BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
segila apa dia sebenarnya


__ADS_3

Sinta terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi. Sedangkan Gilang sendiri di temani Septian tengah mengurus administrasi di rumah sakit swasta itu.


Sepertinya rem mobil tuan Teddy blong Nyonya


Kata-kata seorang polisi yang menyelidiki kecelakaan suaminya masih terus terngiang-ngiang di otak wanita paruh baya itu.


" Tidak mungkin!!.."


Sinta terus bergumam sendiri. Wanita itu punya firasat kecelakaan itu ada unsur kesengajaan. Tapi siapa yang tega melakukan itu semua. Selama ini Teddy tidak mempunyai musuh.


" Ma!!.." Suara Gilang membuyarkan lamunan wanita itu.


" Bagaimana sudah kau urus semua?.." Tanya Sinta sambil duduk memegangi kepalanya.


" Sudah ma. Ma menurut keterangan polisi, mobil papa remnya blong. Mana mungkin ma, selama ini bukannya papa selalu rajin menyuruh pak Antok ke bengkel?.."


Sinta mengangguk tanda setuju dengan pernyataan putranya. " Bagaimana jenazah pak Antok, apa sudah di antar ke keluarganya?.." Tanya Sinta lagi.


" Sudah selesai semua, mama harus menemui keluarga pak Antok.."


" Mama akan temui, tapi nanti Lang. Kenapa Hendrra lama sekali, bukankah dia bilang cuma antar polisi ke depan. Mama butuh bicara sama dia.."


Hendra dan Septian datang bersamaan. Mereka berdua ternyata yang menemani polisi dan memberikan beberapa keterangan terkait dengan kecelakaan itu.


" Lang kau jangan keluar dulu, banyak sekali wartawan di luar.." Kata Septian pada Gilang.


" Hendra, ikut aku.." Titah Sinta pada laki-laki paruh baya itu. Sinta berjalan meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Hendra.


Sinta nenutup pintu mobilnya. Wanita itu mengajak Hendra bicara dalam mobil, dia tak mau ambil resiko seseorang mendengar percakapan mereka berdua.


" Kau mencurigai seseorang?.." Tanya Sinta.


" Maksud Nyonya?.."


" Kau jangan berlagak bodoh. Kau orang kepercayaan suamiku, kau pasti tahu sesuatu. Suamiku tidak mempunyai musuh. Kenapa bisa rem mobilnya blong. Antok selalu rutin membawa mobil itu ke bengkel.."


" Soal itu, saya masih menyelidikinya Nyonya.." Jawab Hendra.


" Kau jangan coba menutupi masalah ini. Aku pasti akan tahu. Kau membuatku muak Hendra. Keluar!!!.." Sinta emosi, wanita itu mengusir asisten suaminya. Sinta yakin Hendra tahu sesuatu. laki-laki itu sangat sulit di takhlukkan, dia sangat setia terhadap Teddy suaminya.


Hendra berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Laki-laki itu berhenti sejenak, dia berdiri menatap taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit itu.


Hendra adalah orang kepercayaan Teddy. Hendra tahu segala permasalahan atasannya dan orang yang paling dia hindari adalah Sinta, istri bosnya.

__ADS_1


Hendra tahu, Sinta wanita licik yang bisa melakukan berbagai hal demi keuntungannya. Itu sebabnya dia sangat menyanyangkan bosnya itu dulu lebih memilih Sinta dari pada Rahma.


Tuan Daffa, kenapa anda melakukan ini? Tuan begitu menyayangi anda, dia mencari anda.


1 jam sebelum kecelakaan terjadi.


" Kau yakin dia anakku Daffa?.." Suara berat itu terdengar gemetar. Suara yang biasanya sangat tegas itu terdengar pilu menahan sesak. Teddy memijat pelipisnya. Laki-laki paruh baya itu kentara sekali menahan kepedihan.


" Benar tuan. Sudah saya selidiki. Tuan Tristan adalah tuan Daffa, mereka berdua adalah orang yang sama. Inah, wanita tua itu sekarang tinggal bersamanya.."


" Rahasiakan ini. Jangan sampai Sinta dan Gilang tahu masalah ini. Usahakan aku bertemu dengannya dalam waktu dekat.." Perintah Teddy.


" Baik. Tapi tuan, sepertinya anda akan sedikit sulit untuk bertemu dengannya.."


