
Sudah tiga hari Kimy berada di rumah barunya bersama Gilang sebagai pasangan suami istri. Selama itu juga ia dan Gilang tidak pernah makan bersama. Kimy selalu minta bi Ana untuk mengantarkan makananya ke kamar. Sedangkan Gilang, ia juga tidak pernah makan malam di rumah. Ia hanya sarapan saat pagi hari mau berangkat ke kantor. Itupun bi Ana yang menyiapkan dan dia makan seorang diri. Sebalum berangkat ke kantor Gilang selalu memastikan menu makanan untuk kimy.
Saat jam makan siang, Gilang selalu menghubungi bi Ana untuk sekedar menanyakan apakah istrinya sudah makan atau belum dan menanyakan istrinya itu sedang apa saat ini. Bi Ana sudah seperti mata-mata untuk Gilang. Ia selalu mengabari Gilang kalau Kimy baru turun, kalau Kimy lagi duduk santai di teras atau Kimy lagi melamun di teras belakang.
"Saya mencari Kimy?"
"Tuan siapa?" Tanya bi Ana melihat secara detail penampilan Dony yang dingin seperti es itu. Lelaki tanpa expresi itu berdiri di ambang pintu dengan kacamata hitam, membuat bi Ana ketakutan. Dikiranya penjahat, tapi kalau penjahat kok tampan begitu.
"Bilang saja Dony datang mencarinya"
"Tapi bapak melarang orang asing masuk ke rumah tuan, maaf" bi Inah menghadang Dony yang mau melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Kau belum mengenal saya, biarkan saya masuk menemui Kimy. Atau ku pecat kau"
"Tuan siapa mau memecat saya"
"Bahkan saya bisa melenyapkanmu saat ini juga, jika tidak kau izinkan aku masuk"
"Siapa yang mau kau lenyapkan?" suara Barito itu membuat Dony menoleh.
Gilang berjalan dengan santainya menghampiri Dony yang masih memakai kacamata itu.
Dony membuka kaca mata hitamnya.
"Katakan pada wanita itu kalau aku bukan orang asing. Aku berhak dan bebas keluar masuk rumah ini"
"Kau memang orang asing, bahkan kau salah tahu orang yang dilarang keras masuk rumah ini tanpa izinku"
"Oh ya" Dony tersenyum "aku yang menyuruh Kimy menikahimu. Kalau bukan karena perintahku, apa kau kira bisa menjadi suami Kimy"
Gilang mengetatkan rahangnya.
"Ya terserah kau lah. Tapi aku kepala rumah tangga di rumah ini. Aku berhak melarang orang masuk ke sini. Termasuk kau"
"Bagaimana kalau Kimy, Om Daniel dan tuan Teddy mendengar perkataanmu ini. Mereka pasti menyesal menikahkan Kimy denganmu"
Gilang menatap Dony dengan tajam. Lelaki tanpa expresi di depannya ini cukup sial*n juga.
"Jangan coba-coba menjauhkan Kimy dariku. Kalau aku mau, aku bisa membuatmu menjadi duda dalam waktu singkat" ancam Dony pada Gilang.
"Siapa yang datang bi?" Tanya Kimy dari dalam.
Bi Ana yang dari tadi melongo menyaksikan perdebatan kedua lelaki tampan itu pun terlonjak kaget.
"I-itu nyonya.." bi Ana menunjuk Dony.
"Dony.." Kimy menghampiri Dony.
"Kenapa berdiri di depan pintu, masuklah" pinta Kimy melirik Gilang yang terdiam di tempatnya.
"Kamu sudah pulang Lang?"
Gilang mengangguk, lalu ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Kimy dan Dony. Gilang memang kesal sebenarnya melihat kedekatan Dony dan Kimy. Sejatinya Gilang lelaki posesif dan pencemburu berat, dan sekarang dia harus menahan egonya. Jadi lebih baik dia menjauh saja, daripada bikin hati semakin panas.
"Sudah istirahatnya, sekarang saatnya bangkit" Kata Dony to the point.
Kimy yang paham maksud Dony itu hanya menatap dalam mata lelaki itu, lalu ia pun berjalan masuk dan duduk di ruang tamu, Dony mengekor dibelakangnya.
"Bagaimana kau sudah siap?" Tanya Dony ketika ia sudah duduk.
"Apa aku bisa Don?"
"Harus bisa" jawab Dony singkat.
"Orang tidak akan percaya kalau aku bisa memimpin perusahaan itu" Kimy terlihat khawatir.
