BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Maaf


__ADS_3

Gilang sampai rumahnya pukul 21.00, seminggu terakhir lelaki itu memang pulang telat untuk menghindari bertemu dengan Kimy. Bukanya ia marah atau bagaimana pada istrinya. Gilang hanya ingin memberi waktu dan ruang untuk kimy, agar istrinya itu bisa berfikir dengan tenang. Karena terakhir kali Kimy bicara padanya dalam kondisi yang sangat marah.


Berbeda dengan yang dipikirkan Kimy. Diamnya Gilang di pikir masih marah padanya. Kimy selalu kepikiran dan tidak tenang saat di kantor karena Gilang belom juga mau bicara padanya. Jujur saja Kimy sedikit gengsi kalau harus memulai duluan. Bukankah dari dulu selalu seperti itu. Saat mereka bertengkar, Gilanglah yang akan meminta maaf dulu.


Gilang menaiki tangga dengan pandangan penuh ke arah pintu kamar Kimy. Apakah istri tercintanya itu sudah tidur. Apakah hari ini dia makan dengan baik. Apakah dia baik-baik saja. Semua pertanyaan-pertanyaan itu seakan berkecambuk jadi satu di otaknya.


Ceklek


Kimy keluar kamar dengan membawa Gelas kosongnya. Seketika tubuh wanita itu terhenti di ambang pintu karena Mendapati Gilang sudah berdiri dipuncak tangga, Gilang sedang menatapnya.


Gilang melihat tangan Kimy memegang Gelas kosong, berarti wanita itu mau mengambil air.


"Masuklah, akan ku ambilkan" katanya pada Kimy.


"Enggak usah Lang, kamu baru pulang pasti capek. Biar aku ambil sendiri" Kata Kimy berjalan mendekatinya.


"Maaf.." Kata Gilang pelan saat Kimy melewatinya.


Tubuh Kimy terhenti dan menoleh pada lelaki itu "Its okey.." ia tersenyum manis sekali.


"Kimy.."


"Ya.."


"Apa kamu membenciku?"


Kimy menggeleng sebagai jawaban.


Gilang melihat perut Kimy yang sedikit mulai menonjol. Walaupun masih tidak begitu nampak kalau di lihat dari kejauhan.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Gilang tanpa mengalihkan pandangannya dari perut Kimy.


"Dia baik-baik aja" Kimy mulai mengelus perutnya dengan senyuman sumringah.


"Sudah berapa bulan, kenapa tidak periksa ke dokter. Kapan periksa, aku akan mengantarmu"


"Besok kak Lexa kesini bawa dokter kandunganku"


Gilang terlihat bahagia mendengarnya, ia mengangguk paham.


Kimy melihat Gilang dengan teliti, lelaki itu masih terlihat tampan walaupun mukanya terlihat capek. Tapi kenapa muka Gilang terlihat pucat, apa lelaki itu sakit.


"Kamu baik-baik aja Lang?" Tanya Kimy memastikan.


"Iya, memangnya kenapa?" Gilang meraba wajah tampannya itu dengan satu tanyanya.


"Ada yang aneh dengan muka ku?" tanyanya sekali lagi, takut kalau mukanya saat ini ada sesuatu yang menempel. Laki-laki itu tidak mau terlihat jelek di mata Kimy tentunya.


"Enggak ada apa-apa Lang. Aku kira kamu sakit, karena kamu terlihat pucat"


"Oh itu.. Iya aku sedikit capek hari ini"


"Ya sudah istirahat, tidur jangan begadang"


"Siap Yan--" Gilang menghentikan ucapanya karena hampir saja keceplosan salah memanggil Kimy.


Kimy terlihat salah tingkah mendengar itu, ia segera menunduk malu.


"Sory Kim" Kata Gilang sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


Kimy tersenyum dan mengangguk.


"Eh tunggu dulu, aku ambilin kamu minum dulu baru aku tidur" Kata Gilang segera balik arah, ia sedikit berlari menuruni tangga untuk mengambilkan air Kimy. Sedangkan Kimy hanya diam menatap lelaki itu di tempatnya.


Dasar keras kepala


**


Hoek.. Hoek.. Hoek..


Nadine mengeluarkan isi perutnya pagi itu. Entah kenapa, padahal dia baru bangun tidur belum makan apapun. Kenapa perutnya sangat mual sekali.


Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya, ia segera berkumur untuk menghilangkan rasa asam dan pahit yang bercampur jadi satu.


"Si*l, aku kenapa sih"


Nadine masih memegangi perutnya dan berjalan keluar kamar mandi.


Langkahnya terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Bulan ini ia belum datang bulan.


"Oh shiit"


Nadine berlari kecil melihat kalender dimana ia selalu menandai tanggal datang bulannya dan benar saja, ternyata ia sudah telat satu minggu.


"Oh tuhan enggak mungkin Nadine, kamu bisa mati kalau itu terjadi" katanya pada diri sendiri.


Nadine begitu panik, apa yang harus dilakukannya sekarang. Bagaimana kalau apa yang di takutkanya beneran terjadi.


"Bodoh, Bodoh, Bodoh.."


"Nadine kamu toloooooolll.." ucapnya sekali lagi menyalahkan diri sendiri yang begitu ceroboh saat itu.


