BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Tak Mau Kehilangan


__ADS_3

Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di tengah kota. Tristan sedang berada di balik meja kerjanya. Lelaki gila kerja dan minim expresi itu terlihat fokus pada layar laptopnya.


Tristan sudah sampai di Jakarta beberapa jam lebih cepat dari pada rombongan Kimy.


Tok tok tok


Dony masuk ke ruang kerja bosnya dengan membawa amplop coklat. Meletakan di meja kerja itu.


Tristan menghentikan aktivitasnya dan mulai membuka amplop itu. Sekilas dia mengerutkan keningnya saat membaca setiap lembaran kertas itu.


"Kau yakin gadis itu anak Daniel?.." Tanyanya pada Dony.


"Yakin bos, dia Putri tunggal Tuan Daniel. Tapi memang jarang tampil bersama dengan orang tuanya.." Jawab Dony.


Menarik sekali, dua keluarga yang bersahabat akan menjadi besan batin Tristan, sambil menempelkan bolpoint yang di pegangnya ke sudut bibirnya, dengan sorot mata yang tajam.


"Dan untuk Nyonya Siska Mattew dia adalah adik dari Sarah Moereman Mamanya Nona Kimy.." Lanjut Dony.


"Kau selidiki lagi wanita itu.."


"Wanita siapa yang anda maksud bos?.. Imbuh Dony.


"Siska Mattew" Jawab Tristan singkat.


Dony menatap Tristan saat mendengar perintah bos nya itu. Dony tidak mengerti kenapa dia harus menyelidiki Siska. Tapi Dony tidak berani membantah perintah bos nya dia hanya menganggukan kepalanya dan keluar rungan.


Menarik batin Tristan dengan senyum devilnya.


************


Gilang terperanjat kaget karena setelah sampai di halaman rumahnya. Kimy langsung ke luar dari mobil Tristan dan menutup pintu mobil dengan keras.


Gilang mematikan mesin mobilnya dan berniat menyusul gadisnya itu. Gilang menyadari sifat Kimy, kalau lagi ngambek memang seperti itu. Jadi maklumin aja batin Gilang.


Kimy masuk ke rumah mewah milik orang tua nya. Di sambut bi Asih istri pak Udin yang sudah kerja puluhan tahun di rumah itu. Tentu saja orang tua Kimy tidak di rumah di siang bolong gini. Karena mereka orang-orang yang sibuk dengan karirnya masing-masing.


"Non Kimy..."


Sambut bi Asih ketika melihat Kimy masuk ke rumah.


"Bibik kangen non, rumah sepi tanpa non Kimy.." Lanjut bi Asih.


"Hay bik.." Jawab Kimy.


"Bibik udah masakin makanan kesukaan Non, capcay sama ayam teriyaki.." Imbuhnya.


"Nanti deh Kimy makan, Kimy capek mau istirahat dulu.." Jawab Kimy.


Gilang masuk ke rumah dan mendapati gadisnya itu sedang ngobrol sama pembantunya. Gilang tahu Kimy memang dekat dengan bik Asih yang sudah lama kerja di rumah itu.


Begitu melihat Gilang muncul bi Asih membungkukkan badannya menyambut pacar anak majikanya itu. Bi inah kenal baik dengan Gilang, karena pemuda tampan itu sering menghabiskan waktunya di rumah mewah itu bersama Kimy.


"Hay bik.." Sapa Gilang.


"Iya den.." Jawab bi Asih.

__ADS_1


"Den Gilang mau minum apa?.." Lanjut ni Asih.


"Ntar aja deh bik.." Jawab Gilang sambil berlalu karena melihat Kimy berjalan meninggalkanya.


Gilang berniat menyusul gadisnya itu.


Kimy masuk ke kamarnya di ikuti Gilang di belakang.


Gilang sudah biasa keluar masuk kamar Kimy karena hubungan mereka memang sudah sangat dekat, bahkan orang tua Kimy tahu itu. Orang tua Kimy adalah orang-orang modern dengan pemikiran yang luas. Lebih tepatnya orang modern yang mengacu pada kehidupan orang barat.


Hubungan Gilang dengan keluarga Kimy juga sangat dekat. Begitu sebaliknya, Kimy ke keluarga Gilang. Sebelum mereka pacaran, hubungan orang tua Kimy dan Gilang sudah dekat karena mereka bersahabat sejak SMA, kuliah dan sampai sekarang.


Gilang yang naksir duluan tahu kalau Kimy adalah anak sahabat dari orang tuanya. Tapi karena dari muda Gilang memang sudah mandiri. Hidup sendiri di Apartemen, dia tidak ada kesempatan minta bantuan orang tuanya untuk di kenalkan pada Kimy saat itu. Gilang adalah lelaki mandiri yang pantang minta bantuan ke orang tuanya. Apalagi masalah wanita.


Kimy masuk ke kamar dan melemparkan tas mininya asal ke ranjangnya.


Di susul Gilang yang langsung menutup pintu kamar itu.


"Sayaaaaang.." Ucap gilang lembut, sambil membalik tubuh Kimy yang memunggunginya.


Gilang menatap lembut wajah lelah kekasihnya itu, membelai rambutnya dan mencium keningnya.


Gilang mulai merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekasihnya, dia memeluk hangat tubuh kimy.


"Maafin aku yank, aku salah. Aku gak nepatin janji.."bujuknya sambil terus membelai rambut panjang Kimy.


"Kamu boleh hukum aku, kamu mau tampar aku, tampar aja. Asal kamu gak marah lagi.."


"Atau kamu mau apa aja terserah, aku janji gak akan ulangi lagi yank.." lanjutnya.


