BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Melihat tanpa menyentuh


__ADS_3

Gilang berdiri di balkon apartemen nya, dia menatap langit yang di penuhi dengan bintang-bintang. Papanya saat ini masih koma di rumah sakit sedangkan dokter, sore tadi mengabarinya kalau perilaku Sinta mamanya semakin menjadi. Sinta bisa menyerang siapa saja yang mendekat, bahkan


susterpun takut untuk berdekatan. Jalan satu-satunya Sinta memang harus dirujuk ke rumah sakit jiwa. Begitu sesak dada Gilang, merasakan masalah yang bertubi-tubi.


Drrtt.. drrttt...


Gilang meraih ponsel yang ada di saku celananya. Terlihat nama Septian di layar ponselnya.


"Hmmm.." Jawabnya. Lelaki itu kemudian berbalik badan, berjalan menuju pintu apartemen nya. Dia membuka kan pintu, ternyata Septian sudah berdiri di sana.


"Kau sedang apa dari tadi aku pencet bel.." serbu Septian seketika saat melihat Gilang. Septian terlihat menyimpan ponselnya lagi di saku celana nya.


Gilang tak menjawab, lelaki itu memilih meninggalkan Septian yang masih berdiri di ambang pintu. Gilang terlihat duduk di sofa menyandarkan tubuhnya.


"Bagaimana keadaan tante?.."


Gilang menghembuskan nafas kasarnya "Mama besok akan di rujuk ke rumah sakit jiwa.." Jawabnya lemah.


Tatapan Septian begitu iba melihat nasib keluarga sahabat sekaligus bos nya itu. Keluarga kaya raya yang terlihat sempurna tapi dalamnya begitu banyak masalah.


"Semua akan baik-baik saja Lang, percaya sama aku. Tante akan lebih aman di sana. Mengenai lelaki bernama Tristan itu.."


Gilang melihat Septian seketika ketika asistennya itu menyebut nama Tristan. Dia baru sadar kalau septian belum mengetahui jika Tristan adalah anak Teddy yang lain.


"Dia terlihat beberapa kali kerumah sakit di mana papamu di rawat, aku curiga dia berniat jahat.." katanya.


Gilang hanya diam mendengarnya. Baguslah semakin sering dia menemui papa, papa akan cepat sembuh.


Gilang tidak tahu kenyataan nya kalau Tristan ke rumah sakit bukan untuk menemui papanya tapi untuk menemui Kimy yang di rawat di rumah sakit itu Juga.


Di rumah sakit Kimy masih diam membisu, Tristan yang dari tadi berada di samping nya itu semakin geram dengan tingkah gadis itu. Bagaimana tidak, Tristan mencoba mengajak nya bicara namun Kimy terus mengabaikan nya. Saat lelaki itu menyuapinya Kimy sama sekali tak mau membuka mulut. Kimy lupa siapa Tristan. Lelaki itu bukan lelaki lembut yang akan memanjakan nya saat dia sakit. Atau akan terus bersikap manis, supaya dia mau bicara padanya.


Kimy lupa kalau Tristan itu lelaki gila yang tak punya hati. Tristan mencengkram mulut Kimy kasar "Buka mulutmu, atau aku akan menyuapimu dengan caraku.." bentaknya tak terbantahkan.

__ADS_1


Badan Kimy bergetar hebat, dia ingin berlari, dia takut lelaki gila itu akan menyakiti nya lagi. Perlahan air mata itu membasahi pipinya.


Tristan mendongakkan wajah Kimy agar menatapnya. Namun Kimy memilih menutup matanya, dia tak sudi melihat lelaki gila itu. Rasa yang dulu pernah ada, rasa nyaman yang kimy rasakan walaupun hanya sekejap itu seakan hilang bagai di telan bumi. Tristan menghancurkan segalanya. Apa dia salah selama ini? Dia mengira Tristan kadang-kadang bersikap lembut karena peduli padanya. Tapi semua sudah terbukti Tristan tidak punya hati, lelaki gila itu selamanya akan seperti itu. Dalam hatinya hanya ada kebencian dan balas dendam, dan Kimy sudah pasrah dengan apa yang terjadi dengan nya. Bahkan dia berharap kalau kejadian kemarin itu adalah akhir dari segalanya. Toh dia sudah tak punya masa depan, apa yang bisa di harapkan dari hidupnya. Kekasih nya gilang, tidak. Kimy sudah membuat keputusan kalau dia akan menyerah untuk Gilang lelaki yang di cintai nya itu. Bukan karena dia tak lagi cinta, namun dia sadar sudah terlalu kotor untuk Gilang. Kimy merasa tak pantas lagi untuk lelaki manapun juga saat ini.


Brakk


"Tristan.."


"Boss.."


Suara serentak Mario dan Dony membuat Tristan melepaskan cengkraman tangannya pada Kimy.


Tristan berjalan menjauh dari Kimy dan mendudukkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruangan itu.


