
Gilang berjalan di koridor rumah sakit. Hari ini dia sengaja ingin menemui mamanya. Sudah beberapa hari dia tak mengunjungi Sinta. Saat dia mau membuka pintu ternyata mamanya sedang bersama dengan seorang wanita. Gilang menghentikan langkahnya, menatap punggung wanita itu.
Siapa dia, sepertinya nggak asing.
Namun ditengah lamunannya, Sinta menangkap kehadiran Gilang yang mengintip di balik pintu.
"Gilang, itu kamu?.."
Gilang terperanjat, tersenyum dan masuk ke ruangan itu.
"Gilang.."
"Nadine.."
Gilang dan nadine saling menyapa "Kau kenapa ada di sini?.." Tanya Gilang heran, sejak kapan mamanya bisa bersikap baik pada nadine.
"Sayang.. Nadine setiap hari mengunjungi mama.." Kata Sinta menyela.
Gilang masih menatap nadine tak percaya, bagaimana bisa?
"Kamu kemana saja, sudah berapa hari tak mengunjungi mama?.."
"Gilang sedikit sibuk ma.."
"Sibuk mabuk-mabukan? Aku dengar Septian yang selalu menggantikan pekerjaanmu dikantor.." sindir Sinta.
Gilang menatap Sinta tak percaya, daripada mamanya tahu. Kemudian dia beralih menatap nadine penuh tanya.
"Nad, bisa aku bicara berdua sama mamaku?.." usir Gilang dengan halus.
"Oh, tentu saja. Tante nadine pulang dulu ya, besok nadine mampir lagi.."
"Iya sayang, hati-hati ya.." jawab sinta lembut. Gilang melihat ke arah mamanya dan juga nadine, ada apa sebenarnya dua orang itu?
Setelah kepergian nadine, Gilang duduk di depan Sinta menatap wanita paruh baya itu penuh tanya "Sejak kapan mama bersikap baik begitu sama nadine?.."
"Gilang, selama ini mama salah menilai dia. Ternyata dia gadis yang baik.."
"Apa yang membuat mama berubah pikiran?.."
"Gilang, jangan banyak tanya. Pokoknya sekarang mama setuju kalau kamu menjalin hubungan sama nadine.."
"Menjalin hubungan?.."
Sinta mengangguk "Iya, dia gadis yang baik. Dari keluarga baik, terpandang, karirnya juga bagus. Cocok sama kamu nak.."
Gilang berdiri sambil berdecak pinggang "Mama kenapa berpikiran kalau aku sama nadine ada hubungan. Dia itu sahabatku ma, mana mungkin Gilang ada hubungan sama dia.."
__ADS_1
"Tapi mama tahu dia menyukai kamu lang. Apanya yang salah, kalian sama-sama single, tidak ada yang salah.." Gilang mengusap kasar raut mukanya.
"Atau kamu masih mengharap Kimy. Ingat wanita itu sudah bertunangan dengan lelaki lain. Jangan pernah berharap lagi padanya. Mama tidak akan menyetujuinya.."
Gilang menatap heran Sinta "Dari mana mama tahu?.."
Sinta tak menjawab, ia beranjak dari ranjangnya berjalan kesisi cendela, menatap keluar "Dia sudah tidak pantas untukmu.."
"Apa yang mama katakan, Kimy satu-satunya wanita yang pantas untuk Gilang.."
"Gilang!!!!.." bentak sinta berbalik menatap Gilang.
"Apa nadine yang memberi semua informasi ke mama?.."
"Ini tidak ada hubungannya dengan nadine.."
"Apa mama tahu kalau Gilang dan papa mendatangi acara pertunangan Kimy sebagai wali dari Tristan?.."
Sinta tak menjawab "jadi mama tahu?.."
"Apa tidak ada yang ingin mama jelaskan pada Gilang?.."
"Sudahlah, pergilah dari sini. Mama mau sendiri.." usir sinta. Sinta kembali lagi berjalan keranjangnya. Dia berbaring memunggungi Gilang.
"Harusnya mama jelaskan sama Gilang. Gilang harus berkorban melepaskan Kimy karena ulah mama. Dan sekarang mama menyuruh Gilang menjalin hubungan sama nadine. Sampai sejauh mana mama akan menghancurkan kehidupan Gilang. Ternyata bukan kehidupan Tristan saja yang mama hancurkan. Mama juga mau menghancurkan hidup gilang.." merasa tak ada sahutan dari mamanya, gilangpun meninggalkan tempat itu dengan marah. Setelah Gilang pergi Sinta menatap pintu yang sudah tertutup itu, air matanya luruh. "Suatu saat kamu akan mengerti nak, mama melakukan semua ini untukmu.."
"Gilang.." teriak nadine. Wanita itu sengaja menunggu Gilang keluar.
Gilang menghentikan langkahnya, menatap nadine dengan tatapan marah "Kamu masih disini?.."
"Lang.."
