
Beberapa saat setelah mereka berdua menghabiskan waktu berdua di kamar, Tristan harus meninggalkan Kimy karena ada urusan kantor.
Perlahan Kimy menuruni tangga satu persatu, gadis itu melihat suasana rumah mewah itu. Hingga dia melihat seorang nenek sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Kimy perlahan mendekati nek Inah, dengan perasaan canggung.
" Eghhmm.." Kimy berdehem, nek Inah menoleh ke asal suara. Perempuan tua itu menoleh hanya sekilas lalu mengacuhkan Kimy lagi. Tidak hilang akal, Kimy memberanikan diri duduk di sofa, sebelah nek Inah.
" Sore nek.." Sapa Kimy ramah, namun di acuhkan oleh wanita tua itu. Kimy menghela nafas pelan.
Nenek sama cucu, sama-sama gilanya ku rasa.
" Nek.." Belum selesai Kimy bicara, tiba-tiba nek Inah beranjak dari tempat duduknya. Emosi Kimy yang aslinya memang bar-bar pun terpancing.
" Nenek tidak mendengarku?.." Kata Kimy lantang, membuat nek Inah menghentikan langkahnya.
Sekilas Kimy bisa melihat nek Inah tersenyum sarkastik, membuatnya sedikit mengernyitkan dahinya.
Oowhh memang benar satu keluarga gilaa semua ya.
" Kau!! jangan bicara denganku, anggap aku tidak ada di rumah ini.." Katanya lalu pergi meninggalkan Kimy. Kimy menatap wanita tua itu dengan gemas.
Siapa yang mau mengajakmu bicara nenek tua, aku hanya mau basa-basi, daripada di anggap tidak punya sopan santun.
Kimy memonyongkan bibirnya, mencibir nek Inah.
Gadis itu lalu berjalan ke taman belakang.
" Woww, pria gila itu beneran kaya ternyata.." Kata Kimy pelan, karena dia melihat betapa luasnya halaman belakang rumah laki-laki itu. Selain ada kolam renang, di situ ada berbagai macam bunga yang ditata sedemikian menarik.
" Pria gila, wahh berani sekali kau.." Kimy terperanjat kaget, tiba-tiba ada suara di belakangnya, dibalik bunga-bunga indah itu.
Kimy menyipitkan matanya, mencoba mendekat ke asal suara. Dia menyingkap dedaunan yang menutup orang di balik itu.
" Kau?.." Kimy terkejut, melihat Mario bersandar santai pada gazebo yang ada di taman belakang itu.
Mario tersenyum mengejek gadis itu. " Kenapa kau ada di sini?.." Tanya Kimy.
" Kau tidak salah tanya? aku selalu disini, kau sendiri apa yang kau lakukan di sini. Apa pria gila itu sudah mengizinkanmu keluar?.." Ejeknya lagi.
" Ssstttt, diam kau!.." Titah Kimy pada Mario, Kimy lalu berjalan memutar, pada jalan setapak menuju gazebo itu.
" Hey, kau jangan bilang pada bosmu kalau tadi aku..." Kimy menghentikan bicaranya sambil berfikir.
" Aku tidak janji, lagian dia yang bosku, bukan kamu. Kenapa aku harus ikutin kamu.." Jawab Mario.
Kimy berdecak malas, gadis itu lalu ikut duduk di gazebo itu. " Hey, kau jangan duduk di sini, kalau pria gila itu tahu, aku bisa habis.." Kata Mario cepat.
Kimy tersenyum manis " Ternyata kau takut juga sama dia.." ledek Kimy.
Cantik sekali. Batin Mario.
" Haha, siapa yang takut sama pria gila seperti dia?.." Jawab Mario tak mau kalah.
Kimy memicingkan matanya, " Kau yang selalu memanggilnya gila, bukan aku!.."
" Kunyuk itu memang gila.." Jawab Mario sambil menyesap rokok di tangannya.
" Kunyuk?.." Kimy terbelalak.
" Ha ha ha... Dia memang kunyuk, orang gila, orang tak berperasaan.." Kata Kimy sambil tertawa terbahak.
" Tapi kau jatuh cinta pada orang gila itu kan?.." Tanya Mario. Kimy menoleh seketika ke arah laki-laki itu.
" Mana mungkin, aku.." Kimy menghentikan bicaranya. Seketika dia mengingat kekasihnya Gilang .
Mana mungkin aku jatuh cinta padanya, sedangkan ada Gilang yang sudah memenuhi ruang hatiku. Lagian orang gila sepertinya, mana tau cinta. Dia hanya menginginkan tubuhku.
__ADS_1
" Aku bisa melihatnya, saat kau menatapnya.." Kata laki-laki itu.
