
Air mata Tristan menetes perlahan di pipi mulus laki-laki tampan itu. Hatinya sungguh sakit membayangkan nasib miris mamanya. Bagaimana mungkin ada orang setega itu memperlakukan orang lain dengan buruk, bahkan saat sudah menjadi jasadpun masih diperlakukan tak adil seperti itu.
" Apa laki-laki itu tahu?.." Tanya Tristan pelan.
" Aku tidak tahu, tapi mereka hanya datang berdua. Mereka bilang, ada saudara tuan yang membutuhkan mata nyonya, kalau sampai aku tidak menandatangani persetujuan donor mata, mereka bilang tuan akan mengambilmu.." Jawab nek Inah masih dengan terisak.
Brengsek, jadi kau mengetahuinya. Kau yang menyuruh mereka sialan. Aku akan menghancurkan kalian semua, kalian semua akan menangis darah meminta pengampunanku.
Mata Tristan memerah menahan sesak, tangan laki-laki itu sudah mengepal keras. Berulang kali laki-laki membuka dan menutup matanya, menghembuskan nafas sesaknya hanya untuk menguatkan dirinya sendiri.
Inikah yang membuat mama menderita selama ini. Mama selalu datang ke mimipiku, mama tidak merelakan anggota tubuh mama di ambil tanpa seizin mama?
Sedangkan di sisi lain, Kimy menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya. Gadis cantik itu mendengar semua percakapan nek Inah dan Tristan.
Saat tengah malam, Kimy menangis di kamarnya, gadis itu teringat dengan nek Inah. Dia ingat kalau nek Inah lagi sakit karena jatuh tadi, dengan cepat gadis itu beranjak untuk melihat keadaan wanita tua itu. Dia tidak mau kalau nek Inah jatuh lagi, mengingat wanita tua itu tak ada yang menemaninya.
Saat Kimy berjalan ke kamar nek Inah, dia melihat Tristan berdiri di depan pintu kamar wanita tua itu. Kimy menghentikan langkahnya, dia mau melihat apa yang akan di lakukan laki-laki gila itu. Perlahan gadis itu melihat Tristan masuk ke dalam, dengan langkah pelan Kimypun mendekati pintu itu. Kimy melihat pintu kamar itu tak tertutup sempurna, membuatnya mendengar apa mereka berdua omongkan dari dalam.
" Sejak kau mulai lancang membawa gadis itu masuk ke dalam kesini.." Jawab Tristan dingin. Itu adalah kata-kata pertama Tristan yang Kimy dengar. Selanjutnya gadis itu masih diam di situ untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Kimy mencoba menahan tangisannya dengan menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Gadis itu merasakan apa yang laki-laki itu rasakan. Hatinya ikut miris mendengar nek Inah menceritakan kenapa Rahma mama Tristan bunuh diri. Dan air matanya pun ikut jatuh, Saat mendengar nek Inah mengatakan kalau orang-orang tak berperikemanusiaan itu mengambil organ tubuh wanita yang belum pernah Kimy kenal itu.
Dan yang membuat Kimy begitu lemas tak berdaya adalah mengetahui fakta bahwa mamanya sarah menjadi salah satu orang yang tak berperikemanusiaaan itu. Bagaimana mungkin mamanya bersikap begitu.
Jadi mamanya Tristan yang selama ini datang di mimpinya sudah meninggal karena bunuh diri. Kasihan sekali dia, dia pasti sangat menderita selama ini. Dan sekarang dia mengetahui fakta yang lebih menyakitkan lagi.
Kimy berjalan pelan meninggalkan tempat itu, hati gadis itu juga sakit merasa terhianati oleh sikap mamanya. Sarah yang selama ini dia tahu begitu bijaksana, bisa melakukan hal sekeji itu, sungguh di luar dugaan Kimy.
Maafkan mami Tristan, maaf. Akan aku tebus segala kesalahan mamiku, apapun yang kau inginkan dariku. Akan aku lakukan, Asal bisa menebus segala kesalahan mami. aku tidak akan lari lagi.
**
Brakkk!!!!!
__ADS_1
Tristan membanting kasar pintu kamar gadis itu. Kimy yang tadinya mulai terlelap, terperanjat kaget. Gadis itu bangun, dia melihat Tristan berdiri di ambang pintu dengan mata yang merah dan menatap Kimy dengan penuh kebencian.
Pada akhirnya, kau akan tetap membenciku Tristan. Maaf, lakukan apa yang mau kau lakukan padaku. Kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.
Kimy menatap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca penuh iba. Gadis itu tak merasa takut sama sekali dengan tatapan laki-laki itu, tatapan yang biasanya membuat nyalinya menciut, kini justru membuatnya iba.
Tristan menutup pintu kamar itu dengan kasar, laki-laki itu terlihat kacau. Dia berjalan mendekat pada gadis itu, di tangan kanan laki-laki itu ada sebuah botol minuman beralkohol. Sesekali Tristan berjalan sambil terus menegak minuman itu.
