BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Di penjara lagi


__ADS_3

Kimy menangis tersedu di dalam mobil mewah itu. Gadis itu sudah tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Dony yang sedang mengemudi dan Mario yang duduk di sampingnya itu pun saling melempar pandangan bingung harus berbuat apa?


Sedangkan Tristan lelaki gila itu, dia lebih asyik melihat ke luar jendela. Dia mengabaikan gadis di sebelahnya yang sedang menangis itu.


" Kapan kau akan berhenti menangis?.." Tanya lelaki gila itu pada Kimy dengan dingin.


Aku juga tidak mau nangis di depan kalian sinting, aku tak mau terlihat lemah, tapi bagaimana lagi, air mata ini keluar sendiri aku tidak bisa menghentikannya.


Tak menjawab pertanyaan lelaki itu, Kimy justru menaikkan volume suara tangisannya.


" Kalau kau tidak berhenti menangis, aku akan menghukummu begitu sampai dirumah.." Mendengar kata hukuman, fikiran Kimy sudah menjurus ke hal-hal yang biasa lelaki itu lakukan. Secepat kilat Kimy menghentikan tangisannya.


Mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah yang berada di tengah kota. Ketiga lelaki itu turun dari mobil, tapi Kimy justru berdiam diri di dalam mobil.


Fikiran gadis itu masih kacau, bahkan dia tak menyadari kalau ketiga lelaki gila itu sudah turun dari mobil.


Tristan yang berjalan mendahului menghentikan langkahnya. Lelaki itu menoleh untuk mencari keberadaan Kimy.


" Dimana gadis itu?.." Tanya Tristan pada anak buahnya.


Mario dan Dony saling melempar pandang, kedua pria itu juga menoleh kesana kemari mencari keberadaan Kimy. Dony menyadari kalau Kimy masih di dalam mobil, laki-laki itu berbalik arah menghapiri Kimy.


Tok tok!!


Dony mengetuk kaca mobil beberapa kali. Kimypun terlonjak kaget, gadis itu menoleh kedepan dan kesamping mencari keberadaan ketiga laki-laki gila itu, hingga dia menemukan Dony di luar mobil sedang mengetuk kaca mobil.


" Dimana ini?.." Gadis itu bertanya sembari membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi di acuhkan oleh anak buah pria gila itu. Dony berjalan mendahului, di ikuti Kimy di belakang sambil mengomel dalam hati.


Aku doakan kalian semua bisu beneran.


Ke empat orang itu memasuki rumah mewah itu. Kimy yang berjalan paling belakang merasa takut, dia mulai berfikir aneh-aneh. Siapa tau dia di jual pada lelaki tua dan kaya, memang akhir-akhir ini fikiran Kimy mulai tak waras. Banyaknya kejadian yang menyakitkan baginya itu, membuatnya berfikir tak logika.


" Kau pulang?.." Suara nek Inah mengejutkan Kimy.


Pulang? Jadi ini rumah pria gila itu, apa dia neneknya?


" Yah.." Jawab Tristan singkat dan dingin, bahkan Tristan menjawabnya tanpa berhentj berjalan. Laki-laki gila dan kedua anak buahnya itu, terus berjalan mulai menaiki tangga, sedangkan Kimy merasa bingung harus menyapa nenek itu dulu atau mengikuti ketiga pria gila itu.


" Siang nek.." Sapa Kimy ramah pada nek Inah, tapi nek Inah hanya diam memperhatikan Kimy dengan tatapan tak sukanya.


" Naik, aku melarangmu bicara pada siapapun dirumah ini.." Tiba-tiba suara pria gila itu terdengar, membuat Kimy menatap tajam pada pria itu. Dengan cepat Kimy melangkahkan kaki meninggalkan nek Inah dan mengikuti ketiga pria itu.


Mereka berjalan di lorong melewati beberapa kamar, hingga langkah Tristan terhenti pada kamar paling ujung. Tristan membuka kamar itu.


" Masuklah!!.." Titahnya pada Kimy.

__ADS_1


Perlahan Kimy melangkahkan kaki mendekat pada pintu kamar. Gadis itu mulai masuk di ikuti ketiga pria itu.


" Mulai sekarang kau tinggal di kamar ini.." Mendengar itu, Kimy menoleh ke arah pria itu dengan cepat.


" Dimana ini, apa ini rumahmu?.." Tanya Kimy.


" Kau di larang keluar dari kamar ini.." Kata Tristan lagi, tanpa menjawab pertanyaan Kimy sebelumnya.


Tanpa berkata-kata lagi Tristan meninggalkan kamar, di ikuti kedua anak buahnya.


" Hey, setidaknya jawablah pertanyaanku. Kalian tidak bisu kan?.." Kata Kimy penuh emosi, namun tidak di indahkan oleh mereka. Pintu tertutup, dan terdengar pintu itu dikunci dari luar.


Hahhhhhh!!!! Lagi, aku di penjara lagi.


" Kenapa kau bawa gadis itu kemari?.." Tanya nek Inah ketika memasuki ruang kerja Tristan.


" Kita keluar dulu bos.." Kata Dony, lalu dia dan Mario beranjak keluar ruangan.


" Tristan! kau mendengarku kan?.." Kata nek Inah lagi.


" Kenapa kau melibatkan gadis itu?.."


