BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Galau


__ADS_3

Bruuukkk


Lexa menjatuhkan tas nya saat melihat kedua sejoli sedang bercumbu mesra. Wanita itu sedikit terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Kimy segera mendorong dada Tristan saat merasa ada yang menyaksikan pergumulan mereka.


"Sory, aku hanya akan Menaruh barang-barang ini.." kata lexa gagap. Berniat meninggalkan mereka.


"Tunggu.." Kata Tristan.


Lexa berhenti seketika, menatap Tristan dengan takut. Pandangan mata Tristan tidak pernah berubah. Terlihat menakutkan bagi lexa.


"Kenapa kau membiarkan kimy bertelanjang di depan semua orang seperti ini.."


"Hah.." lexa kaget.


"Hey, kau tidak berhak marah pada lexa. Dia asistenku.." bentak Kimy, membela lexa.


"Aku berhak marah pada siapapun yang melanggar perintah ku sayang.."


"Malanggar perintahmu apa?.."


"Dia melanggar perintahku. Harusnya dia tidak membiarkan mu begini.."


"Kau berhubungan dengan lexa selama ini?.." Tanya Kimy


"Ya tentu saja.." jawab Tristan santai.


"kak.."


"Kimy, sory aku hanya.."


"Sial*n, jadi kalian main di belakangku. Kamu menghianati ku lexa.." Kata Kimy kasar sambil berlalu berniat meninggalkan ruangan itu.


"Kimy, tolong ini hanya salah paham.." lexa mendekat pada artisnya itu.


Tristan hanya diam menonton perdebatan antara artis dan asistennya itu.


"Aku pikir kamu satu-satunya orang yang aku percaya lexa.."


"Kimy maafkan aku, tuan Tristan sangat peduli padamu Kim.."


"Hah.. Tidak bisa di percaya. Kamu berpihak padanya sekarang.."


"Kim akhiri semua ini, aku tahu kamu mencintainya. Sudahlah akhiri perdebatan kalian dan berbaikanlah.." mohon lexa pada Kimy.


"Brengs*k.. Kamu pikir kamu siapa bisa mengaturku. Aku bisa memecatmu sekarang juga lexa.."

__ADS_1


"Terserah Kim. Aku sudah muak.." Lexa membalas perkataan Kimy dan berlalu meninggalkan tempat itu.


"Oh my gad, si*l.." umpat Kimy sepeninggalan lexa. Kimy masih berdecak pinggang, tidak percaya lexa bisa berkata seperti itu.


"Sudah puas marah-marahnya?.." suara Tristan terdengar.


Mungkin Kimy sedikit lupa kalau di situ masih ada Tristan yang menyaksikan perdebatanya dengan lexa.


"Kau memang sial*n Tristan. Bisa-bisa nya kau pengaruhi lexa untuk berpihak padamu.." teriak Kimy.


Tristan berjalan mendekati Kimy, ia memegang dagu Kimy dan mencium bibir Kimy secepat kilat "Aku tidak suka bibir ini berkata kasar padaku.." Kimy hanya diam dengan perlakuan Tristan itu.


"Tenanglah sayang, Kamu terlalu berfikir dengan keras. Dia sangat menyayangimu. Ya, wanita itu menyayangimu. Kamu harus minta maaf padanya nanti.."


"Sejak kapan? Sejak kapan kau memata-mataiku.." suara Kimy melemah, air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya.


" Hey sayang, kenapa menangis.." Tristan menyingkirkan anak rambut Kimy. Membelai pipi yang terdapat air mata itu. Menatap bola mata Kimy dengan penuh cinta.


"Sejak kapan?.."


" Apa harus aku jawab?.."


"Tristan!!.." bentak Kimy.


"Sejak kamu meninggalkan sepucuk surat untukku. Ya, sejak kamu meninggalkan aku. Aku memang tak berada di sisimu. Tapi aku tahu apapun yang kamu lakukan.."


"Sssttt.." telunjuk Tristan berada di bibir Kimy. Membuat kimy terdiam seketika.


"Sudah cukup sayang. Sudah cukup kamu berpetualangan. Saatnya kamu pulang.."


"Aku tidak akan pulang.." Kimy berbalik memunggungi Tristan. Namun dengan cepat Tristan merengkuh tubuh Kimy dari belakang. Ia memeluk erat Kimy. Kimy pun memejamkan matanya.


"Tristan ini salah.."


"Tidak ada salah sayang, kita pulang.."


Kimy menggeleng "Aku tidak akan pulang.."


Tristan mengetatkan rahangnya. Untuk sekian kalinya Kimy menolaknya.


"Kimy.."


" Tristan tolong.."


