
"Anda yakin akan menceraikan nyonya, tuan?" Tanya Hendra dengan hati-hati. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju rumah Daniel.
"Iya.." jawab Teddy singkat.
"Itu hukuman untuknya. Kita lihat saja sampai dia kembali gila. Wanita itu akan gila tanpa ku dan juga hartaku"
"Untuk Gilang, apa mereka juga harus bercerai? mereka baru saja menikah. Publik akan terkejut kalau mereka sampai bercerai, apalagi nona Kimy memimpin perusahaan Tristan saat ini"
Teddy mengetuk-ngetuk pahanya dengan telunjuk tangannya. Lelaki paruh baya itu terlihat sedang berfikir.
"Tapi aku sama sekali tak mau berhubungan dengan keluarga yang sudah membuat putraku mening--" Teddy berhenti sejenak "Celaka" lanjutnya.
**
"Perut saya semakin sakit, kenapa ya dok?" Tanya Gilang pada dokter yang memeriksanya.
"Anda sudah minum obat yang saya resepkan?" Tanya dokter lelaki yang seumuran dengan papanya itu.
Gilang membuang nafasnya.
"Belum dok, saya lupa" jawab Gilang asal.
"Pak Gilang tolong jangan sepelekan penyakit anda. Kangker hati tidak akan bereaksi apa-apa ketika belum parah. Kalau anda sudah merasa terganggu dengan perut anda itu berarti penyakit itu sudah parah"
Gilang terlihat lesu.
"Maaf saya sangat sibuk dok"
"Saya tahu pak, tapi tetap kesehatan nomor satu. Apalagi penyakit anda sudah stadium--"
"Apa saya akan mati?" Tanya Gilang menyela ucapan dokter itu.
Dokter itu tersenyum menanggapi ucapan Gilang.
"Hidup dan mati sudah di tentukan pak, tinggal bagaimana kita berikhtiar untuk terus sehat"
Gilang menutup matanya sebentar, lalu membuang lagi nafasnya.
"Kita-kira berapa lama saya bertahan dok, istri saya lagi hamil. Apa saya bisa menunggu sampai anak saya lahir?"
"Wahh selamat ya pak Gilang sebentar lagi akan jadi ayah" Kata dokter itu dengan tersenyum.
"Terima kasih dok"
"Saya yakin anda masih bisa menyaksikan kelahiran anak anda pak. Banyak-banyaklah berdoa pak Gilang"
Gilang mengangguk sebagai jawaban.
"Apa bisa sembuh dengan operasi dok?"
"Pak Gilang, untuk kasus kangker anda ini tidak bisa di lakukan operasi, karena kangker sudah menyebar. Bisa dilakukan kemoterapi, tapi tidak bisa menyembuhkan. Kemoterapi ini hanya bersifat menjinakkan agar sel kangker tidak menyebar lebih luas lagi"
Gilang berfikir sejenak.
"Jadi kalau saya melakukan kemo, kemungkinan sel kanker saya tidak akan berkembang dok?"
Dokter itu mengangguk.
"Saya akan resepkan obat lagi untuk mengurangi nyeri perut anda pak"
" Lalu apa sudah tidak ada jalan lain dok, saya sudah tidak bisa di sembuhkan?"
"Bisa dengan transplantasi hati pak"
"Maksudnya bagaimana dok?"
"Anda butuh donor hati pak Gilang. Seseorang harus mendonorkan hatinya untuk anda" dokter itu terlihat menuliskan sesuatu dalam buku besarnya.
"Anda bisa mendaftar dulu untuk itu, karena tidak mudah mendapatkan transplantasi hati. Pihak rumah sakit akan menghubungi anda jika ada yang dengan sukarela mendonorkan hatinya untuk anda"
"Syaratnya?"
"Harus ada kecocokan pak, nanti akan di periksa dulu. biasanya anggota keluarga sekitar 80% pasti cocok".
Gilang mengangguk.
"Saya minta obat pereda nyeri untuk perut saya ya dok. Untuk kemo nanti saya pikirkan dulu"
"Baik pak Gilang" jawab dokter itu.
Gilang berjalan gontai di lorong rumah sakit. Benarkah dia akan mati, benarkah hanya sampai di sini kebahagiaannya. Saat dia mulai fokus dengan pandanganya, tak sengaja sosok Nadine terlihat oleh Gilang.
"Nadine" katanya pelan.
Dengan langkah cepat Gilang mengikuti sahabatnya itu. Gilang sedikit khawatir kalau Nadine juga sedang sakit.
Langkah kaki Gilang memelan saat Nadine masuk ke sebuah ruangan.
"Dokter kandungan, siapa yang hamil. Apa Nadine--" Gilang menajamkan penglihatannya, namun ia tidak salah membaca, itu adalah ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
Lima belas menit Gilang menunggu Nadine di luar ruangan itu, hingga sosok Nadine keluar dengan wajah yang tampak lesu.
"Nad"
Nadine terkejut melihat Gilang sedang berdiri di depannya.
