BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Mencintaimu


__ADS_3

Brakk


Pintu terbuka. Dony dan dua pengawal datang, di ikuti oleh lexa.


"Kimy kamu baik-baik aja.." teriak lexa. Dia berlari menghampiri Kimy. Begitu juga dengan dony dan dua pengawal.


"Nona.."


"Bos.."


"Tolong dia, tolong dia. Cepat panggil dokter don.." Kata Kimy sambil menangis histeris.


"Kimy apa yang terjadi?.." tanya lexa kebingungan.


"kak.." Kimy memeluk lexa sambil menangis.


"Bos anda baik-baik saja?.." Tanya Dony pada Tristan. Tristan mengangguk. "Apa perlu dokter?.."


"Tidak.. Keluarkan peluru sialan ini dari lenganku.." perintah lelaki itu pada Dony. Dony mengangguk, lalu dia keluar kamar mengambil alat tempurnya.


"Kimy tenang.." Kata lexa sambil memeluk Kimy.


"Dia bisa mati kak?.."


"Dia akan baik-baik saja. Lihat lelaki itu mau mengambil pelurunya.." mendengar itu Kimy melihat ke arah Dony yang bersiap mengambil peluru dilengan Tristan dengan pisau bedahnya. Kimy terkejut "Hey tunggu.." Dony seketika menghentikan gerakannya.


"Kau gila, mau apa kau? Kau bisa membunuhnya don.." teriak Kimy sambil berjalan menghampiri kedua lelaki itu. Tristan yang sekarang sudah berbaring di ranjang siap dieksekusi itupun tak bisa berbuat apapun.


"Tapi bos akan kehilangan banyak darah kalau tidak segera ditangani.." jawab Dony.


"Apa kau dokter. Apa kau mengerti tentang membedah tubuh. Panggil dokter kak, cepat.." perintah Kimy pada lexa. Lexa segera berlari namun kakinya terhenti ketika mendengar suara Tristan.


"Sayang tidak, jangan panggil dokter. Dony sudah biasa melakukan itu. Biarkan dia melakukan tugasnya.." Tristan berkata dengan lemas.


"Tapi dia bisa.."


"Sayang kemarilah.." Kimy meraih tangan Tristan yang menjulur padanya.


Tristan menggenggam tangan Kimy, lalu mengusap pipi wanita yang masih menangis itu. "Sudah ku bilang jangan menangis. Percaya padaku, Dony bisa melakukan ini.." Kimy menggeleng dengan air mata terus mengalir.


"Peluk aku kalau kamu takut.." dengan segera Kimy memeluk tubuh lelaki yang tengah berbaring tak berdaya itu.


"Lakukan don.." perintah Tristan. Dony segera mengeluarkan peluru yang bersarang dilengan tristan.


Tristan memeluk erat tubuh Kimy dengan mata terpejam ketika dia merasakan sakit yang teramat ketika Dony membelah lengannya dengan pisau bedah. Kimy yang merasakan pelukan lelaki itu pun mendongak melihat wajah Tristan. Kimy meringis ikut merasakan sakit yang dirasakan lelaki itu.


"Apa sakit?.." bisik Kimy tepat ditelinga tristan.


"Tidak asal kau terus memelukku begini.." jawab Tristan tanpa membuka matanya.


"Tapi expresimu mengatakan kamu kesakitan Tristan. Tolong jangan lakukan hal semacam ini lagi, berjanjilah padaku.."

__ADS_1


Tristan membuka matanya "I love you.." Jawabnya pelan. Lalu lelaki itu menutup matanya.


"Tristan!! Tristan. Apa yang terjadi don?.." Kimy begitu panik. Namun Dony dengan tenang menyelesaikan tugasnya. Setelah mengeluarkan peluru itu, Dony memberinya obat entah obat apa. Lalu menjahitnya dan menutup luka itu dengan perban. Tenang sekali Dony melakukan itu seperti sudah terbiasa tanpa rasa panik sedikitpun.


"Sudah selesai, bos akan sadar nanti ketika biusnya habis.." jawab Dony ketika beres melakukan tugasnya. Lelaki itu pun keluar kamar dengan membawa semua peralatan tempurnya.


"Kimy lihat dia melakukan itu dengan baik.." Kata lexa mendekat pada Kimy "aku keluar dulu, panggil aku kalau ada apa-apa.." Kata lexa lalu berlalu meninggalkan Kimy.


Badan Kimy seketika terasa lemas. Dia pun mendekatkam dirinya lagi pada lelaki yang tengah tak sadarkan diri itu. Kimy merebahkan tubuhnya di samping Tristan. Pikirannya melayang jauh. Kenapa bisa dia begitu takut lelaki ini mati? Kenapa dia begitu sakit melihat penderitaan yang di alami Tristan? Apa ini, apa sebenarnya dia mencintai lelaki ini. Kimy terisak lagi, perlahan tangannya memeluk perut lelaki yang sedang bertelanjang dada itu. Kimy memeluknya dengan erat. "Maafkan aku sudah meragukanmu. Aku percaya padamu Tristan, aku percaya.." katanya pelan sambil membenamkam wajahnya di tubuh lelaki itu.


