
Di tempat lain, beberapa pemegang saham sedang mengadakan rapat di pimpin oleh Daniel moeremans. Mereka sedang membahas pengakuisisian saham dan aset yang di lakukan oleh PT ABR.
Semua pemegang saham sudah setuju untuk menjual saham-saham mereka pada pembisnis muda itu. Mau tidak mau posisi daniel di sini lemah, bukan hanya saham, PT ABR juga mengambilalih seluruh aset yang di miliki perusahaan Daniel.
Saham yang daniel miliki cuma 25% di sini. Tidak ada jalan lain selain menyerahkan segala kepemilikan sahamnya pada lelaki itu.
" Kami benar-benar minta maaf pak Daniel, ini adalah satu-satunya cara supaya kami bisa mendapatkan modal kami kembali.." Kata salah satu pemegang saham di itu.
Daniel terlihat pasrah dengan semua keputusan para pemegang saham.
" Its oke, itu adalah hak anda semua.." Jawab Daniel.
Ceklek!!
Pintu terbuka, dua orang lelaki tampan masuk ke dalam ruang rapat itu. Ya.. dua orang itu adalah Tristan dan Dony yang menerobos masuk ke ruangan itu, di ikuti sekertaris Daniel yang mencoba mencegahnya.
" Maaf pak saya sudah mencegahnya, tapi.." Adam Asisten Daniel, memberi kode supaya wanita itu keluar, membiarkan kedua orang itu untuk masuk ke dalam.
" Rupaya sedang ada rapat, tanpa kehadiran saya!!.." Kata Tristan dingin, masih dengan posisi berdiri dengan gaya coolnya.
" Kalian semua tidak lupa kan siapa pemilik saham terbesar disini?.." Lanjut Tristan lagi.
Semua orang hanya terdiam saling melempar pandangan. Daniel beranjak berdiri dari kursi kebesarannya. Lelaki itu menghampiri Tristan, mereka berdua saling berhadapan.
" Selamat datang Pak Tristan, silahkan duduk di kursi anda. Saya mengumpulkan mereka hanya untuk mengucapkan banyak terima kasih, karena selama ini mereka sudah bekerja keras untuk perusahaan ini.." Kata Daniel datar, sambil mengulurkan tangannya ke arah Tristan. Tristan hanya menatap nanar tangan itu.
Itu adalah pertama kalinya bagi Tristan dan Daniel bertemu. Walaupun mereka bergelut di bidang bisnis yang banyak memberi kesempatan untuk saling bertemu, namun Tristan selalu menghindari orang-orang yang ada hubungannya dengan musuhnya. Dan ini pertama kali, dia berdekatan dengan Daniel, sahabat baik Teddy, Sinta dan mungkin juga sahabat mamanya Rahma, Tristan tak tahu itu.
Tristan tak menyambut uluran tangan Daniel, lelaki itu memilih menghindari kontak fisik dengan orang tua gadis yang dia sembunyikan itu. Tristan berlalu dan berjalan ke kursi kebesaran milik Daniel di ruang rapat, dan duduk di situ. Semua orang menatap horor pada laki-laki muda penuh wibawa itu. Orang yang ada di ruangan itu rata-rata sudah berumur diatas Tristan, tapi orang-orang tua itu justru merasa terintimidasi dengan sikap dingin seorang Tristan.
Bahkan wibawa seorang Daniel yang mereka hormati sebelumnya tidak sebanding dengan lelaki muda itu.
" Ucapan terima kasih tidak seharusnya di lakukan di ruang rapat tuan Daniel, Beginikah caramu menghargai mereka.." Cibir Tristan kemudian.
Di balas tatapan menusuk Daniel pada pria muda kurang ajar itu.
" Baiklah langsung saja, dua hari lagi semua karyawan di sini tanpa kecuali, harus datang ke acara yang akan di adakan perusahaan. Saya akan memberikan ucapan rasa terima kasih yang mendalam buat semua karyawan di sini.." kata Tristan.
" Dan akan ada kejutan besar tentang kelanjutan perusahaan ini.." Katanya lagi sambil beranjak berdiri.
