BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Berhasil keluar


__ADS_3

"Maksudmu?.." Sarah benar-benar tak mengerti, ia melihat ke arah Sinta dan sedikit berfikir.


Sedangkan Sinta tak menjawab, ia hanya melihat sarah dengan tatapan yang sulit di artikan.


Beberapa saat kemudian "Ohh tidak!!!! jangan bilang Tristan anak perempuan itu Sint.."


Sinta hanya diam tak menjawab, ia sendiri bingung dengan fikirannya. Ia yakin kalau Tristan adalah Daffa tapi ia tak punya bukti.


"Kenapa diam, jawab Sint. Oh tuhaaan Sintaaaa.. Aku bisa gila.." Sarah berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan cemas.


"Sarah kau tenang lah jangan membuat Gilang curiga dengan sikap konyolmu.."


"Bagaimana aku bisa tenang, putriku Kimy bersama lelaki itu. Apa tujuannya? Tidak mungkin semua ini kebetulan kan? Oh tuhan.. Apa jangan-jangan anak itu tahu kalau mata ibunya, kita yang.."


"Sarah!!!.." Sinta berteriak pada sarah agar tenang.


Sarah kembali duduk di kursinya, tapi raut mukanya sudah tak bisa di sembunyikan rasa khawatirnya.


"Oh tuhan Sinta.. Apa dia mau balas dendam pada kita karena sudah mengambil mata ibunya.." sarah menangis sambil memegang tangan Sinta.


"Demi tuhan, kalau kau tidak bisa tenang lebih baik kau pergi dari sini.." Sinta tampak marah karena sarah sulit di kendalikan.


"Sint.."


"Makanya tenanglah, sudah ku bilang tenang. Kita tak bisa berfikir kalau panik. Aku belum ada bukti kalau lelaki itu adalah anak wanita itu tapi firasat ku tak pernah salah. Aku masih menyelidikinya, jadi sebelum semua pasti kau tenanglah. Jangan sampai ada yang tahu. Kau mengerti?.. "


Sarah mengangguk beberapa kali, tanda mengerti.


**


Laura keluar dari kamarnya, ia melirik sekilas kamar Kimy yang tepat berada di sebelah kamarnya.


Namun pandangannya kembali ke lorong jalan menuju ruang pribadi dan ruang kerja Tristan. Wanita itu berjalan pelan sambil mengamati keadaan. Sepi, itu yang ia lihat saat ini. Laura berhenti tepat di depan ruang kerja Tristan.


Tok tok tok


Tak ada jawaban.


Tok tok tok


"Tristan.." panggil Laura.

__ADS_1


"Non Laura.." terlihat seorang pembantu berhenti tepat di belakang wanita itu.


"ya.." jawab Laura sedikit terkejut sambil memutar tubuhnya.


"Tuan sedang tidak di rumah, beliau keluar bersama Tuan Dony dan Tuan Mario.."


"Owh ya terima kasih bi.."


Laura tersenyum membatin, dia pun mengeluarkan ponsel di saku celananya.


30menit lagi temui aku dan kekasihmu di Apartemenku.


Dia pun mengirimkan pesan itu pada Gilang, tidak lupa ia sematkan MAP di pesannya karena Gilang belum pernah ke apartemennya.


Di kamarnya Kimy merasa gelisah dari pagi, itu karena dia merasa kurang enak badan. Kepalanya seakan terus berputar dan badannya terasa lemas. Dia berbaring dengan gelisah. Selain itu dia juga menunggu Laura yang tak kunjung datang ke kamarnya. Padahal wanita itu janji akan mempertemukannya dengan Gilang.


Ceklek


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka membuatnya sedikit terkejut. Terlihat Laura masuk dengan terburu-buru.


"Ayo cepat.."


"Hah, apa?.." Tanya Kimy yang masih belum paham.


Mendengar itu, Kimy segera beranjak dan tergesa mengganti pakaiannya. Ia memakai celana jeans, hoodie panjang untuk menutup kepalanya serta sebuah masker. Setelah selesai mereka pun keluar bersama dengan sangat berhati-hati.


"Kau yakin kita aman?.." Tanya Kimy pelan.


"Ssttt.. Lewat sini.." Laura menarik tangan Kimy untuk mengikutinya. Kali ini Laura memang cerdik, dia tahu di depan rumah Tristan banyak sekali bodyguardnya tidak mungkin dia lewat depan. Wanita itu cukup tahu seluk beluk rumah mantan kekasihnya itu, sampai jalan pintas pun ia tahu.