__ADS_1
"Ada aku di sisimu, kau tidak usah takut. Aku akan selalu membimbingmu"
"Kenapa tidak kau saja yang menggantikan Tristan"
"Kimy, kau tahu betul bukan aku yang berhak. Aku hanya akan mengarahkan mu, semua keputusan tetap berada di tanganmu"
"Don, mereka akan meremehkanku, aku justru takut mereka akan menjatuhkan ku. Aku hanya wanita yang tidak tahu apa-apa selain berakting dan berpose di depan camera"
"Kau meremehkan dirimu sendiri Kimy"
"Bukan begitu, aku hanya takut"
"Kau lupa kau putri siapa? Om Daniel itu orang yang sangat di segani di dunia bisnis. Kau anaknya, setidaknya mereka akan percaya kau mewarisi bakat papimu"
"Tapi kenyataannya aku tidak bisa apa-apa"
"Apa kau sudah mencoba? Kau kalah sebelum berperang"
"Don--"
"Dan lagi, apa kau bilang tadi. Kau hanya bisa berakting dan berpose saja. Harusnya kau manfaatkan kepopuleranmu itu sekarang. Dengan kepopuleranmu, klien akan semakin percaya padamu. Seperti mengendorse usahamu sendiri. Kau bisa mempromosikan usaha orang lain, kenapa tidak dengan perusahaanmu sendiri"
Kimy terdiam sambil berpikir, benar juga kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana. Justru dengan kepopuleranya dia mengenal banyak orang, banyak relasi di mana-mana. Lalu apa yang di takutkanya.
**
Kimy sudah siap pergi ke kantor pagi itu. Mini dress di lapisi blazer menjadi outfitnya kali ini.
"Mulai hari ini kita akan berjuang bersama sayang" Kimy mengelus perut ratanya dan menyambar tas mini nya.
"Kamu akan mulai ke kantor hari ini?" Tanya Gilang yang sudah berdiri di depan kamarnya.
"Gilang.. sedang apa di sini?" tanyanya sambil menutup pintu. Gilang sudah tampan dengan setelan kantornya saat ini. Parfum maskulin favorit Kimy dulu semerbak di tubuh lelaki itu.
"Kita sarapan dulu dan aku akan mengantarmu" Kata Gilang lalu berjalan mendahului.
Gilang menoleh dan berhenti.
"Sopirku akan datang. Aku tidak mau merepotkanmu, lagian jarak sama kantormu kan lumayan. Dan lagi, aku tidak sarapan dirumah. Bi Ana sudah ku suruh nyiapin bekal, aku akan sarapan di kantor"
Gilang diam sejenak, lelaki itu mulai tercubit egonya. Hanya sekedar di antar saja Kimy menolak. membuat hatinya sedikit kecewa.
"Okey, terserah kamu" Gilang akhirnya meninggalkan Kimy dengan kekecewaannya. Tadinya ia pikir bisa mengantar istri tercintanya itu ke kantor. Dan mereka bisa sarapan bareng, ternyata Kimy benar-benar menjaga jarak darinya. Kalau begini caranya, bagaimana ia bisa merebut kembali hati Kimy.
"Bapak tidak sarapan dulu" Tanya bi Ana, tapi tak dijawab oleh Gilang. Lelaki itu sudah terlanjur kecewa, ia pun pergi begitu saja tanpa pamit pada Kimy.
Kimy tentu saja menyaksikan aksi Gilang itu dari tempatnya berdiri. Wanita itu masih berdiri di depan kamarnya. Akhirnya Kimy turun dan menuju meja makan.
"Nyonya ini bekalnya" bi Ana menyerahkan tas kecil yang berisi makanan dan juga buah-buahan untuk kimy.
"Gilang biasanya sarapan di rumah bik?" Tanya Kimy sambil merapikan tas bekal itu.
"Iya Nyonya, bapak biasanya sarapan dulu sebelum ke kantor"
Kimy melihat ke luar, terdengar mobil sport Gilang sudah melaju kencang meninggalkan rumah.
Apa dia marah?
Kimy menghembuskan nafasnya kasar. Mungkin sikapnya keterlaluan saat ini, tapi ini memang harus di lakukanya agar Gilang tak berharap lebih padanya.
"Ya sudah, aku berangkat ya bi" pamit Kimy pada bi Ana.
Bi Ana mengangguk dan membawakan tas bekal Kimy itu sampai depan. Terlihat seorang lelaki sudah berdiri disamping mobil mewah Kimy.
