BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Berdamai dengan masa lalu


__ADS_3

Saat ini Kimy, sarah dan Daniel sedang sarapan bersama. "Kemana Tristan dua hari ini tidak menginap di sini sayang?" Tanya sarah sambil mengunyah makanannya.


"Dia sibuk mi pulang malam terus, dia nggak mau kalau aku menunggunya" memang akhir-akhir ini Tristan begitu di sibukan dengan urusan kantornya. Dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pernikahan, agar setelah menikah bisa berkeliling dunia bersama Kimy.


"Aku rasa dia terlalu pekerja keras"


"Bukankan seprtiku sayang" jawab Daniel. "Bukankan kamu suka lelaki pekerja keras seprtiku?" Daniel mengerlingkan sebelah mata pada istri cantiknya itu.


"Tentu aja suamiku yang terbaik" Jawabnya sambil mencium jauh suaminya.


"Dia itu fotocopyanya Teddy, lihatlah mereka sangat mirip" lanjut Daniel. Mendengar itu Kimy melirik kedua orang tuanya itu.


"Papi kenal om Teddy dan mama Sinta sudah lama?" Daniel mengangguk mendapatkan pertanyaan itu.


"Iya kita kenal mereka dari kita masih SMA, ya kan sayang" sarah ikut menjawab. Daniel masih menggangguk mendengar perkataan istrinya.


"Kalau dengan mamanya Tristan?"


Kedua orang tua Kimy itu menatap Kimy bersamaan "Sayang, Kimy sebaiknya kita tidak membahas ini" kata Daniel pelan.


"Aku ingin tahu pi, kita tidak membahasnya selama ini karena selalu ada Tristan di sini. Kita tidak ada kesempatan untuk saling bertanya"


"Tidak ada yang perlu di ceritakan dari masa lalu wanita itu" Sarah menyela begitu saja.


Kimy menganga mendengar ucapan Sarah "Wanita itu adalah ibu dari calon suamiku mi, aku berhak tahu"


"Kimy!!" Sarah membentak, seakan dia tidak suka dengan topik itu.


"Mami, apa mami tahu apa yang Kimy alami selama ini" Kimy mencoba menahan sesak didadanya mengingat semua yang terjadi pada dirinya. Kenapa maminya itu seakan masih tega menyembunyikan sesuatu darinya.


"Sayang, apa maksud kamu?" Tanya Daniel mendengar apa yang Kimy katakan itu.


"Papi dengar.."


Dddrrrrrtt


Ponsel Daniel tiba-tiba bergetar menandakan ada yang menelepon. "Sebentar" Daniel memberi aba-aba Kimy untuk berhenti karena dia mau mengangkat telepon itu.


"Hallo"


"....."


"Kapan, oya"


"....."


Kimy dan sarah masih saling menatap seakan bicara lewat mata, jangan bicara macam-macam pada papimu kim.


Mami harusnya malu terhadap Tristan. Batin Kimy.

__ADS_1


"Sayang, Kimy maafkan papi karena papi harus berangkat. Ada urusan dikantor sayang. Mereka semua menunggu papi" katanya pada Kimy dengan merasa bersalah.


"Oh ya sayang, mami yang akan bicara sama Kimy. Pergilah kamu sibuk sayang" jawab Sarah seakan mendorong suaminya itu untuk pergi.


"Kimy?" Daniel memanggil lagi putri kesayangannya itu karena kimy tak menyahutnya. Kimy malah masih memandangi sarah istrinya.


"Oh iya pi, nggak apa-apa papi berangkat aja" jawab Kimy dengan senyumnya.


"Maafkan papi sayang" Daniel kemudian mencium pipi Kimy dan sarah, lelaki itu kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Mami takut aku bicara sama papi?" tebak Kimy melihat gelagat maminya itu.


"Apa maksud kamu kim, kenapa mami harus takut. Memangnya apa yang mau kamu bicarakan sama papi"


"Semuanya, semuanya mi. Mungkin mami akan berdiri kaku kalau tahu, aku tahu lebih dari apa yang mami pikirkan" jawab Kimy remeh lalu meninggalkan meja makan itu. Kimy tidak tahu harus marah pada sarah atau pada takdir yang dia jalani. Kimy senang saat sarah masih hidup, untuk sekian waktu dia melupakan kesalahan wanita yang sudah melahirkannya itu. Tapi kalau tahu sarah meremehkan mamanya Tristan seperti tadi, darah Kimy rasanya ikut mendidih. Kimy seakan tak terima, bagaimanapun maminya juga ikut andil dalam masalah itu. Maminya bersalah dan itu fatal.


"Tunggu dulu Kimy" Sarah berlari kecil mengejar putrinya itu. "Apa maksudnya, katakan sama mami" Sarah mencekal tangan Kimy.