Memangnya kenapa saat aku menatapnya?
" Dia itu kan playboy, mana mungkin aku jatuh cinta pada pria itu.." Jawab Kimy santai.
" Yah memang dia suka bermain wanita, tapi sepertinya dia juga menyukaimu.." Kata-kata pria itu membuat Kimy menelan ludah pelan, karena gadis itu sedikit salah tingkah.
" Dari pada jatuh cinta, aku lebih tertarik membahas nenek-nenek jahat di rumah ini. Siapa dia?.." Tanya Kimy.
" Nenek jahat?.." Tanya Mario di jawab anggukan oleh Kimy.
" Di rumah ini cuma ada satu nenek, dan itu nenek Inah. Neneknya Tristan.." Jawab Mario.
" Pantas saja dia galak seperti cucunya.."
" Hey, kau mengatai orang tua? Lagian dia bukan nenek kandungnya, jadi tak ada hubungannya kalau sifat mereka sama.."
" Bukan nenek kandung?.. Kimy terkejut.
Mario salah tingkah, " Kau terlalu ingin tahu nonaa.." Jawab Mario, laki-laki itu beranjak dari duduknya, dia berjalan meninggalkan Kimy. Mario memang gampang sekali terpancing omongan, selain suka bercanda, laki-laki itu juga suka sekali berbicara.
Jadi nenek itu bukan nenek kandungnya. Lalu dimana keluarganya, dia punya rumah sebesar ini tapi tidak ada satupun keluarganya di sini. Lalu, setiap malam dia selalu bermimpi mama, dimana mamanya? oh iya, dia selalu menyebut daffa. Mungkin itu sodaranya, aku akan coba cari tahu pada nenek jahat itu nanti.
Setelah puas bermain di taman belakang, Kimy masuk ke dalam rumah. Gadis itu mendengar tawa seorang wanita dan laki-laki. Kimy penasaran, dia mendekat ke asal suara.
" Mana Tristan nek, aku sudah merindukannya.." Suara manja seorang wanita terdengar di telinga Kimy. Gadis itu menghentikan langkahnya.
" Sebentar lagi mungkin pulang, tunggu saja.." Jawab Nek inah lembut pada Laura.
" Rio, aku melihat pengakuan mengejutkan bosmu di tv, katakan sesuatu. Apa benar dia ada hubungan sama gadis itu?.." Tanya Laura pada Mario.
" Kenapa tanya padaku, tanyalah sendiri padanya. Kau tahu kan aku hanya mengikuti perintahnya.." Jawab Mario masa bodoh.
Kurang ajar, dia bilang aku manja.
" Kau harus hati-hati sama gadis yang kau bilang kecil dan manja itu. Siapa tahu, dia bisa meluluhkan kegilaan Tristan.." Jawab Mario.
" Kau jangan gila, hati Tristan sudah milikiku. Walaupun dia tidur dengan seribu wanita, hatinya hanya untukku.." Jawab Laura bangga. Deg, jantung Kimy bergetar mendengar kata-kata Laura, entah kenapa? Kimy sendiri tak mengerti, bukankan dia paham kalau laki-laki gila itu hanya menginginkan tubuhnya. Tapi kenapa, jantungnya berpacu cepat, tangannya mengepel dan hatinya terasa sakit mendengar kata-kata itu.
Jangan gila Kimy, kau tidak cemburu kan?
Kimy mencoba meyakinkan hatinya sendiri.
" Sudahlah Laura, kau harus percaya pada Tristan. Kau tahu kan dia memang seperti itu, hanya kau yang bisa membuat Tristan berbeda dari dirinya sendiri.." Kata nek Inah. Kata-kata nek Inah semakin menusuk-nusuk hati Kimy. Mario mengacuhkan percakapan dua wanita tolol, menurutnya. Mereka tak tahu kalau Tristan sudah jatuh hati pada gadis yang mereka bilang kecil itu.
Laura, jadi namanya Laura. Aku ingin tahu seperti apa kekasih Tristan, apa dia cantik?
Kimy muncul dari balik tembok, tempat dia menguping tadi. Gadis itu keluar dengan gaya cueknya, pura-pura tak tahu apa yang mereka bicarakan.
" Eh, nek. Maaf aku tidak tahu kalau ada tamu.." Kata Kimy, pura-pura terkejut, dengan menghentikan langkahnya.
Lumayan juga seleranya. Jadi dia suka wanita dewasa yang cantik dan sexy.
Laura terkejut melihat Kimy ada di rumah pria yang di cintainya. Dia tidak menyangka akan bertemu gadis manja itu.
Wah, akan ada perang dunia ke tiga nih.