"Gilang, kau di sini?" Tanya Nadine dengan raut muka khawatir.
Gilang mendekat pada Nadine dan mengambil amplop putih yang Nadine bawa tanpa permisi.
"Lang, apa-apaan kau. Mana kembalikan" Nadine mencoba mengambil amplop putih itu, namun Gilang Malah sengaja menaikkan amplop itu hingga ke atas kepalanya, membuat Nadine tak bisa menjangkaunya.
Wajah Gilang menatap Nadine penuh selidik. Dengan tanpa mengalihkan tatapan nya, Gilang membuka amplop putih itu.
Nadine lemas rasanya melihat Gilang membaca amplop hasil usg miliknya itu.
"Kamu hamil?" Tanya Gilang tanpa menatap Nadine, Gilang masih fokus membaca hasil usg itu.
"Mana kembalikan" Nadine berhasil merampas barang miliknya itu.
"Kamu hamil nad, sudah berapa bulan? Kenapa kalian tidak menikah?" Tanya Gilang heran.
Nadine menatap Gilang tajam.
"Jangan coba-coba kasih tahu Dony" jawab Nadine dengan nada tinggi.
Gilang semakin kaget dan heran dengan sahabatnya itu.
"Kamu gila, Dony nggak tahu kamu hamil?"
"Ssstt.. Diam. Jangan ikut campur urusanku lang" Nadine berniat pergi, namun tangannya di cekal oleh Gilang.
"Hey.. Mau kemana? Kau harus kasih tahu Dony bodoh"
"Iya aku bodoh, aku bodoh karena tidur dengan lelaki yang nggak aku cinta. Aku bodoh karena di permainan oleh mamamu, Aku bodoh karena terus jatuh cinta pada sahabatku sendiri, aku memang bodoh!!!" Nadine berteriak sambil menangis.
Sedangkan Gilang ia masih mencerna kata-kata Nadine itu.
"Maksud kamu apa Nad?" Gilang memegang kedua lengan Nadine. Ia mencoba menenangkan Nadine yang masih menangis itu.
"Nad, maksud kamu mama mempermainkanmu apa?"
Nadine menggeleng, ia bingung apa harus jujur pada Gilang. Gadis itu mengusap kasar air matanya.
"Aku pacaran sama Dony karena tante Sinta" Jawabnya pelan.
Gilang mengernyit, ia semakin bingung tak mengerti.
Gilang melebarkan matanya mendengar perkataan Nadine.
"Kamu gila!!" teriaknya.
"Ya aku gila, aku gila karena kamu. Kamu enggak pernah menganggap aku ada" teriaknya. Nadine sudah masa bodoh, ia tidak peduli kali ini. Ia benar-benar mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam dalam hati dengan emosi.
"Nad, jadi selama ini kamu beneran suka sama aku?" Tanya Gilang tak percaya. Dulu waktu Kimy cemburu pada Nadine, bahkan sering bertengkar karena wanita itu, Gilang selalu tak percaya, bahkan Septian juga mengingatkanya tapi ia tetap tak mempercayai asistenya itu.
"Nad!!" Gilang sungguh tak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar bingung dengan segala kerumitan yang di hadapinya.
Nadine menatap Gilang yang terlihat frustasi.
"Kamu tahu itu nggak mungkin kan?" lanjut Gilang meyakinkan Nadine yang terlihat terluka.
"Aku nggak--"
"Aku tahu.. Aku tahu kamu nggak cinta sama aku. Kamu hanya cinta sama Kimy, bahkan saat kamu di campakkan pun kamu masih setia menunggunya. Kamu bingung dengan perasaanmu kan? Sama.. Seperti itu juga aku, aku nggak mau menanggung perasaan ini Lang, aku sakit. Tapi aku nggak tahu caranya gimana ngilangin perasaan ini" Nadine berbicara dengan air mata berderai membuat Gilang merasa bersalah.
Gilang membuang nafasnya kasar, kemudian ia mendekat dan membawa Nadine ke dalam pelukannya.
"Maaf in aku Nad.. Maafin mamaku. Kamu berhak bahagia Nadine. Tolong jangan nangis" Kata Gilang menenangkan Nadine.
**
Gilang memarkir mobilnya di halaman rumahnya. Ia menyipitkan matanya ketika melihat di situ juga ada mobil Dony.
"Sedang apa dia di sini malam-malam begini?" gerutunya.
Gilang masuk ke rumah dengan gontai, rasanya sudah tak ada semangat untuk hidup lagi kalau mengingat penyakitnya. Ia masuk ke rumah, melihat Dony dan Kimy sedang duduk di ruang tamu.
"Lang, kamu dari mana aja?" Kimy berjalan menghampiri Gilang yang masih berdiri di ambang pintu. Ia meneliti penampilan Gilang yang seperti orang kelelahan.
"Masuk anginmu belum sembuh?" Tanya Kimy berniat menyentuh dahi Gilang, namun sepertinya lelaki itu menghindar, Gilang sedikit menoleh ke lain arah menjauhkan kepalanya dari jangkauan Kimy.
