
"Kau punya banyak waktu rupanya untuk makan siang bersama istriku" suara barito itu membuat Kimy menoleh.
"Gilang.."
Gilang tak menjawab, ia malah menatap tajam Dony yang masih mengunyah makananya dengan santai.
"Tian.. Kalian di sini" Tanya Kimy saat Septian baru saja sampai di situ.
"Hehe.. Iya Kim" jawab Septian dengan senyuman khasnya.
Nadine menyusul di antara mereka membuat Kimy menatap tajam wanita itu.
Begitu juga Nadine, ia balas menatap Kimy dengan tatapan tajam sambil bersedekap dada.
"Kau--" Kimy menatap Gilang dan Septian bergantian "Kalian bertiga--" Kimy tidak meneruskan ucapannya, karena ia sudah tahu jawabannya. Nadine datang bersama dengan Gilang dan Septian.
"Apa sudah selesai Kim, kalau sudah kita pergi dari sini" ajak Dony, lelaki itu sudah mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
"Kimy pulang denganku" jawab Gilang.
Kimy menatap Gilang dan Dony bergantian.
"Aku akan pulang dengan sopir saja" Kata Kimy, kemudian ia bersiap memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
"Aku yang mengantarmu" Kata Gilang menatap tajam Kimy.
"Lang.."
"Aku yang akan mengantarmu!!" ulang Gilang dengan kata penuh penekanan.
Kimy menatap mata suaminya yang menatapnya tajam itu. Mata posesif dan cemburu Gilang tak bisa di sembunyikan lagi. Kimy tahu lelaki itu sedang marah saat ini.
Kimy mengangguk dan beranjak dari duduknya meninggalkan tempat itu tanpa pamit pada Dony. Gilang segera mengekor dibelakangnya.
Melihat Kimy pergi begitu saja, Dony pun ikut beranjak dan meninggalkan Septian dan Nadine tanpa menyapa mereka. Nadine begitu kesal melihat sikap arogan Dony itu, ia mengumpati lelaki itu beberapa kali.
"Masuk" perintah Gilang pada kimy.
Wanita itu pun menurut masuk ke dalam mobil sport Gilang. Setelah menutup pintu, Gilang memutari mobilnya dan duduk di balik kemudi. Mobil itupun meninggalkan tempat itu.
Hening di dalam mobil, membuat Kimy menoleh pada Gilang yang fokus dengan kemudinya. Ia tahu saat ini Gilang sedang marah, Kimy hafal sikap Gilang itu.
"Kamu marah?" Tanya Kimy membuka obrolan.
"Apa yang membuatmu marah?" Tanya Kimy lagi ketika Gilang tak juga menyahut ucapannya.
"Aku yang makan bersama Dony atau aku yang menolak kamu antar pulang?"
Ciiiiittttttt
Tiba-tiba saja Gilang mengerem mobilnya mendadak, membuat tubuh Kimy sedikit terhuyung ke depan.
"Gilang.. Enggak lucu ya" Kata Kimy dengan nada tidak sukanya.
"Tolong jangan bersikap begitu di depan orang lain. Aku tahu perasaan itu sudah hilang Kim. Tapi tolong hargai aku sebagai suamimu di depan orang lain"
"Memangnya apa yang ku lakukan sehingga membuatmu tersinggung Lang?" Tanya Kimy tak mau kalah, Kimy merasa tak melakukan hal yang salah hari ini.
"Kamu menganggapku orang asing di depan Dony, Septian dan Nadine. Begitu jijiknya kamu padaku, sehingga saat aku mau mengantarmu pulang, kamu lebih memilih pulang bersama sopirmu"
__ADS_1
"Lang, jaga ucapanmu" jawab Kimy dengan lantang. Kimy tersinggung dengan ucapan Gilang itu. Jelas bukan itu maksudnya.
"Okey.. Maaf aku yang salah" jawab Gilang pasrah.
"Lang apaan sih kamu, kamu tahu bukan itu maksudku" Kata Kimy dengan nada rendah tapi dengan penuh penekanan.
"Lalu apa maksudmu?" Tanya Gilang sambil menoleh menatap mata Kimy.
Mereka saling menatap dan terdiam..
"Sudah ku duga, pernikahan ini bukan ide yang bagus. Enggak mungkin kamu bisa bersikap biasa aja" Kata Kimy dengan memutus pandanganya pada Gilang.
"Apa maksudmu, kamu menyesal?"
"Gilang STOOPP!!!!" Kimy berteriak membuat gilang menelan salivanya.
"Kamu tahu menikah denganmu bukanlah keinginanku. Jangan bertingkah seolah kita saling mencintai. Simpan rasa posesif dan cemburu mu itu. Bukankan sudah ku bilang, jangan berharap apapun padaku. Aku buk kan Kimy mu yang dulu" setelah mengatakan itu Kimy keluar dari mobil Gilang dan menutup pintu mobilnya kencang.
Gilang mematung di tempatnya. Dunianya serasa hancur. Untuk pertama kalinya Kimy benar-benar menolaknya mentah-mentah. Wanita yang ia cintai itu meluapkan emosinya saat ini. Setetes air mata membasahi sudut matanya. Bohong kalau ia bisa tegar. Hatinya rapuh, ini lebih sakit dari pada mendengar berita pernikahan Kimy dulu.