" Nenek tidak usah ikut campur.." Jawab Tristan.


" Nek, ingat posisi nenek di sini. Aku peringatkan, Jangan pernah ikut campur urusanku. Nenek cukup diam di sini menikmati hari tua nenek.." Kata Tristan dingin.


Lelaki itu beranjak dari kursinya lalu pergi meninggalkan nek Inah sendirian.


" Kau berjalan terlalu jauh nak, kau bahkan lupa siapa dirimu. Hatimu sudah di selimuti dendam, kau sudah tak punya hati nurani.." Kata nek Inah lirih sambil meneteskan air mata.


**


Malam hari Gilang berada di sebuah tempat hiburan di jakarta. Laki-laki itu minum terlalu banyak hingga dia mabuk. Septian yang menemaninya sudah tak bisa mencegahnya, dia hanya pasrah melihat sahabat serta bosnya itu mabuk berat. Bahkan Nando dan Rizal yang juga ada di situ tak bisa berbuat apa-apa juga.


" Ayolah kalian minum, aku yang traktir, minumlah sampai puas.." Katanya Gilang dengan suara khas orang mabuk.


" Kalian juga boleh pilih wanita yang kalian suka , aku yang bayar nanti, tenang saja, uangku banyak.." Katanya lagi.


Tian, Nando dan Rizal hanya saling menatap, mereka kasihan pada Gilang yang hancur. Baru pertama mereka melihat Gilang mabuk sampai seperti itu. Mereka sengaja tidak minum, mereka hanya menunggui Gilang, takut kalau berbuat aneh-aneh.


Dua wanita penghibur mendekat ke meja mereka. Satu wanita bergelayut manja pada lengan Rizal, dan yang satunya menghampiri Gilang yang lagi mabuk.


" Hey ganteng, boleh aku duduk di sini.." Kata wanita itu manja di sebelah Gilang. Gilang menatap intens wanita itu.


" Kimy? sayang kau datang.." Jawab Gilang mendekat pada wanita itu.

__ADS_1


" Lang, lang dia bukan Kimy.." Tian mencoba memberitahu Gilang.


" Sssttt, diam kau.." Jawab Gilang pada Tian.


Wanita itu mendekat pada Gilang, menempelkan tubuh bagian atas yang terbuka itu pada dada bidang Gilang.


" Sayang, aku merindukanmu.." Kata Gilang sambil membelai rambut wanita itu.


" Aku juga.." Jawab wanita itu menikmati sentuhan Gilang.


" Gila, ini benar-benar gila, lakukan sesuatu Tian. Kalau tidak, dia akan menyesal seumur hidupnya.." Kata Nando pada Tian.


" Sudah biakan saja, biar dia menikmati malam ini, mungkin habis itu dia akan melupakan Kimy.." Jawab Rizal.


" Kau bodoh zal, Tian bawa Gilang pergi dari sini.." Suruh Nando pada Tian, belum sempat Tian menjawab, dia sudah mendengar teriakan wanita yang menggoda Gilang tadi.


" Awhh lepas.." Jerit wanita itu.


" Jalang, berani sekali kau menyentuhku.." Gilang mencekik leher wanita itu. Gilang meradang saat dia merasakan tangan wanita itu meraba dadanya dan turun untuk meraba pusakanya. Laki-laki tersadar seketika dan mencengkram leher wanita itu dengan kuat.


" Aku akan membunuhmu jalang. Hanya Kimy yang boleh menyentuhku, kau tahu, dia pasti akan menghajarmu kalau tahu kau menggodaku.."


" Lepas.. to..toloong.." Suara wanita itu tercekat.


" Lang.. lang.. lepas lang..Tian, Nando dan Rizal menarik tubuh Gilang agar melepaskan wanita itu.."


Namun tangan Gilang terlalu kencang memegang leher wanita itu, tubuh Gilang tertarik kebelakang, namun tubuh wanita itu juga ikut tertarik kedepan.


Kejadian itu menarik perhatian semua orang, hingga orang-orang di situ mengabadikan moment menegangkan itu. Beberapa security berlari, mencoba melepaskan wanita itu paksa. Namun Gilang menendang security-security itu dengan membabi-buta.


Suasana di tempat hiburan itu sudah sangat kacau. Meja sudah terbalik terkena tendangan Gilang, gelas dan botol sudah berjatuhan dan pecah. Hingga terdengar suara " PRAANG!!!.." Gilang tersungkur ke lantai dengan darah mengalir dari kepalanya.


" Hey apa yang kau lakukan?.." Bentak Septian. Septian merengkuh Gilang yang tersungkur tak sadarkan diri.


Seorang wanita cantik dan sexy memukul kepala Gilang dengan botol minuman. Wanita itu terdiam dan tampak acuh dengan apa yang baru saja dia lakukan, sama sekali tak merasa bersalah.


" Gilang, Gilang, teriak teman-teman Gilang.." Ketiga lelaki itu menggotong tubuh Gilang untuk dibawa ke rumah sakit, karena banyak darah yang keluar dari kepalanya.


" Urusan kita belum selesai!!.." Kata Tian sambil berlalu membawa Gilang keluar dari tempat itu.


" Nona, Kau ikut ke kantor untuk bertemu bos kami.." Titah lelaki besar, pengelola tempat hiburan itu pada wanita dewasa yang cantik dan sangat sexy itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2