
Gilang menatap mamanya pilu. Sinta yang biasanya berpenampilan menarik walau di usianya yang sudah tak muda lagi, Sinta yang selalu berwibawa itu kini terlihat memprihatinkan. Tatapan matanya seakan kosong, rambutnya berantakan, Sinta juga seperti bergumam sendiri, seperti mempunyai dunia sendiri. Gilang hanya menatap Sinta dari balik kaca kamar mamanya. Ya hari ini Sinta sudah di pindah kan ke rumah sakit jiwa, ada Septian dan nadine yang menemaninya saat ini.
Nadine mendekat pada Gilang, ia mengusap lembut lengan Gilang.
"Its oke.. Tante akan baik-baik saja di sini.." katanya pelan. Gilang terlihat mengangguk tanpa melepas pandangan nya pada Sinta.
Setelah dari rumah sakit Gilang dan Septian menuju kantor. Mulai sekarang Gilang harus menjadi pribadi yang lebih kuat. Kedua orang tuanya sedang sekarat, dia tak mau hancur juga. Sedangkan nadine sudah kembali ke butik nya.
Setelah sampai di kantor dan masuk ke ruangan nya, Septian memberikan beberapa map pada Gilang.
"Apa ini?.."
"Itu beberapa kontrak kerja yang tertunda, mereka belum membatalkan atau melanjutkan, meraka masih menunggumu.." jawab Septian.
"Batalkan semua kontrak kerjaku.."
"Apa?.."
Gilang berdiri berjalan mendekat pada jendela kantornya "Aku tidak bisa menjadi model lagi, mulai sekarang aku akan bekerja di balik layar. Kalau mereka mau bisa di alihkan ke artis kita di manajemen ini, banyak kan? Terserah mereka mau pilih siapa.."
"Lang, kau itu icon di manajemen ini, bagaimana bisa kau tidak mau berhadapan lagi dengan camera.."
"Itu sudah keputusan ku.."
"Apa karena Kimy? Kontrak kerja sama yang memakai kalian berdua sudah di batalkan.."
"Aku bilang batalkan semua kontrakku.." perintah Gilang tegas tak terbantahkan.
Septian hanya menelan ludah kasar atas keputusan sahabatnya itu. Setelahnya dia meninggalkan ruangan Gilang.
Setelah kepergian Septian, Gilang terlihat memijat pelipisnya. Tidak bisa di pungkiri Kimy adalah salah satu alasan kenapa dia tak mau lagi berhadapan dengan camera. Terlalu banyak kenangan yang ia habiskan bersama kekasihnya itu. Mereka sering mendapat kontrak iklan berdua, Kimy yang selalu menemaninya shooting di saat jadwal gadis nya itu kosong atau sebaliknya. Kimy yang manja, kimy yang pemarah, Kimy yang cemburuan, dia tak bisa menghilangkan pikirannya tentang gadisnya itu.
Selain itu ada faktor lain yang membuatnya berhenti. Yaitu masalah keluarganya, masalah keluarganya terlalu rumit sedangkan dia seorang artis yang kehidupan nya selalu di sorot. Dia tidak mau aib keluarganya sampai ke telinga orang luar apalagi media.
**
__ADS_1
Malam hari di rumah Tristan, Kimy sudah berada di kamar mewah nya dulu. Gadis itu menatap nanar seluruh ruangan, ia tak menyangka akan kembali ke tempat itu lagi.
Ceklek
Tristan masuk membawa sebuah nampan berisi makanan. Kimy yang melihatnya hanya membuang muka malas. Setelah menaruh nampan di meja makan, Tristan mendekat pada Kimy mendorong kursi roda itu menuju meja makan.
Tristan menarik kursi, mendekatkan pada Kimy. Setelah duduk, lelaki itu meraih sebuah mangkuk berisi bubur ayam "Buka mulutmu.."
Kimy membuang muka mengabaikan ucapan lelaki itu.
"Baiklah kalau kau tidak mau makan, aku akan menyuapimu dengan caraku.." Tristan memasukkan sendok berisi bubur itu ke mulutnya, dan semakin mendekat kan wajahnya pada Kimy. Merasakan nafas Tristan semakin menyapu wajahnya membuat Kimy merinding, dengan cepat ia meraih sendok yang ada di tangan tristan, mengambil sesendok bubur dan memasukkan ke mulutnya cepat.
Tristan tersenyum puas, Tristan hanya diam menyaksikan Kimy memakan buburnya. Dia terus memperhatikan gadis itu, tidak terasa bubur itupun sudah habis masuk keperut kimy.
Setelah selesai makan, Tristan terlihat menyapu bibir Kimy dengan ibu jarinya pelan. Membersihkan bibir Kimy dengan lembut. Sentuhan mendadak itu membuat Kimy membatu.
