BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Kekecewaan Dony


__ADS_3

Gilang keluar dari kamar mandi mendapati Kimy sudah menutup matanya. Apakah wanita itu benar-benar bisa tidur saat ini. Gilang tidak yakin kalau Kimy benar-benar tertidur, ia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas wanita yang terlihat terlelap itu.


"Apa kamu benar-benar tidur Kimy?" Tanya Gilang dengan tangan bersedekap di depan dadanya.


"Hm.." jawab Kimy tanpa membuka mata.


"Aku nggak bawa baju" Kata Gilang singkat.


Seketika Kimy membuka matanya.


"Lalu?"


"Aku harus pakai apa?" Tanya Gilang.


Kimy bangkit dari tidurnya, ia menegakkan tubuhnya dan melihat Gilang masih memakai baju yang sama. Padahal terlihat jelas lelaki itu habis mandi. Gilang terlihat segar dan bau sabun yang biasa ia pakai bisa Kimy rasakan.


"Kenapa enggak bawa baju ganti sih?" Tanya Kimy heran.


"Aku hanya semalam di sini, karena besok kita akan pindah ke rumah kita sendiri" jawab Gilang sambil medudukan tubuhnya di sofa.


"Pindah?!"


"Iya."


"Aku enggak pernah bilang akan pindah dari sini yang Lang. Kau jangan seenaknya ambil keputusan tanpa sepengetahuanku"


"Tidak bisakah kamu bicara lebih santai, kenapa kamu bicara sangat formal seolah kita orang yang tidak pernah saling mengenal"


"Lang aku--"


"Kamu tidak mencintaiku lagi?" Gilang menyela.


Kimy diam tak menjawab.


"Itu kan yang mau kamu katakan. Aku tahu Kimy, tapi itu tidak berarti kita seperti orang asing kan. Aku suamimu sekarang, anggap aku orang terdekatmu seperti Lexa misalnya"


"Maaf Lang" jawab Kimy terlihat lemah, Kimy menyadari kalau ia salah. Tidak seharusnya ia memperlakukan Gilang seperti itu. Padahal Kimy hanya ingin menjaga hatinya.


"Kamu enggak perlu minta maaf. Aku yang salah, maafin aku karena menuntutmu Kim. Enggak seharusnya, aku tahu ini masih sulit untukmu"


Kedua orang itu terdiam lagi, seakan menyadari kesalahan masing-masing. Kimy akhirnya beranjak, ia berjalan ke walk in closet. Ia mengambil kaos dan celana training panjang milik Tristan untuk di berikan pada Gilang.


"Ini pakailah, maaf kalau--"


"Nggak apa-apa, makasih" Gilang mengambil baju itu dari tangan Kimy dan membawanya ke kamar mandi.


**


Nadine sedang meliuk-liukan badannya di sebuah club ternama di Jakarta. Ia berjoget dengan membawa Gelas berisi wine. Sesekali ia meminumnya sambil berjoget. Entah sudah berapa lama wanita itu menghabiskan waktu di tempat itu. Ia tidak sadar kalau sekarang tubuhnya meliuk-liuk dengan indah di antara beberapa lelaki di sana. Nadine berada ditengah-tengah beberapa lelaki yang menatapnya kagum. Tubuh mereka menghimpit tubuh sexy Nadine.


"Kau cantik sekali sayang" Kata salah satu lelaki sambil memegang pinggang Nadine. Lelaki itu juga ikut menggesek-gesek an tubuhnya di pinggang Nadine.


"Gilang, kau tahu kan aku mencintaimu--" Kata Nadine menatap lelaki itu. Lelaki itu mengangguk mendengar ocehan Nadine itu.


"Lalu kenapa kau menikahi dia, kau jahat Gilang--"


"Aku juga mencintaimu sayang, aku sungguh mencintaimu" Kata lelaki itu dengan mengendus leher Nadine.


"Kalau kau mencintaiku, cium aku sayang Hm, cium aku" lanjut lelaki itu dengan mendekatkan bibirnya pada bibir menggoda Nadine.


Nadine menatap lelaki itu, ia tersenyum menggoda. Perlahan ia meraba rahang lelaki itu dan--


Jebuk


Jebuk


Jebuk


Saat Nadine mau melahab bibir lelaki itu, tiba - tiba saja seseorang datang menghajar lelaki hidung belang itu. Suasana club jadi ramai melihat lelaki itu menggagahi pria mabuk itu. Sedangkan Nadine masih menatap aneh pada kedua pria yang sedang beradu jotos itu. Nadine tampak tak peduli, ia malah pergi begitu saja dari tempat itu.


"Sial*n.. berani sekali tangan kotormu itu menyentuh Wanita ku bajing*n!!!" suara Dony tampak menggelegar di keramaian itu. Ia menduduki tubuh lelaki itu dan memelintir tangan yang sudah kurang ajar menyentuh wanitanya.