Kimy mengernyit karena menyadari sikap Gilang itu.
"Kamu sudah makan?"
"Aku capek Kim, aku mau langsung ke kamar" katanya lalu meninggalkan Kimy yang masih cengo.
Gilang pun berlalu dari situ tanpa menyapa Dony, menoleh pun tidak. Gilang sedang malas berbasa-basi.
__ADS_1
"Dia kenapa sih" gerutu Kimy sambil kembali duduk ke tempatnya.
"Mungkin dia marah karena aku di sini" jawab Dony "Oh ya kau bilang, Gilang sudah tahu semuanya?"
Kimy mengangguk.
"Mungkin dia masih shock" seru Dony.
Sedangkan di kamarnya, Gilang merebahkan tubuhnya yang terlihat letih dari biasanya. Banyak sekali yang di pikirkan lelaki itu.
"Apa Kimy akan sedih juga kalau nanti aku mati" katanya pelan.
Gilang menutup matanya, jujur setelah bertemu dengan dokter hari ini ada perasaan takut dalam dirinya. Ia takut akan mati secepat itu, padahal baru sebentar ia bersama dengan Kimy. Lalu siapa yang akan menjaga Kimy dan anaknya kalau dia pergi, padahal dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan keduanya.
**
"Apa maksudmu Ted?" Tanya Daniel pada Teddy.
"Kau tanyakan saja pada istrimu, dia tahu betul yang aku bicarakan"
Air mata Sarah sudah menggenang di pelupuk mata.
"Ted, aku benar-benar tidak ikut campur. Aku bersumpah.." Kata Sarah.
Teddy tersenyum meremehkan mendengar sumpah Sarah itu.
"Lalu kalau kau tahu, kenapa kau tidak mencegah mereka, atau setidaknya kau bisa bicara kepadaku atau suamimu Sarah. Kau sengaja kan melakukan itu agar harta anakku jatuh ke tangan putrimu" tuduh Teddy.
"Teddy!!" teriak Daniel.
"Jaga ucapanmu" lanjutnya.
"Pa" Sarah menggenggam tangan suaminya, agar tenang.
"Apa kau bisa tenang kalau anakmu mati karena ulah mereka?" teriak Teddy.
Daniel mengabaikan perkataan Teddy, ia menoleh pada sarah istrinya.
"Sayang, katakan sejujurnya padaku. Apa yang kamu sembunyikan Sarah" bujuk Daniel pada istrinya.
"Aku janji tidak akan marah padamu sayang"
"Ak-aku tidak tahu apa-apa pa.. Mereka yang merencanakan bukan aku"
Daniel menggenggam tangan istrinya "Katakan jangan takut"
"Ro-Ronald dan Sinta merencanakan kecelakaan Tristan"
Daniel melebarkan matanya mendengar kalimat Sarah itu. Daniel sama sekali tak mengerti apa yang terjadi di sini. Dia seperti orang bodoh saat ini.
"Apa yang terjadi Sarah, kenapa bisa mereka melakukan itu. Kamu tahu Tristan adalah putraku. Kamu tahu betul bagaimana aku menyayangi anak itu. Kamu tahu Kimy mencintai Tristan. Kamu sadar Sarah?"
Sarah menangis histeris mendengar perkataan Daniel yang menyudutkanya itu.
"Apa Kimy tahu?"
"Putrimu sudah tahu" sela Teddy.
"Aku akan segera mengirimkan pengacara. Kimy dan Gilang akan bercerai"
Deg
Sarah dan Daniel sama-sama terkejut mendengar perkataan Teddy itu.
"Ted, apa yang kau lakukan? Mereka baru saja menikah" Kata Daniel.
"Kimy lagi hamil, tolong jangan ceraikan mereka" Kata Sarah sambil menangis.
"Hah.. Kalian bisa bicara begitu. Kalian belum merasakan kehilangan seorang anak" hardik Teddy.
"Kimy mengandung cucumu Teddy, bagaimanapun dia anak Tristan. Kau sadar itu" Kata Daniel dengan lantang.
"Baiklah.. coba kau urus dulu keponakan dan istrimu, apa kau bisa menghukum mereka"
Sarah mengernyit.
"Apa yang kau inginkan?"
"Tanyakan pada suamimu, bagaimana cara dia menghukumu dan Ronald. Hendra ayo kita pergi dari sini" hendra pun mengikuti apa kata Teddy, ia segera mendorong kursi roda itu keluar dari rumah mewah itu.
Sarah menangis sejadi-jadinya.
"Aku kecewa padamu" Kata Daniel lalu pergi meninggalkan Sarah.
"Paaa" Sarah berteriak memanggil suaminya yang meninggalkan rumah. Wanita itu sudah tak berbentuk lagi. Penampilannya sangat kacau sekali malam itu.
**
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
__ADS_1
Selamat membaca
❤️❤️❤️❤️