"Apa yang kamu katakan pada mama nad?.."
Nadine menatap Gilang tak mengerti "Apa? Aku nggak bicara apa-apa sama mamamu. Aku cuma menjenguknya.."
"Aku peringatkan kamu nad. Jangan pernah berharap apapun sama hubungan kita. Apalagi berusaha mendekati mama dan membuka semua berita diluar pada mama. Jangan membuatku muak.."
"Lang aku tidak pernah bicara apapun.."
"Berhenti bersandiwara, jangan muncul di depanku lagi.." Gilang terlihat sangat marah. Kemudian dia meninggalkan nadine dengan mobil Sportnya.
**
"Transfer uang kerekening alana?.." perintah Tristan pada Dony.
"Apa?.." jawab Dony tak percaya dengan pendengraannya.
__ADS_1
"Kau masih berhubungan sama artis itu?.." Mario menyela.
"Jangan banyak tanya lakukan saja perintahku.."
"Mario benar bos, apa anda masih berhubungan dengannya? Sebentar lagi anda akan menikah, bagaimana kalau nona Kimy tahu.."
"Justru aku akan menikah, aku perlu menyumpal mulutnya agar tidak terlalu banyak bicara.." jawab Tristan datar sambil menghisap rokoknya. "Baiklah aku pergi, lakukan segera perintahku.." Kata Tristan sambil beranjak meninggalkan rumahnya.
Kimy menatap langit-langit kamarnya. Malam itu entah kenapa dia tak bisa tidur. Dia masih ingat pertemuanya dengan alana kemarin. Artis yang juga seniornya di dunia hiburan. Kimy tak menyangka kalau Tristan punya hubungan dengan artis sexy itu.
"Bodoh, kenapa juga aku memikirkan ini. Sudah jelas kalau dia itu kan playboy, wanitanya di mana-mana. Apa yang aku harapkan, dasar Bodoh.." Kimy memukul-mukul kepalanya pelan.
Ceklek
Kimy melihat Tristan di ambang pintu, lelaki itu masuk ke kamar melempar setelannya ke keranjang baju kotor, meninggalkan kemeja yang menempel di badannya. Lelaki itu membuka kancing kemejanya satu persatu sambil menatap Kimy "Kau belum tidur sayang?.."
Kimy tak menjawab, dia lebih suka berbalik memunggungi lelaki itu. Tristan tersenyum tipis, dari kemarin Kimy merajuk. Setelah pertemuanya dengan alana, Kimy sama sekali tak berbicara padanya. Setelah melempar kemejanya ke keranjang, dia berjalan mendekati Kimy. Tristan naik kekasur, merangkak mendekati wanitanya.
"Sampai kapan kau marah begini.." bisiknya tepat di belakang Kimy, membuat Kimy merinding tersapu nafas lelaki itu. Kimy tak menyahut, dia sengaja memejamkan matanya.
"Kau marah karena wanita sialan itu? Apa yang harus ku lakukan sekarang agar kau tak marah lagi. Apa aku harus melenyapkannya?.." Kimy segera berbalik badan setelah mendengarnya, namun dia sangat gugup ketika melihat Tristan berbaring miring ke arahnya begitu dekat, bahkan lelaki itu bertelajang dada. Tentu saja Kimy salah tingkah.
"Apa yang kau katakan Tristan?.."
"Aku akan melenyapkannya.."
"jangan gila, kau kira dia seekor ayam yang dengan mudah kau lenyapkan.." Kimy beranjak dari tidurnya. Wanita itu sekarang duduk sambil menatap tristan marah.
"Bahkan melenyapkan wanita itu lebih mudah dari pada menangkap ayam sayang.."
"Jangan macam-macam, kau jangan bermain-main dengan nyawa manusia.."
"Apa aku terlihat main-main. Kalau wanita itu masih mengganggu pikiranmu, aku berjanji besok pagi mayatnya sudah masuk berita di media.."
"Fine. Aku tidak terganggu sama sekali Tristan jadi jangan membunuhnya.." bentak Kimy kesal.
Mendengar itu Tristan merasa gemas, dia menarik tubuh Kimy agar berbaring di sebelahnya lagi. "Aku lebih suka kau terganggu sayang. Itu berarti kau cemburu, kau mencintaiku?.."
"Jangan terlalu percaya diri.." jawab Kimy.
"Tapi bagaimana, aku sudah terlanjur sangat percaya diri.." goda lelaki itu "Sayang.." Tristan menarik dagu Kimy, mengarahkan wajah wanita ke padanya "Aku hanya milikmu. Begitu juga sebaliknya, kau milikku. Jadi jangan khawatir dengan para ****** itu.."
"Kau akan percaya padaku kan?.."
Kimy terus menatap lelaki itu. Entah dia harus percaya atau tidak lelaki itu terlalu bastrad baginya.
"Aku mencintaimu Kimy.." katanya pelan lalu mengecup bibir kimy lembut.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=