BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Ruang bawah tanah


__ADS_3

Di tempat lain, Laura Dan Kimy sudah sampai di apartemen Laura. Mereka berdua sudah berada di dalam tentunya sedang menunggu Gilang.


"Kenapa dia belum datang, aku bilang 30 menit, sekarang sudah lebih dari 30 menit.." Laura mencoba mencari ponsel di saku celananya, namun tak di temukan.


"Di mana ponselku?.." katanya sambil terus merogoh saku celana kanan dan kiri nya.


"Apa yang kau cari?.."


"Ponselku, kenapa tidak ada di saku celanaku?.." Jawabnya.


"Apa jangan-jangan terjatuh.." Sahut Kimy menghampiri Laura. Kimy mencoba membantu dengan meraba b*kong Laura, siapa tahu ada di saku belakang.


"Heii bodoh, apa yang kau lakukan?.." teriak Laura.


"Kau berfikir apa, aku sedang membantumu.." jawab Kimy merasa aneh dengan sikap Laura.


"Singkirkan tanganmu.."


Tet.. Tet..


Bel berbunyi di apartemen itu.


"Nah itu sepertinya dia datang.." Kata Laura berjalan untuk membuka kan pintu.


"Tunggu Laura, apa benar itu Gilang?.."


"Iyah tentu siapa lagi.."


Entah kenapa perasaan Kimy tak enak, hatinya masih gelisah. Apa semudah ini dia bertemu dengan Gilang. Apa benar Tristan lengah mengawasinya, perasaan-perasaan itu terus berputar di kepala Kimy.


"Tristan.."


Kimy tersentak mendengar Laura berteriak menyebut nama Tristan. Pandangan Kimy tertuju pada Pintu dan benar saja, Tristan terlihat masuk ke apartemen di ikuti oleh Dony, Mario dan beberapa bodyguard. Badan Kimy gemetar, ia sangat ketakutan, sedangkan kepalanya semakin berputar merasakan pusing yang teramat sangat.

__ADS_1


"Lepaskan aku.." Laura berteriak karena beberapa bodyguard akan membawanya keluar apartemen. Sedangkan Kimy, ia reflek melangkah mundur karena melihat Tristan berjalan menghampirinya.


Tristan melihat Kimy dengan tatapan membunuh, tatapan itu pernah Kimy lihat saat awal-awal dia terkurung. Tatapan psikopat seorang Tristan bisa membuat lawannya mati perlahan tanpa menyentuh dan itu yang Kimy rasakan.


Kimy berhenti ketika tubuhnya sudah tersudut di tembok. Tubuhnya bergetar, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Selain ketakutan, kondisinya yang lagi tidak enak badan membuatnya dalam kondisi tersebut.


Tristan berhenti tepat di depan Kimy, jarak yang hanya setengah meter itu membuat Kimy tak mampu menatap mata tajam itu. Gadis itu menunduk, air mata menetes di pipinya. Ada perasaan bersalah di dadanya, entah kenapa.


"Kau begitu ingin bertemu dia?.." Suara itu, suara itu memang terdengar pelan. Tapi entah kenapa Kimy merasakan lewat suara itu aura kemarahan Tristan begitu kentara.


Kimy diam, tentu saja ia tak berani berkata iya ataupun tidak.


"Jawab aku ******.."


DEG


Tubuh Kimy semakin bergetar, kepalanya semakin berputar, kakinya terasa lemas. Gadis itu yakin kali ini ia tak akan selamat.


**


Sudah 1,5 jam berlalu ketika ia melihat ada pesan di ponselnya "Apa mereka masih menungguku.." Gilang terus berbicara sendiri dengan pelan, dengan perasaan menyesal dan dengan tergesa sambil mengemudi kan mobilnya keluar dari area rumah sakit.


"Kimy tunggu aku, tunggu aku sayang.."


Beberapa saat Gilang sudah sampai di apartemen Laura. Gilang memarkir mobilnya tepat di depan gedung bertingkat itu, ia meninggalkan mobilnya di loby dan berlari mencari nomor apartemen yang sudah di kirimkan Laura padanya.


