
Tubuh yang biasanya tegap, wajah yang biasanya tampan menawan kini berubah pucat. Sekarang, tubuh itu seperti tak punya nyawa. Matanya terpejam, bahkan dia tidak tahu beberapa orang sudah sangat panik karena dirinya yang tiba-tiba kehilangan kesadaran.
"Harus segera di lakukan operasi pak septian" Kata dokter itu memberi tahu Septian, yang tadi membawa Gilang ke rumah sakit.
Septian menggangguk, dia pikir itu adalah hal terbaik yang harus Gilang jalani saat ini. Setelah mendengar apa yang dokter ucapkan, Gilang segera menjauh dari ruang ICU dan segera menghubungi Kimy serta Dony.
Beberapa saat kemudian, Kimy pun datang di antar oleh sopirnya. Dony menyusul sepuluh menit kemudian.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kimy dengan kepanikanya. Perasaan tadi pagi Gilang masih baik-baik saja, pikirnya.
"Tenang Kim" sela Dony.
"Tadi Gilang ngeluh sakit perut, sudah ku sarankan ke rumah sakit tapi dia nggak mau. Setelah minum obat, dia kembali mimpi rapat. Dia pingsan tiba-tiba" Septian menjelaskan dengan hati-hati.
"Kenapa kamu bolehin lanjut. Harusnya kamu larang" Kimy berkata dengan suara yang meninggi, seakan nggak terima dengan keteledoran Septian itu.
"Kim--" Septian tidak melanjutkan bicara kala Dony memberi aba-aba dirinya untuk diam.
"Kim kamu tahu Gilang kan?" hanya kalimat itu yang Dony ucapkan pada Kimy. Dony tahu kalau Kimy paling paham suaminya itu hanya akan menuruti kata-katanya saja. Kimy membuang nafasnya kesal, bagaimana bisa suaminya itu sangat ceroboh begitu. Lima tahun terakhir, Gilang tidak pernah sampai pingsan begitu. Apa penyakitnya sudah sangat parah. Membayangkan itu Kimy sangat frustasi. Ia takut Gilang pergi, segera Kimy mengelus perutnya yang mulai membuncit untuk menenangkan diri.
"Dokter bilang akan melakukan operasi"
"Hah" kaget Kimy dan Dony bersamaan.
Septian mengangguk untuk meyakinkan dua orang itu.
"Tapi kan Gilang belum menyetujui operasi itu" Kata Kimy bingung.
"Pendonornya gimana?" Tanya Dony juga pada Septian.
"Aku juga nggak tahu, dokter cuma bilang gitu tadi. Nanti pasti dokter bambang konfirmasi lagi, kita tunggu aja. Kim ini yang terbaik untuk Gilang" sekali lagi Septian mencoba meyakinkan Kimy.
Kimy tak menjawab, ia tidak tahu harus bagaimana. Hatinya sangat bingung. "Kita tunggu dokter aja Kim" putus Dony kemudian.
Tiga puluh menit kemudian dokter bambang keluar dari ruang ICU, langkahnya langsung tertuju pada ketiga orang yang kini sedang duduk di ruang tunggu.
"Dok" Kimy langsung menghampiri dokter itu ketika menyadari kedatangannya, di susul Dony dan Septian.
"Bu Kimy, pak Septian sudah kasih tahu bu Kimy kalau pak Gilang harus operasi malam ini?"
"Tapi dok, gimana keadaan Gilang. Apa harus operasi sekarang. Apa tidak menunggu sampai dia sadar dok?"
Kimy bertanya sambil menangis, ia bingung dengan keadaan saat itu.
__ADS_1
"Kim tenang" Dony mengelus pundak Kimy untuk menenangkan wanita itu.
"Bu Kimy, keadaan pak Gilang sudah sangat buruk. Maaf saya menutupi keadaan sebenarnya selama ini, atas permintaan pak Gilang. Kita harus mencegah hal buruk terjadi. Apa lagi yang kita tunggu, Pendonornya siap, sudah di lakukan pemeriksaan dan semuanya cocok. Tujuan kita bukannya sama, ingin pak Gilang selamat bu"
Kimy diam memikirkan omongan dokter itu dan memang benar, apa lagi yang ia tunggu.
"Bu"
"Lakukan saja operasi itu Dok. Saya yang akan menjadi penanggung jawab kalau terjadi sesuatu" Kata Dony dengan tegas.
