BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Pangeranmu


__ADS_3

Bagaimana hancurnya perasaan seorang anak ketika melihat kedua orang tua yang di sayangi terbaring lemah di rumah sakit, itulah yang di rasakan Gilang saat ini.


Sinta sudah di pindah ke kamar inap. Gilang masih menggenggam tangan wanita paruh baya yang sekarang sedang terlelap itu. Ya, dokter memberinya obat penenang karena Sinta emosinya tak stabil. Ia terus merancau histeris.


Tok tok


Terlihat Septian masuk ke ruangan itu "Lang kau tenang saja, Om Teddy yang menjaga papamu.."


Gilang hanya mengangguk pelan.


"Bagaimana bisa tante seperti ini?.." Septian melihat Sinta dengan iba, ia tak menyangka wanita tangguh seperti itu bisa semudah itu stres dengan masalah yang di hadapi. Selama ini ia melihat Sinta adalah wanita kuat, tegar bisa mengatasi segala masalah.


"Mungkin mama lelah, ia butuh istirahat.."


"Lang.. Kau curiga pada seseorang?.." Gilang menatap Septian penuh tanya "Tentang kecelakaan papamu.." lanjut Septian.


"Belum, tapi aku akan segera tahu.." Gilang menatap mamanya, ia yakin kalau sebenarnya Sinta tahu apa yang terjadi.


**


Malam hari pukul 22.00 Dony dan Mario berada di ruang kerja Tristan.


"Lang.. Orang suruhanku mengatakan kalau wanita itu sekarang sedang sekarat.." Kata Mario sambil menghisap rokok di tangannya.


Gilang tak menjawab, ia hanya menaikkan sudut bibirnya sedikit tanda ia begitu puas akan kerja Mario kali ini.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya bos?.." Tanya Dony dengan serius.


"Kita tunggu apa yang akan terjadi di keluarga itu. Ternyata semudah ini menghancurkan mereka. Kenapa tidak dari dulu ku habisi lelaki itu.." Dony dan Mario saling menatap, mungkin pikiran mereka berdua sama. Tristan benar-benar psikopat gila yang tega melukai orang tuanya sendiri.


"Oh ya Don.. Kau awasi benar-benar Laura. Aku curiga dia punya niat buruk pada Kimy.." menyebut nama Kimy, Tristan sedikit tersenyum. Ia merindukan gadis itu, terakhir gadis itu menciumnya dengan rakus dan sayangnya ia menolak Kimy saat itu.


Sedang apa dia, apa dia sudah tidur? Senyum tipis menghiasi wajah Tristan.


Kimy merasakan tubuhnya begitu hangat malam itu. Dia tidur begitu nyenyak. Dalam mimpinya ia merasakan tubuhnya di peluk oleh seseorang tapi dia tak tahu itu siapa.


Tidurlah yang nyenyak, aku di sini menjagamu.


Itu adalah kata-kata yang di ucapkan lelaki itu. Kimy tak bisa melihat dengan jelas wajah siapa yang mendekapnya saat itu, karena lelaki itu memakai penutup kepala yang sebagian menutupi mukanya.


Kau siapa?


Aku pangeranmu yang siap mati untukmu Kimy.


Pangeran? Apa pangeran akan menyelamatkan ku.

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk dan mencium kening Kimy lembut.


Kimy membuka matanya "Ternyata cuma mimpi.." ia melihat jam sudah pukul 05.00 pagi. Kimy beranjak bangun, namun ia merasakan ada yang aneh. Semalem jelas-jelas ia tak mematikan lampu saat tidur karena memang ia akan susah tidur dalam keadaan gelap. Lalu sekarang ia melihat lampu kamarnya dalam keadaan mati. Siapa yang mematikan lampunya? Apa ada orang masuk ke kamarnya? Satu-satunya orang yang masuk kamarnya hanya laki-laki gila itu. Tapi kalau dia yang datang biasanya ia akan menghabiskan malamnya dengan bercinta.


Apa mungkin dia yang semalem?


Tidak mungkin.


Kimy menggelengkan pelan kepalanya dan ia pun bergegas ke kamar mandi.


**


"Lang.. Kenapa nggak bilang kalau mamamu juga sakit. Aku kan bisa membantumu menjaga mereka di sini.." Kata Nadine setelah sampai di rumah sakit. Nadine mendengar kalau papa Gilang kecelakaan, ia berniat menjenguk karena Nadine juga mengenal Teddy papa Gilang. Namun setelah sampai di rumah sakit ia mendapati kalau Sinta juga ikut di rawat.


