
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini" Kimy baru saja keluar dari mobil Gilang. Ia menatap rumah yang terlihat mewah, namun tak sebesar rumah papinya daniel. Tapi memang coock untuk pasangan muda.
Kimy mengekori Gilang ketika lelaki itu berjalan memasuki rumah mewahnya.
Ceklek
Pintu terbuka dan terlihat sosok Septian berdiri disana bersama dengan seorang pelayan dan seorang lelaki yang Kimy yakini dia adalah penjaga rumah alias security.
"Selamat datang" sambut Tian.
"Septian.."
"Hey Kim, senang bertemu denganmu lagi" jawab septian menghampiri Kimy. Septian membuka lebar tangannya hendak memeluk wanita yang dulu selalu mengomelinya itu.
"Nggak ada peluk-pelukan" Gilang menarik tangan Tian menjauh dari istrinya.
"Yah nggak asyik banget kau Lang. Aku udah lama nggak ketemu Kimy, masa mau peluk sekali aja nggak boleh" protes Tian.
Kimy tersenyum melihat tingkah Septian itu, lelaki itu masih sama selalu membuatnya tak bisa marah.
"Kau masih sama ternyata yan"
"Sama apanya itu Kim, aku masih tetep ganteng kan?" Septian menaik-turunkan alis tebalnya membuat Kimy semakin tergelak.
"Gimana kau suka dengan rumahnya?" Tanya Tian sekali lagi dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Kimy hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kau tahu, aku hanya di beri waktu sehari untuk mencari rumah dan membelinya. Untung ak--"
Gilang segera membungkam mulut besar asistennya itu.
"Jangan banyak bicara, tugasmu sudah selesai, sebaiknya kau kembali ke kantor"
"Hem" tian menjatuhkan kedua lengannya.
"Okey, okey.. Aku pergi. Hum.. Kim, itu bik Ana sama pak Ucup. Mereka akan membatu kalian di rumah ini" Tian mengenalkan dua orang itu pada kimy.
Kedua orang itu membungkuk tanda perkenalan diri mereka.
"Baiklah, kalian jangan ada pertengkaran dalam rumah tangga ya, nanti aku yang repot" Kata Tian lalu pergi begitu saja karena mendapat tatapan horor dari Gilang.
Setelah Tian pergi, Gilang menyuruh bi Ana untuk mengambil koper yang masih di luar. Selanjutkan mereka berdua menuju ke lantai dua.
Gilang membuka kamar utama rumah itu, lelaki itu masuk ke dalam kamar, namun Kimy enggan untuk mengikutinya.
"Kenapa?" Tanya Gilang sambil menoleh ke arah Kimy.
"Kita tidur sekamar?" Tanya Kimy ambigu.
"Maksudnya?" jawab Gilang juga bingung.
"Sebaiknya kita tidur dikamar terpisah Lang, maaf" Kimy menunduk.
Gilang berfikir sejenak, apakah benar di depannya ini Kimy kekasihnya dulu. Kimy yang selalu bar-bar, Kimy yang selalu ceria, Kimy yang tak mengenal takut, Kimy yang mendominasi dirinya.
"Okey, kalau kamu maunya begitu. Akan aku suruh bibi nyiapin kamar sebelah. Kamu masuklah dulu, ini kamarmu. Aku yang akan tidur di kamar sebelah"
"Lang maaf.." Kata Kimy saat Gilang melewatinya.
Gilang tersenyum lalu mengangguk, kemudian lelaki itu keluar dari kamar itu.
Apa aku keterlaluan. Gilang maaf, hanya itu yang bisa aku katakan.
__ADS_1
Kimy merebahkan tubuhnya di ranjang king size itu, tubuhnya terasa lelah. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap.
**
Gilang menuruni tangga, ia melihat bi Ana sedang menyiapkan makan malam.
"Bibi sudah dapat jadwal menu dari Septian?" tanya Gilang.
"Sudah pak Gilang"
Gilang mengangguk.
"Bibi harus masak sesuai jadwal ya, karena itu masakan kesukaan istriku semua. Dan jangan lupa, Susu dan buah harus selalu ada"
"Baik pak" jawab bi Ana.
Gilang melihat ke atas, ke arah kamar Kimy sekilas.
"Kimy belum turun dari tadi?"
"Belum pak Gilang, bibi belum melihat nyonya turun"
Gilang kembali lagi menaiki tangga menuju kamar Kimy.
Tok tok
"Kimy"
Tok tok
"Makan malam dulu Kim"
Tak ada sahutan dari dalam. Gilang pun memutar gagang pintu itu dan terbuka, pintu kamar Kimy tidak terkunci.
Gilang melihat Kimy tidur dengan memunggunginya. Perlahan Gilang masuk ke kamar itu dan benar saja, Kimy masih menutup matanya. Terlihat damai wajah Kimy tanpa make up, membuat aura kecantikannya terpancar.
"Kamu masih sangat cantik sayang. Aku akan selalu menunggumu" Kata Gilang pelan.
Hembusan nafas Gilang menerpa wajah Kimy membuat wanita itu pun menggeliat dalam tidurnya.
Gilang segera berdiri, ia menyadari Kimy akan membuka mata.
"Gilang.." Kimy sedikit menajamkan penglihatannya. Ia pun segera menegakkan tubuhnya.
"Ada apa Lang?"