" Kau belum tidur jalang?.." Kata Tristan dengan suara serak karena rupanya laki-laki itu sudah mulai mabuk.
Deg.. Jantung Kimy bergetar, bagai di tikam sebuah pisau. Jalang lagi, kata itu sudah lama tak pria itu ucapkan.
" Aku tidak bisa tidur.." Jawab Kimy mencoba untuk tenang.
Tristan semakin mendekat, hingga tubuh pria itu berada tepat di depan gadis itu. Tristan meletakkan botol minuman yang di genggamnya di meja kecil sebelah ranjang, laki-laki itu meraih wajah Kimy, menangkupnya dengan kedua tangannya. Kimy mendongakkan wajahnya pada pria itu. Tatapan kedua orang itu bertemu.
Kenapa harus kau Kimy, kenapa? Tristan mengeraskan rahangnya.
Maaf!!! Hanya kata itu yang Kimy ucapkan dalam hati. Mungkin kata maaf saja tak cukup.
" Kau membuatku ingin cepat-cepat menghabisimu jalang.." Kata Tristan pelan. Kimy hanya menelan ludah kasar.
" Kau ada permintaan terakhir?.." Tanya laki-laki itu sambil mengendus wajah cantik Kimy. Kimy menggelengkan kepalanya.
" Benarkah tidak ada? Kau tak ingin memberi salam pada orang tuamu atau kekasih sialanmu itu?.." Tristan berkata dengan suara bergetar, menahan amarah. Kimy menggelengkan kepalanya lagi.
" Kenapa? Kenapa kau terlahir dari wanita sialan itu.." Tanya Tristan dengan mata memerah, Kimy tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Air mata gadis itu menetes perlahan di wajah cantiknya.
" Kenapa kau hidup dengan penjahat-penjahat itu.." laki-laki gila yang Kimy kenal itu, akhirnya meneteskan air matanya. Pertahanan laki-laki itu terasa hancur lebur, untuk pertama kalinya dia menangis di hadapan orang lain.
" Maaf.." Jawab Kimy lirih yang tak di dengar oleh Tristan.
Tristan membanting tubuhnya kesamping, laki-laki itu menutup matanya perlahan dan dia tertidur. Kimy menoleh melihat laki-laki itu, gadis itu memiringkan tubuhnya menghadap Tristan. Gadis itu terus memandang laki-laki itu dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan. Entah kemana perginya rasa benci yang yang gadis itu rasakan selama ini, rasa iba mengalahkan segalanya. Apakah rasa iba bisa berubah menjadi cinta, entahlah.
__ADS_1
Pagi hari, Tristan membuka matanya. Di lihatnya langit-langit kamar, tapi itu bukan kamarnya.
Dimana aku?
" Kau sudah bangun?.." Suara familiar membuat Tristan menoleh ke asal suara. Kimy masih di tempat yang sama, dengan posisi yang sama menatap laki-laki itu dengan lembut.
" Apa yang kau lakukan?.." Tanya Tristan dingin.
" Kau mabuk semalam, kau datang kesini.." Jawab Kimy. Tristan bangkit, laki-laki itu mendudukkan tubuhnya. Dia memijat kepalanya yang terasa berat.
" Kau tidur sangat nyenyak semalam, kau tak mimpi buruk lagi?.." Tanya Kimy. Pertanyaan Kimy membuat laki-laki itu diam sesaat.
Benar juga, aku tidak mimpi mama semalam.
Mama! mama!
Tristan menutup matanya dan mengeratkan rahangnya. Laki-laki itu dengan cepat berdiri dari posisi duduknya. Tristan berjalan keluar kamar itu, dia tak ingin berlama-lama bersama Kimy.
" Daffa?.." Langkah kaki Tristan terhenti, saat Kimy memanggilnya dengan nama itu. Laki-laki itu mematung tanpa menolehkan wajahnya.
" Siapa Daffa?.." Tanya Kimy. Tristan menoleh sekilas. Laki-laki itu menutup matanya sekilas, lalu dia berbalik berjalan menghampiri Kimy. Tristan meraih dagu gadis itu, dan mencengkramnya kuat.
" Jangan kau sebut nama itu sialan. Darimana kau tahu nama itu?.." Tanya Tristan dengan muka marah padam.
" Kau sering mengigau memanggil nama itu.." Jawab Kimy.
Siapa Daffa itu sebenarnya? kenapa dia tak menyukai aku menyebut nama itu.
Tangan Tristan turun ke leher mulus gadis itu, dia mulai mengeratkan cengkramannya. Gadis itu semakin susah bernafas.
" Kau kira aku tidak bisa membunuhmu jalang!! Jangan sekali-kali memancing amarahku sialan.." Tristan menyentakkan tangannya, membuat gadis itu tersungkur kebelakang.
" Mulai sekarang, bersiap-siaplah menjalani hari-harimu dengan penuh derita.." Kata Tristan sambil berdiri merapikan pakaiannya dan berjalan meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=