BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Pengorbanan Gilang


__ADS_3

Beberapa hari sejak acara lamaran itu, media selalu memberitakan kimy dan Tristan, juga tentang Teddy yang tiba-tiba di akui Tristan sebagai papanya. Publik masih bertanya-tanya karena baik tristan ataupun Teddy tidak memberikan pernyataan pada wartawan.


Gilang menegak botol minuman di apartemen nya. Sejak dia datang di acara lamaran Kimy, dia selalu menyendiri. Terpaksa Septian yang menghandle semua pekerjaannya. Tatapan mata Gilang terlihat kosong. Dia masih ingat bagaimana dia bisa datang di acara lamaran Kimy, gadis yang di cintainya itu.


Seminggu lalu sebelum acara lamaran itu, Gilang datang ke rumah sakit. Hendra menghubunginya kalau papanya ingin bicara.


"Hay pa.. Papa sudah sehat. Kapan dokter mengizinkan papa pulang om?.." Tanya Gilang pada hendra ketika sampai diruang rawat teddy.


"Aku mau bicara padamu.." Teddy bicara datar pada Gilang.


"Saya akan keluar.." hendra menyela.


"Tidak perlu, bukankah kau sudah tahu segalanya?.." jawab Teddy. Seketika hendra diam di tempatnya.


"Gilang, kau sudah tahu semua kan tentang Tristan. Dia adalah kakakmu daffa. Kau tahu apa yang di lakukan mamamu pada daffa dan mamanya?.."


Gilang tak menjawab, badannya berdiri kaku mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Teddy.


"Mamamu menfitnah mamanya Tristan berselingkuh dan menghasutku kalau Tristan bukanlah darah Daging ku.."


Tangan Gilang mengepal kuat. Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Teddy seperti belati yang menusuk-nusuk hatinya.


"Kau tahu Gilang, aku membuang anak itu di jalanan. Berapa tahun aku menelantarkannya karena ulah mamamu. Sekarang aku sudah membuktikan kalau dia adalah darah Daging ku. Kau tahu akibat ulah mamamu, mama Gilang bunuh diri. Rasa bersalahku sangat besar terhadap anak itu. Karena itu aku memohon satu hal padamu Gilang.."


Seperti sedang menunggu bom yang dijatuhkan ke badannya. Gilang terus mengetatkan rahangnya.


"Mengalahlah untuknya. Papa sudah bertemu dengannya dan meminta maaf. Dia mau memaafkanku dengan satu syarat. Dia akan menikahi kimy dan memintaku sebagai keluarga mendampingi setiap acaranya.."


Deg


Sudah tak bisa di gambarkan lagi bagaimana rasanya hati Gilang saat itu. Kenapa? Kenapa papanya sama sekali tak memikirkan perasaannya. Bukankah selama ini dia juga menjadi anak yang tak di harapkan oleh Teddy. Gilang tak prnah mendapatkan kasih sayang selayaknya anak dari Teddy. Lelaki itu selalu dingin padanya. Lalu apa bedanya dia dengan tristan. Banyak sekali yang ingin dia tanyakan, namun lidahnya terasa kaku.


"Apa yang harus Gilang lakukan?.." Suara lirihnya keluar saat itu juga.


"Biarkan Tristan menikahi Kimy. Relakan gadis itu untuk kakakmu. Dia mencintai Kimy. Terimalah Tristan sebagai kakakmu.."


Aku juga mencintai Kimy asal papa tahu. Lalu apa yang akan papa lakukan kalau aku mencintainya?


"Hanya itu?.." Tanya Gilang.


"Kita bertiga akan menjadi keluarga.." jawab Teddy.

__ADS_1


"Berempat. Mama Gilang masih hidup.." jawab Gilang lagi.


"Terserah, mamamu sudah banyak mengecewakanku.." Tangan Gilang mengepal kuat mendengarnya.


Gilang terus memandangi jendela di apartemen yang tertutup tirai itu. Lelaki itu menyadari kalau sekarang Kimy benar-benar bukan miliknya lagi. Entah, sakit hatinya terasa semakin menumpuk antara Kimy dan papanya yang tidak peduli dengannya dan juga mamanya. Perkataan Teddy terasa begitu membekas dihatinya. Mungkin memang benar mamanya bersalah, tapi apakah dia harus menanggung juga kesalahan mamanya.


**


"Kim, ada tawaran shoting talk show. Gimana? Ini orang produksi langsung hubungi aku nggak melalui manajemen.." Kata lexa pada Kimy.


"Tolak aja kak, Tristan nggak akan ngizinin.." jawab Kimy datar.


