
Gilang dan Kimy saat ini sudah berdiri di depan Teddy. Saat ini mereka berada di ruang kerja Teddy. Teddy duduk di kursi kebesaranya bersama Hendra yang berdiri dengan setia di sampingnya. Gilang sengaja membawa Kimy menemui papanya, ia ingin meyakinkan Teddy kalau dirinya tidak akan menceraikan Kimy.
"Kita tidak akan bercerai pa" Kata Gilang menatap Teddy.
Teddy belum menjawab, lelaki paruh baya itu masih diam saja sambil melihat apa yang akan di lakukan putranya.
"Kalau papa memaksa kami cerai, papa akan kehilangan segalanya"
Teddy tak kunjung memberi jawaban.
"Aku akan membawa Kimy pergi hingga papa tidak akan pernah menemukan kami lagi. Papa juga tidak bisa melihat cucu papa lahir ke dunia" ancam Gilang.
Teddy menghembuskan nafasnya dengan tenang.
"Aku mempunyai syarat untuk kalian" Kata Teddy dengan tenang.
Mendengar itu Gilang dan Kimy saling melihat.
"Syarat?" Tanya Gilang.
Teddy mengangguk.
"Anak dalam kandungan Kimy itu sebagai jaminan" Kata Teddy.
Kimy dan Gilang terkejut.
"Jaminan? Maksud papa apa?" Tanya Kimy.
"Gilang, kau harus tahu, kalau kau sudah tidak ada di dalam daftar ahli warisku"
Deg
Gilang mematung.
"Mamamu terlalu mengecewakanku"
Gilang tak menjawab, ia hanya mengetatkan rahangnya.
"Apa kau tidak masalah tentang itu?" Tanya teddy dengan lantang.
Gilang menelan ludahnya. Jadi semua ini hanya tentang harta. Mungkin Teddy lupa kalau selama ini Gilang tidak pernah meminta apapun padanya, bahkan Gilang merintis perusahaannya dengan kakinya sendiri.
"Aku tidak meminta apapun darimu" jawab Gilang lirih.
Teddy mengangguk paham.
"Tapi bukan itu intinya--"kata teddy dengan menggantung ucapannya.
Gilang dan Kimy semakin penasaran, apa sebenarnya yang di mau lelaki paruh baya itu.
"Setelah cucuku lahir, kalian tidak berhak atas dia"
Deg
__ADS_1
Mata Kimy dan Gilang melebar bersamaan, mereka sama-sama terkejut dengan permintaan lelaki itu.
Bahkan Hendra pun juga sama terkejutnya, karena sebelumnya, itu tidak ada dalam daftar rencana Teddy.
"Apa yang papa katakan, papa mau memisahkan Kimy dan anaknya" Tanya Gilang lantang.
"Aku nggak mau pa" Kata Kimy setelahnya.
Teddy tersenyum menyeringai.
"Aku tidak meminta izin kalian. Itu yang harus kalian lakukan, jika kalian masih menginginkan pernikahan kalian berlanjut"
"Aku tidak mau pa, aku tidak mau pisah dari anakku apapun yang terjadi.
"Dia cucuku" jawab Teddy dengan raut wajah serius membuat Kimy sedikit takut.
"Tapi ini anakku pa, aku yang mengandungnya"
"Dia anak Tristan. Dia satu-satunya yang akan menjadi pewarisku" Kata Teddy membuat Gilang dan Kimy membeku.
"Dan lagi, dia adalah pewaris dari semua harta Tristan yang di tinggalkan padamu Kimy. Ingat itu, harta itu bukan milikmu. Itu punya cucuku"
Kimy mematung mendengarnya. Jadi apa karena itu Teddy ingin mengambil anaknya.
"Aku tidak peduli apa yang akan kalian lakukan setelah ini. Tapi aku peduli pada anak yang ada di perutmu"
Teddy menghembuskan nafasnya kasar.
"Kau boleh merawatnya selama 10 tahun saja, bagaimana pun kau ibunya. Setelah itu, anak itu akan menjadi tanggung jawabku"
"Apa yang kau pikirkan? Kau masih bisa menemuinya selayaknya orang tua. Hanya saja dia dalam pengasuhan ku dan pengawasanku"
Mendengar itu Hendra tersenyum, ternyata bosnya masih punya hati nurani.
