
Sabrina berdiri di depan sekolahnya, ia sedang menunggu sopir menjemput, seperti biasa si kembar itu tidak pernah pulang dan berangkat bareng ke sekolah walaupun mereka berada di sekolah yang sama, itu semua karena si Zane tidak pernah langsung pulang ke rumah, ia harus ke basecame mobil sport dulu bersama teman-temannya dan tentu saja Kimy maupun Tristan dan terlebih Jeff melarang Sabrina bergaul dengan teman-teman Zane yang sangat urakan itu.
Beberapa menit melamun sambil menunggu sopir datang, Sabrina malah di kagetkan dengan bunyi klakson yang lumayan keras menusuk gendang telinganya, siapa lagi pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah abangnya sendiri, si Jeff.
“Abang” seru Sab mengenali mobil sport keluaran terbaru milik Jeff, walau tanpa membuka kaca pun Sab tahu itu mobil abangnya, karena hanya ada beberapa unit saja di Indonesia.
Sabrina berjalan menghampiri Jeff, berdiri di dekat pintu kemudi mobil itu, perlahan Jeff pun menurunkan kaca mobilnya.
“Masuk!” Perintah Jeff.
Sabrina melihat wajah tanpa expresi milik abangnya itu, Sab pastikan mata lelaki itu setajam elang di balik kaca mata hitam yang di pakainya.
Tanpa menjawab Sab pun memutari mobil itu menuju pintu penumpang dan masuk ke dalamnya.
“Abang ngapain jemput aku?” Pertanyaan Sab langsung meluncur ketika baru saja ia duduk di jok penumpang sambil memasang sabuk pengaman. Tanpa menajwab Jeff pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mereka saling diam di dalam mobil, sangat canggung tidak seperti biasanya.
“Bang mau ke mana?” Tanya Sab ketika mobil mereka beda arah dengan rumah mereka.
“Apartemen” jawab Jeff singkat.
“Apartemen siapa?” Tanya Sab sambil melihat wajah Jeff dari samping.
“Punya abang”
“Abang beli apartemen, sejak kapan, Mommy sama papa tahu?” Sab kembali ke mode cerewet seperti biasanya.
“Nggak ada yang tahu” jawab Jeff tanpa menoleh ke arah adiknya.
Sab mengerutkan keningnya “Trus ngapain abang kasih tahu aku?”
Jeff menoleh sekilas “Karena abang beli untuk kita”
“Hah!!!!” Sabrina kaget tentu saja mendengar jawaban abangnya itu.
Jeff kembali fokus ke depan tanpa peduli dengan keterkagetan adiknya itu.
**
“Masuk” Perintah Jeff pada Sab yang hanya berdiri di ambang pintu apartemen. Terlalu lama Jeff pun menarik tangan Sabrina agar adiknya itu mau masuk ke dalam apartemen yang beberapa hari lalu baru di belinya.
__ADS_1
“Ngapain sih kita ke sini bang?” Rengek Sabrina ketika tanganya di tarik oleh Jeff.
“Duduk” entah bagaimana tiba-tiba tubuh Sabrina sudah terduduk di sofa, secepat kilat Jeff manarik Sab dan mendorongnya ke sofa. Setelahnya, Jeff sendiri terlihat berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman kaleng di kulkas.
Setelah mengambilkan minuman untuk Sabrina, Jeff duduk di samping Sab sambil menikmati minuman dingin itu.
“Bang”
Jeff menoleh, seperti biasa tatapan Jeff serasa mengintimidasi Sabrina. Tidak di pungkiri pesona Jeff itu sangat kuat, apalagi untuk bocah abg seperti Sab, tapi mana boleh ia tergoda dengan kakak kandungnya sendiri, apa kata dunia.
“Nanti Mommy nyari” kata Sab dengan pelan. Tidak di pungkiri sejak pernyataan cintanya terhadap Sabrina, Jeff juga lebih banyak diam. Mereka seperti mempunyi jarak.
“Bilang aja pergi sama abang” jawab Jeff singkat.
“Terus kita ngapain di sini?” Tanya Sabrina karena sejujurnya ia juga bingung dengan kecanggunganya bersama jeff itu.
“Kemarin nggak seperti yang kamu lihat” kata Jeff tiba-tiba.
“Hahh, apanya?”
