BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Anak Yang Tak Diharapkan


__ADS_3

TEDDY!!.." Jawab Sinta geram pada Teddy. Wanita itu begitu geram, sudah tahu ada Gilang di situ tapi Teddy masih meneruskan percakapannya tentang anak sialan itu.


Beberapa saat setelah kepergian Teddy, Sinta dan Gilang masih terdiam di posisinya masing-masing. Entah apa yang mereka berdua fikirkan. Sinta mengamati putranya, muka Gilang terlihat kacau, ada perban yang melingkar di dahinya. Perlahan Sinta meraba luka Gilang yang tertutup perban itu.


" Kau tidak apa-apa?.." Tanya Sinta, Gilang tersadar dari lamunannya. Laki-laki tampan itu beranjak, berjalan ke pinggir jendela kamar. Gilang meperhatikan pemandangan luar rumah mewah mamanya, fikirannya kacau. Belum tuntas masalah Kimy, dia harus menghadapi masalah di club dan sekarang dia harus mendengar sebuah kenyataan pahit dalam hidupnya. Entah kesalahan apa yang di lakukan di masa lalu, membuatnya harus menanggung semua itu.


" Siapa Daffa ma?.." Deg, Sinta terkejut dengan pertanyaan Gilang.


Dari mana Gilang tahu, tidak!! Dia tidak mendengar semua omongan Teddy kan?


" Gilaang.." Jawab Sinta lirih.


" Aku dengar semuanya.." Bagai di sambar petir, rahasia yang selama ini di Sinta sembunyikan dari putra kesayangannya kini terungkap sudah.


Gilang memang mendengar semua percakapan orang tuanya. Saat Mobil Teddy baru memasuki halaman rumah, tidak lama kemudian Gilang datang dengan mobil sportnya. Saat Gilang mencari mamanya, dia mendengar kata-kata kasar papanya dari ruang baca yang pintunya tak tertutup dengan sempurna.


" Apa kau tak bisa mengurus anakmu dengan benar? Kenapa dia bisa bikin ulah memalukan seperti itu?.."


Gilang mendengar percakapan orang tuanya di mulai dari situ. Gilang sengaja mendengarkannya di balik pintu, karena orang tuanya sedang membahasnya. Gilang ingin tahu penilaian papanya terhadap dirinya. Ternyata sungguh mengejutkan, dugaan yang selama ini dia tujukan ke papanya salah besar. Selama ini dia mengira, papanya terlalu sibuk sehingga dia tidak ada waktu untuk Gilang. Bahkan di moment-moment penting Gilang seperti wisuda, undangan wali murid, papanya tidak pernah mau datang. Hanya mamanya yang selalu menemaninya. Sekarang Gilang faham, kalau di hati papanya tidak pernah menganggap Gilang ada. Kini dia faham, di hati papanya, ada anak bernama Daffa yang Gilang sendiri tidak tahu siapa orang itu.


Sinta beranjak menghampiri putranya. Dia memeluk tubuh gagah Gilang dari samping, menyandarkan kepalanya dipundak anak tampannya.


" Maafkan mama.." Itu adalah kalimat yang keluar dari mulutnya. Sinta terus terisak di bahu Gilang. Dada Gilang terasa sesak, dia menyadari sakit hati mamanya yang di perlakukan tidak adil oleh papanya, tapi dia juga sedikit marah karena baru sekarang mengetahui kenyataan pahit itu.


" Dimana dia sekarang?.." Tanya Gilang lagi.


Sinta menggelengkan kepalanya pelan, yang masih bisa di rasakan oleh Gilang.


" Kau tidak usah memikirkannya. Dia tidak penting, dia bukan siapa-siapa. Papamu saja yang bodoh.." Jawab Sinta.

__ADS_1


Gilang tersenyum sejenak mendengar mamanya bicara. Perlu di ingat, Gilang juga bukan orang bodoh yang percaya begitu saja oleh mamanya. Teddy adalah orang pintar, segala kebijakannya selalu tepat sasaran, apa yang dikerjakannya selalu berhasil, dari situ Gilang tau, kalau sesuatu yang Teddy prioritaskan, pasti itu adalah sesuatu yang penting baginya. Kalau sekarang dia dan mamanya bukan prioritas bagi Teddy, mungkin memang itu adalah fakta kalau dia dan mamanya tidak pantas menjadi prioritas. Entah kesalahan apa yang mamanya lakukan, yang jelas sekarang Gilang menjadi manusia yang lebih tahu diri.


Gilang mengemudikan mobilnya menuju apartemennya. Sebelumnya dia berfikir akan menenangkan diri di rumah mamanya karena tidak mungkin wartawan akan mencarinya kerumah itu, tapi kedatangan Gilang justru menambah beban fikirannya.


Apa benar aku anak yang tak diharapkan oleh papa?


Fikiran seperti itu terus bergelayut manja di dalam otaknya. Setelah Gilang memarkir mobil sportnya di basement, pria tampan itu berjalan menuju apartemennya.