" Jangan ada yang mengecewakanku!!.." Katanya dingin sambil berlalu dari ruangan itu di ikuti Dony asistennya.
Semua orang membuang nafas kasar setelah kepergian Tristan, mereka merasa aura laki-laki muda itu lebih menakutkan dari pada kehilangan saham mereka.
**
Esok hari, Kimy melihat sekilas Mario yang datang membawa nampan ke kamarnya. Kimy lebih asyik melihat pemandangan di luar villa melaui jendela daripada melihat Pria itu.
" Apa yang kau lihat? Kau tidak lagi cari cara buat melarikan diri kan?.." Katanya pada Kimy.
Tak ada respon dari Kimy.
" Kau sedang menunggu Tristan?.." Tanyanya lagi. Kata-kata itu cukup menarik perhatian Kimy, wanita itu memperhatikan Mario intens.
__ADS_1
" Kenapa kau melihatku begitu?.." Lanjut Rio merasa risih dengan tatapan wanita cantik itu.
" Kapan dia datang?.." Jawab Kimy tiba-tiba.
" Haha.. ternyata benar kau menunggunya. Dia baru pergi kemarin, kau sudah merindukannya.." Goda Mario.
" Dia janji akan membawaku menemui orang tuaku.." Kata Kimy lemah.
" Hahaha.. dan kau percaya pada bajingan itu?.."
" Kau tahu, mungkin saat ini dia sedang mendesah dengan seorang wanita di sana, dan kau masih menunggunya? Ohh ayolah nona, kau tidak sedang jatuh cinta padanya kan?.." Kata Mario lagi.
Kata-kata Mario cukup menggelitik hati Kimy. Dia tersenyum getir mendengarnya.
Bajingan itu cuma membodohiku ternyata..
" Bisakah kau menolongku?.." Kata Kimy kemudian, membuat Mario menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik.
" Jangan salah faham, aku lagi datang bulan. Kau tahu kan seorang wanita mengalami itu setiap bulan..."
Mario masih menatap Kimy tak mengerti.
" Kau tak mengerti? aku butuh pembalut dan ****** *****.." Lanjut Kimy membuat Mario mengangguk mengerti.
" Kenapa tak bilang dari tadi, aku akan membelikanmu di swalayan sebentar.." Jawab Mario sambil berlalu dari kamar itu.
" Tunggu, bisa sekalian aku di buatkan mie instan kuah, rasa soto pakai telor dan cabe 5.." Pinta Kimy cepat.
" Hey gadis kau.."
" Aku tidak menyuruhmu, tapi tolong katakan pada pembantu rumah ini.." Lanjut Kimy lagi.
Pria itu mendesah kesal meninggalkan kamar itu, dan terdengar di luar dia mengunci pintunya.
Kimy berlari mendekati jendela, menyingkap gorden dan melihat Mario keluar villa dan masuk ke dalam mobil, beberapa saat pria itu sudah menjalankan mobilnya.
Kimy duduk di pinggir ranjang dengan cemas.
Ceklek!!
Terdengar kunci pintu kamar dibuka, gadis itu berlari berdiri dibalik pintu. Gadis itu membawa sebuah nampan yang tadi Mario bawa untuk mengantar makan siangnya.
" Non.." Panggil pelayan wanita di rumah itu. Pelayan itu perlahan masuk membawa nampan berisi mie instan kuah yang dia minta.
Maafkan Kimy mbak.
Braakk!!!
Dengan mata tertutup Kimy memukul pelayanan wanita itu dengan keras memakai nampan yang dia bawa. Pelayan itu tumbang seketika. Secepat Kilat Kimy berlari keluar kamar, berlari sekencangnya menuruni anak tangga satu persatu. Saat dia berlari melewati ruang tengah, mata Kimy melihat sebuah ponsel tergeletak dimeja, secepat kilat gadis itu menyambar ponsel itu, lalu berlari lagi keluar rumah.
Kimy berlari sekencang-kencangnya melewati taman dan pepohonan besar berjejer rapi dikanan dan kiri, namun dia berhenti di sebuah pintu pagar yang menjulang tinggi di penuhi pepohonan yang menjalar, Kimy mengernyit bingung.
