
Di tengah-tengah makan siangnya bersama Nadine, ponsel Dony berbunyi. Lelaki itu mengangkatnya di depan wanita itu
"Hallo"
"...."
"Ya, saya akan kesana setelah ini" Dony menutup ponselnya dan kembali menatap Nadine yang sedari tadi mendengarkan pembicaraannya.
"Aku harus pergi" Kata Dony dengan menatap Nadine.
"Kemana, boleh aku ikut?" goda Nadine, walaupun Dony kekasih yang tak di cintanya, tapi Nadine sering sekali mengerjai Dony, mengingat Dony selalu bersikap dingin padanya, membuat Nadine menjadi gemas menggoda lelaki itu.
"Tidak, memangnya kamu tidak punya kerjaan. Kenapa harus ikut aku"
"Aku kan pacar kamu" Kimy meringis di hadapan Dony dengan jarak yang cukup dekat, membuat Dony menelan air liurnya ketika menatap bibir yang menggoda itu.
"Ehem, sudah aku harus segera pergi. Pengacara menungguku" katanya langsung berdiri untuk menghindari Nadine.
Nadine memanyunkan bibirnya, pengacara mau apa dia ke pengacara, batinnya.
"Aku pergi dulu, pulanglah jangan di sini sendirian" perintah Dony. Mendengar itu, Nadine langsung pura-pura memegang perutnya yang tidak sakit sambil meringis.
"Kamu kenapa Nad?" Dony menunduk untuk mengecek keadaan Nadine.
"Perutku sakit banget Don kram, sepertinya aku mau datang bulan" Kata Nadine dengan memegang perutnya.
"Kamu bisa pulang sendiri?" Tanya Dony yang juga kebingungan karena harus pergi ke kantor pengacara.
Nadine menggeleng "Aku nggak bisa nyetir dalam kondisi kayak gini, aku akan telepon orang rumah biar jemput aku. Pergilah kalau mau pergi" suruhnya pada Dony yang masih terlihat kebingungan itu.
Dony frustasi dibuatnya, kemudian dengan cepat dia mengangkat tubuh Nadine, Dony membawa Nadine bersamanya menuju mobilnya. "Bukankah kamu ada janji" Tanya Nadine ketika tubuhnya berada di gendongan Dony.
"Sudah diam saja" Jawabnya lalu meletakkan Nadine di kursi penumpang sebelahnya. Setelahnya, Dony mengemudikan mobilnya menuju kantor pengacara dimana mereka sudah membuat janji "Nanti orangku yang mengantar mobilmu" katanya sebelum wanita itu bertanya.
Dalam hati Nadine tersenyum penuh kemenangan.
**
"Sayang kamu suruh Nadine merancang gaun pengantin ku" Tanya Kimy pada Tristan. Kimy saat ini sedang berada di kantor Tristan. Dia terlalu bosan berada di rumah, dia tidak tahu harus kemana selain menyusul lelakinya itu ke kantor karena Tristan melarangnya untuk bepergian tanpanya.
__ADS_1
"Iya, apa ada masalah?" jawab Tristan sambil menyelipkan anak rambut Kimy karena menutupi pandangan ke wanitanya.
"Kenapa sih harus dia" Kimy menyenderkan kepalanya dibahu lelaki itu.
"Kalian saling kenal, tidak ada salahnya. Dia kekasih Dony" Tristan berusaha meyakinkan wanitanya, padahal dalam hati Tristan tahu kalau Kimy keberatan jika Nadine yang merancang gaun pengantinya.
"Sayang hubunganku denganya kurang baik, canggung banget"
"Kalian bisa berteman mulai sekarang"
Kimy menatap Tristan nyalang, dia tak mengerti kenapa tristan dan Dony tidak mengerti kalau Nadine itu punya maksud mendekati mereka. Tristan bukan orang bodoh, tapi Kimy terlalu malas untuk membahas semua itu.
"Apa asistenmu sudah memberimu contoh desain undangan?"
"Kak lexa?"
"Hmm"
"Belum, memangnya kamu menyuruhnya?"
"Iya, kamu harus segera memilih desainnya agar mereka bisa segera menyetaknya. Waktu kita tidak banyak sayang"
"Memangnya kapan kita akan menikah, kenapa malah di sini aku yang nggak tahu apa-apa. Semua di urus sama orang. Aku juga ingin terlibat di acara ku"
"Bukan begini Tristan." jawab kimy kesal.
"Sayang dengar, pernikahan kita semakin dekat. Banyak sekali godaan orang yang mau menikah. Kamu tahu kan, banyak yang nggak suka kalau aku memilikimu, aku tidak mau terjadi apapun sebelum acara itu tiba"
Kimy menatap nanar wajah tampan kekasihnya itu, dia berfikir memang benar apa yang di katakan lelakinya itu, bahkan fansbasenya bersama Gilang dulu yang tak mengenalnya pun menghujat hubungan mereka. Kimy hanya mengangguk pasrah membenarkan ucapkan lelaki itu.