"Ampun bos, ampun"


"Ku pastikan kau mati malam ini--"

__ADS_1


"Ampun, ampun, tolong--" teriak lelaki itu karena tangannya hampir patah karena ulah Dony.


"Sudah-sudah hentikan. Jangan berkelahi di tempatku" Roky memisahkan dua orang itu.


"Dony.." Roky terkejut karena melihat Dony, yang Roky tahu Dony lelaki dingin dan pendiam, jarang sekali terlibat perkelahian. Berbeda dengan Mario dan Tristan.


"Hey, ada apa Don?" Tanya Roky namun di abaikan Dony.


"Kali ini kau bebas, lain kali ku pastikan kau mati di tanganku" ancam Dony pada lelaki yang terkapar itu. Dony kemudian meninggalkan tempat itu, pandangannya kesana-kemari mencari sosok Nadine. Ternyata wanita itu sudah keluar club, ia berjalan sempoyongan menuju mobilnya.


"Hey, hey lepas, lepas.." Nadine berteriak ketika tubuhnya merasa melayang.


Dony menghempaskan tubuh Nadine ke kursi penumpang di mobilnya. Kemudian ia memutari mobil dan mengendarai mobil itu dengan kencang. Tujuannya kali ini adalah apartemenya.


Sesampai di apartemenya, Dony menggendong Nadine, mengabaikan ocehan demi ocehan yang wanita itu lontarkan.


"Mau kau bawa ke mana aku bodoh, awhh.." Nadine berteriak ketika tubuhnya di lempar begitu saja di ranjang oleh Dony.


"Kau, sial*n!!!" teriaknya.


Dony mengabaikan ucapan Nadine, dia memilih masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower. Pikirannya begitu penat,Tristan yang mendadak pergi dan dikabarkan meninggal, pernikahan Kimy yang mendadak dan sekarang wanita itu. Ya, wanita yang perlahan tapi pasti mulai memporak-porandakan hatinya.


Setelah lima belas menit Dony keluar dari kamar mandi, terlihat Nadine memejamkan matanya dengan tubuh terlentang tak beraturan. Kondisinya sudah tenang, cuma mulutnya tetap saja sedikit bergumam sesuatu yang tak jelas. Dony menghampiri Nadine, melepas heels dan menyelimuti wanita itu.


"Aku mencintaimu--" gumam Nadine pelan. Pergerakan tangan Dony terhenti ketika mendengar kata cinta wanita itu, ia sedikit melengkungkan bibirnya ke atas.


"Gilang.."


Deg


Dony mematung mendengarnya. Gilang, nama itu lagi. Jadi apa maksudnya Nadine masih mencintai Gilang. Dony segera menutup kasar selimut untuk menutupi tubuh Nadine. Setelahnya ia keluar dari kamar dengar rahang mengeras.


**


Kimy menuruni tangga bersama Gilang mengekor di belakangnya. Lelaki itu terlihat membawa sebuah koper yang berisi baju-baju Kimy.


"Morning baby.." sapa Sarah melihat kehadiran putri dan menantunya.


"Morning.." jawab Kimy.


"Kalian mau kemana kok bawa koper?" Tanya Daniel sambil mengunyah makanannya.


"Seperti yang aku bilang kemarin pi, hari ini aku akan membawa Kimy ke rumah yang sudah Gilang siapin"


Daniel mengangguk paham.


"Sayang" Sarah memeluk Kimy erat. "Mami pasti kangen sama kamu"


"Kan bisa ketemu mi" jawab Kimy dengan membalas pelukan wanita itu.


"Janji ya sama mami, kalau kalian akan sering main ke sini" Sarah melepaskan pelukannya dan merapikan sedikit anak rambut Kimy.


Kimy mengangguk dan ikut bergabung bersama Daniel dan Gilang yang sudah terlebih dulu duduk di meja makan.


"Kapan kamu akan mulai belajar sayang?" Tanya Daniel ketika Kimy sudah duduk.


"Belajar apa pi?"


"Bukankan Dony akan mengajarimu tentang perusahaan. Ingat sayang, mulai sekarang tanggung jawab kamu bukan tentang dirimu sendiri, tapi tentang masa depan perusahaan dan ratusan karyawan Kimy"


Kimy berfikir sejenak, benar apa yang dikatakan papinya. Dia lupa kalau sekarang dia adalah pimpinanan di ABR corp dan seluruh anak perusahaan itu dimanapun berada.


"Nanti aku tanya Dony dulu pi" jawab Kimy dengan wajah sendu.


Ketiga orang disana saling menatap melihat perubahan di wajah Kimy yang menjadi sendu itu. Mereka sadari, semua ini tidaklah mudah.


"Kamu harus makan yang banyak, jangan stres, istirahat yang cukup. Inget ada nyawa di perut kamu sayang" Sarah mengingatkan.


Kimy mengangguk mengerti.


"Gilang jaga Kimy, papi percayakan dia padamu" ucap Daniel dengan menatap menantunya itu.


