BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Duniaku, rumahku, hidupku


__ADS_3

Untuk pertama kali setalah lima tahun, akhirnya Tristan bisa menatap punggung itu. Punggung yang dulu selalu ia peluk, punggung yang dulu ia jadikan tempatnya bersandar. Egonya berteriak, dadanya bergemuruh menyuarakan kerinduan yang teramat. Genggaman tanganya pada kursi roda yang ia duduki semakin menguat. Bolehkah ia bersikap egois sekali lagi, mengklaim bahwa wanita itu masih miliknya?


Kimy berdiri dan berbalik, senyum itu, tawa itu, masih sama, bedanya saat ini wanita itu tampak lebih dewasa dan lebih matang. Kecantikanya tidak memudar sedikitpun justru semakin terpancar dengan keanggunan dan karakter yang terbentuk.


Di tempatnya Tristan membeku, ia seperti tesihir oleh pesona Kimy untuk kesekian kalinya. Hingga, mata itu tak sengaja menangkap keberadaannya, dan "Kemana saja, aku mencarimu" perut sedikit menonjol Laura menutupi wajah Tristan.


"Kau sengaja ingin menampakan diri di depannya hm?" Laura berbisik, dan dengan gerakan cepat memutar kursi roda Tristan, mendorong benda itu menjauh dari situ.


Di tempatnya Kimy masih cengo, ia terdiam beberapa saat ketika melihat seorang wanita mendorong kursi roda menjauh dari tempatnya berada. Tapi bukan itu yang ia pikirkan, tapi ia sperti menangkap mata seseorang yang ia kenal. Walaupun sekilas namun Kimy sepertinya ingat tatapan mata itu, tapi siapa?


Kimy menggeleng "ah mungkin hanya perasaanku aja" katanya pelan.


*


"Kenapa kau diam aja, apa kau menyesali keputusan yang kau ambil setelah melihatnya?" Laura masih saja mengomeli Tristan.


Entah apa yang di pikirkan Tristan, sejak Laura membawanya pergi tadi, pikirannya kacau, wajah Kimy, senyum Kimy dan semua tentang Kimy seperti menari - nari di otaknya.


"Tristan!"


"Aku merindukannya" jawab Tristan akhirnya.


Laura menelan ludahnya, sosok Kimy memang tak ada yang bisa menggantikan di hati Tristan.


"Kau hampir gila karenanya"


"Aku masih tergila-gila padanya"


"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau mau merebutnya dari adikmu?"


"Kau tahu bukan itu tujuanku datang kemari"


Laura mengangkat bahunya acuh "Siapa tahu aja kau berubah pikiran setelah melihatnya"


"Kau akan membantuku kali ini Lau."


"Tergantung"


Tristan mengernyit bingung, ia menatap Laura dengan horor.


Yang di tatap kelimpungan, antara takut dan salah tingkah "Berhenti menatapku seperti itu baj*ngan"


"Anakmu butuh ayah"


"Dia punya ayah asal kau tahu. Kau saja yang mengacaukan segalanya"

__ADS_1


Tristan tersenyum meremehkan "Kau yakin kandunganmu itu akan masih utuh jika kau mendatanginya dan mengatakan kau hamil. Yang ada kau dan calon anakmu dijadikan makanan hewan peliharaannya"


"Diam bre*ngsek" jawab Laura dengan bersungut-sungut.


"Anakmu lebih aman jika semua orang tahu kalau dia adalah darah dagingku"


Laura mencibir.


"Anak seorang lelaki yang sudah ada di liang Lahat. Asal kau tahu, semua orang tahunya kau sudah mati"


"Tidak masalah, tapi nama belakangku lah yang ada di akta kelahirannya"


Laura diam.


"Lau, kau harus hidup lebih baik setelah ini. Kau barus janji padaku"


"Bre*ngsek" Laura melempar bantal kecil yang sedari tadi ada di pangkuananya pada Tristan, sudut matanya berair. Ia sengaja ingin menutupinya dari Tristan. Laura beranjak dan meninggalkan Tristan di ruangan itu sendiri.


Kekehan Tristan perlahan memudar berganti dengan wajah dingin seperti biasanya. Di depan Laura ia harus berpura-pura baik-baik saja, padahal hati dan jiwa remuk redam.


"Semuanya akan baik-baik saja. Semua nya harus baik-baik saja seperti dulu, sebelum ada Tristan" katanya pelan.


**


"Sayang kamu masih marah?" Gilang memeluk tubuh Kimy dari belakang. Saat ini Gilang sedang berada di kantor istrinya itu. Ia sengaja datang karena ingin membujuk Kimy.