"Lewat mana?.." bisik Kimy.


"Diamlah, kau berisik sekali. Kau mau di tangkap bodyguard?.." mendengar itu Kimy pun diam.


Mereka berdua berhenti di depan terobong asap yang ada di lantai paling atas rumah mewah itu. Ia melirik Kimy sekilas dan tersenyum "Tubuhmu kecil sekali jadi tak masalah lewat sini.."


"Apa maksudmu?.."


"Kau pikir kita akan lewat jalan yang semestinya. Kau mau mati?.." Kata wanita itu menahan tawa.


"Laura kau jangan gila, kita akan mati terpanggang kalau masuk ke situ.." Kimy terlihat khawatir.

__ADS_1


"Tenanglah tak sampai 2 menit. Semoga aja si gila itu belum menutup jalan itu.."


Kimy mengernyit bingung "Kau gila, kalau kau tak yakin dengan jalan itu kenapa lewat sini?.."


"Kimy kau cerewet sekali, kau mau ketemu kekasihmu atau tidak. Waktu kita tak banyak bodoh.."


Laura sedikit kesal.


"Baiklah *****.." jawab Kimy tak kalah pedas.


Laura melotot mendengar perkataan Kimy, namun dia mengacuhkannya. Laura mulai menutup hidungnya dan masuk ke terobong asap itu. Setelah ia di dalam ia berteriak pada Kimy yang masih bengong di luar.


"Ayo cepat masuklah dan ikuti aku, kita tak bisa lama-lama di dalam sini atau kita akan mati.."


Mendengar itu, Kimy bergegas masuk ke dalam terobong asap itu dengan hati-hati.


Setelah sekitar 1 menit merangkak di dalam terobong itu. Laura berhenti di depan sebuah pintu kecil kotak. Laura mencokel pintu dan terbuka.


"Yess.. berhasil.." soraknya. "Ayo.." ajaknya pada Kimy. Wanita itu lalu masuk ke dalam lorong itu, diikuti oleh Kimy di belakang. Setelah keduanya keluar dari terobong, Laura menutup lagi pintu kecil itu dan seketika gelap dan pengap.


"Laura.." Panggil Kimy, sambil meraih tangan Laura.


"Tenanglah, pegang tanganku dan ikuti aku. Memang di sini gelap dan pengap, sebentar lagi kita keluar. Setelah berjalan sekitar 10 menit, kedua wanita yang berbeda usia itu telah sampai pada sebuah pintu yang terbuat dari kayu. Laura membuka sedikit pintu untuk melihat keadaan sekitar. Merasa aman Laura pun keluar di ikuti oleh Kimy.


"Wah di mana ini?.."


"Kita sudah di luar rumah, ini di belakang rumah Tristan.." Jawab Laura sambil membersihkan bajunya dengan tangannya.


"Kok bisa, bukankah tadi kita di atas kok bisa sampai sini. Berarti kita tadi jalan me.."


"Sudahlah jangan banyak tanya, ayo kita cari taxi.." Laura meninggalkan Kimy yang masih bingung karena penasaran. Kimy pun berlari kecil mengikuti Laura.


**


Di tempat lain Teddy mulai menggerakkan tangannya. Lelaki paruh baya itu pun mulai merancau memanggil-manggil nama Daffa. Sedangkan Gilang yang dari tadi menunggu di sebelahnya hanya diam menahan sesak sambil memegang tangan papanya.


"Sabar Gilang.." Hendra memegang pundak Gilang, asisten Teddy itu bisa merasakan apa yang anak bosnya itu rasakan. Hendra sudah menganggap Gilang seperti anaknya sendiri, pasalnya ia mengenal keluarga bosnya sejak ia masih muda. Dia tidak tega melihat Gilang seperti itu.


"Om bisa jelaskan siapa dia? kalaupun om Hendra menyembunyikan dariku, aku akan tetap mencari tahu dengan cara ku sendiri.." Kata Gilang pelan.


Hendra tak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang. Begitu rumit permasalahan yang di hadapi bosnya. Bagaimana pun memang Gilang harus tau menurutnya, Daffa adalah kakak kandungnya. Dia berhak tahu, walaupun Sinta menutup rapat rahasia itu dari Gilang.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2