"Nggak perlu Nad, papa sudah di jaga sama om Hendra dan ada Tian juga. Kau tak perlu khawatir.." jawab Gilang.


Nadine mendekat pada Gilang "Lang kita sudah berteman dari kecil, aku bisa membantumu kalau kau mau. Kau butuh teman Lang, setidaknya untuk bicara.."


Gilang tersenyum pada Nadine dan ia pun mengangguk pada gadis manis itu.


Drt.. Drtt.. Drt..


Gilang merogoh ponsel di saku celananya, ia melihat nama Laura tertera di ponselnya.


"Nad, nitip mama ya. Aku keluar sebentar.." Katanya Gilang pada Nadien, di jawab anggukkan gadis itu.


"Hallo, Laura.."


"Hey Lang, maaf aku mengganggumu. Apa kau sibuk? Oh ya.. Aku mendengar papamu kecelakaan, aku ikut sedih ya.." Kata Laura di balik telepon.


"Ada apa?.." Gilang tak merespon ucapan Laura, ia ingin mendengar apa mau wanita itu sesegera mungkin. Ia malas untuk berbasa-basi.


"Kau ini terburu-buru sekali. Aku ada kabar menyenangkan untukmu Lang.."


"Cepat katakan Laura, aku tak punya banyak waktu.." jawab Gilang dengan penuh penekanan.


"ohh ya tuhan.. Oke baiklah. Aku langsung saja pada intinya, Aku akan mempertemukan kau dengan kekasihmu Kimy.."


"Apa!!!.." entah kenapa respon Gilang antara kaget dan Tak percaya "kau bilang apa?.."


"Apa kau tulii??.."


"Laura katakan dengan jelas sialan.." gertak Gilang.


"Lang.." Gilang menoleh ke asal suara, terlihat Nadine berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Nadine??.."


"Tante Sinta sudah sadar, dia mencarimu.."


Gilang terlihat mengangguk dan berjalan mengikuti Nadine sedangkan ponselnya secara tak sadar ia matikan.


"Sialan.. Dia matikan teleponnya.." Umpat Laura di balik telepon.


"Ma.. Mama sudah sadar.." begitu masuk ruangan ia melihat mamanya sudah sadar.


"Apa yang mama rasakan?.."


"Tidak ada.." jawab Sinta singkat dengan tatapan kosongnya.


"Mama lapar, mau makan? Gilang suapi ya?.." Sinta menggeleng beberapa kali.


"Kenapa dia di sini?.." Tanya Sinta pada Gilang.


Gilang melihat ke arah Nadine. Gilang tahu yang di maksud Sinta adalah Nadine. Dia juga paham kalau Sinta tak begitu menyukai Nadine. Sama halnya dengan Kimy. Kekasih nya itu sering curhat kalau mereka saat bertengkar masalahnya hanya satu Nadine seorang. Maka dari itu Sinta pun ikut tak menyukai Nadine.


"Ma.. Nadine hanya mau jenguk mama.."


"Tante.. Maaf Nadine tak bermaksud apa-apa.." Sinta tak merespon ucapan Nadine. Ia masih diam dengan pandangan kosongnya ke depan.


"Lang aku pulang ya.."


"Nad maaf ya, kalau mama.."


"sssstt.." jawab Nadine


"Tante, Nadine pulang semoga tante cepat sembuh.." Kata gadis itu tapi tak dapat jawaban dari Sinta.


Nadine pun keluar dari ruangan itu.


"Mama kenapa begitu sama Nadine? Dia hanya mau menjenguk mama.."


"Jangan berdebat denganku karena gadis itu.." jawab Sinta sinis.


Gilang hanya menghela nafas mendengar perkataan mamanya "Baiklah sekarang mama harus makan.." Gilang mulai mengambil piring berisi makanan di nakas dekatnya.


"Mama bilang tidak mau makan, apa kau tak mendengar omonganku Lang.." teriak Sinta.


Gilang sedikit terkejut, pasalnya Sinta selama ini tak pernah membentaknya sedemikian rupa. Tapi Gilang menyadari kalau mamanya sedang stres menghadapi masalah hidup. Dia pun menaruh kembali piring itu dan duduk di samping Sinta. Gilang menggenggam tangan mamanya.


"Mama jangan takut ada Gilang ma, tidak akan terjadi apa-apa dengan papa. Semua akan baik-baik saja.." sekali lagi Gilang mencoba untuk meyakinkan mamanya, namun Sinta tak menanggapi dia hanya menatap datar Gilang dengan segala kebisuannya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2