Sial..dari tadi aku berlari, ternyata belum keluar dari halaman rumah ini.
__ADS_1
Wanita itu berusaha membuka pintu pagar tinggi yang ditumbuhi tanaman menjalar berwarna hijau itu, namun apa yang terjadi saat dia menyentuh pagar itu, tubuhnya terpental mundur, wanita itu terperosok ketanah.
Sial, pagar itu ada alat setrumnya.
Kimy bangkit dan mencoba mencari jalan lain, wanita itu berjalan dengan tertatih, karena dia baru menyadari tidak memakai alas kaki apapun, sedangkan jalanan disitu banyak batu kerikil-kerikil tajam.
Entah Kimy berjalan ke arah mana, dia hanya mengikuti kakinya melangkah. Di sepanjang dia berjalan, ada tembok pembatas yang juga di penuhi dengan tanaman merambat. Nafasnya terengah dia kelelahan dan tersungkur dibawah pohon.
Sebesar apa sebenarnya tempat inj, kenapa tidak ada unjungnya dari tadi, aku sudah lelah.
Kimy menangis meratapi nasibnya, dia lelah, dia pasrah. Keinginannya untuk keluar dari tempat itupun musnah, karena dia yakin sudah tak dapat keluar dari situ. Kakinya terasa perih, dia melihat sekilas telapak kakinya yang dulu mulus kini penuh dengan goresan-goresan berwarna merah.
Papa, apakah hidup Kimy akan berakhir di tempat terkutuk ini. Kimy kangen papa, mama, Gilang.
Air matanya sudah tak terbendung lagi, Kimy menangis sejadi-jadinya. Wanita itu baru menyadari digenggaman tangan kirinya ada sebuah ponsel. Dia terkejut, secepat kilat dia menghidupkan ponsel itu dan menekan nomor telepon Gilang kekasihnya.
Tut.. tutt.. Tuutt...
Angkat Gilang, ini aku. Ayoo angkaat..
" Hallo.." Terdengar suara pria yang dia rindukan di sebrang sana. Kimy mendengar suara itu, suara laki-laki yang sangat dirindukan, sedetik Kimy merasa terhipnotis dengan suara itu, dia hanya mampu menangis mendengarnya.
" Hall..." Tiba-tiba ponsel yang di pegangnya di ambil seseorang membuat Kimy terkejut.
"Tristan!!!.."
Wanita itu menoleh dan mendapati seorang lelaki dengan kilatan merah di wajahnya, siap menyerang lawannya.
Tristan tampak begitu marah, ketika dia sampai di villa itu tapi tidak menemukan Kimy di kamarnya. Lelaki itu hanya menemukan pembantu yang tergeletak dengan mangkuk yang sudah pecah berserakkan. Dia juga tidak melihat Mario di sana. Tristan berlari kesana kemari mencari Kimy tapi tidak di temukan. Beberapa menit kemudian Mario datang dengan santainya membawa sekantong kresek barang belanjaan.
Mario begitu panik setelah tahu dari Tristan Kimy menghilang. Kedua lelaki itu mencari Kimy, menyusuri tempat itu, karena mereka yakin Kimy tak mungkin bisa keluar dari situ.
Setelah melacak GPS dari ponsel Mario yang mereka yakini dibawa Kimy, akhirnya mereka menemukan wanita itu sedang menelpon seseorang sambil menangis.
Sedangkan di tempat lain Gilang sedang menjalani pemotretan sebuah iklan, saat pengambilan gambar selesai, lelaki tampan itu terlihat duduk di ruang istirahat bersama Septian, sesekali dia mengobrol ringan dengan asistennya itu.
Tut.. tut .tut..
Ponselnya berdering, Gilang melihat no yang tak dikenal menelfonnya.
No siapa?
Dia mengabaikan panggilan beberapa saat, namun entah kenapa perasaannya mengatakan dia harus mengangkat telpon itu, padahal biasanya dia orang yang anti angkat telpon dari no yang tak dikenalnya.
" Hallo.."
Zzzzzzz.. zzzzzz.. tut..tut..tut..
Lelaki tampan itu mengeryitkan dahinya sebentar.
Siapa, tidak ada suara..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=