Kimy melepas tautan tangan Gilang di perutnya "Ngapain ke sini?" ia ingin menjauh dari Gilang namun sekali lagi perutnya di tarik oleh suaminya itu hingga keduanya kini menempel sempurna dan saling berhadapan.


"Karena istri ku marah"


Kimy berdecak "Siapa yang marah?"


"Istriku yang cantik ini"


"Lang aku capek, lepas" Kimy berusaha melepaskan diri, alih-alih terlepas, Gilang justru mendorong tubuh Kimy hingga menempel dijendela kaca belakangnya.


"Jangan marah, maaf" bisik Gilang diceruk leher Kimy. Gilang memeluk Kimy dengan erat. Oke Kimy menyerah, ia membuang nafas beratnya.


"Aku itu apa sih Lang buat kamu?" Tanya Kimy pelan, perlahan ia membalas pelukan suaminya itu, ia lingkaran kedua tangannya di leher Gilang.


Gilang sedikit menjauhkan wajahnya, Gilang menatap Kimy yang sekarang juga sedang menatapnya "Kamu duniaku, kamu rumahku, kamu hidupku" jawab Gilang terdengar diplomatis.


"Kalau aku rumahmu, tidakkah kamu mau tinggal di sana selamanya?"


"Selamanya sayang" jawab Gilang lembut dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


"Terima donor itu" minta Kimy dengan tatapan memohon.


Keduanya diam sebentar dengan mata masih saling mengunci "Aku takut gagal Kim" jawab Gilang kemudian.


Kimy mengurai pelukannya, kini kedua tangannya pindah ke wajah Gilang. Di tatap bola mata suaminya itu "percaya sama aku Lang, itu akan berhasil. Kamu akan sehat lagi, kita akan tumbuh sama Jeff dan adiknya. Kita akan bahagia"


"Aku takut kehilangan kamu Sayang" Kata Gilang lagi.


"Aku nggak kemana-mana lang" jawab Kimy meyakinkan Gilang.


Gilang terdiam, ia membisu. Tidakkah Kimy tahu kalau selama ini dia belum sepenuhnya di miliki olehnya. Raganya boleh ada di sini, tapi Gilang yakin hati Kimy belum 100% untuknya. Gilang sering mendapati Kimy menangis diam-diam di kamar, walaupun saat bersamanya Kimy selalu ceria seperti biasa. Gilang juga sering mendengar jeritan dan tangisan Kimy dalam mimpinya, memanggil nama kakaknya, Tristan. Jadi apa Gilang berhak merasa takut kehilangan, padahal kenyataannya Kimy belum bisa di miliki seutuhnya.


Gilang mengangguk dan seketika senyum Kimy terbit.


"Benarkah, kamu janji?"


"Ya aku janji, kali ini aku nggak akan lari lagi sayang"


**


Kening Nadine berkerut, apa yang ia lihat itu bukan mimpi. Seorang lelaki tampan duduk di atas kursi roda dengan perempuan matang berperut sedikit buncit di sebelahnya. Nadine menampar pipinya pelan, ia ingin memastikan sekali lagi apa yang di lihatnya.


"Tristan, benarkah itu Tristan. Kenapa dia masih hidup?" gumamnya pelan.


Nadine segera merogoh ponselnya di dalam tas dan merekam segala aktivitas lelaki dan si perempuan itu.


"Kau selalu beruntung dari pada aku, kali ini aku ingin lihat bagaimana kau menghadapi takdir yang seakan mempermainkanmu kim" ucapnya sambil terus merekam kedua orang itu.


*


"Jadi maksudnya orang itu tidak ingin di ketahui identitasnya dok? Bagaimana bisa, dia menyumbangkan hatinya untuk saya, harus dengan apa saya berterima kasih padanya dok?" Tanya Gilang pada dokter yang menangani penyakitnya.


Kimy mengangguk membenenarkan ucapan sang suami."Betul dok, kita tidak mungkin menerima donor begitu saja tanpa tahu siapa orang yang sudah begitu baik itu"


Dokter itu menanggapinya dengan tenang "Pak Gilang dan bu Kimy tenaga saja, semua susai prosedur. Pendonor berhak menyembunyikan identitasnya"


"Tidak bisa dok, saya harus tahu siapa Pendonor itu" jawab Gilang dengan lantang "Kalau Pendonor itu tidak mau identitasnya saya ketahui, saya menolak menerima donor itu"


"Lang-" Kimy sedikit terkejut dengan ucapan Gilang.


Di balik meja, Gilang meraih tangan Kimy, menggenggamnya seakan memberi tahu untuk tenang.


"Saya hanya ingin tahu siapa orang baik itu dok, saya hanya ingin berterima kasih" lanjut Gilang.


Dokter itu mengangguk "Nanti coba saya tanyakan dulu ya pak"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2