"Pak Dony maaf, tapi harus keluarga--"
"Lakukan dok" Kata Kimy kemudian.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk, kemudian ia undur diri untuk mempersiapkan operasi itu.
Enam jam sudah berlalu, ketiga orang yang menunggu di depan ruang operasi itu pun sedari tadi sudah mondar mandir dengan cemas.
"Kim" Daniel datang langsung memeluk Kimy, dibelakangnya ada sarah yang berjalan pelan, Sarah terlihat enggan untuk mendekat pada putrinya. Sejak saat itu, hubungan anak dan orang tua itu memang renggang. Bahkan Kimy tak pernah mengunjungi Sarah sekalipun, hanya Daniel yang sesekali mendatanginya.
Kimy yang melihat sarah di belakang punggung Daniel mengalihkan perhatianya. Ia belum bisa memaafkan Sarah sampai saat ini.
"Semua akan baik-baik saja sayang" Kata Daniel menenangkan putrinya. Kimy mengangguk kemudian memeluk Daniel lagi, sampai saat ini pelukan lelaki itu masih mampu menenangkan hatinya.
"Gimana dok?" Tanya Kimy.
"Operasinya berjalan lancar, dua jam dari sekarang pak Gilang akan sadar" Kata dokter itu.
Semua orang di situ tersenyum lega, akhirnya Gilang berhasil menjalankan operasi itu. Ketakutan Gilang terpatahkan juga.
"Apa saya bisa masuk dok?" Tanya Kimy lagi.
"Oh maaf bu Kimy, belum bisa. Selama pak Gilang belum sadar pasien di larang dikunjungi. Biar pak Gilang di ICU dulu, setelah sadar baru kami akan pindahkan ke kamar inap"
Kimy sedikit kecewa, padahal ia berharap bisa langsung bertemu suaminya.
"Nggak apa-apa sayang, yang penting operasinya berjalan lancar" bujuk Daniel.
Semua orang di situ mengiyakan.
"Lebih baik ibu istirahat dulu, kami akan hubungi keluarga setelah pasien kami pindahkan ke kamar inap" Kata dokter bambang lagi.
Kimy mengangguk "eh dok"
__ADS_1
"Iya bu" dokter bambang mengurungkan niatnya beranjak.
"Bagaimana dengan pendonornya? Apa orang itu baik-baik aja?"
Dokter bambang mengangguk "Baik, sangat baik. Bu Kimy tidak usah khawatir. Baiklah bu, saya permisi dulu. Nanti saya hubungi kalau pak Gilang sudah di pindahkan"
"Baik dok, terima kasih"
Setelahnya dokter itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
**
Di tempat lain dokter Bambang langsung menemui rekan sejawatnya, tidak lain tidak bukan adalah istrinya sendiri dokter Nirwati. Dokter nirwati adalah dokter spesialis kandungan yang berprakter di rumah sakit swasta milik keluarganya. Kebetulan dokter bambang juga salah satu pemilik saham di rumah sakit swasta itu.
"Ma" dokter itu masuk ke ruangan istrinya tanpa aba-aba membuat dokter nirwati mengernyit heran, tidak biasanya suaminya itu bersikap tidak profesional.
"Papa tumbenan nggak ketuk pintu dulu, untung mama lagi nggak ada pasien" Kata dokter nirwati sambil berdiri menghampiri suaminya.
Dokter bambang langsung duduk di sofa, raut mukanya terlihat serius kali ini.
"Bu Kimy periksa kandungan di mama?" Tanya nya to the point.
"Bu Kimy siapa?" dokter nirwati masih belum mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu.
"Bu Kimy istri pak Gilang, papa barusan selesai operasi pak Gilang"
"Ooh bu Kimy pengusaha dan model cantik itu, iya emang kenapa pa? Kok papa tahu mbak Kimy periksa di mama"
"Tadi pak Gilang cerita ma"
"Ooh" jawab dokter nirwati sambil manggut-manggut.
"Trus gimana operasinya lancar pa?"
Dokter bambang menimbang jawabannya. Ia sedikit ragu apa istrinya itu mau membantunya atau tidak.
"Lancar sih ma"
Dokter nirwati mengernyit heran "Kok sih pa?"
Dokter bambang pun membuang nafasnya kasar, ia mantab ingin mengatakan sesuatu pada istrinya itu.
"Kali ini mama harus bantu papa ya?"
__ADS_1
Bersambung.....