"Jadi kamu bener-bener berhenti dari dunia keartisan. Kamu yakin?.."


"Mau nggak mau kak.."


"Sayang banget, karir yang kamu bangun dengan susah payah kamu lepas gitu aja.." lexa duduk mendekati Kimy yang lagi bermain ponsel. "Kamu sudah menyerah? Apa kamu sudah jatuh cinta pada Tristan?.."


"Kimy sudah nggak bisa berbuat banyak kak. Kimy akan coba jalanin takdir Kimy.." Kimy meletakkan ponselnya. Dia menatap nanar langit-langit kamarnya.


"Its oke.. Apapun itu kamu harus bahagia ya.." jawab lexa memberi semangat. Kimy menoleh dan tersenyum menanggapi asistennya itu.


"Kak lexa nggak perlu urusi Kimy lagi. Aku bukan artis lagi kak.."


"Makasih ya kak.."


"Tapi jujur aja aku kangen kamu yang dulu Kim.."


"Aku. Emang kenapa aku yang dulu?.."kimy bertanya sambil mencoba menerka seperti apa dirinya dulu.


"Entahlah, lelaki itu rupanya membawa dampak yang cukup besar untukmu.."


"Lexaa jangan bertele-tele.." Kimy meninggikan suaranya.


"Hahahaha.. Ya seperti inilah dirimu yang dulu.." lexa tertawa terbahak-bahak.


Kimy terdiam "Maafkan aku ya kak kalau dulu sering jahat sama kakak.."


"bodoh.. Itulah kamu yang sesungguhnya. Aku suka kamu yang dulu, daripada yang sekarang terlalu lembut menurutku sayang.."


"Jadi kak lexa nggak suka kalau aku jadi lemah lembut?.."

__ADS_1


"Ya aku nggak suka, aku lebih suka dirimu yang bar-bar.." mereka berdua tertawa terbahak-bahak di kamar Kimy. Memang lexa setiap hari selalu datang menemani Kimy, membantu semua kebutuhan Kimy walaupun gadis itu sudah tidak menjadi artis lagi. Lexa tidak mau Kimy kesepian.


Ceklek


Terlihat Tristan berdiri di ambang pintu. Seketika lexa dan Kimy diam saling menatap satu sama lain. Lexa segera beranjak dari tempatnya. "Ya sudah aku pulang dulu ya, besok aku mampir kesini lagi.." Kata lexa bersiap pergi.


"Kakak mau kemana? Kakak udah dapat artis baru?.."


"Aku.." lexa melirik tristan yang masih berdiri di tempatnya. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan tajam. Memang lexa jarang bicara dengan Tristan, itu karena lelaki itu terlalu dingin terhadapnya.


"Kau. Mulai besok bisa bekerja untuk Kimy lagi.." Kata Tristan datar.


Lexa dan Kimy seketika menoleh ke arah Tristan.


"Saya?.." Tanya lexa.


"Iya, kau. Memang siapa lagi yang di sini.." Tristan berjalan mendekati Kimy dan berhenti tepat di hadapan gadis itu. Kimy menatap lelaki itu penuh tanya.


"Aku ingin kau menemani dia, mengurus segala keperluannya. Selalu ada ketika dia sendirian.." Tristan membelai rambut Kimy "Aku tidak bisa selalu di sisinya. Aku tidak mau dia kesepian.."


"Jadi kak lexa tetap jadi asistenku? Apa aku boleh menerima satu atau dua job.." Tanya Kimy sedikit senang.


"Apa yang kau pikirkan sayang. Dia hanya akan menemanimu dirumah saat aku tidak ada di sisimu.."


Tristan menoleh pada lexa "Bagaimana? Kau bersedia.."


"Tanpa di bayarpun setiap hari aku menemani Kimy.."


"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku akan membayarmu dua kali liat dari gajimu sebelumnya, asal kau selalu menjaga dia.." Tristan membelai sayang pipi Kimy dan mencium keningnya. "Sekarang kau boleh pulang dan datang lagi besok karena setelah ini aku yang akan menemaninya.." setelahnya Lexa keluar dari kamar Kimy.


"Kenapa kau menyuruh kak lexa menemaniku?.."


"Tidak apa-apa, aku hanya berfikir wanita itu bisa membuatmu tertawa lebar seperti tadi.."


"lexa.. Namanya lexa bukan wanita itu.." jawab Kimy ketus.


"Persetan dengan namanya.." Tristan duduk di sebelah Kimy sambil menggenggam tangan gadis itu "Hari ini aku sengaja pulang cepat. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.."


"Kemana?.."


"Nanti kau juga akan tahu sayang.."

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2