adalah Teddy, papa dari Gilang, kekasihnya.
Apa sebenarnya yang terjadi, siapa orang-orang ini? Kenapa ada om Teddy.
Kimy semakin panik dan bingung, gadis itu dengan cepat keluar dari kamar nek Inah.
Aku harus cari tahu, ada yang tidak beres. Aku di sini bukan tanpa sengaja, mereka sudah merencanakannya.
__ADS_1
Kimy berjalan dengan terburu, dengan fikiran yang terus berkelana, memikirkan banyak kemungkinan yang terjadi.
Brakkkk!!!!
Tubuh Kimy terguncang, saat ada yang menabraknya. Tubuh gadis itu mau tumbang ke belakang, namun dengan cepat di tangkap oleh Tristan.
" Kau berjalan tak memakai matamu, apa yang kau pikirkan?.." Kata-kata kasar dan dingin, membuyarkan lamunan Kimy seketika.
" Kau?.." Kimy terkejut melihat Tristan. Tristan menyipitkan matanya, memang laki-laki gila itu tak mudah untuk di bohongi, Tristan seperti mempunyai firasat kalau Kimy menyembunyikan sesuatu dan itu bisa di lihat dari expresi Kimy yang terkejut melihatnya.
" Kenapa?.." Tanya Tristan dingin. Kimy hanya menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Tristan.
" Dari mana kau?.." Tanya laki-laki itu, sambil melihat keadaan sekitar.
" Eh Tristan, kau harus segera panggilkan dokter. Nenek tadi jatuh di kamar mandinya, dia tak mau di panggilkan dokter, dia hanya minum obatnya saja. Sekarang dia tertidur, tapi aku khawatir kalau ada luka dalam.."
Tristan mengerutkan dahinya " Apa maksudmu? tahu dari mana kalau dia jatuh?.." Tanya Tristan.
" Aku tadi tak sengaja melewati kamarnya dan dia.."
" Owhh!!.." Teriak Kimy karena belum selesai Kimy bicara, laki-laki gila itu sudah mencekik leher Kimy.
" Aku bilang apa padamu? Kenapa bisa kau sampai kamarnya, aku bilang jangan bicara pada siapapun di rumah ini, apa kau bodoh tak mengerti kata-kataku.." Kata Tristan penuh penekanan, dengan tangan masih di leher Kimy.
" Awgh..aghh..Aghh.." Suara Kimy tercekat, karena cekikan laki-laki gila itu. Tubuh Kimy di dorong kebelakang hingga menempel ke tembok. Laki-laki gila itu masih terus mencekiknya.
Papa, mama, Gilang, benarkah hidupku akan berakhir di sini. Benarkah aku akan mati.
Tak lama kemudian Tristan tersadar, dia melepaskan tangannya. Gadis itu ambruk, tubuhnya merosot ke lantai.
" Uhuk.. uhuk.. uhuk..." Kimy terbatuk-batuk, dia menghirup nafas sedalam-dalamnya. Hampir saja gadis itu mati karena ulah laki-laki gila itu. Sedangkan Tristan hanya menatap nanar ke arah gadis itu. Tristan bingung, dia tak tahu apa yang di perbuatnya, dia merasa menyesal.
" Kau tak apa-apa?.." Tanya Tristan sambil berjongkok, melihat gadis itu tak berdaya. Tistan menyentuh lengan Kimy.
" Lepaskan!!.." Teriak Kimy, sambil mendorong tangan laki-laki itu.
" Maaf, aku tidak sengaja.." Kata Tristan pelan.
" Apa yang membuatmu marah hah??..
" Apa karena aku ke kamar nenekmu, aku bicara padanya atau karena kau takut aku mengetahui sesuatu?.." Teriak Kimy lagi.
Kimy bangkit dari duduknya, gadis itu dengan tertatih berjalan ke kamarnya. Tristan berusaha membantu, namun di tolak oleh Kimy. Tristan mengikuti Kimy di belakang. Gadis itu masuk ke kamarnya, dia mau menutup pintu namun di tahan oleh Tristan.
" Lepaskan bajingan, jangan ganggu aku.." Teriak Kimy. Kimy terus menahan pintu kamarnya, agar Tristan tak ikut masuk, namun kekuatan Kimy tak seberapa di banding laki-laki itu. Akhirnya gadis itu hampir tumbang terkena pintu yang terbuka lebar karena dorongan kuat Tristan. Dengan cepat Tristan menahan tubuh Kimy agar tak jatuh, namun Kimy meronta, melepaskan diri.
" Lepaskan aku, jangan sentuh aku. Kalian semua gila.." Teriak Kimy berlari ke sudut kamarnya. Tristan hanya memandang gadis itu dari tempatnya berdiri.
Kimy menangis tersedu " Siapa kau sebenarnya?.." Tanya Kimy terus menangis.
" Katakan siapa kau sebenarnya? Ini tidak kebetulan kan? Kalian sudah merencanakan semua iki kan?.. Tanya Kimy penuh emosi.
Tristan hanya menatap gadis yang di sukainya itu nanar. Apakah cinta selalu semenyakitkan ini. Tristan sungguh sakit melihat gadis itu menangis tersedu karenanya. Dia tak tahu, kalau hatinya akan sesakit ini melihat gadis itu menderita. Entah sejak kapan?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\={{\=\=
__ADS_1