BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Tidak akan bercerai


__ADS_3

Gilang menahan perutnya yang semakin menggila, bahkan ia sampai terduduk lemas di kamar mandi. Pikirannya semakin kacau, apakah separah itu penyakitnya. Kenapa semakin sakit. Padahal resep yang di beri oleh dokter sudah ia buang di tong sampah waktu itu.


Keringat dingin sudah membasahi tubuh Gilang, namun ia belum beranjak dari tempatnya. Rasanya seperti mau mati di tempat itu. Gilang takut untuk keluar, ia takut Kimy mengetahui penyakitnya. Gilang tidak mau terlihat lemah dan menyedihkan di depan istrinya.


Di tengah-tengah ia menahan sakitnya. Gilang teringat kata-kata Kimy tadi, Mamanya Sinta yang merencanakan kecelakaan itu. Sinta, Sarah, Ronald berada dalam satu sekutu. Semua itu membuatnya sangat terkejut, bahkan masa lalu yang belum terungkap itu juga Kimy ceritakan secara gamblang padanya.


Gilang menyesali perbuatan mamanya, ia tidak menyangka kalau Sinta berbuat begitu kejam di masa lalu dan juga masa kini. Bahkan ia tak menyangka kalau Tristan sangat menderita selama ini. Ia mengira hanya dia yang menderita, ternyata Tristan lebih dari itu.


"Maaf" katanya pelan.


"Aku janji akan menjaga Kimy untukmu Tris--" Gilang menutup matanya sejenak "Kakak"


**


"Tristan, kau mau makan sesuatu?" wanita itu terus bertanya padahal lelaki itu hanya diam menatap ke depan tanpa expresi.


Wanita iku berdiri dari duduknya, ia bersedekap dada melihat lelaki tampan yang tengah duduk di kursi rodanya dengan seksama.


Tristan, sudah sekitar tiga hari lelaki itu sadar dari tidur panjangnya. Lelaki itu di lihat dari sudut manapun masih tetap tampan dan menawan, walaupun luka-luka masih menghiasi seluruh wajah dan tubuhnya.


Satu tangannya di beri penyangga, terdapat perban yang melingkari kepalanya. Di wajahnya terdapat lebam-lebam akibat benturan keras dan yang paling parah adalah lelaki itu kini lumpuh, kedua kakinya tak dapat di gerakan.


Sejak sadar Tristan tak bicara apapun, ia hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Bagaimana ini, kalau hanya tubuhmu saja yang hidup tapi ragamu mati" kata si wanita itu pelan.


"Siang" sapa seorang dokter yang tiba-tiba masuk ruangan.


"Eh.. Iya dokter bagaimana ini, dia tidak merespon apapun dok" jawab wanita itu.


"Besok pagi hasil CT SCAN keluar nona, kita bisa tahu apa yang terjadi besok"


Wanita itu mengangguk.


"Ajak terus bicara siapa tahu akan ada respon. Saya rasa hanya cedera biasa saja karena tidak ada tanda-tanda otaknya bermasalah. Tapi untuk lebih jelasnya besok kita tunggu saja"


"Baik dok, oh iya dok.. Setelah ini bagaimana kalau dia saya bawa pulang saja. Biar pemulihan di rumah.. Saya butuh perawat satu orang dan dokter bisa memeriksa ke rumah setiap dua atau tiga hari sesuai kebutuhan. Bagaimana dok?"


Dokter itu terlihat sedang menimbang perkataan wanita


itu.


" Nanti setelah hasil keluar, saya baru bisa memutuskan nona. Jadi tolong bersabar"


"Iya dok, baiklah"


"Kalau begitu saya permisi. Segera panggil perawat kalau terjadi sesuatu"


"Siap dokter" setelahnya dokter itu pun keluar dari ruangan itu.


Wanita itu pun duduk bersimpuh lagi di depan kursi roda Tristan "Kau dengar kan kata dokter, aku yakin otakmu itu masih berfungsi dengan baik. Kau itu pintar, mana mungkin otakmu sudah nggak berfungsi. Kau hanya butuh waktu sayang.." wanita itu pun menggenggam erat tangan Tristan, kemudian ia mencium pucuk tangan lelaki itu.


"Setelah kau sembuh, kita akan menikah"


**


"Kim.." Kimy menoleh ke asal suara. Terlihat Gilang berdiri di ujung tangga, sedang menatapnya yang menegak segelas susu.