"Harusnya mami merasa bersalah pada Tristan"


"Kenapa, memangnya apa salah mami?" Tanya sarah tak mengerti.


Kimy tersenyum, itulah sarah yang sebenarnya. Dia tidak pernah merasa dirinya punya dosa. Dia selalu merasa sempurna dalam segala hal. Kimy mengakui sifat maminya itu memang dari dulu sperti itu."Jangan tanya sama Kimy salah mami apa, mami yang lebih tahu" setelahnya Kimy menepis tangan sarah dan meninggalkan wanita itu.


Kimy, suatu saat kamu akan berterima kasih pada mami. Batin sarah setelah kepergian Kimy.


**


"Lang" panggil Tian lagi saat tak ada sahutan dari bos sekaligus sahabatnya itu tak direspon.


"Aku kan sudah bilang atur aja" jawab Gilang santai sambil menghisap batang rokoknya.


Tian kehabisan kata-kata dengan sikap Gilang itu "Sampai kapan kau meracuni tubuhmu dengan itu" tian melirik rokok yang di hisap oleh Gilang itu.


"Jangan lebay, semua orang merokok"


"Dulu kau tidak"


Gilang menatap tajam Septian yang selalu membalas ucapanya itu "Kalau sudah selesai pergilah"


"Kau mengusirku?"


"Iya" jawab Gilang santai.


"S**l*n" septian meneguk minuman yang tersisa sedikit itu lalu bersiap meninggalkan Gilang "Kau sudah bertemu denganya?"


"Kenapa kau bertanya sesuatu yang sudah tahu jawabannya" jawab Gilang masih dengan menghisap rokok itu dengan santainya.


"Kenapa, kau takut bertemu dengannya?"

__ADS_1


Gilang tersenyum mendengar perkataan Septian itu "Mungkin"


"Kau takut nggak bisa move on"


Gilang membuang putung rokoknya, menatap tajam Septian "Selamanya dia disini, kau tahu itu." Gilang menunjuk hatinya "Aku tidak takut pada diriku sendiri, aku hanya takut kalau dia bertemu denganku, dia hanya akan merasa bersalah. Aku tidak bisa mendapat tatapan sperti itu darinya. Itu hanya akan semakin menyiksaku."


Septian mengangguk paham dengan apa yang di rasakan sahabatnya itu. Gilang orang yang paling menderita menurutnya. Gilang tidak bisa berbuat apapun dengan semua keadaan itu. Bahkan Gilang yang tak bisa menerima kekalahan itu pun harus rela melepas Kimy hanya karena permintaan papanya untuk mengalah. Dan sekarang lelaki itu menghukum semua orang. Gilang meninggalkan segalanya, keluarganya dan semua yang di milikinya, dia memilih sendiri.


**


"Aku dengar kamu bosan di rumah terus, hmm" Tristan memangku Kimy disalah satu pahanya. Mereka sekarang sedang duduk di sofa yang ada di kamar Kimy.


"Ya aku bosan, aku jenuh, aku pingin keluar bertemu orang-orang"


"Ayo aku temani"


Kimy mendengus kesal "Kau mengurungku lagi Tristan, kau tahu aku benci di kekang"


"Aku tidak mengurungmu sayang"


"Lalu--"


"Sampai kita menikah, nurut sayang"


"Kalau sudah menikah, aku tidak mau hanya berdiam diri di rumah. Aku tetep mau bersosialisasi dengan teman-temanku."


"Tentu, aku tidak akan melarangmu. Aku hanya tidak akan mengizinkanmu menjadi model lagi"


"Kenapa?" Tanya Kimy saat Tristan menatap wajahnya tanpa berkedip.


"Kamu cantik"


"Basi"


"Kok basi?"


"Kamu pintar merayu" jawab Kimy dengan menelusuri rahang tegas lelakinya itu.


"Tidak, hanya padamu, sumpah" Tristan menarik tengkuk Kimy lalu mencium singkat bibir merah merekah wanitanya itu.


"Besok kita makan malam di rumah Teddy, bersiaplah"


"Apa?" Kimy kaget mendengarnya, dia menghela nafas sebentar "Sayang, kamu yakin?" Tanya Kimy memastikan.


Tristan mengangguk "Iya, bukankah kamu mau aku berdamai dengan masa lalu"


"Sayang" Kimy memeluk kekasihnya itu, Kimy bahagia karena lelakinya itu benar-benar mengikuti apa yang dia mau. "Terima kasih, aku mencintaimu Tristan" katanya masih dengan memeluk lelaki itu erat.


"Aku lebih mencintaimu Kimy, lebih dari yang kamu tahu" Tristan mengeratkan pelukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2