Tok tok


Tok tok


Pukul 21.00 pintu kamar Kimy di ketuk oleh Daniel, papinya. Setalah pulang kerja lelaki paruh baya itu mendapat informasi dari bi asih kalau calon menantunya terluka tembak, dengan segera ia menghampirinya.


Tok tok


Tak ada sahutan dari dalam membuat Daniel semakin khawatir.


"Kimy.. Sayang.."


"Kimy.."


Tok tok


Tristan membuka matanya perlahan karena mendengar pintu di ketuk. Dia merasakan pelukan hangat di tubuhnya yang bertelanjang dada. Dia melirik kebawah dan ternyata Kimy tertidur sambil memeluknya dengan erat.


"Kimy.." panggil Tristan pelan dengan membelai punggung wanita itu.


Kimy beringsut dari tidurnya, ia membuka mata perlahan dan dengan cepat memeriksa keadaan Tristan. Kimy sedikit terkejut melihat tristan sudah sadar, bahkan sedang menatapnya.


"Kamu sudah sadar?.." Kimy memegang dahi tristan dan memeriksa lengan yang di balut perban itu.


"Aku tidak apa-apa sayang, itu ada yang mengetuk pintu. Sepertinya papimu.." Kata Tristan memberi petunjuk ke arah pintu. Kimy bangkit untuk membuka pintu.


"Pi.."


"Kimy apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Tristan.." Tanya Daniel sedikit panik.


"Dia terluka pi.."


"Bagaimana bisa?.." Daniel menerobos kamar putrinya itu dan melihat Tristan tengah berbaring menatapnya.


"Tristan kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi.." Tanya Daniel beruntun.


"Saya tidak apa-apa om, hanya sedikit luka.."


"Bagaimana bisa kamu tertembak di rumah?.."


"Pi.. Itu karena.."

__ADS_1


"Saya yang Ceroboh om, tidak sengaja.." potong tristan.


Kimy menatap Tristan tidak percaya, namun lelaki itu justru tersenyum padanya.


"Apa sudah memanggil dokter?.."


"Saya sudah baik-baik saja om, besok juga akan membaik.."


"Tristan jangan menyepelekan kesehatanmu, seberapa kuatpun tubuhmu kau harus memeriksakan kedokter, aku takut terjadi infeksi.."


Tristan mengangguk "Iya om.." hati Tristan mengahangat. Dia merasa benar-benar dihargai dan di sayangi. Dia merasa benar-benar mempunyai sebuah keluarga.


"Baiklah papi keluar dulu, kalau ada apa-apa panggil papi.." Kimy menggangguk dan setelahnya Daniel pun meninggalkan tempat itu.


Setelah Daniel keluar, Kimy duduk di tepi ranjang di samping tristan. "Kamu yakin sudah baik-baik saja?.."


"Iya sayang.."


Kimy menghela nafas, dia sedikit lega melihat Tristan baik-baik saja. "Kamu membuatku khawatir Tristan. Dasar bodoh.." gerutu Kimy.


Tristan tersenyum melihat Kimy khawatir padanya, berarti usahanya berhasil. "Kamu mengkhawatirkan ku?.."


"Tentu saja, bagaimana kalau kamu mati?.." jawab Kimy sambil menahan air mata.


Tristan menarik tangan Kimy hingga tubuh wanita itu terbaring disamping Tristan. Kemudian lelaki itu memeluknya.


"Aku senang kamu khawatir padaku, itu berarti kamu tidak mau melihatku mati kan? Kimy kamu mencintaiku kan?.." Kimy tak menjawab, air matanya sudah menjadi sebuah jawaban bagi Tristan kalau wanita itu mencintainya. Tristan bisa merasakan nya.


"Ayo menikah secepatnya sayang.." Kimy mendongak melihat wajah Tristan.


"Tapi kan kamu sudah janji untuk mencari keberadaan mami?.."


"Aku janji. Tapi aku ingin segera menikahimu. Aku tidak mau kehilanganmu Kimy.."


"Kamu tidak akan kehilanganku asalkan kamu mau berjanji.."


"Katakan!!.."


"Jangan berbuat jahat lagi please.. Aku tidak mau mempunyai suami seorang penjahat. Aku juga tidak mau kamu membalas dendam lagi. Berhentilah Tristan, maafkan semua orang-orang yang menyakitimu di masa lalu.."


Tristan tak menjawab, ia hanya menatap Kimy dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Kamu bilang mencintaiku kan? Tristan.."


"Iya aku mencintaimu sayang.."


"Jadi.."


"Akan ku lakukan seperti yang kamu mau. Berjanjilah tidak akan meninggalkanku hmm.." Tristan mencium kening Kimy lembut. Kimy tersenyum dan mengangguk. Sekarang Kimy yakin akan pilihannya. Dia tidak mau ragu lagi pada lelaki itu. Dia berjanji benar-benar akan memulai dari awal


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=.

__ADS_1


__ADS_2