Pria tampan itu membanting tubuhnya pada sofa ruang tamu apartemennya. Gilang menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit apartemen itu.


" Sayang, kau dimana? benarkah kau sudah melupakanku?.." Mata Gilang memerah, menahan air mata yang hampir jatuh. Pria tampan itu berdiri, berjalan masuk ke kamar. Di bukanya laci nakas, sebelah ranjangnya. Sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah dia ambil, pria itu duduk di tepi ranjang lalu membuka kotak itu. Sebuah cincin berlian tampak begitu indah.


" Bukankah aku bilang akan melamarmu setelah kontrak iklanku selesai, kenapa kau tak bisa menungguku sebentar saja.." Pria itu menutup kotak itu dengan genggaman tangannya. Dia menggenggam erat kotak itu, dia memang lemah, dia tidak bisa hidup tanpa Kimy. Tulang-tulangnya terasa lemas, tidak ada motivasi dalam hidupnya, pandangannya kosong, hatinya terasa hampa.


Papa benar, aku laki-laki yang tak bisa di andalkan. Bahkan kekasihku meninggalkanku.


Laki-laki tampan itu terkulai lemas, merosotkan tubuhnya kelantai dan menyandarkan tubuhnya pada ranjang. Sungguh ironi nasib seorang Gilang, lelaki yang tampan banyak di sukai orang. Lelaki itu hancur karena cinta. Gilang sepenuh hati mencintai Kimy, segala yang Kimy mau, dia berikan. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk kekasih hatinya itu. Tapi apa yang laki-laki itu dapatkan saat ini.


Beberapa hari setelahnya, Kasus penganiayaan Gilang akhirnya di laporkan ke polisi oleh wanita penghibur itu. Gilang belum menampakkan batang hidungnya setelah kejadian itu. Banyak kontrak kerja di batalkan karena kasus itu. Nama Gilang yang cemerlang, sedikit tergores oleh ulahnya sendiri.


Surat panggilan yang di kirimkan oleh polisi belum juga di penuhi oleh Gilang. Lelaki itu lebih senang menyendiri di apartemennya. Seorang kuasa hukum membantu menangani masalahnya, itupun juga atas perintah mamanya dan juga di bantu Septian. Gilang sudah benar-benar masa bodoh dengan kasus itu.


Sedangkan di sisi lain, wanita penghibur yang sekaligus korban itu, benar-benar menyerang habis-habisan Gilang. Dia wara-wiri di undang di beberapa stasiun tv. Niatnya cuma satu menjatuhkan nama baik Gilang.


" Kau yakin jalang itu tidak akan membuka mulut pada wartawan?.." Tanya Tristan pada Dony dan Mario yang berada di ruang kerja rumahnya.


" Tidak akan, aku sudah mengaturnya. Kau tenang saja bos.." Jawab Mario.


" Lalu apa gadis itu baik-baik saja?.." Tanya Tristan pada Mario.

__ADS_1


" Kalau kau merindukannya, datangi saja ke kamarnya.." Ejek Mario.


Beberapa hari ini Tristan memang tidak menemui Kimy. laki-laki itu ke luar negeri karena ada urusan bisnis bersama Dony.


" Rio.." Sela Dony, mengingatkan agar Mario tidak berbicara sembarangan.


" Slow man, ayolaaah serius sekali kalian ini ha ha ha..." Jawab Rio.


Tristan hanya diam tak bereaksi mendengar omongan anak buahnya. Laki-laki itu tahu, kalau Mario memang orang yang suka sekali bercanda seperti itu.


" Baiklah, kau kembali ke kantor Don, selesaikan urusan di kantor. Dan kau Rio, pastikan lagi.."


" Eh bos, sory aku melupakan sesuatu sepertinya.." Rio menyela.


Tristan mengernyit heran " Ada apa?.." Jawab Tristan.


" Malam itu, Laki-laki itu juga di serang.." Tristan menyipitkan bola matanya " Diserang, siapa yang melakukannya?.." Jawab Tristan.


" Laura!.." Jawab Mario.


" What?.." Tristan terkejut.


" Menurut Roky, Laura memukulnya dengan botol minuman dan laki-laki itu, dia pingsan. Laura sepertinya melakukan secara tidak sengaja, dia mau membantu wanita jalang terlepas dari serangan pria itu.."


Perlu di ketahui Roky adalah pemilik tempat hiburan malam, tempat dimana Gilang menganiaya perempuan panggilan itu. Mario tentu mengenal Roky, siapa yg tidak kenal Mario, bos mafia di dunia malam.


" Kau terlalu meremahkan Laura.." Jawab Tristan dengan senyum sarkastik.


" Baiklah, biarkan saja dia melakukan apapun, kita lihat saja sampai mana dia akan mengikuti permainan ini.." Lanjut Tristan sambil beranjak dari kursi kebesarannya, pria itu berjalan keluar ruangan dengan di ikuti kedua anak buahnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2