“Abang dan Eve”
Sabrina yang canggung sendiri karena Jeff ternyata malah membahas itu.
Sabrina menelan ludah mendengar penjelasan abangnya, apa ia harus senang atau bagaimana. Karena setahunya, selama ini memang abangnya dan Eve mempunyai suatu hubungan yang lebih dari seorang sahabat.
“Abang nggak suka sama kak Ve?”
“Abang sayang sama Eve, tapi sayangnya abang sama dia beda dengan sayangnya abang ke kamu Sab”
“Hah!!???”
“Kamu kenapa sih Sab, Hah heh hah heh. Jangan berlagak bego ya, kamu sudah hampir 18 tahun, kamu nggak cukup bodoh untuk mengerti apa yang abang katakan kemarin” nada suara Jeff sedikit meninggi membuat Sabrina menelan ludahnya lagi.
“Sabrina”
“Maaf” jawab Sabrina pelan.
“Maaf apa, kamu belum jawab pernyataan abang”
Sabrina melihat ke mata Jeff yang seakan bicara kalau “aku ini serius”.
__ADS_1
“Bang Jeff”
Jeff tak bergeming, ia terus menatap mata Sabrina dengan maksud menanti sebuah jawaban.
“Kita nggak boleh punya hubungan selain kakak adik, abang kan tahu kalau kita nggak mungkin punya hubungan lain selain itu”
Jeff tetap diam dengan tatapan tajamnya menunggu Sabrina menyelesaikan kalimatnya.
“Aku nggak—-“
“Kamu nggak cinta abang?” Tanya Jeff memutus kalimat Sabrina.
Sabrina menggeleng cepat “Eh, maksud aku nggak gitu bang, aku sayang abang tentu saja, bang Jeff kan kakakku”
“Cinta SABRINA!!! Abang nggak nanya tentang kasih sayang seperti yang kamu rasakan pada Zane, ini tentang perasaan yang lain, cinta” teriak Jeff, suaranya menggema ke seluruh ruangan.
“Bang—“suara Sabrina bergetar karena takut.
“Akan abang ajari bagaimana rasanya jatuh cinta Sabrina” tiba-tiba saja tangan Sabrina di tarik dan seakan tubuhnya melayang, kini tubuh ramping Sabrina sudah berada di pangkuan Jeff dengan posisi menyamping.
“Bang” kaget Sabrina.
“Sstttt” dengan posisi seintim ini detak jantung Sabrina sangat berisik di dalam sana. Kedua tangan Jeff pun memeluk pinggang ramping Sabrina dengan posesif.
“Abang jatuh padamu Sabrina” ucap Jeff pelan lalu mencium pipi Sabrina, kemudian salah satu tanganya mengarahkan wajah Sab untuk melihatnya, hidung mereka bertabrakan, hembusan nafas saling menghangatkan satu sama lain, entah seperti terbuai, Sabrina menerima ciuman itu lagi dan anehnya kali ini ia malah menutup mata, seakan menerima segala perlakuan Jeff padanya.
Jeff tersenyum ketika merasakan adiknya itu menerima ciumanya, malah Sabrina seperti merespon. Keduanya memang masih amatir karena memang pertama kali mereka melakukan adegan dewasa itu. Tapi ternyata Jeff sangat ahli dalam hal itu. Terbukti saat Sabrina sangat kewalahan hingga nafasnya pun tersengal. Jeff melepaskan bibir adik kesayanganya itu, dilihatnya bibir merah itu sedikit bengkak akibat ulahnya.
“Ini milik abang” katanya sambil mengusap bibir Sabrina dengan ibu jarinya.
“Bang”
“Hmm” posisi mereka masih sama.
“Aku takut bang” suara Sabrina sedikit bergetar.
“Takut kenapa?”
“Kalau Papa dan Mommy tahu, mereka—“
“Percaya sama abang, semua akan baik-baik aja” ucap Jeff meyakinkan Sabrina.
__ADS_1
Sabrina bingung harus bagaimana, di sisi lain ia sangat takut dengan keadaan ini dan sisi lainya ia sangat nyaman dan menikmati sentuhan abangnya, bagaimana ini, Sabrina sendiri juga bingung, ia tahu ini salah, tapi ia juga tidak bisa dan tidak berani menolak Jeff.
Bersambung…