
“Sab, ada hubungan apa kamu sama abang?” Pertanyaan yang cukup membuat Sabrina tremor.
“Hah, apa sih maksud kamu Zane?” Sabrina pura-pura sedang sibuk mengunyah makananya padahal ia sangat kaget dengan pertanyaan Zane itu. Untung saja kantin sekolah sedang sepi dan teman-teman Sabrina sedang memesan makanan.
“Halah nggak usah pura-pura bego deh, semalam kalian ngapain di kamar sampai hampir pagi gitu”
Deg
Sabrina menatap Zane tajam “Tutup mulutmu bodoh, nanti ada yang denger di kira aku ngapain”
“Hilih kalian pacaran kan?” Seru Zane dengan tampang meledek.
“Gila kali ya, dia kan abang kita, masa aku pacaran sama kakak ku sendiri, jangan ngadi-ngadi deh, kalau papa dan mommy denger gimana”
“Coba jelaskan hubungan kalian seperti apa?” Tantang Zane.
“Abang udah jadian sama kak Eve” kata Sabrina tak mau kalah.
“Hah?!!”
“Hihh.. dasar, kamu aja yang ketinggalan berita, abang sama kak Eve udah pacaran. Semalam abang emang ke kamarku tapi hanya curhat tentang hubunganya dengan Kak ve”
Zane mengernyitkan alisnya.
“Tapi kalian pelukan dan bang Jeff juga cium kamu”
Sabrina membungkam mulut Zane yang asal nyeblak di tempat umum itu “Diem bodoh, nanti ada yang denger”
Zane membuka paksa tangan sabrina yang membungkam mulutnya “Lalu itu apa?”
“Bang Jeff hanya terima kasih, puas”
Zane diam, rasanya ada yang nggak beres, percuma juga menanyai Sabrina saat ini, Zane akan cari bukti sendiri.
“Oke. Terserahlah. Tapi kalian harus hati-hati, aku memata-matai kalian berdua” seru Zane lalu meninggalkan Sabrina dengan segala ketakutannya, tapi gadis itu pintar menutupi agar Zane tidak curiga.
Setelah kepergian Zane, Sabrina segera menelpon Jeff “Bang Jeeeff…” rengek Sabrina.
**
Setelah pulang sekolah, Sabrina tidak langsung pulang melainkan ia pergi ke apartemen Jeff, mereka janjian di sana.
Sabrina masuk ke unit apartemen Jeff, ia masih ragu dan takut, apalagi ia masih memakai seragam sekolah. Tapi beberapa penjaga apartemen itu malah seakan mempersilahkan Sabrina dan membimbing gadis itu menuju lantai di mana unit apartemen Jeff berada.
Dengan sedikit ragu Sabrina memencet pin apartemen itu, sesuai arahan Jeff tentunya dan terbukalah pintu itu.
Sabrina masuk ke dalam, belum ada Jeff masih sepi. Gadis itu pun berfikir untuk melihat-lihat setiap ruangan yang ada. Apartemen itu cukup mewah dengan hanya ada satu kamar utama yang terbilang sangat besar, Sabrina pun mencoba membuka pintu kamar itu dan terbuka.
Mata Sabrina terbuka sangat lebar, ketika pintu itu terbuka, pasalnya di atas ranjang king size itu ada lukisan dirinya yang begitu besar terbingkai apik.
“Bang Jeff” katanya pelan, Sabrina sangat heran apakah sedalam itu Jeff mencintainya, sejak kapan, kenapa ia tidak tahu sama sekali, apa dirinya sangat bodoh sampai-sampai tidak menyadari perasaan abangnya.
Nit nit nit
Bunyi tombol pintu apartement terdengar, Sabrina pun balik badan dan menutup lagi pintu kamar itu.
Di balik pintu, Jeff tersenyum melihat layar hp nya.
Ceklek
Sabrina melihat abangnya yang tampan dengan stelan baju kerja masuk dengan senyum menawan, lelaki itu merentangkan kedua tanganya.
__ADS_1
“Apa sih” seru Sabrina dengan raut malu, walaupun demikian gadis itu tetap masuk ke dalam pelukan Jeff.
Jeff memeluk gadisnya, mencium pucuk kepala Sabrina yang wangi.
“Kenapa mau ketemu abang, kamu kangen abang?” Tanya Jeff tanpa melepas pelukannya.
“Apa sihh” Sab melepas pelukanya, ia mendongak menatap wajah Jeff yang memang lebih tinggi darinya.
“Ada yang lebih penting dari pada itu” kata Sab sambil menarik tangan Jeff dan mengajaknya duduk di sofa. Jeff hanya menurut saja.
“Ada apa?” Tanya Jeff selelah mereka duduk.
Sabrina menghadap Jeff “Zane tahu soal semalam bang”
“Lalu?” Jawab Jeff santai padahal Sab lagi ketar-ketir.
“Kok lalu, Zane memergoki kita semalam bang. Aku takut dia lapor sama Mommy dan Papa” kata Sab dengan menggebu.
