
Kimy pov
Aku menangis tersedu di kamar ku setelah kepergian Gilang. Hatiku sama hancurnya denganya. Gilang kekasihku yang sangat mencintaiku. Kekasihku yang sangat posesif padaku, aku membuatnya terluka begitu dalam. Maafkan aku Gilang. Andai aku punya pilihan, kamulah satu-satunya lelaki yang ada di hidupku. Kamu satu-satunya lelaki yang akan ku nikahi. Semua ini terlalu rumit untukku lang. Hidupku sudah hancur sehancur-hancurnya. Biarlah hidup yang sudah tak berarti ini semakin hancur, aku sudah tak peduli lagi.
Pukul 19.00 malam bi asih membangunkan ku. Ternyata setelah menangis aku ketiduran selama itu.
"Non Kimy makan malam dulu, tuan sudah menunggu.."
Aku bangkit dari tidurku, kecepol asal rambut panjangku dan aku berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar ku.
Ya tuhan, mataku seperti digigit tawon.
Menangis begitu lama dan ketiduran membuat mataku bengkak. Aku keluar kamar dan menuruni tangga, kulihat papi sudah di sana menungguku.
"Kimy.." Aku hanya tersenyum tak menjawab. Moodku masih berantakan dan aku malas untuk bicara.
"Sayang, kamu habis menangis?.."
"Kimy nggak mau bahas ini pi.." jawab ku.
"Okey.." Papi menuruti mauku, kita makan dalam diam dan dengan pikiran kita masing-masing. Setelah aku menyelesaikan makanku, akupun masuk kekamarku lagi. Ku abaikan papi yang masih di meja makan. Sebenarnya tak tega aku mengabaikan papi, secara papi pasti sangat kesepian tanpa mami. Tapi entah, hatiku benar-benar tak bisa di ajak kompromi.
Aku mendengar pintu kamarku terbuka, tapi aku tak memperdulikan siapa yang masuk. Saat ini aku berdiri di balkon kamarku. Memandang langit yang malam ini terlihat cerah.
"Kamu marah sama papi?.." terdengar suara papi yang sudah berada di sebelahku. Aku menoleh pada papi, kutatap lelaki yang masih tampan walaupun umurnya sudah tak muda lagi itu. Ada guratan kesedihan di sana.
Aku tersenyum, ku raih tangan papi dan ku genggam erat. "Kenapa Kimy harus marah sama papi?.."
"Apa karena papi terlalu banyak bicara di media?.." Tanyanya yang sepertinya menunggu jawabanku tapi ku abaikan.
"Pi.."
"Kamu tidak menginginkan pernikahan ini sayang?.." Tanyanya dengan hati-hati.
Hatiku bergetar mendengarnya, ingin sekali ku jawab "ya" tapi mulutku membisu, hanya tatapan kosong yang kuberikan pada papi.
"Papi dengar tadi Gilang datang kesini?.."
Deg
__ADS_1
"Sayang, selesaikan apa yang belum selesai. Jangan membuat dua pria berharap padamu. Papi hargai segala keputusanmu, apapun yang membuatmu bahagia papi pasti akan mendukungmu.."
Seketika air mataku jatuh membasahi pipi. Ku peluk lelaki di depanku itu. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya. Rasanya ingin ku tumpahkan segala perasaan yang ada di hatiku.
"Kamu tahu Tristan sudah mengalihkan sahamnya atas nama papi?.." Aku mengangguk.
"Papi rasa dia sangat mencintai kamu sayang. Apa yang membuatmu ragu, apa yang membuatmu bersedih?.." Aku menggelengkan kepalaku, aku bingung harus menjawab apa.
"Kimy.."
"Kimy akan menikah dengan Tristan pi. Itu sudah keputusan Kimy.." jawab ku dengan masih posisi di dekapan papi.
"Papi percaya dengan keputusanmu. Papi ingin kamu bahagia. Tapi Kimy, sebagai orang tua. Tolong jaga perasaan Tristan. Jangan biarkan lelaki lain mendekatimu, apalagi berharap padamu. Kamu tahu maksud papi kan?.."
Aku mengangguk "Kimy janji sama papi.."
Mulai sekarang sudah ku putuskan, aku akan belajar melupakan Gilang. Papi begitu terlihat bahagia karena perusahaan yang ia bangun dari muda kembali ke tangannya. Apalagi yang ku cari. Kebahagianku, hidupku. Itu sudah bukan prioritasku. Toh hidupku sudah hancur karena si brengsek itu. Biarlah hidup yang hancur ini bersamanya. Dia yang menghancurkanku, dia pula yang harus bertanggung jawab atas diriku.