"Beri aku ciuman" pinta Tristan setelah Kimy terdiam cukup lama.
"Apaan ini di kantor, nanti ada yang lihat" jawab Kimy mencoba menjauh dari lelaki itu, namun dengan cepat Tristan menarik pinggang Kimy untuk menempel pada tubuhnya "Sayang, apaan sih nanti ada yang lihat"
"Persetan, beri ciuman atau--"
"Atau apa?"
Tiba-tiba saja Kimy merasakan tubuhnya melayang, Tristan mengangkat tubuhnya, membawanya kedalam sebuah ruangan yang biasa Tristan pakai untuk istirahat.
__ADS_1
**
Nadine menutup mulutnya setelah mendengar apa yang Dony bicarakan dengan seorang pengacara di dalam sana. Ya, Nadine menguping. Dia sengaja mengikuti Dony, pdahal lelaki itu menyuruhnya untuk diam di dalam mobil. Setelah mendengar semuanya, wanita itu berjalan mengendap-endap kembali kedalam mobilnya. Apa sebenarnya yang terjadi, batinnya.
Nadine melihat Dony keluar dari kantor pengacara itu. Dia pura-pura menutup matanya agar Dony tak mencurigainya. "Kamu lama banget sih" manjanya ketika Dony membuka pintu mobil itu.
"Apa masih sakit?" Tanya Dony sambil mendudukkan diri di kursi kemudi.
Nadine mengangguk, memeluk lengan kokoh Dony, menyandarkan kepalanya di sana "Ayo cepat, kita ke minimarket aja kalau gitu beli kirant* biar perutku reda sedikit"
Dony menoleh sedikit, melihat pucuk kepala Nadine yang sudah menempel dilenganya itu, lelaki dingin itu hanya menghembuskan nafasnya pelan karena tingkah wanita itu "Baiklah" katanya pelan dengan langsung menjalankan mobilnya.
**
"Jadi kapan sebenernya kak tgl pernikahanku" Tanya Kimy pada Lexa yang sekarang terlihat sedang memilih-milih beberapa desain undangan di tangannya itu
"Ini bagus Kim" lexa menyodorkan salah satu desain undangan pada Kimy.
"Terserah kau saja" jawab Kimy tanpa melihat undangan itu.
"Kenapa sih marah-marah terus beb" Lexa meletakan undangan yang ada di tangannya, kemudian dia mendekat pada Kimy. "Kenapa?"
"Sebenarnya siapa sih yang menikah di sini, aku nggak tahu kapan aku menikah, siapa yang merancang gaun ku dan arrghg---" Kimy merasa frustasi menghadapi keadaan itu.
"Tenang sayang tenang" lexa berusaha menenangkan Kimy. Dia tahu kalau Kimy pasti stres dengan keadaannya itu. Kimy yang biasanya beraktivitas dengan sejuta kegiatan dan bersosialisasi dengan berbagai macam orang itu kini hanya berdiam diri dirumah, hanya menunggu dan menunggu calon suaminya mengunjunginya.
"Kau butuh hiburan?" Tanya lexa dengan mengelus lengan Kimy.
"Nggak tahulah, moodku berubah-ubah kak"
"Kau akan menjadi nyonya Tristan Kimy, sebentar lagi, sabar. Kau tidak bahagia?"
"Aku bahagia, tapi keadaan ini yang membuatku bosan Kak. Apa setelah menikah aku juga akan seperti ini"
"Tentu tidak, kau pasti bisa berkegiatan lagi seperti dulu walaupun mungkin tidak bisa menjadi model lagi" Kimy mencoba mencerna kata-kata lexa sesaat "Tenanglah Kim kau harus maklumi, sudah berapa kali kau mencoba meninggalkan Tristan. Mungkin dia takut akan terjadi lagi saat pernikahan kalian sudah di depan mata begini"
"Aku tidak mungkin meninggalkannya lagi kak"
"Aku tahu" lexa mencoba menjelaskan "Tapi coba kau berada diposisi Tristan, dia masih takut kau pergi, entah kau pergi atas kemauanmu sendiri atau bukan"
__ADS_1
"Aku mencintai dia kak, aku mencoba mengerti dia. Mengerti apapun yang dia lakukan, aku tahu dia sangat mencintai aku. Dia menyerah balas dendam untukku kak" lexa mengangguk, memang lexa sudah tahu semuanya. Kimy sudah menceritakan semuanya saat mereka masih berada di New York.
"Mulailah hidup baru, kalian harus bahagia" Kimy mengangguk mendengar apa yang lexa katakan. Mereka pun melanjutkan memilih desain undangan itu, tanpa mereka sadari jika dari tadi ada yang mendengarkan obrolan Kimy dan lexa yang berada di gazebo taman belakang itu. Salah satu sudut bibir orang itu tersenyum miring mendengar obrolan mereka.