" Kenapa?.."


" Menurut pengamatan saya, tuan Daffa sengaja menyembunyikan identitasnya dari anda dan Nyonya. Saya memberikan sedikit pandangan saya. Sekarang nona Kimy bersama dengan tuan Daffa. Saya rasa itu adalah sesuatu yang bukan kebetulan tuan. Tuan Daffa sudah merencanakan semua ini.."


" Maksud kamu? Kedua putraku akan memperebutkan satu gadis?.." Tanya Teddy serius.


" Betul. Dan itu sengaja tuan Daffa ciptakan untuk membalas dendam pada Anda dan Nyonya.."


Deg.. Tangan Teddy bergetar. Laki-laki itu menyadari satu hal, jika perpisahannya dengan Daffa beberapa tahun silam adalah perpisahan yang menyakitkan. Dia ingat dengan jelas kalau dia tidak mengakui Daffa sebagai putra kandungnya saat itu.


**


" Sebaiknya kau pergi ke luar negeri dulu, dengan begitu kau akan aman.." perintah Dony pada Mario.


" Apa kau gila? sejak kapan polisi bisa menyentuhku. Hallo man, ini bukan yang pertama bagiku.." Jawab Mario santai.


" Jangan lupa kau berhadapan dengan Teddy Hanggono, dia bukan orang sembarang.."


" Yah, aku tahu. Kau tenang saja.." Jawabnya lagi.


Percakapan dua lelaki di ruang kerja Tristan itu tak sengaja terdengar oleh Laura. Wanita itu hendak mencari Tristan di ruang kerjanya, namun sebelum dia masuk dia mendengar percakapan dua orang itu.


Tristan jadi kau di balik kejadian ini. Kau masih laki-laki gila yang kukenal, kau tega menyelakai orang tuamu sendiri. Bagaimana reaksi Kimy kalau tahu ini, heh...dia akan semakin membencimu laki-laki gila.


" Kau sedang apa?.." Tanya Laura pada Kimy. Gadis itu terperanjat kaget mendengar suara Luara tiba-tiba.


" Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamarku.."


" Sorry!!.."

__ADS_1


" Kau mau dengar sesuatu?.." Laura memancing Kimy, dia ingin melihat reaksi gadis itu.


" Apa yang ingin kau katakan sebenarnya Laura?.."


" Hey kau gadis kecil, aku lebih tua darimu.."


" Lalu, kau mau aku panggil kakak atau bibi?.."


" DAMN!!!.." Jawab Laura. Kimy terkekeh mendengar umpatan Laura. Kalau Kimy pikir-pikir, Laura ini sebenarnya wanita yang lucu dan menarik. Walaupun umurnya sudah berkepala empat, Laura masih terlihat sangat cantik dan sexy. Kepribadiannya juga menyenangkan, tapi kadang bicaranya suka bar-bar dan tak memikirkan perasaan orang lain.


" Kau tahu calon mertuamu kecelakaan?.."


" Hmm!!.." Jawab Kimy.


" Kau tidak peduli padanya?.." Laura heran Kimy tampak cuek.


" Lalu apa yang harus ku lakukan hah?.."


" Apa kau mau tahu apa penyebabnya?.." Goda Laura.


" Apa maksudmu?.."


" Tebak saja.." Goda Laura lagi.


" Pergilah.. aku malas bicara denganmu.." usir Kimy.


" Ahh.. kau menyebalkan Kimy.." Laura kesal karena Kimy mengusirnya.


" Kau harus tahu.. kalau Tristan yang menyebabkan kecelakaan itu.."


" What!!! uhukk..uhukk... Kau gila Laura. Mana mungkin? dia itu papanya..." Kimy tercekat, dia kebablasan.


" Woohoooo... jadi kau sudah tahu?.."


" Kau baru sadar sekarang, segila apa dia itu?.."


Kimy hanya terdiam mendengar perkataan Laura. Gadis itu sungguh tak tahu kalau Tristan akan berbuat sejauh itu.


Aku harus menyelamatkan mereka semua. Tristan bisa melukai papanya sendiri. Tidak menutup kemungkinan mami. Benar dia juga bisa membalas dendam pada mami. Aku harus cepat.


" Laura.. pertemukan aku dengan Gilang secepatnya.."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2