BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Menginap


__ADS_3

Mata Kimy berbinar ketika mobil mewah Tristan masuk ke halaman rumah orang tuanya. Ia terus memajukan tubuhnya untuk melihat keadaan rumah besar itu, sungguh Kimy sangat merindukan suasana rumahnya. Tristan yang melihat tingkah Kimy hanya diam saja memperhatikan. Dony sudah menghentikan mobil mewah itu, ia segera turun untuk membukakan pintu untuk bosnya. Tristan turun dari mobilnya, di ikuti oleh kimy. Gadis itu masih ternganga melihat suasana rumah yang lama di tinggalkan nya.


" Non Kimy.." sapa udin sopir keluarga sejak Kimy masih kecil.


" Pak udin.." jawab Kimy sumringah.


" Ya allah jadi benar non Kimy, alhamdulillah non Kimy baik-baik saja. Tuan pasti senang melihat non pulang.."


Kimy tak berhenti tersenyum "Papi di rumah pak?.."


Udin mengangguk " Iya non, tuan di rumah.." mendengar itu Kimy langsung nyelonong berjalan masuk kerumahnya tanpa memperdulikan Tristan dan Dony yang berdiri di sampingnya.


Sesampai di depan pintu, Kimy memencet bel rumahnya. Ia menunggu sambil tersenyum tanpa henti, Tristan dan Dony yang berjalan menghampiri nya pun melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah gadis itu.


" Kau tidak berhenti tersenyum dari tadi.." Kata Tristan tiba-tiba membuat Kimy terkejut. Kimy hanya menoleh sekilas lalu menatap pintu rumahnya lagi.


Ceklek


" Non Kimy.."


" Bi asih.."


Kimy dan bi asih saling menyapa bersamaan, bi asih sangat terkejut melihat kepulangan Kimy yang mendadak. Mereka saling berpelukan, Kimy memang sangat akrab dengan bi asih. Bi asih sudah seperti keluarganya, dulu Gilang juga sangat dekat dengan asisten rumah tangga itu.


" Bibi kangen non.." katanya sambil mengusap punggung anak bosnya itu. Kimy hanya tersenyum serta terharu dengan kasih sayang bi asih.


" Bibi sehat?.." Asih mengangguk.


" Tapi tuan.."


Kimy melepas pelukannya " Papa di mana bi?.."


" Tuan ada di kamar non, tuan sekarang sering menyendiri.." Kimy mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


" Kimy akan ke atas.." saat Kimy mau melangkah kan kakinya, Tristan mencekal tangan Kimy.


" Biarkan dia yang turun.."


" Tapi.."


" Tolong panggilkan tuan Daniel.." perintah Tristan pada bi asih.


Bi asih mengangguk " Baik tuan.." katanya sambil berlalu. Kimy hanya menatap bi asih dengan kecewa, padahal dia ingin sekali cepat memeluk Daniel saat ini. Kimy tahu apa yang di rasakan papi nya itu. Daniel sangat mencintai sarah, Kimy tak bisa bayangkan bagaimana hidup papi nya tanpa mami nya.


Kimy melirik Tristan dengan raut muka yang kesal, kemudian ia meninggalkan Tristan dan duduk di ruang tamu. Tristan dan Dony hanya mengikuti gadis itu untuk duduk menunggu Daniel, tanpa berkomentar.


Daniel berjalan dengan tergesa setelah mendengar kedatangan Kimy. Dia sangat senang akhirnya bisa melihat putri kesayangan nya lagi.


" Kimy.. Sayang.." Suara Daniel terdengar menggema di seluruh ruangan.


" Papi.." Kimy beranjak dan berlari memeluk Daniel dengan erat. Kimy menangis, menumpahkan segala rasa yang ada di hatinya. Badannya bergetar memeluk tubuh tegap Daniel. Begitupun Daniel, lelaki yang masih terlihat tampan di usia matangnya itu tak kuasa menahan rasa senang dan sedihnya. Daniel menetes kan air mata, menumpahkan segala rasa kerinduan dan kesedihannya. Tristan dan Dony menyaksikan bagaimana kedua anak dan orang tua itu saling melepas kerinduan. Tristan hanya berdehem ringan dan sedikit mengeraskan rahangnya. Entah kenapa, hatinya sedikit tak rela ada orang lain yang menjadi tempat Kimy bersandar saat ini.


Kimy mengangguk dan memeluk lagi Daniel dengan erat. " Kimy kangen papi.." Jawabnya.