Gilang melepas pelukannya dan menatap wanitanya lekat.


"Ngapain? ya gak ngapa-ngapin yank, aku cuma jemput dan anter dia ke butik.."


"Bohong. " Jawab Kimy cepat.


"Kamu pergi makan bareng juga kan?.." lanjut Kimy.


"Iya dia yang maksa.." Jawab Gilang cepat.


Dari mana dia tahu kalau mampir ke tempat makan batin Gilang.


"Kamu suka sama dia Lang? ." Teriak Kimy tanpa embel-embel "sayang" yang biasa dia gunakan itu.


"Suueeeerr... aku gak ada perasaan apapun sama dia? Kalau aku suka dia ngapain aku pacaran sama Kim.." Balas Gilang tak kalah teriaknya karena dia kesal Kimy memanggilnya dengan nama.


"Tapi dia itu suka sama kamu. Kenapa kamu gak sadar itu. Kalau kamu terus-terusan nuruti maunya dia, aku yakin hubungan kita gak bisa bertahan lama. Karena setiap kita bertengkar, masalahnya ya cuma ini-inj aja, ngerti gak sih kamu.." Bentak Kimy.


"Apaan? suka sama aku? ngacooo.." Jawab Gilang. Karena dia memang gak gak tau kalau Nadine menyukainya, dia hanya berfikir kalau Kimy lah yang cemburu buta pada sahabatnya itu.


"Ya udah aku lelah Lang.." Jawab Kimy pelan dengan menahan amarahnya. Karena menurut Kimy percuma, sudah berulang kali masalah kayak gini. Gilang tetep gak percaya sama apa yang di omonginnya.


Gilang menatap Kimy tak menjawab. Menahan emosinya yang dari tadi mulai terpancing.


"Pergilah, aku lelah. Aku mau sendiri.." Ucap Kimy dengan satu tangan memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Lu yakin mau sendiri?.." Jawab Gilang dingin dengan bahasa yang berbeda menurut Kimy.


Kimy menatap lelaki yang di cintainya itu. Mereka saling memandang. Wajah Gilang sudah tak sehangat tadi terkesan dingin. Mungkin laki-laki itu juga lelah dengan pertengkaran mereka.


"Apa kita perlu memikirkan hubungan ini lagi, mungkin kita butuh waktu untuk sendiri-sendiri.." Kata Kimy pasrah, dalam hatinya dia takut kehilangan lelaki di hadapannya itu, dia mencintai lelaki itu.


Segalanya sudah Kimy serahkan bahkan kesuciannya. Gilanglah yang memerawaninya. Begitu sebaliknya, pada Kimylah Gilang memberikan keperjakaannya dan hanya dengan Kimy dia mau melakukan hubungan itu. Gilang mencintai Kimy melebihi apapun. Bahkan nyawapun dia rela berkorban.


"Apa maksudmu?.." Tanya Gilang mulai khawatir kalau wanitanya itu kebablasan mengucapkan kata keramat yang selama ini mereka hindari.


"Ya mungkin sebaiknya kita memikirkan lagi. Aku capek kayak gini terus dengan masalah yang sama berulang-ulang, sebaiknya kita.. "


Cupp!!


Tanpa basa-basi Gilang mencium bibir Kimy. Gilang tidak akan membiarkan wanitanya mengucapkan kata keramat itu.


Mungkin benar saat ini Gilang sendiri juga lelah dan merasa terpancing emosinya. Namun tidak terbesit dalam bayangannya sedikitpun untuk meninggalkan Kimy. Kimy adalah hidup baginya.


Maka dengan segala kerendahan hatinya, dia mengkesampingkan segala egonya hanya untuk Kimy seorang. Hanya untuk meredakan amarah wanita yang di cintainya itu.


Bibir Gilang menempel sempurna. Kimy membuka matanya lebar karena merasa kaget mendapat serangan tiba-tiba Gilang.


Gilang menggerakan bibirnya dan terus mencumbui bibir pink merekah kekasihnya itu.


Kimy sendiri karena terkejut dia hanya diam menerima ciuman lelaki yang di cintainya itu. Namun tidak berlangsung lama. Kimy sendiri hanyut dalam ciuman lelaki itu. Perlahan dia membalas ciuman Gilang, bahkan Kimy sudah membuka mulutnya dan membiarkan Gilang mengexplore seluruh rongga mulutnya.


Gilang melepaskan ciumanya karena mereka berdua merasa butuh oksigen.


Gilang masih menempelkan dahinya pada dahi kekasihnya itu. Mereka berdua terlihat mengatur nafasnya.


"I Love you.." Kata Gilang pelan.


"Jangan ngomong kayak tadi lagi.." Masih di posisi yang sama.


"Aku tidak mau kehilanganmu.." Gilang mencium pucuk kepala Kimy.


Kimy mendongakkan kepalanya, menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu.


"I love you, Maaf aku kebablasan." balas Kimy dengan suara paraunya.


Mereka berdua berpelukan erat.


Gilang kembali meraih tengkuk kepala Kimy dan melanjutkan ciuman yang sempat terhenti. Mereka berdua terhanyut dalam gelora atas nama cinta.


Melanjutkan melakukan apa yang harus di lakukan setelah beberapa minggu menahan kerinduan.


***********😍😍😍😍😍😍😍😍**************


Mampukah Gilang dan Kimy mempertahankan cinta mereka?


a. Jalan terus sampai maut memisahkan


b. Putus di tengah jalan.


Jangan lupa like dan comentnya Readers.

__ADS_1


**************😍😍😍😍😍😍😍*****************


__ADS_2