"Sudah bibi masuk aja"
__ADS_1
"Baik nyonya" Kimy mengambil tas bekal dan masuk ke dalam mobilnya.
Tiga puluh menit membelah jalanan ibu kota akhirnya mobil yang Kimy tumpangi sampai juga di depan gedung pencakar langit itu, ABR Corporation Grup.
Sopir membukakan pintu, perlahan kaki jenjang itu keluar dari mobil mewah itu. Kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya ia lepaskan. Kimy menatap gedung tinggi itu dengan perasaan campur aduk.
"Sayang, aku datang.."kata Kimy pelan.
Kimy pun berjalan memasuki gedung itu dengan percaya diri. Orang-orang yang berlalu lalang pun berhenti. Mereka sedikit menunduk memberi salam, mereka tahu kalau Kimy lah yang akan menjadi pimpinan mereka saat ini.
Ting
Kimy keluar dari lift langsung disambut oleh Dony. Kimy tersenyum melihat lelaki itu, dan Dony pun mengekor Kimy menuju ruangannya.
Kimy berhenti tepat di depan meja angel, sekertaris Tristan yang seksi itu. Tapi wanita itu tidak terlihat di mejanya. Mejanya juga terlihat bersih, tidak ada tanda-tanda keberadaan angel di sana.
"Dimana dia?" Tanya Kimy pada Dony yang berdiri di dibelakangnya.
"Angel mengundurkan diri, sehari setelah saya mengumumkan kalau kau yang akan memimpin perusahaan ini"
Kimy tersenyum gembira, dia senang wanita itu tahu diri sebelum ia mendepaknya keluar.
"Lalu kau sudah mencari penggantinya?"
"Sudah ada beberapa kandidat, nanti datanya aku antar" jawab Dony.
Kimy mengangguk, lalu ia berjalan lagi menuju ruanganya.
Kimy membuka ruangan Tristan dan yang pertama di lihatnya adalah foto besar lelaki yang di cintainya itu.
Tangan Kimy mencengkeram gagang pintu yang belum ia lepaskan. Pandanganya terkunci pada foto yang menatapnya dengan dingin.
"Apa aku perlu melepasnya?" Tanya Dony hati-hati.
Kimy menggeleng, ia menyeka air mata yang mengalir begitu saja di pipi mulusnya.
Kimy perlahan masuk ke dalam ruangan besar itu dan duduk di sofa, meletakan tas bekalnya di meja depannya.
"Kau belum sarapan?" Tanya Dony melihat tas bekal itu. Dony tahu tas kecil itu berisi makanan karena merk tas itu sendiri yang biasa buat tempat makanan.
"Belum, aku akan sarapan di sini"
"Baiklah, kau makan dulu. Aku akan mengambil berkas-berkas penting sebentar" Kata Dony lalu meninggalkan Kimy dalam keheningan.
Kimy mengedarkan pandangan keseluruh ruangan besar itu. Air matanya menetes lagi. Entah kenapa, berada di ruangan Tristan itu semakin membuatnya sesak di dada. Kimy merasa di ruangan itu aura Tristan masih bisa ia rasakan daripada di kamarnya. Mungkin karena Tristan lebih banyak menghabiskan waktu di sini untuk bekerja. Ia pun bangkit dari duduknya, Kimy melihat pemandangan ibu kota melalui jendela ruangan yang memang terbuat dari kaca.
"Tristan, kenapa sepi sekali dunia ini tanpamu. Aku merasa enggak sanggup untuk berdiri sendiri" air mata menetes lagi, dan itu semakin deras. Kimy bingung bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya saat ini.
**
"Dokter, barusan aku lihat tanganya bergerak?" Tanya wanita dengan pakaian kurang bahan itu.
"Iya, kondisinya bagus, stabil. Ada kemajuan, ajak terus bicara walaupun dia tidak menyahut. Itu bisa membantunya pulih" jawab dokter itu.
Wanita itu mengangguk.
"Lalu, kira-kira berapa lama dia akan koma dok?"
"Saya tidak bisa memastikan, mungkin setahun, dua tahun atau bisa lebih"
"Apa dia akan kehilangan memorynya?"
"Saya belum bisa memastikan, kalau dia sudah sadar saya baru akan memeriksa itu secara menyuruh nona"
Wanita itu mengangguk lagi. Setelahnya dokter itupun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Kau tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu di sini untukmu, Tristan. Kita akan mulai dari awal lagi..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️❤️❤️❤️\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=