**
Malam itu tak henti-hentinya Gilang menegak minuman keras lagi. Setelah sekian lama dia meninggalkan barang haram itu, kini ia kembali. Bedanya kali ini dia minum di apartemennya. Botol-botol berserakan di meja tamu. Dan penampilan Gilang sudah sangat kacau.
Bel apartemen bunyi, Gilang pun bangkit, dengan sempoyongan dia berjalan menuju pintu apartemennya. Di bukanya pintu itu dan ada sosok nadine di sana.
"Gilang kau kenapa?.."
"Cck.. Kau lagi. Mau apa kesini?.." Gilang jengah selalu nadine dan nadine yang muncul di hadapannya.
Nadine menerobos masuk dan melihat botol-botol berserakan disana. "astaga, apa yang terjadi lang? Kenapa seperti ini lagi.."
Gilang berjalan dengan tertatih, dia mengabaikan pertanyaan nadine. "Lang, apa karena Kimy lagi?.."
"Shiit, diam jangan sebut namanya lagi.."
Nadine menghela nafas, dia sudah bisa menebak kalau semua ini pasti karena Kimy. Nadine mendekati Gilang. Ia memegang kedua lengan Gilang. "Kenapa lang, kenapa kau jadi seperti ini? Kenapa kau hancurkan hidupmu. Hidupmu sangat berharga untuk orang yang mencintaimu. Jangan hina dirimu lagi lang. Hargai dirimu.."
"Persetan dengan diriku. Aku tidak peduli.." nadine terkejut Gilang yang biasanya berbicara cukup sopan itu bisa mengucapkan kata-kata kasar begitu.
"Pergilah, aku ingin sendiri.." Gilang mendorong lengan nadine.
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi.."
"Terserah.." Gilang meninggalkan nadine di tempatnya. Ia kembali lagi berkutat dengan minuman yang masih ada di meja itu.
**
Aku menggeliat saat ku rasakan perutku terasa berat. Perlahan kubalikkan badan dan ku buka mata. Aku sangat terkejut, ada si brengsek Tristan disampingku. Dia terlihat memejamkan mata. Tangannya saat ini berada di perutku.
Kenapa dia ada disini, sejak kapan?
Aku berusaha menyingkirkan tangan kekarnya dari perutku. Ku angkat perlahan, namun saat tangan itu hampir saja ku letakkan di tubuhnya, dia malah menarikku masuk kedalam pelukannya. Tangannya memeluk perutku dengan erat dan kakinya mengunci kakiku. Kini aku benar-benar tak bisa bergerak.
Kurasakan detak jantungnya dan hangat tubuhnya. Aroma ini, aku ingat saat dulu dia selalu mendekapku seperti ini. Dan saat ini terulang lagi setelah sekian lama. Bukan aroma parfum tentunya. Aroma yang entah sulit aku ungkapkan. Seperti aroma rokok bercampur dengan wine. Tapi entah kenapa aroma itu justru membuatnya semakin terlihat misterius.
"Jantungmu berdebar sayang?.." Suara Tristan tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut.
"Kau tidak tidur. Lepaskan aku.." teriakku.
"Sst.. Diamlah. Aku merindukanmu. Sudah seminggu lebih aku menahannya.." Jawabnya dengan mata masih tertutup.
"Kapan kau datang?.."
"Semalem. Dari bandara aku langsung kesini.."
"Bandara. Kau dari mana?.."
"Dari korea.." Jawabnya asal.
Aku berusaha untuk duduk, rasanya seperti tak bisa bernafas dengan posisi seperti itu. "Lepaskan aku, aku mau mandi.."
Tiba-tiba Tristan membuka mata "Ide bagus, kita mandi bersama.."
"Nooo!!!!.." teriakku. Tristan hanya terkekeh melihatku berteriak keras didepan mukanya. Aku melihat wajahnya dengan dekat, lesung pipinya saat tertawa begitu kentara. Lelaki ini, ya tuhan aku pernah jatuh hati padanya. Dengan pesonanya seperti ini. Dulu.
Aku memalingkan wajahku, aku tak mau jatuh kedalam lubang yang sama kedua kali. Aku tak mau jatuh pada pesona lelaki psikopat ini, yang dengan gampang membuat orang jatuh hati dan menghempaskannya begitu dalam. Aku tak mau.
Rasanya bayangan itu masih selalu muncul, bayangan bagaimana dia menyiksaku. Menendangku dengan membabi buta. Aku begitu trauma mengingatnya. Aku hampir saja mati karena itu. Tapi anakku lah yang menyelamatku dan dia justru yang menjadi korban. Aku tak kan pernah melupakan itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1