BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
TAMAT


__ADS_3

Flash back 5 tahun lalu


“Suster saya nggak mau di operasi, bilang ke dokter Bambang pertemukan aku dengan orang yang mendonorkan hati itu, kalau tidak batalkan operasinya” kata Gilang pada suster yang ada di ruang operasi itu.


“Tapi kata dokter keluarga bapak sudah setuju dan juga sudah tanda tangan pak”


“Saya tidak peduli, ini tubuh saya mereka nggak berhak atas tubuh saya. Saya akan menuntut rumah sakit ini kalau kalian tetap melakukan operasi”


Sreeeekkk


Tiba-tiba saja korden yang tadinya menjadi pengyekat ranjang gilang dan ranjang sebelahnya terbuka, dengan kaget Gilang dan suster itu menoleh bersamaan. Bagai mimpi, Gilang melihat Tristan berbaring di ranjang itu. Gilang tak percaya itu Tristan, ia mengucek matanya beberapa kali, ia pikir itu halusinasinya saja karena obat yang diberikan suster di infusnya.


“Tristan?”


Ia mengucek lagi matanya.


“Apa aku mimpi” Gilang melihat suster yang berdiri di sampingnya dan kembali melihat Tristan yang juga sedang berbaring dan melihat ke arahnya.


“Suster, apa aku mimpi. Dia—“


Gilang berniat bangkit dari tidurnya “Diam di tempatmu Gilang”


Suara berat Tristan membuat niat Gilang urung, Gilang benar-benar cengo dan nurut saja.


“Adik, gimana kabarmu?” Senyum apatis yang sering Tristan lakukan membuat Gilang sadar kalau ini bukan mimpi.


“Tris—Tristan” Gilang gagap dan tak tahu harus berkata apa.


“Aku yang akan mendonorkan hati untukmu adik” ucap Tristan.


Seketika Gilang pun langsung duduk, ia berniat mencabut selang infus yang ada di tanganya.


“Tetap di tempatmu dan diam di situ, atau aku keluar dari ruangan ini dan membuat tunanganku yang cantik di luar sana pingsan ketika melihatku” Tristan terkekeh mendengar ucapanya sendiri.


Gilang pun urung mencabut selang infusnya, ia menggerang kesal dan membenarkan posisi duduknya menghadap Tristan yang juga sedang berusaha duduk, tangan Tristan juga di pasang infus sama seperti Gilang dan di sisi lelaki itu ada Laura yang membantu Tristan untuk duduk.


“Wanita itu, dia masih hidup” gumam Gilang yang tentu saja di dengar oleh Tristan dan Laura.


“Suster tinggalkan kami sebentar, pastikan ke dokter Bambang operasinya tetap berjalan sesuai jadwal” kata Tristan pada suster itu.


“ Baik pak” jawab suster lalu meninggalkan ruangan itu.


“Kau masih hidup?” Tanya Gilang dengan wajah terheran.


Tristan mengangguk “Seperti yang kau lihat”


“Bajingan kenapa kau tidak temui Kimy. Dia hampir gila karena kepergianmu”


Tristan terkekeh “Bukankah kau senang, dengan aku tidak kembali, akhirnya kalian menikah”


“Heh” Gilang membuang muka “Itu yang kau pikirkan?”


“Sekarang katakan saja apa maumu, kenapa kau donorkan hati mu buat aku?” Tanya Gilang lagi.


“Aku satu-satunya yang bisa, kau lupa kita sedarah”


“Apa yang kau inginkan? Kau ingin Kimy kembali padamu?”

__ADS_1


Tristan terkekeh lagi “Kalau aku mau, aku langsung temui saja dia, kenapa harus repot-repot donor hati”


Gilang terdiam, benar apa yang di katakan Tristan, kalau laki-laki itu mau kenapa dia tidak menemui Kimy dan mengatakan kalau dia masih hidup, bukankah bukan hal yang sulit untuk membuat Kimy kembali padanya.


“Kau benar” jawab Gilang dengan suara rendah.


“Lalu apa yang kau mau?”


“Tidak ada, aku hanya ingin kau terus menjaga Kimy dan juga Jeff anakku dengan baik”


Gilang terkejut, ternyata Tristan tahu kalau Jeff anaknya.


“Kau tahu Jeff—“


“Ya aku tahu dia darah dagingku” jawab Tristan dengan suara rendah.


“Bajingan” umpat Gilang.


Tristan justru terkekeh.


Ceklek


Pintu terbuka dan dokter Bambang muncul di ambang pintu. Dokter Bambang juga sedikit terkejut melihat pertemuan saudara kandung itu.


“Wah, selamat pak Gilang akhirnya bertemu dengan pak Tristan”


“Ck, kenapa dokter sembuyikan semua itu. Aku tidak sudi menerima donor darinya” ucap Gilang membuat Tristan kembali terkekeh.