Tristan membalik tubuh Kimy menghadapnya " Apa yang membuatmu lari dariku? Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan. Bahkan aku harus berdamai sekali lagi dengan orang yang paling aku benci.." sorot mata Tristan masih begitu menyimpan luka, Kimy bisa merasakan itu.


" Kau menyesalinya?.."

__ADS_1


Perlahan Tristan melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang kimy." Aku tidak percaya kamu menanyakan ini.." Tristan sedikit kecewa.


" Tristan kau tidak mengerti.."


" Apa yang tidak aku mengerti hmm. Bukankah Sarah, wanita itu sudah kembali.."


" Dia mamiku Tristan.."


" Aku tahu.."


" Kau menculiknya.."


" Kimy dia sudah kembali, dia sudah bahagia bersama suaminya. Dia masih hidup.."Tristan mengetatkan rahangnya.


" Suaminya????.. "Kimy tertawa sinis." Kudengar kalian begitu akrab.."


" Sudah cukup sayang.."


Kimy mendekati Tristan, ia menatap mata tajam itu." Apa kau tulus sama papi. Aku dengar dia begitu percaya padamu. Jangan lukai papi dengan kebohonganmu.."


" Kamu meragukanku?.."


" Kau tahu apa yang aku maksud Tristan. Kita berdua tahu, aku menyimpanya karena aku tidak mau melihat papi kecewa dengan apa yang kau lakukan.." Tristan terdiam memejamkan matanya sebentar. Katakan dia memang melakukan kesalahan satu tahun lalu karena telah membunuh Sinta tante Kimy. Tapi menurut Tristan itu sebanding dengan nyawa mamanya. Tapi bagaimana kalau sampai Daniel, sarah, Ronald dan semuanya tahu kalau Tristanlah pelakunya. Mereka pasti akan membencinya dan menjauhkan Kimy darinya, Dia tidak sanggup kehilangan Kimy.


" Tristan kau tahu aku ingin hubungan yang normal.."


"Apa hubungan kita tidak normal?.."


" Hubungan kita di mulai dari kesalahan.."


" Aku tidak peduli dimulai dari mana, yang terpenting aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Sudah cukup.."


Kimy hanya diam, ia kehabisan kata. Memang benar apa yang di katakan lelaki itu. Kimy juga jatuh cinta padanya, apa dia harus peduli dari mana hubungan itu di mulai. Sudah satu tahun dia mencoba melupakan Tristan tetapi kenyataanya nama Tristan sudah teraptri indah di hatinya. Lalu mau lari kemana lagi dia kali ini. Entahlah, Kimy sendiri juga bingung. Ada hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada rahasia yang masih ia simpan sampai saat ini. Itulah yang membuatnya ragu untuk melanjutkan lagi hubungannya dengan Tristan. Kimy akan merasa sangat berdosa terhadap tantenya.


" Tristan.." ucap Kimy lirih. Seketika Tristan mendekat pada Kimy, menggelengkan kepalanya pelan seakan memberi isyarat jangan bicara.


" Sekali ini saja tolong jangan pikirkan yang lain kim. Tolong Pikirkan perasaan kita berdua. Kita begitu tersiksa saling berjauhan, aku sudah tidak sanggup menanggungnya.." ucap Tristan pelan.


" Tapi aku tidak bisa membohongi naluri bersalahku pada tante, Om, kak Ronald, thomas. Aku tidak bisa Tristan. Mungkin aku bisa menyembunyikan fakta ini tapi hati kecilku. Setiap kali aku mencoba, hati kecilku seakan berteriak. Kau tidak akan pernah mengerti. Itu akan menyiksaku seumur hidup.."


" Sayang bukan kamu yang tersiksa tapi akulah yang bertanggung jawab atas semuanya. Aku. Kalau kamu mau aku akan mengakui semuanya pada Ronald.."


" Cckk, setelah kau dan semua anak buahmu melenyapkan semua barang bukti lalu kau akan mengakuinya. Hah.. Jangan gila Tristan, jangan gila. Harus berapa banyak lagi orang yang akan kau sakiti. Papi, mami, kak Ronald dan semuanya.."


" Lalu aku harus bagaimana kim. Katakan bagaimana?.." Tristan terlihat frustasi." Kamu tidak tahu rasanya menatap mata orang-orang yang sudah membuat mamaku bunuh diri. Menatap lurus ke mata mereka. Berbicara seolah-oalah tidak terjadi apapun. Kamu tidak tahu rasanya.." katanya semakin lemah.


Kimy diam, dia mencerna semua kata yang ia dengar. Katakan ia egois saat ini, tidak memikirkan apa yang Tristan rasakan. Ia dia mengaku sangat egois saat ini. Tapi harus bagaimana lagi, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Menjauh dari lelaki yang di cintainya itu adalah jalan ninja yang pas menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2