"Maaf.."
Kata maaf itu terlontar dari mulut lelaki gila itu. Terdengar lembut, namun Kimy hanya tersenyum sinis seakan dia sudah kebal dengan sikap manis lelaki itu.
Mata Kimy melebar saat bibir Tristan mencium nya singkat. Apalagi lelaki itu tak segera menjauhkan wajahnya setelah mencium nya, menatapnya dalam, mata mereka bertemu. Entah apa yang di rasa kan Kimy saat itu. Hatinya terlalu sakit mengingat perlakuan keji lelaki itu padanya.
"Bicaralah, aku ingin mendengar suaramu.." katanya pelan masih dengan wajah yang begitu dekat.
Kimy tak tahu harus bicara apa, dia sendiri bingung. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau membenciku?.."
Pertanyaan macam itu, jelas saja Kimy membencinya, dia hampir mati karena ulah nya dan calon anaknya. Mengingat itu hati Kimy terasa sesak.
"Ayo Bicaralah.." desaknya.
"Dimaan Laura?.." Kimy bukan asal bertanya, sebenarnya pertanyaan itu sudah ada di hatinya sejak ia sadar. Apa Laura juga menerima hukuman yang sama dengan nya, apa wanita itu baik-baik saja. Kimy merasa bersalah pada Laura.
Tristan tersenyum dan menjauhkan sedikit tubuhnya "Kau tidak perlu tahu di mana ****** itu berada. Dia tak akan bisa mendekatimu lagi.."
__ADS_1
"Bukankah dia kekasihmu?.." tanya Kimy asal.
"Dia hanya penghangat ranjangku, tidak lebih.." jawab lelaki itu santai. Kimy memandang Tristan kesal.
Tristan sedikit tertawa "Apa kau cemburu?.."
Kimy tertawa sinis, dia tidak percaya dengan apa yang di dengar nya. Setelah dia mengalami banyak hal, setelah dia hampir mati, bisa - bisanya lelaki gila itu berkata seperti tak punya dosa begitu.
"Aku mau tidur.." Kata Kimy mengalihkan pandangannya.
"Okey.. Kita akan tidur sekarang.."
"Kita.." jawab Kimy heran.
"Iya kita, aku akan menemanimu.."
Kimy melotot tajam "aku tidak mau, aku mau tidur sendiri.."
Tristan berdiri dan dengan cepat ia mengangkat tubuh Kimy dari kursi roda, merebahkan tubuh gadis itu pelan di ranjang.
Kimy hanya diam pasrah atas apa yang di lakukan lelaki itu, percuma Kalau pun dia berontak. Selain tubuhnya yang masih sakit, dia juga malas membuang tenaga.
Tristan menyelimuti tubuh Kimy dan dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping gadis itu. Tristan memiringkan tubuhnya menghadap Kimy. Merengkuh pinggang Kimy untuk lebih mendekat padanya.
Kimy yang mendapatkan perlakuan manis itu hanya menelan ludah pelan. Dia tak mau lagi termakan sikap manis lelaki psikopat itu, lebih baik dia menutup matanya.
Tiga puluh menit berlalu, suasana hening terasa di kamar itu. Kimy sudah anteng dengan mata terpejamnya. Sedangkan Tristan, lelaki itu masih terjaga. Dia menatap lekat wajah kimy dengan tatapan yang sulit di artikan. Entah apa yang di pikirkan nya, apalagi lampu kamar menyala, Tristan tak akan bisa tidur dengan suasana terang seperti itu, berbeda dengan Kimy dia lebih suka menyala kan lampunya saat tidur. Tristan merapatkan tubuhnya lagi, mendekat kan wajahnya pada telinga gadis itu, mengendus leher Kimy dan mengecupnya singkat "Good night.." Tristan menurunkan wajahnya mendekat pada perut Kimy, menatap perut itu, membelainya lembut, seakan mengajaknya bicara.
"Maafkan papa nak, papa yang bodoh tak mengetahui kehadiranmu. Papa akan buat mama bahagia, papa janji.." bisiknya pelan di samping perut rata Kimy.
Setelah itu Tristan memeluk tubuh Kimy, memejamkan matanya. Beberapa saat setelahnya terdengar dengkuran halus keluar dari mulutnya menandakan lelaki itu susah terlelap.
Kimy membuka matanya, air mata menetes ke pipinya perlahan. Gadis itu belum tidur dan dia mendengar segala yang Tristan ucapkan. Entah apa yang Kimy rasakan, ia masih belum percaya dengan lelaki itu lagi. Semua kejadian itu membuatnya sakit, membuatnya trauma. Dia takut untuk percaya lagi pada lelaki gila yang tak punya hati itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1