“Maaf pak Gilang, ini adalah masalah keluarga kalian berdua. Saya tidak berhak ikut campur” jawab dokter itu sambil mendekat pada keduanya.


“Apa sudah siap operasi?”


“Tidak”


Ucap Gilang dan Tristan bersamaan.


“Dokter saya tidak mau operasi?”


“Kenapa pak Gilang? anda tahu kondisi anda bagaimana. Bu Kimy sedang hamil”


Deg


Tristan sedikit terkejut mendengar ucapan dokter Bambang.


“Jadi Kimy hamil dan kau berniat meninggalkannya?” Tanya Tristan lagi dengan suara sedikit meninggi.


“Aku tetap akan pergi. Operasi tak bisa banyak membantu” jawab Gilang terdengar pilu.


“Pak Gilang kita tetap harus berusaha, anda tidak boleh menyerah”


“Berapa lama Dok, kalau saya melakukan operasi itu berapa lama umur saya bisa bertahan?”


Dokter tak menjawab.


“Kalau anda tak bisa jawab, saya tidak akan melakukan operasi itu”


“Minimal setahun dan paling lama lima tahun pak” jawab dokter bambang kemudian.

__ADS_1


Gilang sejenak diam.


“Apa dia istrimu?” Tanya Gilang melihat Laura dengan perutnya yang membuncit.


“Bukan urusanmu!” Jawab Tristan.


Laura mengangguk membenarkan ucapan Tristan, kalau itu bukan urusan Gilang.


“Aku mau di operasi dengan satu syarat” ucap Gilang terdengar lantang.


Seketika semua orang di situ terdiam, menunggu ucapan Gilang selanjutnya.


“Aku akan menerima donor darinya asalkan setelah aku pergi, kau harus menikahi Kimy”


Tristan, Laura dan Dokter bambang tentu saja terkejut mendengar syarat dari Gilang itu.


“Kau gila? Aku bahkan tidak berniat menemuinya lagi” bantah Tristan, namun Laura tetap diam.


“Kenapa, apa karena wanita itu hamil anakmu?”


Tristan dan Laura tak menjawab, mereka malah saling pandang.


“Ya sudah aku tidak mau operasi, lebih baik aku mati dengan tenang dari pada menerima hati dari seorang pecundang sepertimu”


“Tristan akan menikahi Kimy tapi dengan satu syarat!” Ucap Laura dengan suara sedikit bergetar.


Masa kini


“Sayang udah nangisnya, kamu lupa ini malam pertama kita hm” Tristan membelai punggung Kimy yang saat ini menangis sambil tengkurap.


“Kamu kira setelah baca surat dari Gilang aku masih bisa mood malem pertama”


“Sial, bocah itu emang sengaja kasih kado buat bikin mood mu hancur saat malem pertama kita” Tristan membanting tubuhnya menjadi terlentang di sebelah Kimy.


“Kamu kok jahat sih” Kimy berbalik dan memukul dada Tristan.


“Aww sayang, kamu kan tahu ini sakit” Tristan memegang dadanya sambil meringis kesakitan.


“Hah maaf maaf yank” Kimy mengelus-elus dada suaminya kemudian ia bersandar di dada itu.


Jeduk jeduk jeduk


“Kamu berdebar yank?” tanya Kimy sambil memejamkan mata mendengar debaran jantung suaminya.


“hm aku berdebar setiap berdekatan denganmu” jawab Tristan sambil memejamkan mata pula.


“Aku masih nggak percaya kalau kamu ada di sini” ucap Kimy sambil memeluk erat perut Tristan.


“Aku lebih nggak percaya kalau Kimy sekarang adalah istriku” Tristan mengurai pelukan Kimy, ia melihat kebawah untuk sekedar menatap wajah istrinya.


“I love you Kimy, terima kasih sudah memberiku kehidupan yang sangat indah. Tadinya ku pikir, aku mati ditempat, ternyata tuhan masih memberiku kesempatan untuk bersamamu sayang” Tristan mengecup kening Kimy pelan.


Kimy menutup mata merasakan betapa tulus perasaan suaminya itu dan tentu saja cinta nya sendiri yang begitu besar untuk Tristan.


“I love you too Tristan, suamiku” balasnya lirih.


Kecupan Tristan beralih ke pipi kanan dan kiri Kimy, lalu kedua mata Kimy yang tertutup, selanjutnya turun lagi pada bibir yang selalu membuat Tristan candu.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tenggelam dalam gelora kerinduan yang teramat dalam, bahkan seakan semua itu tak cukup untuk di ungkapkan, sampai pagi mereka saling melepaskan kerinduan.


————————-TAMAT———————————


__ADS_2