**
Seminggu sudah berlalu, sejak kejadian Kimy marah terhadap Gilang, mereka tidak bertegur sapa. Kimy jarang melihat Gilang di rumah. Kalau pagi Gilang berangkat ke kantor duluan dan tidak pernah sarapan. Kalau malam, pulang kantor Gilang langsung masuk ke kamarnya. Pernah mereka malam-malam ketemu di depan kamarnya masing-masing, tapi keduanya hanya diam saja tanpa menegur sapa.
Walaupun sedang marah-marahan, kegiatan Gilang mengecek jadwal menu makan Kimy tidak pernah absen. Tentu saja semua itu tidak di ketahui Kimy. Gilang selalu menelpon bi Ana saat pagi dan malam hari, mengingatkan pembantunya itu tentang makanan Kimy.
"Kau kenapa?" Tanya Dony melihat Kimy melamun di tengah-tengah rapat tadi.
"Hah.. Apanya" jawab Kimy bingung.
"Kau kenapa saat rapat tidak fokus, apa ada yang mengganggumu"
"Kau tidak bisa bohong padaku"
Kimy menatap Dony dengan heran. Kenapa lelaki itu sekarang begitu berani padanya. Padahal saat Tristan masih hidup, Dony jarang sekali mengomentarinya, apalagi sampai bertanya perubahan moodnya yang tidak baik.
"Bisakah aku bercerai dari Gilang" Tanya kimy.
Dony sedikit terkejut.
"Aku kira kau menikmati pernikahanmu" jawab Dony sedikit acuh.
"Itu buka ide yang bagus Don."
"Kenapa, kau takut?" Tanya Dony meremehkan.
"Takut apa?"
"Takut jatuh cinta lagi padanya"
"Si*lan.." jawab Kimy kasar.
Dony tersenyum penuh kemenangan. Rupanya dugaanya benar.
"Kalau kau tidak takut kenapa harus menyerah"
"Kau tidak mengenal Gilang, dia itu--"
"Tentu aku tahu, bahkan dia seperti mau menelanku hidup-hidup saat berdekatan denganmu"
__ADS_1
Kimy membuang nafas kasar mendengarnya.
"Kimy.. aku saranin kau ikuti saja kata hatimu. Kau tahu lelaki itu tidak salah apa-apa tapi harus ikut menanggung semua ini. Dia sangat mencintaimu ku rasa"
"Kau menghianati Tristan si*lan.." jawab Kimy kasar.
"Noo... Dia nomor satu bagiku. Tapi aku menggunakan logika dan akalku, aku lebih setuju kau kembali pada masa lalu mu daripada kau kesepian"
"Aku tidak kesepian karena ada dia" Kimy mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Kau sendiri, kenapa jarang terlihat bersama Nadine. Kapan hari dia bersama Gilang, kau diam saja. Bukankah dulu dia cinta mati pada Gilang"
Dony menggeram kecil dalam dirinya. Nadine si*lan, wanita itu benar-benar musnah dari pandanganya.
**
"Tuan ini laporannya" Hendra menyerahkan sebuah map kepada Teddy.
Teddy pun membuka map itu, ia mengernyit heran.
"Siapa dia?"
"Pemilik nomor ponsel itu"
Teddy pun melihat sekali lagi isi map itu. Dibuka satu persatu lembaran itu. Ada foto seorang pria berpenampilan sederhana, pria itu memakai kacamata tebal. Terlihat pria itu sedang beraktifitas disekitar rumahnya yang sederhana.
Sekali lagi Teddy mengernyit heran. Ia membaca biodata pria itu. Pria bernama Damian, lahir di Chicago Amerika Serikat, mahasiswa di salah satu universitas di kota itu. Selain itu, pria berkaca mata itu juga bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah restoran.
"Bukan dia" Kata Teddy menyimpulkan.
"Saya juga berpikiran sama tuan.."
"Ikuti terus aktifitas pria itu. Dengan siapa dia bertemu setiap hari, jangan sampai lengah" perintah Teddy.
"Baik tuan.."
"Ee.. Tuan, masalah nyonya"
"Masalah apa lagi yang dia buat" sela Teddy.
"Sepertinya nyonya bermasalah dengan nona Nadine. Saya mencurigai nona Nadine juga sedang menyelidiki nomor telepon ini tuan"
"Nadine???"
"Iya.."
"Bukankah dia berpacaran dengan Dony, lalu apa masalahnya"
"Sepertinya mereka sudah putus tuan. Sepertinya nona Nadine hanya memanfaatkan Dony"
"Apa ada hubungan dengan Sinta?"
Hendra tidak menjawab. Dan Teddy langsung paham.
"Temukan aku dengan Nadine"
"Baik tuan" hendra pun undur diri dari ruangan Teddy itu.
"Sinta, ternyata aku terlalu meremehkanmu. Siap-siap hadapi nerakamu, karena aku akan menghabisimu setelah ini" ucap Teddy dengan geram.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️❤️❤️❤️\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=