"Kenapa Lang" Kimy menaruh Gelas yang sudah kosong itu, lalu berjalan menghampiri Gilang.


"Lang kamu sakit, mukamu pucat sekali. Ayoo.." Kimy menarik tangan Gilang dan membawanya untuk duduk di ruang makan.


Kimy menyentuh dahi Gilang, membuat lelaki terkejut setengah mati.


"Enggak panas, tapi mukamu pucat sekali" Kata Kimy sambil membolak-balikan tangannya di dahi Gilang.


"Aku kan sudah bilang kalau masuk angin" Kata Gilang dengan terus menatap istrinya, dia senang Kimy memperlakukannya seperti itu.


Kalau dengan sakit jadi membuatmu perhatian, aku rela merasakan sakit seumur hidupku.


"Lang"


"Gilang!!"


"Eh.. Ya.. Apa?"

__ADS_1


"Kamu mau aku anter ke rumah sakit? Atau aku panggilkan dokter?"


Gilang menggeleng.


"Nggak perlu"


"Tapi Lang--"


"Aku butuh kamu, untuk mengantarku ke suatu tempat" sela Gilang membuat Kimy mengernyit.


"Suatu tempat, kemana?"


**


Gilang bersimpuh di depan sebuah pusara. Wajahnya tertunduk, sedangkan Kimy berdiri tepat di belakang lelaki itu.


Di depan pusara Rahma, Mamanya Tristan saat ini mereka berada.


"Maaf.. Maafkan saya dan mama saya tante" Kata Gilang pelan namun bisa di dengar oleh kimy.


"Kehadiran saya di dunia ini sudah membuat tante, Tristan dan papa berpisah. Saya benar-benar minta maaf"


Suara Gilang terdengar bergetar.


"Maaf saya terlambat mengetahui semua ini, maaf saya tidak mengenali kakak saya--" Kimy menyentuh pundak Gilang, mencoba menenangkan lelaki itu.


"Maaf, maaf" serunya.


"Lang.."


"Saya janji akan menjaga amanah terakhir kakak, cucu tante. Saya tidak akan pernah meninggalkan mereka, saya janji tante"


Deg


Kimy tertegun mendengar kalimat terakhir itu.


Keduanya sudah berada di dalam mobil, tak ada perbincangan selama perjalanan. Kimy yang terus memikirkan perkataan Gilang tadi, sedangkan Gilang ia masih menyesali kenapa baru sekarang ia tahu segalanya, di saat Tristan sudah pergi. Harusnya ia tahu sejak dulu, setidaknya ia bisa mengatakan maaf kepada kakak lelakinya itu.


Setelah sampai di halaman rumahnya, Kimy bersiap untuk turun. Sebelum turun Kimy menoleh ke arah Gilang.


"ehm.." Gilang sedikit terkejut.


"Ah.. Sory. Kamu turunlah dulu, aku masih ada urusan di kantor sebentar" katanya pada Kimy dengan menampilkan senyum hangatnya.


Kimy tahu Gilang berusaha tetap kuat, walaupun ia berusaha terseyum, tapi matanya tidak bisa berbohong. Lelaki itu masih terluka. Kimy masih nomor satu soal memahami Gilang.


Kimy mengangguk lalu keluar dari mobil itu.


**


"Ronald, apa urusannya dengan anak itu. Bagaimana bisa keluarga Daniel melakukan itu. Putraku calon menantu di keluarga itu--" teriak Teddy pada Hendra.


"Tuan, sepertinya ada masalah yang belum saya ketahui. Saya akan cari tahu soal ini"


"Sudah berapa tahun kau ikut aku, masalah seperti ini harusnya sudah jelas sebelum kau laporkan padaku"


"Maaf tuan" jawab Hendra dengan santun.


"Apa kau yakin keponakan Daniel yang melakukan itu"


"Sangat yakin tuan"


"Bersiaplah, nanti malam kita datangi rumah Daniel. Tapi sebelum itu, kita selesaikan dulu urusan di dalam rumah ini" Kata Teddy dengan sorot mata tajam.


Di balik pintu Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wanita itu sangat ketakutan dan berniat berlari meninggalkan tempat itu, sebelum aksinya menguping ketangkap basah.


Namun baru dua langkah ia berjalan mundur, tubuhnya sudah terbentur dengan sesuatu. Sinta tersentak lalu berbalik, waktu yang kurang tepat, di depannya sudah berdiri Gilang putra kesayangannya.


