
"Kim"
Gilang membuka pintu kamar Kimy tanpa mengetuknya dulu. Lelaki itu sangat terburu-buru karena ia khawatir tentang surat cerai itu dan hal yang paling nengkhawatirkan lainya adalah karena Kimy sudah menandatanganinya.
Kimy yang sedari tadi duduk termenung itu sedikit kaget dengan kedatangan Gilang yang tiba-tiba.
"Gilang"
Gilang masuk ke kamar Kimy, ia berdiri di depan istrinya itu.
"Kim, surat itu dimana?" Tanya nya dengan cemas.
"Surat?" jawab Kimy.
"Iya.. Surat cerai yang kamu tanda tangani" Kimy tak menjawab, ia menoleh ke atas nakas tempat surat itu berada.
Gilang yang mengikuti pandangan Kimy itu pun langsung bisa melihat amplop cokelat di atas nakas. Segera Gilang berjalan ke sana dan mengambil surat itu.
Perlahan Gilang membuka dan membacanya, ada namanya sebagai penggugat dan Kimy sebagai tergugat. Gilang juga melihat kertas itu sudah di tandatangi oleh Kimy.
"Br*ngs*k" umpatnya pelan yang masih bisa di dengar oleh kimy. Gilang meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah.
Melihat itu, Kimy pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Gilang.
"Kenapa membuangnya?" Tanya Kimy heran.
Gilang menatap Kimy tak kalah heran, Bisa-bisanya wanita itu menandatangani surat cerai itu.
"Kenapa kamu menandatangani nya, kamu ingin sekali bercerai dariku?" Tanya Gilang dengan nada sedikit meninggi dan raut wajah kecewa.
Sekarang Kimy yang merasa heran, kenapa ia tidak boleh menandatanganinya, bukankah surat itu dikirim untuk di tandatangani olehnya.
"Lang ak--"
"Terserahlah Kim, aku capek dan sudah cukup pusing kalau harus berdebat. Tapi ingat, sampai mati aku tidak akan pernah menceraikanmu. Ingat itu." setelah mengatakan itu Gilang meninggalkan Kimy, ia keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan sangat kencang. Kimy sungguh terkejut karena itu, itu pertama kalinya ia melihat Gilang benar-benar marah padanya.
**
Pagi hari Kimy berjalan menuruni anak tangga, ia hanya melihat bi Ana yang sibuk menyiapkan sarapan. Tidak ada Gilang di sana.
"Gilang mana bi?"
Bi Ana menoleh "Bapak belum turun bu, mau saya panggilkan?" Tanya bi Ana.
"Nggak usah, biar aku panggil sendiri" jawab Kimy lalu berbalik berjalan menuju kamar Gilang.
Belum Kimy mengetuk pintu kamar itu, Gilang sudah membukanya terlebih dulu.
Keduanya sempat sama-sama terkejut..
__ADS_1
"Kim-"
"Lang-"
Ucap keduanya bersamaan.
Gilang terlihat menggaruk tengkuknya "Kim bisa kita bicara sebentar?" tanya Gilang.
Kimy mengangguk.
Gilang pun memberi jalan supaya Kimy masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Kimy setelah keduanya berada di dalam.
"Kim aku minta maaf karena semalam aku marah-marah--"
Kimy tak menjawab, ia masih menunggu Gilang melanjutkan bicara.
"Surat itu bukan aku yang kirim tapi papa" Gilang mengusap kasar wajahnya.
"Papa mau kita cerai"
Kimy menghembuskan nafasnya pelan.
"Nggak apa-apa, aku tahu kamu masih shock karena kepergian mama dan malah kamu tahu surat itu" jawab Kimy.
Gilang mendekat pada Kimy, kini jarak mereka hanya setengeh meter saja. Mereka berdiri sangat dekat.
Gilang meraih kedua tangan Kimy dan menggenggamnya.
"Sebenarnya aku malu mengatakan ini, setelah banyak sekali yang mama lakukan padamu dan Tristan. Tapi asal kamu tahu, cinta ku padamu tidak pernah berkurang sedikitpun Kim. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku akan menunggu sampai kamu membuka lagi pintu hati itu untukku" Kata Gilang sambil menatap manik mata Kimy.
