
Kenalan dulu dengan para tokoh utama yang gaez.. ❤️❤️❤️❤️Komen donk kalian lebih ngeship ke siapa..
Nama : Kimy moeremans
Umur : 24 tahun
Profesi : Model
Nama : Tristan Aditya Abraham
Umur : 29 Tahun
Profesi : CEO PT ABR
Nama : Gilang Dwi Hanggono
Umur : 27 tahun
Profesi : Artis, owner PH ( Production House)
Sudah seminggu Tristan meninggalkan Indonesia, saat ini ia sedang berada di New York untuk menyelesaikan masalah di kantor cabangnya yang ada di kota itu. Lelaki itu tak memberi tahu Kimy keberadaannya saat ini, ia hanya mengirim pesan atau sesekali menelepon gadis itu. Dia ingin menyelesaikan pekerjaan nya sebelum dia menikah.
" Dony, aku ingin bertemu wanita itu, sebelum kita kembali ke Indonesia.." Kata Tristan sambil menandatangani berkas di mejanya.
" Baik, nanti akan saya atur jadwalnya.."
Setelah menerima berkas yang sudah di tanda tangani Tristan, Dony meninggalkan ruangan bos nya itu. Tristan terlihat sedikit berfikir.
Aku akan segera menikah ma, apa mama bisa melihatku di atas sana? Apa mama akan senang aku menikah dengan Kimy. Dia adalah anak wanita yang sudah mengambil organ tubuh mama. Apa mama akan merestui pernikahan ini.
Tristan memijat pelipisnya, dalam hatinya ada kebimbangan yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Dia mencintai Kimy, tapi kenyataan bahwa orang tua Kimy telah mencuri mata mamanya tak bisa ia lupakan begitu saja.
**
__ADS_1
Alexa berdiri di pinggir jendela apartemen nya, manajer Kimy yang sudah seperti kakaknya itu merenung, memikirkan apa yang harus di lakukannya. Ya.. Kimy sudah menceritakan semuanya pada lexa, tak terkecuali. Kimy sangat mempercayai wanita itu. Dia tak bisa berbohong pada wanita itu.
" Haruskah aku mempertemukan mereka berdua?.." katanya pelan. Hati wanita itu bergejolak, ia tak bisa tinggal diam membiarkan Kimy menanggung masalah sebesar ini sendirian.
"Masalah ini cukup rumit. Tapi aku nggak akan membiarkan Kimy bersama lelaki jahat itu" katanya lagi.
Wanita itu merogoh saku celananya, ia memencet nomor ponsel seseorang.
Tut.. Tut
" Hallo.." lexa menyapa orang di balik telepon. " Bisa kita bicara?.."
" Di apartemenku saja, karena aku tidak mau ada gosip nanti. Kamu masih ingat apartemenku kan?.." Kata lexa lagi.
" Oke baiklah, aku tunggu.." wanita itu menutup ponselnya, dan ia sedikit tersenyum.
**
Ke esok kan hari, Gilang terlihat sibuk di kantornya. Lelaki itu sudah hidup dengan normal lagi. Dia selalu menyibukkan dirinya dengan kerja dan kerja, karena hanya dengan itu dia bisa sedikit menghilangkan pikirannya tentang Kimy.
" Makan siang yuk.." ajak Septian menutup laptop yang ada di depannya. Ia melihat ke arah Gilang yang masih terlihat serius menatap laptopnya.
" Lang.."
" Hmm.. Sebentar.." jawab Gilang tanpa mengalihkan perhatiannya pada laptop yang ada di depannya.
Tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan ocehan Septian. Seorang security membuka pintu " Pak Gilang ada kiriman.." Kata security itu.
Gilang menengadah " Kiriman apa pak?.."
" Seperti biasa pak, dari non nadine.."
" Hmm.." jawab Gilang malas.
" Bawa sini pak, kebetulan aku laper.." Kata Septian menghampiri security itu. " Terima kasih ya pak.."
" Gila si nadine itu, nekat juga dia tiap hari ngirimin kamu makanan lang.." Kata Septian sambil membuka kotak makan itu.
" Makan aja.." jawab Gilang tak peduli.
" Oke.. Rezeki nggak boleh di tolak.." Septian mulai memasukan makanan itu ke mulutnya. Sambil mengunyah lelaki itu melihat gilang mulai merapikan mejanya, Gilang juga terlihat menutup laptopnya "Kamu mau pergi?.." Tanyanya melihat gilang yang mulai menggulung lengan kemejanya.