"Kita makan malam dulu"
"Aku ngantuk Lang, aku juga enggak lapar"
"Kamu nggak lapar, tapi bayimu bagaimana?"
Kimy diam seketika, ia pun mengelus perut ratanya. Rupanya Kimy lupa kalau sekarang ia tengah hamil.
"Bolehkah aku makan di kamar?"
Gilang diam sebentar, lalu ia mengangguk pasrah. Sebenarnya Gilang pingin makan berdua bersama Kimy. Bercanda, tertawa mengingat masa lalu. Tapi sepertinya Kimy benar-benar menjaga jarak darinya. Gilang tidak mau egois untuk saat ini. Kimy masih berduka, dia masih rapuh, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Gilang akan mengerti keadaan itu. Gilang akan menuruti segala yang Kimy mau, asal wanita itu nyaman di sisinya. Untuk saat ini, memang hanya itu yang bisa di lakukanya.
Setelah mengatakan itu Gilang pun keluar dan menyuruh bi Ana membawakan makanan ke kamar Kimy.
Tok tok
Cdklek
__ADS_1
"Nyonya bibi masuk ya" Kata pelayan itu dengan membawa nampan berisi makanan.
"Iya masuk aja bi"
Bi Ana meletakan nampan itu di nakas, Kimy menoleh melihat menu yang ada di nampan. Kimy tersenyum, dia jadi bernafsu makan, melihat capcay kesukaannya dan ayam koloke favoritnya. Ada Susu dan buah potongnya juga. Pengertian sekali bi Ana ini.
"Terima kasih ya bi"
"Sama-sama Nyonya" bi Ana pun lalu keluar dari kamar itu.
**
"Kerjamu sangat bagus, aku senang bekerja sama denganmu" Sinta berbicara dengan seseorang di balik ponselnya.
".........."
"Dia sudah menikah dengan Gilang, mereka akan hidup bahagia mulai sekarang"
".........."
"Tenang saja, tidak ada yang mencurigaimu"
"..........."
"Sarah, biarkan saja dia. Kalaupun dia tahu, tidak ada yang bisa di lakukanya"
Sebuah senyuman licik terukir di senyum seorang wanita cantik yang mendengar obrolan Sinta itu.
"Tante Sintaaa.., ternyata tante tidak sepintar yang aku kira. Kita lihat bagaimana aku menghancurkanmu tante" Kata Nadine pelan.
Saat ini Nadine sedang berada di salon kecantikan. Wanita cantik itu sedang melakukan menicure di kuku cantiknya, tidak di sangka tuhan berpihak padanya. Ternyata di balik kursinya, ada Sinta yang melakukan pijat kaki sambil memejamkan matanya dan menelpon seseorang. Sinta tidak menyadari kalau dibelakang kursinya ada Nadine yang mendengarkan pembicaraanya.
Nadine tersenyum lagi, ia mempunyai ide yang tak kalah pintar kali ini.
"Aku harus tahu siapa yang di telepon wanita ular itu"
"Mbak bisa minta tolong" Tanya Nadine pelan kepada wanita yang sedang membersihkan kakinya.
Wanita itu mendekat dan Nadine membisikkan sesuatu pada wanita itu. Nadine juga mengeluarkan beberapa lembar uang 100ribuan, ia berikan pada wanita itu.
Beberapa saat kemudian..
"Awhhh.. Gimana sih mbak" teriak Sinta ketika mendapati kakinya sudah basah tersiram air. Air itu juga mengenai bajunya. Wanita yang membawa baskom berisi air itu hanya menunduk dan beberapa kali meminta maaf.
Sinta tak menghiraukan wanita yang masih berdiri dan meminta maaf itu. Ia pun segera beranjak dari tempatnya, Sinta tergesa menuju kamar mandi mengabaikan ponsel dan tasnya yang masih tergeletak di tempatnya.
Setelah kepergian Sinta, dengan cepat Nadine menyusupkan tanganya dibalik kursi yang ia duduki. Segera ia meraih ponsel Sinta dan mengedipkan satu matanya pada wanita yang membawa baskom itu.
Lagi-lagi memang tuhan sedang berpihak padanya. Ponsel itu tak terkuci dan Nadine dengan mudah menelusuri panggilan masuk ataupun keluar.
Ketemu, satu menit yang lalu panggilan berakhir dari nomor yang di beri nama si jenius.
"Sial*n.. ular tua itu hidupnya penuh dengan misteri" Kata Nadine pelan sambil memoto nomor itu dengan ponselnya.
Setelah di foto, ponsel Sinta pun di kembalikan ke tempatnya. Setelahnya, Nadine segera buru-buru pergi meninggalkan tempat itu, sebelum ular tua itu muncul dan ulahnya ketangkap basah.
Didalam mobilnya Nadine masih melihat nomor yang ia foto itu. Ia merasa aneh dengan nomor itu. Nadine sedikit bingung harus bagaimana. Tidak mungkin ia langsung menghubungi nomor itu dan bertanya siapa, bukan. Nadine tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Dia jadi sedikit bingung harus melakukan apa.
"Dony. Apa aku minta bantuannya ya" Nadine sedikit berfikir.
"Tidak, tidak. Dia menyuruhku tidak menemuinya lagi. Bodoh kalau aku masih minta tolong padanya"
Nadine sedikit memukul-mukul kepalanya.
__ADS_1
Setelah berfikir sejenak dan tak mendapatkan ide, Nadine pun menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️❤️❤️\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=