Nadine menggelengkan kepalanya, menolak pikirannya itu.


**


"Kenapa bi?" Tanya Kimy pada bi Ana yang sesekali melihat ke atas, ke arah kamar Gilang.


"Itu nyonya.. Bapak belum turun" Jawabnya ragu-ragu.


"Terus kenapa emangnya bi?" Tanya Kimy heran pada pembantunya itu.


Muka bi Ana terlihat khawatir dan bingung.


"Jam segini biasanya bapak sudah berangkat nyonya. Sebelumnya berangkat pasti bapak ngecek dulu bekal nyonya sesuai jadwal apa enggak"


Kimy mengernyit mendengar perkataan pembantunya itu. Mengecek bekalnya, maksudnya apa. Trus jadwal, jadwal apaan, Kimy semakin bingung.


"Apa bapak sakit ya Nya" Tanya bi Ana masih dengan muka khawatirnya itu. Perhatian sekali pembantu itu.


"Memangnya Gilang selalu nanyain bekal ku bi" Tanya Kimy kepo juga.


"Iya nyonya, bapak selalu takut kalau nggak sesuai sama selera nyonya"


Tunggu-tunggu. Kenapa harus sesuai dengan seleranya. Selama ini makanan yang bi Ana buat enggak ada yang enggak di makan karena selalu enak dan sesuai dengan seleranya. Apa jangan-jangan..


"Bi.. Gilang menyuruh bibi masakin bekal ku?"


"Tidak, itu sudah tugas saya nyonya. Bapak hanya memberi daftar menu setiap hari, untuk makanan nyonya"

__ADS_1


Apaaa!! Jadi selama ini makanan yang ia makan adalah menu yang dibuat oleh Gilang. Pantas saja selalu enak-enak dan Kimy suka semua. Ia sempat heran kenapa bi Ana yang baru bekerja padanya sudah tahu semua makanan kesukaannya. Jadi ini jawabanya.


Kimy melihat atas kearah kamar Gilang. Ia sedikit kesal dengan lelaki itu, Bisa-bisanya melakukan itu. Kimy bahkan tak pernah terpikirkan untuk melakukan itu.


"Gilang juga makan kalau di rumah bi"


"Sekarang sudah nggak pernah nyonya. Bapak tidak pernah makan di rumah"


Kimy tambah kesal mendengar kenyataan itu. Bisa-bisanya lelaki itu memikirkan makanan untuknya tapi tak mempedulikan dirinya sendiri.


Kiny berjalan menaiki tangga, tujuannya kali ini adalah kamar Gilang.


Tok tok


"Gilang, kamu enggak kerja?"


Tok tok


"Ini sudah siang Lang"


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan muka bantal Gilang. Lelaki itu baru saja bangun tidur.


"Kamu enggak.. Astaga Lang hidungmu.." Kimy menutup mulutnya panik. Ia melihat darah keluar dari hidung Gilang.


Gilang mundur selangkah dan menutup hidungnya dengan tangannya.


"Keluar Kim" Gilang hendak menutup pintu namun Kimy keburu masuk kedalam kamar lelaki itu.


"Kim keluar"


"Enggak.." Kimy mendekati Gilang yang masih menutupi hidungnya itu.


"Coba aku lihat" Kimy menyentuh tangan Gilang yang sedang menutup hidungnya itu, namun di tepis oleh Gilang.


"Keluar Kim" Gilang mendongakkan kepalanya, karena merasa cairan yang akan keluar dari hidungnya semakin banyak.


"Aku enggak akan keluar Gilang" jawab Kimy dengan sedikit ngegas.


"Duduk dulu" Kimy mendorong tubuh lelaki itu untuk duduk di tepi ranjang dan Kimy berdiri di depannya. Kimy sedikit menunduk untuk melihat hidung Gilang itu.


"Coba aku lihat" kimy menarik paksa tangan Gilang hingga sebuah lelehan berwarna merah itu keluar begitu saja dari hidung bangir Gilang. Reflek tangan kiri Kimy terulur untuk menahan lelehan itu.


"Kim--"


"Diem dulu" Kimy terlihat serius menahan lelehan berwarna merah itu dari hidung Gilang tanpa merasa jijik sedikitpun. Kimy menoleh kanan kiri, mencari sesuatu untuk menghentikan darah itu keluar.


Tidak ada apapun, bahkan Tisu pun tidak ada. Kimy kehilangan akal rasanya, darah itu tidak mau berhenti.


"Lepas kaosmu" perintah Kimy membuat Gilang melotot padanya.


"Apa yang kamu pikirkan, cepat lepas. Ini darahnya enggak mau berhenti" Gilang dengan cepat segera memasukan kedua lenganya masuk ke dalam kaos itu, lalu ia tarik kaosnya ke atas sampai batas leher. Kimy membantu lelaki itu menarik kaosnya lagi ke atas, hingga kewajahnya menutupi sebagian muka Gilang.


"Diem dulu begini oke.."


Gilang mengangguk sambil menutup matanya, menerima perlakuan manis dari wanita yang di cintainya itu. Diam-diam Gilang tersenyum bahagia. Dia tidak peduli apa yang terjadi dengan dirinya hingga hidungnya berdarah. Yang terpenting Kimy bisa bersikap begini sungguh membuatnya bahagia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2