Keduanya saling menatap, cukup lama. Jantung Kimy berdetak lebih cepat dari biasanya, Kimy bingung dengan apa yang di rasakanya kini. Gilang terlalu baik, akan sangat susah menolak pesona Gilang. Apalagi lelaki itu pernah sangat Kimy cintai dulu.
Gilang mendekatkan tubuhnya lagi pada Kimy, kini tubuh mereka tak berjarak. Kimy bisa rasakan hembusan nafas Gilang menerpa wajahnya.
Entah keberanian dari mana, kedua tangan Gilang sudah berada di wajah Kimy, menangkup wajah itu dan perlahan Gilang mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir indah Kimy.
Hanya kecupan kecil, Gilang lalu menjauhkan lagi wajahnya untuk melihat reaksi Kimy. Namun wanita itu seperti terhipnotis, ia diam mematung dengan jantung yang bergetar hebat. Apa Gilang mendengar debaran jantungnya?
"Aku selalu mencintaimu kim" Kata Gilang lirih lalu kembali mencium bibir merah itu. Kini bukan lagi kecupan kecil, namun ciuman yang menggebu-gebu. Setelah sekian lama akhirnya Gilang merasakan lagi bibir istrinya itu dalam versi halalnya.
Kimy pun memejamkan mata saat ciuman Gilang semakin dalam, bahkan Kimy juga mengikuti ritme ciuman itu. Keduanya larut, usapan lembut dipunggungnya membuat Kimy tersadar. Kimy membuka mata.
Tangan Kimy mendorong dada Gilang supaya berhenti dan lelaki itu pun melakukanya. Keduanya terengah dengan hidung saling menempel.
Gilang menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Kimy yang sudah memerah seperti tomat. Gilang menyadari itu langsung terkekeh kecil, Kimy nya yang dulu telah kembali.
"I love you--" Kata Gilang kemudian.
__ADS_1
Kimy tak menjawab, ia masih terlalu bingung dengan semua yang di hadapi ini. Dan Gilang paham itu.
"Kita akan terus bersama apapun yang terjadi. Aku janji tidak akan meninggalkanmu" setelah mengatakan itu Gilang mencium kening Kimy lembut.
Gilang menggenggam tangan Kimy dan mengajaknya sarapan bersama.
**
"Menikah??" Kata Nadine dengan terkejut.
"Orang sepertimu memang ada rencana menikah?" tanyanya lagi dengan heran karena ucapan Dony barusan. Setelah mereka bangun tidur, yang di ucapkan Dony malah bilang akan menikahinya. Tidak membuatnya senang, Nadine justru terkejut.
"Kenapa, kamu menolak aku nikahi?" Tanya Dony dengan wajah datar sambil menyenderkan tubuhnya di ranjang.
"Don kita tidak saling mencintai, bagaimana mungkin menikah?"
Dony sedikit salah tingkah mendengar Nadine bicara begitu. Siapa bilang tidak mencintai. Batinnya.
Dony tersenyum "Kita tidak saling mencintai tapi kamu hamil anakku, itu bisa terjadi kan? Jadi kalau kita menikah itu sangat masuk akal" Kata Dony sambil terkekeh.
"Aku nggak mau" jawab Nadine ketus sambil bersedekap dada.
Dony mnegenyit "Jadi kamu maunya aku tidurin terus tanpa aku nikahi"
"Hahh????" Nadine melebarkan matanya mendengar itu.
"Maksudmu apa?" Tanya Nadine.
"Kita tinggal serumah, tidur di ranjang yang sama. Kamu pikir aku akan diam saja saat tidur berdua denganmu. Aku sih nggak masalah, kalau kamu dengan sukarela merelakan dirimu aku tidurin setiap hari tanpa status"
Nadine semakin mengernyit heran, sejak kapan Dony banyak bicara begini dan lagi kenapa omongan Dony fulgar banget begini.
Nadine melempar bantal ke arah Dony.
"Dasar gila, mesum" teriaknya.
Dony pun menangkap bantal itu, dan menarik tangan Nadine hingga tubuh gadis itu sudah berada dipangkuanya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Dony sambil menatap manik Nadine.
Nadine salah tingkat, ia bingung harus menjawab apa. Tidak ada dalam agendanya ia akan menikah secepat itu, apalagi menikahnya dengan Dony.
Bersambung...
**
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
Selamat membaca
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️