Jeff malah tersenyum tipis melihat kepanikan gadisnya itu.
“Abang serius ah” Sab menepuk paha Jeff dengan kesal.
“Sabrina!”
“Apa?”
“Jangan mancing abang sayang” seru Jeff dengan lembut membuat Sabrina ikut gemas, entah sejak kapan Sabrina jadi gemas terhadap Jeff kalau lelaki itu bermuka seperti itu (muka mupeng, imut, tampan) di jadikan satu.
“Mancing apa, aku kan cuma bilang kalau Zane—“
Cup
Satu kecupan berhasil Jeff curi dari bibir manis Sabrina.
“Abang kan bilang percaya sama abang, semua akan baik-baik aja sayang”
“Nggak bisa, abang tahu kan Zane itu comber, dia pasti bakal cerita ke orang-orang” seru Sab menggebu-gebu.
“Tenang sayang, tarik nafas, pelan-pelan ngomongnya”
“Nggak bisa banggg!!”
Jeff membuang nafas, mulai saat ini ia harus terbiasa mengahadapi kekasih kecilnya yang masih labil.
“Oke. Lalu abang harus gimana menurutmu?” Tanya Jeff dengan Pasrah.
Jari-jari tangan mereka saling bertautan, sesekali Jeff mengelusnya lembut, Jeff mendengarkan Sabrina yang berbicara secara menggebu-gebu.
“Aku bilang ke Zane kalau abang udah jadian dengan kak Eve”
“Uhuuukkkk” Jeff tersedak mendengar ucapan Sabrina.
“Bang” Sabrina malah menepuk-nepuk punggung Jeff.
“Sabrina!!” Suara Jeff terdengar sedikit meninggi.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu sayang?” Tanya Jeff tidak percaya dengan apa yang Sabrina lakukan itu.
“Yang penting kita selamat bang”
Jeff memijat pelipisnya.
__ADS_1
“Pokoknya kali ini abang harus nurut aku” seru Sab sambil menggoyang-goyangkan tangan Jeff.
“Abang” seru Sab meminta jawaban Jeff.
“Iya terserahlah” jawab Jeff pasrah.
“Abang harus akui ke semua orang kalau sudah jadian sama kak Eve”
“Sab!!!”
“Kenapa, abang nggak bisa berkorban sedikit aja. Kalau hubungan kita ketahuan papa dan mommy aku nggak mau ketemu abang lagi” kata Sab dengan serius.
“Sab!!” Sabrina diam, ia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melipat tangannya di dada.
“Ini akan rumit sayang” kata Jeff lembut sambil meraih tangan gadis itu, namun di tepis oleh Sabrina.
“Kalau abang nggak mau, kita pisah saja” seru Sabrina lagi sambil membuang muka.
“Sabrina!!” Bentak Jeff.
Gadis itu tiba-tiba menangis, entah hatinya sakit sekali padahal hanya mengucapkan kata pisah, bagaimana kalau mereka beneran berpisah. Apa sedalam itu perasaan mereka.
Jeff berlutut di depan Sabrina yang masih membuang muka, lelaki itu meraih tangan Sab dan mengenggamnya.
”Abang cinta kamu Sab, abang nggak mau pisah darimu” mendengar kalimat itu Sabrina pun menoleh, melihat wajah Jeff yang menyedihkan duduk bersimpuh di depannya, Sabrina sungguh tak tega.
”Sabrina kamu nangis, maaf abang buat kamu sedih. Abang cuma minta kamu percaya sama abang, abang akan selesain masalah Zane”
“Maksud abang gimana, abang mau mengakui hubungan kita” kata Sab terbata bercampur air mata.
“Sab!!”
Sabrina tiba-tiba berdiri, berniat meninggalkan Jeff namun belum sempat melangkah tubuhnya di dekap oleh Jeff dari belakang.
“Sab, jangan pergi”
Sabrina tak bergeming, ia bahkan membuka dekapan Jeff dengan paksa, namun percuma kekuatanya tak sebanding.
“Lepas bang”
“Nggak”
“Maunya abang apa sih, abang mau aku selalu ikutin abang tapi abang sendiri egois”
“Bukan egosi sayang, abang takut kamu akan sakit kalau abang ikutin rencanmu itu”
“Abang egois!!” Tubuh Sabrina bergetar karena tangisanya semakin kencang, gadis itu terlalu takut kalau papa dan mommy nya tahu, jadi memang pilihanya cuma itu, pikirnya.
“Sab berhenti menangis” seru Jeff tanpa melepas dekapanya.
Jeff membalik tubuh adiknya yang bergetar itu, di lihatnya wajah cantik yang berderai air mata itu.
“Kita berjuang bersama ya?”
Sabrina tak menjawab, air matanya malah semakin kencang.
“Baiklah abang ikutin maumu tapi dengan syarat”
Sabrina tak menjawab, tapi Jeff tahu kalau gadis itu sedang menunggunya mengatakan syarat yang ia mau.
“Kita nikah secepatnya”
__ADS_1
Bersambung……