Gilang mengangguk " Ya, aku ada urusan sebentar.."
__ADS_1
" Urusan apa, apa aku nggak perlu ikut?.."
Gilang menatap septian yang mulutnya penuh dengan makanan " Nggak usah.. Selesaikan aja makanmu. Aku nggak lama.." Gilangpun meninggalkan ruangannya.
Di jalan, saat mengemudikan mobil Sport nya Gilang sedikit berpikir, untuk apa lexa meminta menemuinya di apartemen. Apa ini ada kaitannya dengan Kimy. Pikiran Gilang terus berputar-putar menebak apa yang akan dibicarakan nanti dengan lexa, karena cukup lama dia tak komunikasi dengan wanita itu. Setelah 30 menit perjalanan, Gilang sampai di apartemen lexa. Sudah lama sekali ia tak kesitu. Dulu pernah beberapa kali ia datang mengantar kekasihnya ke tempat itu. Gilangpun sedikit tersenyum mengingat kenangannya lagi bersama Kimy. Setelah memencet bel beberapa kali, lexa pun membuka pintu apartemennya.
Ceklek
Lexa tersenyum " Aku kira kamu nggak dateng.." katanya ketika melihat Gilang sudah berdiri di depan apartemennya.
" Ada apa lex? Tumben kamu telpon aku.." Tanya Gilang yang langsung nyelonong masuk ke apartemen wanita itu. Gilang memang selalu bersikap seenaknya seperti itu pada lexa dan lexa sudah hafal sikap lelaki itu. Walaupun lexa lebih tua, Gilang tak peduli, ia tetap saja bersikap kurang ajar seperti itu. Bahkan lexa sering kena marah oleh Gilang karena merasa tak becus ngurus Kimy saat itu.
Lexa menutup pintu apartemennya, dan berjalan mengikuti gilang. "Kamu nggak pernah ada kabar? Apa sekarang sudah lupa sama Kimy.." goda lexa sambil sersedekap menatap Gilang sambil berdiri.
" Ck.. Sialan.." jawab Gilang pelan.
" Jadi bener sudah lupa?.."
" Apaan sih kamu lex, mau ngomong apa kamu cepetan aku banyak kerjaan.." gertak Gilang.
" heh.. Pembohong.."
Gilang menatap lexa, ia tak percaya asisten kekasihnya itu mengatainya pembohong. Dari dulu lexa tak pernah berani komentar apapun tentangnya, makanya dia sedikit terkejut dengan keberanian wanita itu sekarang.
" Kalau nggak ada yang kamu omongin, aku pergi.." ancam Gilang.
" Pergi saja, setelah itu kamu akan menyesal seumur hidupmu.."
Gilang menatap lexa lagi dengan penuh tanya, dia sedikit berfikir, wanita ini menyembunyikan sesuatu pasti. "Apa ada kabar dari Kimy?.." Tanya Gilang kemudian.
" Kalau ada kabar, memang kamu masih peduli?.." Gilang semakin geram dengan sikap wanita itu, ia pun beranjak dari duduknya dan bersiap pergi.
" Mau kemana?.."
" Nggak ada guna di sini, buang-buang waktu.." jawab Gilang malas.
Ceklek
Suara pintu kamar lexa terbuka, Gilang dan lexa sama-sama menoleh ke arah suara itu dan terlihat Kimy berdiri di sana. Matanya berkaca-kaca melihat Gilang yang begitu dekat dengannya itu.
" Kimy.." Gilang sangat terkejut, ia bahkan tak bergerak sedikitpun. Lelaki itu diam mematung. Ia masih mengira semua itu mimpi, dia takut untuk bergerak, karena setelah ia bergerak mimpinya akan berakhir saat itu juga.
Mereka berdua saling menatap cukup lama, membuat lexa jengah juga. Lexapun mendekati Gilang dan meninju lengan lelaki itu. Gilang tersadar, ia menoleh pada lexa dan menoleh lagi pada Kimy. Gadis itu, kekasihnya itu masih berdiri di Sana. Ini tidak mimpi, ini kenyataan. Jantung Gilang berdegub kencang. Lelaki itu tersenyum, berjalan perlahan menghampiri Kimy.
Kini jarak mereka hanya setengah meter saja, tapi mereka tetap merasa canggung untuk sekedar saling menyapa. Hanya mata yang saling berbicara, mengatakan betapa mereka saling merindukan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=