"Iya pi, Gilang janji"


Setelah menyelesaikan sarapanya, Gilang membawa Kimy menuju rumahnya.

__ADS_1


**


"Kenapa aku bisa di sini?" Tanya Nadine sambil berjalan keluar kamar Dony.


Nadine melihat Dony sedang sarapan di meja makan seorang diri. Lelaki itu terlihat sedang memakan selembar roti tawar lengkap dengan selai dan juga telor mata sapi setengah matang, segelas susu dan air putih juga ada di depan lelaki itu.


Nadine menghentikan langkahnya, ia menatap Dony dengan datar. Nadine sedikit menelan ludah, karena perutnya ternyata juga keroncongan minta di isi, sedangkan lelaki yang duduk di sana dengan santainya makan tanpa menawarinya sarapan bersama.


"Ada apa kau menatapku begitu?" Tanya Dony dengan bahasa yang formal dan ketus.


Dony merasa risih saat enak-enaknya makan, tetapi Nadine malah berdiri disana sambil menatapnya tajam.


Nadine menyipitkan matanya, sejak kapan Dony berubah begitu. Kenapa lelaki itu jadi ketus dan berbicara formal begitu. Apa karena kemarin ia minta putus. Nadine menggeleng masa bodoh. Wanita itu pun berjalan mendekati Dony dan duduk di depan lelaki itu.


"Apa?" Tanya Dony sekali lagi.


"Kau tidak mau berbagi sarapan, aku lapar." jawab Nadine dengan memegangi perutnya.


"Itu di sana dapur" jawab Dony dengan mengarahkan dagunya ke dapur mininya.


"Terus?"


"Pakai tanganmu untuk membuat sarapan. Kau malas sekali menjadi perempuan"


Nadine menganga mendengar jawaban Dony itu. Dony di depannya itu bukan Dony yang di kenalnya selama beberapa bulan ini. Selama mereka menjalin hubungan, Dony memperlakukannya manis walaupun lelaki itu dingin. Tapi yang ini, Dony di depannya ini adalah Dony yang di kenalannya saat pertama kali mereka bertemu. Dony yang suka sekali mencari masalah denganya. Dony yang berkata kasar padanya, Apakah lelaki itu cepat sekali berubah dalam semalam saja. Nadine benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini.


"Kau salah minum obat?" Tanya Nadine heran.


Prang


Dony membanting Sendok garpunya, Nadine terlonjak kaget melihat itu.


"Dasar gila--" Nadine bangkit dari kursinya. Sepertinya ia tidak berada di tempat yang tepat saat ini. Pikirannya yang kalut karena di tinggal nikah Gilang, malah lebih kacau saat ini melihat tingkah aneh Dony.


"Mau kemana?" Dony mencekal lengan Nadine.


"Bukan urusanmu, lepas" Nadine menepis kasar tangan Dony.


Dony segera berdiri, meraih lagi lengan Nadine dan menarik kasar hingga tubuh wanita itu menyandar pada meja makan.


"Apaan sih, lepas Don. Jangan kurang ajar ya" teriak Nadine.


Dony menghimpit tubuh Nadine dengan tubuhnya.


"Kau minta putus dariku karena Gilang menikah dengan Kimy?"


Deg


Nadine sedikit terkejut dengan pertanyaan lelaki itu.


"Apa maksudmu? Tidak ada hubungannya dengan itu" jawab Nadine berbohong.


"Kau masih menyukainya, selama ini kau memanfaatkanku?" Tanya Dony dengan menatap Nadine tajam.


"Don, apa yang kau bicarakan. Aku enggak ngerti, lepaskan aku. Ini sakit Don" Nadine sedikit meringis karena lengannya benar-benar sakit oleh cengkeraman Dony yang begitu kuat.


Dony tertawa pelan, ia melepas cengkraman tangannya tapi tubuhnya masih menghimpit tubuh Nadine. Wanita itu tetap tak bisa bergerak karena tubuh mereka saling menempel sempurna.


"Pergilah, jangan lagi kau tunjukan mukamu di depanku" bisik Dony pelan tepat ditelinga wanita itu. Setelahnya Dony menjauhkan tubuhnya. Ia menatap dalam mata Nadine sekajap, lalu keluar dari apartemenya.


Nadine yang tak berani menatap Dony itupun merasa lega melihat lelaki itu pergi meninggalkan nya.


"Ya aku akan pergi, aku juga tak sudi melihatmu lagi" kata Nadine yang bisa di dengar oleh Dony, yang saat ini masih berdiri di balik pintu apartemenya. Dony mengetatkan rahang, mengepalkan tangan kuat dan ia pun benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


**


Hai readers..


Gimana, sampai sini masih ada yang penasaran enggak sih sama kelanjutan cerita ini.


Tinggalin jejak donk, biar othor semangat terus ngelanjutin ceritanya.


Selamat membaca ❤️❤️❤️❤️


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2