BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Bunuh aku


__ADS_3

Tristan menggenggam erat ponselnya. Setelah ia menutup teleponnya lelaki itu mengeraskan rahangnya. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah hingga hancur berkeping.


Kau masih mencintainya, kau berbohong padaku. Kau sengaja menemuinya Kimy. Baiklah kalau itu maumu, akan ku tunjukkan betapa gilanya aku.


Lexa memarkir mobil dihalaman rumah besar keluarga Kimy.


"Sialan, kenapa dia sudah dirumah?.." gerutu Kimy sambil keluar dari mobil meninggalkan lexa yang masih mengatur nafasnya. Lexa melihat Kimy berlari masuk ke dalam rumah. Kemudian lexa beralih melihat Dony yang sedang bicara dengan ponselnya di dekat mobil Tristan.


"Sial, tumben sekali mereka sudah pulang. Semoga Kimy aman.."


Lexa keluar dari mobil, ia berjalan santai masuk kedalam rumah. "Permisi, maaf bisa bicara sebentar?.." Suara Dony menghentikan langkah lexa.


Deg.. Deg..


Tubuh lexa perlahan berbalik menghadap Dony. Lexa mematung ketika Dony menatapnya tajam.


Sialan, laki-laki ini nggak kalah menakutkan dari bosnya.


"Anda membawa nona pergi kemana?.." Tanya Dony dengan dingin.


"S..Saya, kita hanya pergi ke cafe.." jawab lexa terbata.


Dony mendekat pada lexa, lelaki itu menatap lexa tajam dengan tatapan membunuh, kemudian ia memperlihatkan foto di sebuah ponsel tepat di depan lexa. Lexa melebarkan matanya ketika melihat foto Kimy dan Gilang duduk berhadapan.


Mati aku.


"Anda tahu apa artinya ini?.." Tanya Dony sambil menyimpan lagi ponselnya.


Bagaimana ini, Kimy bagaimana?


"Anda tidak mau membahayakan mereka berdua kan?.." lexa menatap Dony penuh tanya, dia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud lelaki itu.


"Sama seperti anda mengkhawatirkan nona. Saya juga mengkhawatirkan bos saya.."


Sialan, apa sih maksudnya? Kenapa dia harus khawatir sama Tristan.


"Jangan sampai terjadi lagi hal semacam ini, kalau tidak anda akan tahu akibatnya.." setelah mengatakan itu Dony meninggalkan lexa yang masih diam mematung.


Kimy membuka pintu kamarnya perlahan. Pandangan langsung tertuju pada lelaki yang sedang duduk di kursi kerja dengan mata tertutup. Tristan sedikit merebahkan tubuhnya di kursi itu. Kakinya di angkat ditaruh diatas meja. Di depannya terlihat botol minuman.


Apa dia mabuk?


Kimy masuk dengan perlahan "Ehem.. Ehem.." dia sedikit berdehem. Mendengar suara Kimy, Tristan pun membuka matanya.


"Kau sudah pulang sayang?.."

__ADS_1


"Iya. ee.. Apa kita jadi makan malam di luar?.." Tanya Kimy ragu. Tristan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Kimy yang masih berdiri ditempatnya.


"Tidak. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu di ranjang.." bisik Tristan ditelinga Kimy pelan. Kimy sedikit memundurkan tubuhnya. Bau alkohol begitu menyengat dari mulut lelaki itu.


"Kau mabuk?.."


"Heh.. Tidak ada alkohol yang bisa membuatku mabuk sayang.." Tristan membelai pipi Kimy lembut.


"Kenapa kau minum-minum di jam segini. Lalu kenapa kau sudah pulang?.."


"Ssstttttt... Aku merindukanmu.." bisik Tristan. Lalu dengan cepat lelaki itu ******* bibir Kimy rakus. Bukan hanya *******, Tristan seperti ingin memakan bibir mungil Kimy. Dia begitu menggebu sampai Kimy kehabisan nafas.


"Hhh.. Tris..tan stop.."


"Mmphh.."


"Tristan, Hhh... Kau menyaki..tiku.." mendengar itu Tristan melepaskan ciumannya. Nafasnya tersengal, lelaki itu menutup matanya, menempelkan dahi nya pada dahi Kimy.


Perlahan Kimy membuka mata, menatap hidup Tristan yang menempel pada hidungnya. Kenapa dia?


"Aku mencintaimu Kimy. Tidak bisakah kau juga mencintaiku?.."


Deg deg deg


Jantung Kimy bergetar hebat. Tristan membuka matanya, ia menatap mata Kimy yang tak berjarak itu. Mata lelaki itu terlihat memerah, seperti menahan tangis. "Apa kau mencintaiku?.." Kimy tak mampu menjawab, pandangannya kosong menatap lelaki itu.


"Kau tidak mencintaiku?.."


"Aku tidak tahu.." entah kenapa kata itu justru yang keluar dari mulut Kimy. Tristan mematung, pertahananya runtuh, air mata tiba-tiba mengalir begitu saja melewati pipinya. Kimy bisa melihat itu. Hatinya ikut tersayat melihat lelaki yang biasanya menakutkan di depannya itu menangis.