Batin Mario, juga tidak kalah terkejutnya melihat Kimy tiba-tiba muncul.
" Kenapa kau di sini? masuk ke kamarmu.." Titah nek Inah pada Kimy.
" Apa maksudnya ini nek? Dia tinggal di sini?.." Tanya Laura tak percaya.
" Kau siapa?.." Tanya Kimy pura-pura bodoh.
__ADS_1
" Kau tanya padaku?.." Jawab Laura beranjak berdiri sambil bersedekap.
" Ya, memang ada orang lain lagi?.." Tanya Kimy pura-pura menoleh kanan kiri mencari orang.
Mario hanya bengong melihat Laura dan Kimy bergantian, laki-laki itu terlalu terkejut dengan pertemuan dua wanita bar-bar itu.
" Apa kau kakaknya Tristan?.. tanya Kimy lagi.
" What?.." Laura semakin marah padam di bilang sebagai kakak dari laki-laki yang di cintainya, secara tidak langsung kalau Kimy mengatainya tua.
" Huhh!!!.." Laura membuang nafas kasar.
" Aku tak perlu menjelaskan hubunganku sama Tristan kepadamu.." Kata Laura dengan nada mengejek.
" Karena, kau bukan siapa-siapa di sini.." Katanya lagi.
Kimy hanya diam memperhatikan Laura bicara.
" Lalu?.." Tanya Kimy lagi.
Laura mengernyit, sambil tersenyum mengejek.
" Lalu? lalu kau jangan sombong, Kau tahu? kau hanya jalang kecil yang diperalat Tristan untuk balas dendam, bodoh!!.." Kata Laura tegas. kata-kata jalang yang di tujukannya itu membuat Kimy meradang.
" Apa yang kau katakan?.." Kimy berjalan dengan cepat ke arah wanita itu.
Plakk!!!
Secepat kilat Kimy menampar wanita itu. " Berani sekali kau!.." Kata Kimy.
" Hey.. hey.. STOP!!!.." Mario berdiri menengahi mereka.
" Brengsek.." Laura mencoba membalas namun di tahan oleh Mario.
Apa yang terjadi, kenapa jadi seperti ini? Batin nek Inah.
" Rio, lepaskan aku. Akan aku tunjukkan siapa jalang kecil itu sebenarnya" Teriak Laura pada Rio, karena tubuhnya di tahan oleh laki-laki itu.
" Diam Laura, tutup mulutmu!!.." Mario mencoba menggertak Laura, agar wanita itu tak bicara macam-macam pada Kimy. Namun bukan Laura namanya kalau dia mengalah.
" Lepas Rio, lepas!.." Teriak Laura, namun tak di indahkan oleh Rio.
" Kalau Tristan tahu, kau akan mati Laura, diamlah.." bisik Mario pada Laura.
" I don't care!!.." Teriak Laura. Dengan cepat Mario mengangkat tubuh Laura, di bawanya wanita itu keluar dari rumah itu.
" Kau jalang kecil, ingat aku akan membuat perhitungan denganmu. Ingat kau hanya alat untuk balas dendam Tristan.." Teriak Laura, sambil meronta-ronta karena tubuhnya di sampirkan di pundak Mario.
Balas dendam?
Kimy hanya diam menatap nanar wanita yang sudah hilang di balik pintu. Gadis itu semakin bingung dengan apa yang di katakan Laura. Balas dendam, dua kata itu kini memenuhi otak gadis itu.
" Aku tidak menyangka, gadis yang dibesarkan di keluarga terhormat bisa melakukan tindakan yang tidak pantas seperti itu. Apa begitu cara orang tuamu mendidik seorang gadis?" Kimy menoleh mencari asal suara, terlihat Nek Inah mengatakan sambil berlalu meninggalkan Kimy sendirian.
Dasar orang-orang sinting.
Kimy mengepalkan tangannya "Apa nenek akan diam saja kalau dihina seperti itu?.." Nek Inah menghentikan langkahnya tanpa menoleh pada gadis itu.
" Orang tuaku selalu mengajariku untuk menghargai orang lain, mereka selalu mengajariku untuk tidak menghina orang lain, mereka mengajariku untuk membela diri, jika ada orang yang sengaja menginjak harga diri kita. Nenek tahu, itulah yang mereka ajarkan padaku. Jangan pernah menghina orang tuaku, mereka tidak pernah salah mendidikku. Kalau aku berbuat kesalahan itu murni karena salahku sendiri.." Kimy berkata sambil berlinang air mata.
Nek Inah hanya diam di tempatnya mendengar perkataan gadis itu. Kimy berlari meninggalkan nek Inah, gadis berlari ke kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1