"Gi-Gilang" Kata Sinta tergugu.


Gilang menatap Sinta penuh kebencian.


"Gilang, mama harus pergi. Lain kali kita bicara ya" Sinta berniat meninggalkan anak lelakinya itu namun lengannya lebih dulu di cekal oleh Gilang.


"Mama mau kabur?"

__ADS_1


Deg


Sinta menatap nyalang Gilang, dan menyadari kalau sudah di pastikan putra kesayangannya itu sudah tahu kebenaranya saat ini.


Sinta memutar otaknya supaya bisa pergi dari rumah itu. Ia tidak mau ketangkap basah oleh suaminya yang kejam. Bahkan Sinta tidak memperdulikan tatapan penuh kebencian putranya. Rasanya Sinta sudah tidak peduli. Ia hanya ingin menghilang saat ini juga.


"Bagus kalian berdua di sini" suara Teddy menginterupsi. Hendra mendorong kursi roda Teddy mendekat pada kedua orang itu, namun Sinta tak bergeming. Bahkan ia mematung di tempatnya. Sinta sangat takut saat ini.


"Sinta!!" panggil Teddy yang sudah berada di belakangnya.


Sinta mengambil nafas sebentar, lalu ia berbalik dengan senyum menawannya.


"Ada apa pa, papa perlu sesuatu?" tanyanya penuh tipu muslihat.


"Aku peringatkan kau, jangan coba untuk kabur dari rumah ini, karena kalau aku menemukanmu, kau tahu aku akan bertindak lebih kejam dari sebelumnya"


Deg


Sinta melotot mendengarnya.


"Mama kenapa kabur pa, lagian mau kemana lagi mama pergi. Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi" katanya dengan wajah ketakutan.


"Pengacaraku akan datang. Segera tandatangani surat itu" Kata Teddy dingin.


"Surat apa pa?" Tanya Sinta tak mengerti.


"Cerai. Aku menceraikanmu Sinta"


Jeduaarr


Sama halnya dengan Sinta, Gilang pun sangat terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka papanya akan berkata begitu di depannya.


"Papa bicara apa, cerai apa?"Sinta mendekati Teddy dan mencoba meraih tangan suaminya namun langsung di tepis kasar oleh Teddy.


"Kau pikir aku bodoh. Aku sudah tahu semuanya. Sebelum Pengacaraku datang, jangan pernah kau berfikir untuk lari dari sini"


Sinta masih mencerna kata-kata suaminya itu, apa benar Teddy akan menceraikannya. Sinta kebingungan, air mata pun mulai menetes di pipinya.


"Pa.. Kenapa papa bicara seperti itu. Kenapa papa tega, aku punya salah apa?" Sinta bersimpuh di depan Teddy dengan senjata air mata.


"Apa perlu ku jelaskan di sini. Kau dan keparat Ronald akan tahu akibatnya sudah main-main denganku."


Sinta tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya menggeleng dan menangis.


Sedangkan Gilang sebenarnya dia iba dengan Sinta yang di perlakukan seperti itu. Bagaimana pun Sinta adalah mamanya, hati kecil Gilang sangat sakit melihat itu. Walaupun di sudut ruang lain hatinya, ia juga sangat marah pada mamanya.


"Dan kau--" Teddy menunjuk Gilang dengan dagunya.


"Bersiaplah, kau juga akan menerima surat perceraian dari Pengacaraku. Kau hanya tinggal tanda tangan saja"


"Cerai? Siapa yang mau cerai pa?"


"Kau dan istrimu"


Gilang terkejut dengan jawaban Teddy.


"Sampai matipun, aku tidak akan pernah menceraikan Kimy pa" jawab Gilang kesal.


"Kau masih mau menjadi suami wanita yang keluarganya sudah mencelakai kakakmu?"


Gilang diam, matanya menerawang menatap Teddy.


"Kau tahu, mamamu melakukan itu untukmu. Agar kau bisa bersama dengan wanita itu lagi. Kau pikir pernikahanmu bisa bahagia setelah menyingkirkan Tristan?"


Sinta yang mendengar semua itu menggelengkan kepalanya sambil menatap Gilang. Wanita itu berharap Gilang putranya, tidak termakan oleh ucapan suaminya.


"Aku tidak akan menceraikan Kimy sampai kapanpun. Itu adalah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat." setelah mengatakan itu, Gilang pun pergi meninggalkan rumah orang tuanya


**


Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.


Selamat membaca


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2