Sakit, itu yang dirasakan Tristan. Tubuhnya merosot, lelaki itu terduduk di depan Kimy seperti menyembah. Kimy terkejut dengan aksi lelaki itu. Dia mundur selangkah menjauh, namun dengan cepat Tristan meraih kedua kaki Kimy. Mendekapnya erat.


"Seperti inikah rasanya? Sakit sekali Kimy.." katanya perlahan.


"Tristan lepas, jangan begini.."


"Kenapa? Tidak cukupkah cinta yang ku beri. Aku harus bagaimana?.."


"Tristan, kumohon jangan begini.."


"Apa kau mau aku mati dulu untuk membuktikan perasaanku.?.."


"Tristan tidak, bukan begitu. Jangan begini.." Kimy berusaha melepaskan kakinya, namun nihil kekuatan lelaki itu tak sebanding dengannya. Kimy melihat Tristan merogoh sesuatu disaku celananya dan betapa terkejutnya dia, ketika melihat Tristan memegang sebuah pistol.


"Tristan!! Apa itu?.."

__ADS_1


Tristan melepas kaki Kimy. Lelaki itu berdiri sedikit sempoyongan. Sedangkan Kimy, dia masih mematung melihat benda yang di pegang Tristan.


"Bunuh aku.." dua kata yang cukup membuat Kimy terkejut.


"Bunuh aku Kimy. Bukankah kau membenciku. Bunuh aku sekarang.." tangan kiri Tristan meraih pergelangan tangan Kimy dan entah bagaimana ceritanya pistol yang tadinya dipegang oleh lelaki itu sudah berpindah tangan. Pistol itu sekarang sudah berada di tangan kimy. Kimy bergetar, perlahan pandangannya turun ke arah tangannya yang memegang sebuah pistol. Badannya memucat. Nafasnya tak beraturan.


"Ayo lakukan.." Kimy kembali menatap Tristan. Lelaki itu terlihat begitu rapuh. Kimy ingin menangis. Dia sudah tak tahan. Kenapa hatinya tersayat melihat Tristan tak berdaya begitu. Kimy kembali menatap pistol di tangannya. Lalu kembali menatap Tristan. Nafasnya semakin cepat. Tidak, harusnya bukankah dia senang ada kesempatan membunuh orang sudah menghancurkannya. Tapi kenapa ini, kenapa hatinya begitu sakit melihat lelaki itu lemah tak berdaya di depannya. Bahkan nyawa lelaki itu sekarang ada di tangannya.


"Cepat Kimy.." Tristan menarik tangan Kimy yang sedang memegang pistol itu. Tristan mengarahkan di dadanya.


"Tristan lepas, apa yang kamu lakukan?.." pertama kalinya Kimy bicara non formal pada Tristan dengan menyebut kamu pada lelaki itu.


"Lepas Tristan aku bisa membunuhmu.."


"Lakukan!!.." bentak Tristan.


"Nggak!! Aku nggak mau. Lepas!!.."kimy mencoba melepaskan tangannya, air matanya sudah keluar. Wanita itu begitu panik, dia takut menyakiti Tristan dengan tak sengaja.


Dan


Doooorrrr


Tembakan itu benar terjadi, tidak di dada Tristan namun di lengan lelaki itu. Tristan menarik pelatuk pistol itu, dia sengaja ingin menembak dirinya sendiri. Namun Kimy mencegahnya dan kejadian naas itu tak terelakan.


"Tidaakkkkk. Tristan!!!.." Kimy berteriak histeris. Tristan tumbang, dia terduduk di lantai, tubuhnya bersandar pada tepi ranjang. Darah segar mengalir di lengannya. Dengan cepat Kimy memeluk lelaki itu "Tristan apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu bodoh sekali.." Kimy berkata sambil menangis.


Tristan meringis, merasakan sensasi sakit di lengannya. Lelaki itu masih sadar. "Jangan menangis hmm.. Aku tidak suka melihatmu menangis karena aku.."


"Kamu gila. Kenapa kamu lakukan ini?.." Kimy melepaskan pelukannya. Dia melihat luka tembak dilengan Tristan. Melihat darah, Kimy semakin panik. "Gimana ini, aku akan panggil dokter.." Kimy mau beranjak namun Tristan menahan lengannya.


"Jangan pergi.."


"Aku akan telepon dokter. Kamu bisa mati.." bentak Kimy.


"Aku tidak peduli. Aku ingin mati di dekatmu.." Kata Tristan sambil meringis kesakitan.


"Kamu gila. Siapa yang mengizinkanmu mati duluan. Bukankah kamu bilang tidak akan meninggalkanku. Kenapa kamu mati duluan?.."


"Karena aku tidak mau kehilangan kamu Kimy. Lebih baik aku mati dari pada melihatmu pergi.."


"Bodoh, siapa yang mau pergi.." Kimy masih menangis tersedu.


Brak


Pintu terbuka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2