"Tristan, apa kau gila. Dia belum sembuh, kau mau menyakiti nya lagi?.." Kata Mario tak percaya dengan apa yang Tristan lakukan.


Kimy terlihat menahan tangis, suara isakannya tertahan. Dony mendekat pada Kimy, dia melihat gadis itu dengan iba.


"Tapi dia belum sembuh.." jawab Dony sambil melihat ke arah Tristan.


"Dia sudah sadar itu yang terpenting, selanjutnya bisa di rawat di rumah.." Dony hanya mendengus kesal mendengar perkataan Tristan.


Aku akan kembali ke neraka itu lagi. ya tuhan cabut saja nyawaku sekarang, aku tidak mau di bawa ke sana lagi.


**


Ke esok kan hari Kimy sudah duduk di kursi roda di dorong oleh Mario, Tristan berjalan di sampingnya. sedangkan Dony terlihat berjalan di belakang berbincang dengan seorang dokter. Mobil mewah Berwarna hitam sudah terparkir di halaman rumah sakit. Setelah Kimy di gendong dan di duduk kan di kursi belakang, Tristan berjalan memutari Mobilnya dan duduk di samping gadis itu. Sedangkan Mario sudah duduk di balik kemudi, mereka masih menunggu Dony yang belum datang.


Tak ada yang bersuara di dalam mobil itu, hingga sebuah mobil Sport berhenti tepat di depan mobil mewah yang mereka tumpangi.


Kimy yang sedari tadi memang menatap kosong ke depan merasa pandangan nya terhalang oleh mobil Sport itu. Gadis itu mengernyit, sepertinya ia mengenal mobil itu. Laki-laki tampan berkaca mata hitam keluar dari mobil Sport itu.


Deg

__ADS_1


Gilang


Kimy menatap punggung tegap laki-laki itu, Gilang memakai kaos poll* putih dan celana jeans hitam. Walaupun laki-laki itu tak melepas kacamata nya, Kimy hafal betul bentuk tubuh Gilang kekasihnya.


Jantungnya berdebar kencang, setelah beberapa bulan akhirnya dia bisa melihat lelaki itu lagi. Pandangan nya seperti terkunci Pada sosok itu, apalagi Gilang terlihat menyandarkan tubuhnya di pintu mobil nya sembari berbicara dengan ponselnya.


Brak


Dony masuk ke mobil, membuat pandangan Tristan yang tadinya fokus ke ponselnya beralih melihat ke depan.


"Ayo.." perintah Dony pada Mario. Mario yang menyadari kalau lelaki di depan itu adalah Gilang hanya diam tanpa bergerak.


Sontak itu membuat Dony dan Tristan mengikuti arah pandang Mario.


Dony tergugu di tempatnya melihat gilang, ia menoleh ke belakang, bertatapan dengan Tristan. Kedua lelaki itu serentak menoleh pada Kimy yang terlihat masih membeku menatap Gilang.


Melihat Kimy yang mematung membuat rahang Tristan mengeras. Ia tak rela melihat Kimy memandang Gilang dengan tatapan yang tak pernah ia dapatkan dari gadis itu.


Kedua tangan Kimy Mencengkram baju yang di kenakan nya. Andai ia bisa, ingin sekali berlari menghampiri Gilang. Memeluk nya dengan erat seperti dulu yang sering mereka lakukan. Gilang yang mencintai nya, Gilang yang super posesif padanya, Gilang yang memanjakan nya. Apakah lelaki itu masih sama? Air mata Kimy perlahan luruh lantah membasahi pipinya. Ingin sekali ia berteriak, dadanya begitu sakit, begitu sesak ia bisa melihat orang yang di cintai nya tapi tak bisa menyentuhnya.


Terlihat Septian datang menghampiri Gilang di situ, mereka mengobrol sebentar dan mereka berjalan masuk. Saat Gilang dan Septian berjalan masuk, kedua lelaki itu berhenti karena ada yang memanggilnya. Nadine, gadis itu datang di saat yang tidak tepat. Kimy bisa melihat interaksi Nadine Gilang sangat akrab. Kimy tahu kalau mereka memang akrab tapi jika ada Kimy, Gilang tak pernah berani dekat bahkan bicara pun seperlunya.


Kimy mengusap pipinya perlahan, ia tak sanggup lagi melihat gilang bersama gadis lain karena pada dasarnya Kimy sendiri juga gadis pencemburu sama seperti Gilang.


"Tolong jalan.." katanya pelan. Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan setelah ia sadar dari sakitnya.


Mario menatap Tristan dari spion, terlihat Tristan mengangguk kan kepala. Mario pun mulai menjalankan mobil itu. Kimy menoleh saat mobil mulai berjalan, sekali lagi ia ingin melihat lelaki itu. Air mata pun semakin deras mengalir di pipinya.


Tristan, siapa yang tahu apa yang ia rasakan saat ini. Melihat Kimy menangisi lelaki lain, hatinya pun terluka.


Ternyata kamu masih mencintainya?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2