Daniel tersenyum mendengar perkataan putri kesayangan nya itu. Sekilas pandangan nya tertuju pada dua lelaki tampan yang sedang duduk di ruang tamu. Daniel melepas pelukannya " Pak Tristan.." sapa nya pada Tristan. Mendengar papinya menyebut nama Tristan, Kimy menoleh pada lelaki yang di bencinya itu.


Daniel menggandeng Kimy untuk menemui Tristan. "Selamat datang di rumah saya pak Tristan, terima kasih sudah membawa Kimy.." katanya dengan santai pada lelaki itu. Daniel kemudian ikut bergabung , ia membawa Kimy untuk duduk di sampingnya. Sedangkan kimy, gadis itu masih bergelayut manja di lengan Daniel. Tristan hanya melirik saja tingkah gadis itu, sungguh dia tak suka kalau Kimy bersikap seperti itu pada pria lain walau itu orang tuanya sekalipun.


" Papi kenapa dirumah? Papi nggak ke kantor.." Tanya Kimy.


Daniel melihat ke arah Tristan, ia tidak enak pada lelaki itu Karena kantor yang Daniel pegang adalah milik Tristan sekarang dan dia malah di rumah saat di jam kantor.


" Papi cuti beberapa hari.."


" Papi sakit?.." Tanya Kimy sambil memegang dagu dan pipi Daniel.


Daniel menggeleng " Nggak sayang.. Papi hanya butuh istirahat, badan papi di kantor tapi jiwa papi entah di mana.." jawab Daniel lirih.

__ADS_1


Kimy tak meneruskan pertanyaannya pada Daniel, dia tahu arah pembicaraan papinya itu. Kimy hanya memeluk lengan Daniel dengan erat, seakan ingin mengatakan ada Kimy di sini.


Daniel melihat ke arah Tristan yang diam saja dari tadi. " Pak Tristan, maafkan sikap Kimy, dia memang sangat manja pada saya, dari dulu.."


" Its oke.." jawab Tristan datar.


Kimy bisa merasakan interaksi Daniel dan Tristan. Dalam hati kecil Kimy sangat sakit melihat papinya merendahkan diri di depan lelaki seperti Tristan. Itu tidak pantas menurutnya, dari kecil selalu tertanam di benak seorang Kimy, kalau Daniel papinya adalah orang yang di hormati oleh bawahannya, di segani oleh semua orang dan sekarang di depan lelaki gila itu papinya begitu tunduk. Hati Kimy sangat sakit melihat itu.


" Hari ini kamu nginep di sini kan?.." Tanya Daniel pada Kimy. "Papi masih kangen kamu sayang.."


Kimy sedikit berdehem dan melihat ke arah Tristan, danielpun tahu arah pandang putrinya dan dia pun melihat ke arah lelaki itu. "Bagimana pak Tristan, Kimy boleh nginep di sini ya?.."


Tristan tergugu sebentar " Tentu saja, kita akan menginap di sini. Ini adalah hari jumat, besok kantor libur dan saya akan menemani calon istri saya di sini.." Kata Tristan santai. Mendengar itu Kimy hanya melebarkan matanya menatap Tristan.


" Haha.. Oke baiklah, jadi sekalian sama pak Tristan menginap di sini. Kimy, pak Tristan sangat perhatian padamu. Dia nggak mau meninggalkan kamu sedikitpun.."


Dasar orang gila, orang aneh. Batin Kimy dengan menatap Tristan tajam.


Terserah lah, kamu mau ikut nginep di sini atau tidak yang penting aku bisa bersama papi. Batinnya lagi.


Setelah beberapa saat mereka bercengraman di ruang tamu. Dony pamit kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Apalagi sekarang bosnya akan menginap di rumah itu, tentu pekerjaan Dony jadi dobel. Setelah mengantar Dony ke depan Tristan kembali lagi ke dalam rumah. Ternyata Kimy dan Daniel sudah tak ada di ruang tamu. Ia hanya berdiri melihat keadaan sekitar yang sepi.


" Tuan mari saya antar ke atas.." Kata bi asih yang muncul tiba-tiba. Tristan hanya mengangguk mengikuti wanita yang sudah berumur itu. Sesampai di lantai dua, bi asih menunjuk kan sebuah kamar tamu untuk lelaki dingin itu.


" Mari silahkan.." bi asih membuka pintu kamar tamu itu.


" Di mana kamar Kimy?.." Tanya Tristan dingin.


" Di ujung itu kamar non Kimy tuan.." bi asih menunjuk kamar Kimy.


" Saya permisi, kalau ada yang di butuhkan tuan panggil saya saja.." bi asih pun berlalu meninggalkan Tristan berdiri di ambang pintu. Setelah kepergian bi Asih, Tristan melihat kamar Kimy lagi dengan senyum menyeringai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2