*
Tangan lembut itu membelai dahi Tristan. Sejak tadi wanita tua itu berada di depan Tristan. Ia mencoba mengajak Tristan bicara namun sama sekali tak ada respon.
"Begitu keras hidupmu nak. Istirahatlah jika lelah."
Wanita tua itu menunduk dan air matanya menetes di pipi.
"Jika saja dulu kau menurut padaku, semua ini tidak akan terjadi" katanya pelan.
Pandangan Tristan kosong, ia menatap lurus ke depan. Penampilan lelaki itu sudah cukup membaik. Tidak ada lagi perban atau luka di seluruh tubuhnya. Hanya saja ia masih berada di kursi roda, karena tulangnya yang patah membuatnya tidak bisa menggerakan kedua kakinya.
**
Gilang dan Kimy saat ini berada di pinggir laut, mereka duduk di atas kap mobil sambil memandang jauh ke depan.
Sesekali Gilang melirik pada Kimy yang menatap laut tanpa berkedip itu.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Gilang sedikit heran karena Kimy sudah melakukan itu selama 30 menit.
__ADS_1
"Tristan." jawab Kimy tanpa menoleh, ia masih terus menatap laut di depannya.
"Tristan?" gilang sedikit tersenyum. Ternyata posisi Tristan belum tergantikan olehnya.
"Kamu sangat mencintainya ya?" Tanya Gilang lagi sambil ikut melihat ke depan.
"Iya--" jawab Kimy pelan.
"Mungkin selamanya aku tidak akan bisa melupakannya. Apa kamu nggak masalah mempunyai istri yang mencintai lelaki lain"
Gilang seketika menoleh. Dan Kimy pun juga melakukan hal yang sama, keduanya saling menatap.
"Aku tidak mungkin bisa melupakan Tristan, Lang"
Deg
Gilang membeku, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu lelaki yang baik Lang. Aku nyaman berada di dekatmu, aku selalu merasa di cintai olehmu. Tapi aku belum bisa melupakan Tristan. Maaf" Kata Kimy di iringi air mata yang menetes di pipinya.
Gilang tersenyum simpul dan segera menghapus jejak air mata di pipi Kimy.
"Jangan khawatir, aku tahu itu. Aku tidak memintamu untuk melupakan Tristan. Aku tahu dia punya tempat tersendiri di hati kamu. Cukup kita terus bersama dan saling menguatkan Kim. Di depan nanti, masih banyak masalah yang akan kita hadapi" Kata Gilang dengan tenang.
Gilang tidak mau egois. Selama masih ada waktu tersisa, ia hanya ingin habiskan bersama Kimy. Entah besok atau lusa dia akan mati di gerogoti penyakitnya dan Gilang tidak mau menyia-nyiakan waktunya saat ini.
"Jadi kamu mengira Tristan ada di sana?" Kata Gilang mengganti topik pembicaraan karena dada Gilang sudah mulai sesak.
Gilang menunjuk laut bebas itu.
Kimy mengikuti tangan Gilang dan mengangguk.
"Aku selalu ke sini kalau kangen padanya. Aku seperti sedang berada di depannya" Kata Kimy tanpa menoleh.
"Kalau begitu setiap minggu kita kesini ya" kata Gilang dengan semangat.
"Apa?" Kimy menoleh, ia masih belum mengerti dengan ucapan Gilang itu.
"Iya, setiap minggu kita kesini. Kita kasih tahu Tristan apa saja yang sudah kita lewati selama seminggu ini. Kita laporkan kegiatan kita selama seminggu sama dia" Kata Gilang dengan wajah berseri-seri.
Kimy masih bingung, kenapa bisa Gilang berbuat seperti itu. Gilang itu manusia kan bukan malaikat. Hatinya terbuat dari apa, kenapa dia begitu baik begini.
"Apa yang kamu pikirkan?" Gilang menyentil dahi Kimy yang masih cengo itu.
"Tristan juga adalah kakak ku kan? Masa aku nggak boleh curhat juga padanya"
Kini Kimy tersenyum, raut bahagia jelas di wajahnya. Kimy meraih tangan Gilang dan menautkan tanyanya di sana.
"Terima kasih, Gilang" keduanya sama-sama tersenyum bahagia sambil menatap laut lepas di depannya.
**
LIMA TAHUN KEMUDIAN
__ADS_1
Keduanya masih di tempat yang sama dengan senyum merekah menatap lautan lepas itu.
Bersambung....