Nafas Gilang terlihat ngos-ngos an karena berlari, pelipisnya basah dengan keringat. Ia menghela nafas panjang dan memencet bel yang ada di depannya. Beberapa saat ia menunggu, namun tak juga ada yang keluar. Gilang sedikit cemas, ia pun menendang pintu apartemen itu karena kesal. Tak di sangka pintu itu terbuka, ternyata apartemen itu tak terkunci. Dengan cepat Gilang masuk ke dalam dan dia tak mendapati apapun di dalam apartemen itu.


"Kimy, Laura.."


Gilang mondar mandir membuka semua ruangan tapi tak ada satupun orang pun di situ.


"Sayang, aku telat. Maafkan aku Kimy.." seketika Gilang berlari keluar, ia berfikir siapa tahu Kimy belum jauh. Ia berniat mengejar Kimy, entah di mana.

__ADS_1


**


Tristan melihat Kimy dengan intens, gadis itu kini telah tergeletak di lantai, tanpa kasur empuk yang biasanya ia tiduri. Ya.. Kimy pingsan saat berada di apartemen dan Tristan membawanya kembali ke rumah. Sedangkan Laura entah di mana gadis itu sekarang.


Namun sayangnya kali ini Kimy bukan lagi berada di dalam sangkar emas yang penuh dengan fasilitas mewah di dalamnya. Gadis itu sekarang berada di ruang pengap, minim cahaya dan tentunya dengan penjagaan yang super ketat. Gadis itu sekarang berada di ruang bawah tanah. Tempat di mana Tristan biasanya menyembunyikan tawanannya tentunya sebelum di hancurkan.


Lelaki itu berdiri dengan tangan berada di dalam kedua saku celananya. Menatap Kimy yang terlihat lemah. Perlahan ia berjalan mendekat, ia berhenti tepat di depan tubuh tak berdaya itu.


"Apa kau benar-benar ingin lari dariku?.." Pelan lelaki itu bersuara, tentu saja tak ada yang mendengarnya.


Kimy terlihat menggeliat, badannya meringkuk kedinginan. Perlahan matanya terbuka, namun pertama yang di lihatnya adalah sepasang sepatu. Gadis itu semakin membuka matanya dan terus mengarahkan pandangan nya ke atas.


Ia tersentak, ia takut dan ia semakin memeluk tubuhnya.


"Kau sudah sadar?.." Suara itu begitu dingin di telinga Kimy. Gadis itu berusaha bangkit, ia duduk dan melihat sekelilingnya. Redup, sepi dan seperti berada di sebuah penjara itu yang pertama Kimy rasakan.


"Aku di mana?.." tanyanya dengan suara lirih.


"Tentu di rumah baby.." baby, mendengar kata itu Kimy seakan bergidik ngeri, ini tidak seperti yang biasa lelaki itu ucapkan.


"Maaf.." satu kata yang terucap dari bibir mungil gadis itu tanpa melihat ke arah Tristan.


Tristan lebih mendekat, ia berjongkok di depan Kimy. Sedangkan Kimy semakin mengeratkan pelukan ke tubuhnya.


"Katakan padaku, kenapa kau ingin pergi dari sini? Jangan takut baby aku tak akan marah.." Tristan merapikan anak rambut Kimy yang berantakan dan menyelipkan di antara daun telinga gadis itu "Bagaimana bisa kau begitu gegabah baby, bahkan kau lupa dengan perjanjian kita. Kau lupa nyawa Daniel berada di tanganku.."


Deg


Mendengar nama papi nya di sebut, Kimy menangis sejadinya "Maafkan aku Tristan, aku tidak bermaksud pergi. Aku hanya ingin bertemu.." Kimy menghentikan ucapannya.


"Ingin bertemu siapa? Gilang pacarmu?.."


Kimy tak menjawab karena ia begitu takut "Jawab ******.." lanjut Tristan dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Mendengar ucapan kasar Tristan, gadis itu menangis, semakin sesak dadanya. Ia pun mengangguk pelan. Ia sudah pasrah apapun yang terjadi, kalau pun ia harus mati ia siap.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2